Tuesday, 25 October 2011

Lapor Diri-Kepada Negeri

Sabtu pagi tanggal 22 Oktober lalu, dimulai dengan aktivitas ribut..yakni masak memasak, ehehe karena kejatah menu perkedel, cah sayur dan emping goreng untuk konsumsi acara lapor diri KBRI di Glasgow. Hummm...menikmati weekend selama dua hari rasanya anugerah, karena mengistirahatkan diri dengan aktivitas kerja lab yang masih membutuhkan banyak energi untuk terbiasa dengan segala sesuatunya. Makanya...yipieeee weekeeeend dan memasak..sebuah paduan yang sempurna!!
Manusia memang aneh, segalanya terasa berlebih saat kita merasakan sesuatu itu berharga, walaupun hanya sederhana. Seperti yang selama ini kupahami setelah sebulan tinggal di Glasgow. Rasa bahagia itu terkadang muncul hanya dengan memasak masakan indo di dapur-nya mba niken, sambil ngobrol-ngobrol ditemani lagu-lagu indo yang mengalun.

“ Kayak bukan di Glasgow mba, kayak di purwokerto atau Jember” kataku, yang disambut dengan gelak tawa Mba Niken.

Bayangkan, apa istimewanya masak dan mendengarkan lagu indo bila posisiku ada di Purwokerto atau Kebumen? Ternyata rasa itu menjadi lebih, saat kita kehilangannya. Kehilangan momen itu, dan merindui untuk merasakan lagi. Maka, cobalah tinggal beberapa lama di luar negeri, engkau akan merasa cintamu pada negeri bernama Indonesia akan berkali kali lipat..berkuadrat-kuadrat ahaha...
Maka, demi cinta negeri pulalah, dengan senang hati aku datang ke acara lapor diri KBRI di Glasgow. Untunglah bapak-bapak KBRI itu berkenan menyempatkan diri untuk datang ke Glasgow untuk mendata WNI yang ada di kawasan Skotlandia, jadi nggak usah repot dateng ke London. Sekitar pukul 10.30 aku tiba di acara, dengan cah sayur dan emping di tangan, sementara perkedel sudah dibawa puput-flatmateku- duluan. Waw..ternyata ramaaaaaai..banyak juga orang Indonesia yang tinggal di Skotlandia ini. Mereka bukan hanya datang dari Glasgow, tapi yang sedang kuliah atau bekerja di kota-kota sekitarnya seperti Edinburgh, Stirling, Dundee dan Aberdeen. So, senang sekali bertemu dan berkenalan dengan saudara sebangsa dan setanah air.

Acaranya tergelar tidak terlalu formal, hanya mengisi formulir lapor diri, cek paspor dan ngecap SPPD—yang sudah diamanatkan oleh Dikti ehehe..kemudian sambutan dan informasi dari Bapak Fauzi dari KBRI tentang kegiatan-kegiatan yang biasa dilakukan komunitas Indonesia di UK. Menurut beliau, mahasiswa Indonesia yang menempuh pendidikan di UK sekitar 2000 orang, masih kalah jauh dengan Malaysia dengan 8000an orang. Fiuuh, yap di Glasgow saja katanya ada sekitar 200 orang Malaysia. Saat berbincang dengan Mba Niken saat membahas perihal hal tersebut, ada hipotesis yang mengemuka,

“ Kayaknya karena di Indonesia segala nyaman untuk tinggal. Orang-orang merasa enggan meninggalkan zona nyaman” begitulah kira-kira hipotesis kami. Humm..memang orang di dalam negeri bisa berkata, kenaikan barang-barang, kenaikan BBM, kisruh politik, transportasi yang belum memadai. Tapi hey..kemana-mana kita bisa naik angkot, bis, enak tinggal pilih. Bila menempuh jarak yang lumayan deket, bisa naik becak..hoho anugerah luar biasa hidup di Indonesia. Di sini, semuanya harus mengandalkan jalan kaki ehehe, kecuali kalau memang jaraknya sudah terlalu “ekstrim” untuk ditempuh dengan jalan kaki ehehe..Dan yang jelas, semua muanya dituntut mandiri—mandi sendiri ehehe....enggaklah, maksudnya apa-apa kudu dikerjain sendiri. Salut juga pada anak-anak muda yang kutemui disini (hiyaaaah jadi berasa tua ehehe), rata-rata mereka mengambil master, begitu mandiri hidup jauh dari orangtua dan saudara. Memang, kuliah di luar negeri is not only get a degree..but surely more than that!

Acara berlanjut dengan makan-makan, makan camilan berupa bakwan buatan Mas Endarko dan istri pastilah menjadi favorit. Sementara emping goreng yang kubawa, habis tak bersisa hanya dalam hitungan beberapa menit.

“ Indonesian pop corn” gitu komentarnya Craig Wilson—pacarnya Lini..hiyaaah kuliahnya sudah membawa hasil dengan menggaet co’ Scottish!! Saat mencoba si emping tadi.

Menu makannya lumayan meningkatkan gizi hihi, yang pasti ada nasi, gulai ayam cabe ijo, semur lidah, perkedel, cah sayur, tumis daging. Ehehe lahaaaap pokoknya, dijamin bertambah berat pipi hihi..

Sambil ngobrol dan mengisi form lapor diri, band dadakan anak-anak Glasgow yang digawangi (emange maen bole ehehe) Eron, Izul, Rifky perform. Diawali dengan lagu yang selalu bikin berdarah-darah bila mendengar lagu ini, Tanah airku..

Tanah airku tidak kulupakan
Kan terkenang selama hidupku
Biarpun saya pergi jauh
Tidak kan hilang dari kalbu
Tanah ku yang kucintai
Engkau kuhargai

Walaupun banyak negri kujalani
Yang masyhur permai dikata orang
Tetapi kampung dan rumahku
Di sanalah kurasa senang
Tanahku tak kulupakan
Engkau kubanggakan

Hummm...dijamin mellow berat saat mendengarnya. Berkumpul dengan sesama warga negara Indonesia, yang semula tak kenal sama sekali namun menjadi bersaudara karena kami berasal dari negara yang sama, Indonesia, sungguh ajaibnya.

Wah, ternyata di Glasgow ini menyimpan bakat-bakat penyanyi semua, maka serentetan lagu indah. Seperti Karena kutahu engkau begitu, Sempurna, Dilema, Lagu Rindu..dan sederet tembang lainnya merdu terdengar mengiringi kami-kami yang ngobrol kian kemari. Begitulah ajaibnya sebuah rasa persaudaraan sesama Indonesia. Indonesia, yang kini jauh disana, tempat keluarga-keluarga kami tinggal dan menunggu kami pulang. Tempat sahabat-sahabat kami yang masih terus setia berbagi cerita walau jarak terbentang, tapi persahabatan tak pernah lekang. Tempat orang-orang terkasih kami yang senantiasa memberikan dukungan dan doa tiada hentinya. Untuk semua itu, impian untuk pulang terasa bagai seindah-indahnya impian. Salam kangen untuk Indonesia tercinta, semoga kepergian kami sekian jauh meninggalkan negeri nan elok itu, akan memperolah banyak manfaat dan kebaikan untuk banyak pihak.
**saudaraku yang tengah menempuh kuliah/bekerja di luar negeri..mari bersemangaaaaat...Indonesia menunggu kita berupa sumbangsih kemanfaatan ilmu di masa mendatang, semoga..



Glasgow yang suhunya mulai membuatku beku, 24 Oktober 10.15 pm—



0 comments:

Post a Comment