Rabu, 11 Juli 2012

Di Ujung Senja


Malang, kota ini masih saja seperti saat terakhir kali aku meninggalkannya, walau lebih ramai, dan beberapa bangunan modern mewarnai tata kotanya. Namun satu hal, kota ini terlalu penuh kenangan, hingga menjadi salah satu kota yang sangat kuhindari untuk kukunjungi, walau sejujurnya aku merinduinya setengah mati. Andini, perempuan bermata binar dan berpipi merah itu menyesaki hatiku. Sepertinya setiap jengkal dan sudut kota ini menyimpankan kenanganku bersamanya, itu terkadang yang membuat hatiku sesak.
            “Terserah mas saja, Andin akan nungguin mas pulang,” rasanya masih terngiang-ngiang kalimatnya itu. Lalu aku mengulurkan tanganku untuk menggengam tangannya, ia nampak terkesiap, namun membiarkan tangan mungilnya kugenggam lembut, hingga rasanya tak ingin pernah kulepaskan lagi. Lalu dengan jelas kulihat perubahan mukanya, semburat merah yang tiba-tiba menjalari pipinya, lalu ia memalingkan muka, berpura-pura memandangi pak kebun yang tengah merapikan taman di kejauhan. Ah, aku hapal setiap perubahan mimik mukanya itu, dan sering menduga-duga hatinya dari teorema-teorema yang kususun setelah hampir tiga tahun bersamanya.
Kala itu dengan gamang kusampaikan kabar bahwa aku berhasil menggenggam beasiswa master ke University of Maastricht di Belanda, impianku sejak dulu, akhirnya mewujud. Namun justru dengan binar dan pekik bahagia perempuan itu begitu bahagia mendengar kabar itu,
            “ Andin seneeeeng banget. Andin selalu ingin mas mendapat apa yang mas inginkan. So happy for you..really happy for you, dear.” Katanya dengan matanya yang semakin nampak berbinar-binar saat kuberitahukan kabar itu.
Tapi itu berarti harus meninggalkannya, perempuan itu, yang memberitahuku bagaimana rasanya hidup yang sedemikian berwarnanya. Meninggalkan Andini adalah perkara tersulit yang harus kulakukan.

                                                                    
                                                                                                       ***


            Belanda ternyata menghilangkanku, aku hilang tertelan dalam pesona hingar bingar tanah antah berantah yang membuatku kehilangan diriku sendiri. Impian kadang bisa meracuni bila terlalu banyak ditelan, dan aku tak sanggup menjagai diriku dari hasrat untuk menaklukkan tantangan-tantangan yang rasanya semakin kutaklukkan, semakin muncul tantangan-tantangan baru lagi. Semuanya mengaburkanku dari bayangan Andini yang menungguiku. Sampai akhirnya,
            “ Mas, Andin tak bisa menunggui Mas terus bila tak ada kata pasti. Ibu dan Bapak menanyaiku, Mas Pras melamarku. Bila mas tak juga mengambil keputusan, Andin akan patuh kata Bapak dan Ibu,” tulis Andini kala itu di emailnya. Jarak memang kadang membutakan, dan keinginan yang terlalu tinggi kadang melenakan. Bagaimana bisa waktu itu kupikir, aku bisa dengan mudah mendapatkan perempuan lain yang jauh lebih baik, lebih cantik dan lebih berpendidikan tinggi dibandingkan Andini. Aku mendiamkan email itu berkarat tanpa balasan di inbox emailku.
            Waktu berlalu, berempat musim datang silih berganti,  jadwal kuliah yang berlarian, dan gelar pendidikan tinggi yang telah tersemat, kemenangan-kemenangan hidup yang akhirnya tergenggam oleh tangan-tanganku. Namun tiba-tiba, hatiku hampa. Ada yang kurang menghiasi hari, tak ada lagi senyum sapa Andini yang manis, candaannya yang lembut, pipinya yang merona saat kugodai, atau diamnya yang justru terkadang menggemaskan. Hatiku kosong. Pulang ke tanah air, aku kembali ke Bandung, tanah kelahiranku. Sesekali terlintas untuk mengunjungi Malang, mencari Andini. Tapi, rasa bersalahku terlalu dalam pada perempuan berpipi merah itu. Aku kalah, bertahun-tahun hidup dalam sejarah bersamanya, tanpa mampu mencipta sejarah baru, mungkin itu kutukan untukku.
                                                                                                      ***
            “ Dhan, elu sudah denger kabarnya Andini belum? Kaget kayak disamber geledek aku denger info dari Mutia tadi pagi,” Ninit, sahabat karib Andini saat kuliah tiba-tiba menelponku. Deg! Hatiku bereaksi.
            “ Memang kenapa?ada apa dengan Andini?” tanyaku dengan nada memburu.
            “ Andin dan suaminya meninggal, Dhan, kecelakaan mobil tadi pagi. Aku nggak bisa layat, besok aku terbang ke Hanoi, urusan kerjaan. Kasian Galuh, Dhan, semata wayang dia sekarang. Kalau ada waktu, pergilah ke Malang,” kata-kata Ninit seperti menghantam dadaku, langitku menggelap seketika. Semuanya terlihat hitam. Kelam.
                                                                                                     ***
Galuh, gadis kecil itu menggamit lenganku, seperti tak ingin melepaskannya. Kemudian dengan muka cerianya ini mengajakku memasuki rumahnya yang tertata rapi, dengan sentuhan-sentuhan tradisional Jawa yang kental.
            “ Om mau minum apa? Nanti Galuh ambilin,” Galuh menawariku minum. Hujan di luar sudah mereda. Aku seperti memasuki dunia antah berantah, walau inilah risiko dengan memberanikan diri mencari jejak-jejak Andini di kota Apel ini.
            “ Apa saja om suka kok,” jawabku sambil tak lepas mengamati setiap sudut rumah ini. Andini, kehidupan seperti apa yang kau jalani setelah berpisah denganku? Hatiku menderu bertanya. Foto berpigura, gambar keluarga kecil itu terpampang di ruang tengah. Ah senyum itu, senyum Andini, masih saja seperti dulu. Senyum yang bahkan masih tetap manis walau telat menjemputnya karena ban sepeda motorku kempes. Lalu gambar lelaki di sebelahnya itu, hanya sekilas kutatap, karena tak kuasa hatiku menahan rasa tertohok yang dalam kala melihat lelaki itu. Dia lelaki yang sungguh sangat beruntung, kilas pikirku sejenak.
            “ Om Ardhan itu temannya Bunda pas kuliah yah?” Galuh, gadis kecil nan manis itu datang membawakan secangkir teh hangat untukku.
            “ Iya, tapi beda fakultas, “ jawabku singkat, karena tak yakin Galuh sudah mengerti apa itu istilah fakultas.
            “ Kalau beda fakultas, kok Om sama bunda bisa saling kenal?” tanya Galuh yang tiba-tiba menggamit lagi lenganku, duduk dekat-dekat denganku. Entah mengapa aku terkesiap dengan sentuhan tangan si gadis kecil  itu yang nampak begitu manja menggelayut di lenganku. Aku tergeragap, seperti hatiku yang baru saja digenggamnya.
            “ Humm..kenal pas ada acara-acara kampus gitu deh,” Hanya itu yang mampu kujelaskan pada gadis berumur tujuh tahun itu. Ada sesuatu pada gadis kecil itu yang mengingatkanku pada Andini, ya..senyum itu benar-benar menjelma ada pada putri kecilnya.
            “ Bunda cantik enggak pas kuliah Om?pinter enggak? Om nggak nakalin Bunda kan dulu pas kuliah?” Ceriwis tanya Galuh yang memberondongku dengan pertanyaan. Pertanyaan itu mau tak mau mengulik sejarah lama yang walau telah dibawa lari waktu, tapi rasanya kenangan itu tetap ada di sana, di hatiku.
            “ Manis, seperti Galuh. Dan pinter juga loh, makanya Galuh harus rajin belajarnya, biar pinter kayak bunda,” Kujawab sambil mengusap-usap lembut rambut hitam panjang si gadis kecil itu. Galuh malah makin erat menggelayut pada lenganku, dan merebahkan kepalanya di bahuku. Dan anehnya hatiku berdenyar, namun beberapa detik kemudian merasakan ketenangan luar biasa. Entah mengapa ada rasa ingin melindungi gadis kecil ini.
            “Eh Om, Galuh mau kasih makan si Mimi sama Momo di taman belakang, ikut yu Om,” Galuh tiba-tiba menarik lenganku untuk mengikuti langkahnya ke taman belakang.
Taman yang hijau dan asri, nampak damai saat kakiku melangkahkan kaki. Mataku beradu pada kandang-kandang mungil di pojok, dimana Galuh dengan sigap membuka pintu kandang lalu hap..hap..keluarlah kelinci-kelinci berbulu putih berlompatan di rumput yang basah sehabis hujan. Lalu aku jongkok, menikmati melihat betapa telatennya gadis kecil itu memberi makan, sambil sesekali mengelus-elus punggung kelinci-kelinci itu.
            “ Lucu kan Om, Bunda yang kasih hadiah Mimi dan Momo pas Galuh ulang tahum, seneng banget Om, soalnya mereka lucu-lucu,” terang Galuh dengan ceria. Aku tersenyum mendengarnya. Lalu aku menyalangkan mata mengamati taman belakang ini, lalu hatiku terkesiap, saat pandangan mataku tertumbuk pada dua buah kursi taman kayu dan sebuah meja bundar tertata di sana. Ada vas bunga dengan bunga yang telah layu terdapat di sana.
Perlahan aku bangkit dan mendekati kursi taman itu, lalu pelan-pelan duduk di kursi itu. Hatiku merasa Andini begitu dekat, ada di situ.
            “ Mas kalau nanti suatu saat kita punya rumah, mas mau rumah seperti apa?” tanya Andini dengan matanya yang berbinar-binar, hampir selalu mampu menyilaukan hatiku.
            “ Mas pengen punya taman belakang yang asri, ada kelinci-kelinci lucu, trus ada kursi taman dan meja, jadi kalau pagi-pagi kita berdua bisa minum teh bersama, sambil ngobrol-ngobrol pagi hari, pasti romantis kan?” paparku kala itu.
Seingatku dulu Andini hanya menjawab pertanyaanku dengan senyum manisnya, kemudian pipinya tiba-tiba bersemu merah, merona. Tak berkata apa-apa setelahnya, hanya memainkan bilah-bilah rambut hitam panjang dengan tangan kecilnya. Memang begitulah Andini, tak banyak bicara. Tapi sanggup membuatku melakukan apa saja untuknya, untuk menjaganya, mencintainya, menyayanginya.
            Dan rasanya ada yang menyesak dalam dadaku, menyaksi sebuah gambaran indah dulu yang pernah kuutarakan. Andini mewujudkan gambaran rumah yang dulu ingin dibangunnya bersamaku. Kelinci-kelinci lucu dan kursi taman tempat kami bicara berdua, persis seperti gambarannya. Ah, Andini..rindu mendesak-desak dadaku.
            “ Om kok ngelamun, betah ya Om duduk di sini. Ini tempat favoritnya Bunda loh, Om. Bunda tu sering bawa laptopnya ke sini, lalu menulis sambil bawa secangkir teh. Galuh sering sungkan kalo mau ngajak main Bunda kalau bunda lagi duduk lama-lama di sini, nggak tau juga kenapa Bunda betah banget di tempat ini,” Galuh tanpa diminta berbicara banyak, ah terlalu banyak tentang bundanya itu.
Mataku berembun, dadaku sesak, hatiku penuh seketika, penuh kenangan seorang perempuan yang dulu mengisi hidupku. Kupeluk tubuh gadis kecil itu erat-erat, ingin kujagai dan kulindungi gadis kecil itu, seperti dulu aku ingin menjagai ibundanya, tapi tak bisa.
Di ujung senja yang merona, seperti jiwaku yang terasa hidup kembali, hidup karena sinar dari mata gadis kecil ini, dimana aku melihat Andini dalam dirinya. Hidupku selanjutnya adalah tentang aku dengan gadis kecil ini. Kupeluk ia lebih erat lagi, kuusap rambut hitam panjangnya dengan penuh sayang. Andini, akan kujagai engkau yang kini ada dalam diri putri kecilmu ini. ***

 



Previous Post
Next Post

2 komentar:

  1. ho-oh...cerpen yang dibikin ngebut dalam beberapa menit ehehe...cerpen berbau deadline :D
    *belum kupoles2 lagi

    BalasHapus