Wednesday, 2 January 2013

Dua Perempuan (2)




It’s over now, Re..dia bilang padaku jangan baik-baikin aku lagi, just let me go and find some one,” kalimat itu meluncur dari mulutnya, dengan guratan pedih yang masih sisa di wajahnya. Kami bertemu lagi, seperti biasa..di tempat yang sama. Sofa pojok sebelah kanan di Rumah Kopi, dengan pesanan kopi yang hampir selalu sama, secangkir kopi lumbung vanilla. Kali ini aku memesan pisang bakar keju, sedangkan Ocha dengan sepiring nasi gorengnya.
            “ Aku kan sudah tidak makan nasi goreng lagi, Cha. Aku hanya makan nasi goreng hanya bila bersamanya,” kilahku saat Ocha menawariku nasi goreng. Ocha hanya tersenyum mendengarkan penjelasanku, yang maknanya jelas terbaca seperti spanduk di mukanya tertulis : dasar sinting seperti biasa.
Aku memandangi wajahnya, di balik cerianya, ada perubahan-perubahan yang tak bisa disembunyikan dari gurat wajahnya itu. Cinta surut dari matanya.
            “ Cintanya padaku sudah kadaluarsa,” tambahnya lagi. Perih masih mengintip di balik matanya.
Aku menyesap secangkir kopi lumbung vanillaku, sambil memikirkan kata-kata penghiburan macam apa yang bisa sedikit menyembuhkan luka hatinya. Pending, otakku tak menemukan ide satupun. Mungkin seorang Ocha hanya perlu didengarkan, bukan penghiburan. Tenyata setelah masa “menggantung” sedemikian lama, akhirnya kata “let me go, and find someone” yang harus diterima Ocha.
            “ Perih Re, sakit banget rasanya, tapi entah kenapa aku tetep pengen lihat dia bahagia,” lanjutnya. Matanya terlihat menerawang. Mungkin teringat pada Randhiko, mantan pacarnya dulu yang kemudian mereka menjalani masa friendzone yang abu-abu. Mungkin masih berkelebatan di pikirnya saat Randhiko masih menjadi bagian dari hari-harinya. Seingatku mata Ocha selalu berbinar-binar saat menyebut nama Randhiko.
Aku masih terdiam memandanginya. Kalimat seperti “pasti akan ada yang lebih baik dari Randhiko yang akan segera datang untukmu”pun tak sanggup untuk kuucap. Tak perlu. Dia tahu, dan akupun tahu, tapi tidak ingin mengatakan itu. Sia-sia, hatinya masih penuh nama Randhiko. Lelaki yang sudah sejak sama SMA keluar masuk dalam kehidupan cintanya, hingga kini saat usianya beranjak menjadi perempuan dewasa.
Aku tersenyum, menopang dagu dan mengamatinya baik-baik. Apa yang direncanakan Tuhan untuknya? Sekilas begitu yang ada dalam pikirku.
            “ Apa aku harus melepasnya ikhlas? Aku berpikir mungkin dengan melepas, justru suatu saat Tuhan akan memberikannya padaku lagi.” tangannya sibuk mengaduk-aduk nasi gorengnya, namun hanya beberapa suap yang masuk dalam mulutnya.
Bolehkah ikhlas dengan mengharap? Seperti juga ikhlas melepas dengan terpaksa? Apakah ada ikhlas yang terpaksa? Ah, biarkan itu menjadi rahasia hati manusia dan TuhanNya.
            “ Hidup saja dengan dengan baik Cha, Kalau enggak mau mikirin itu, jangan pikirin itu dulu. Fokusin aja ke hal-hal yang lain. “ ucapku. Jiaaah..nasehat atau kata penghiburan macam apa itu.
            “ahaha pragmatis amat elu sekarang Re? Nggak mbulet omongan elu kayak dulu,” ledek Ocha sambil tertawa. Barisan giginya yang rapi, gurat tertawanya, itu masih Ocha yang dulu.
            “ Habisnya, kata-kata penghiburan super canggihpun kagak guna Cha sekarang buat elu. Mau bilang come on, dear...you deserved better, hati elu sekarang bilang, Randhiko itu yang terbaik. Mau gue bilang, udahlah move on..emangnya lelaki cuma Randhiko aja. Pasti hati elu bilang, iyah gampang bilang move on ..kamu nggak ngerasain sih..ahaha ya kan?” jelasku, setengah becanda.
Ocha tertawa lagi. Kami sering seperti ini, ngobrol tak jelas berjam-jam tanpa simpulan. Perempuan mungkin memang senang untuk didengarkan.
            “Hiduplah dengan baik Cha, orang bilang balas dendam terbaik adalah hidup dengan baik. Kamu bersinar dan berkarya, dengannya ataupun tanpanya. Tuhan maha baik.” Sambungku.
            “ Tuhan yang Maha Baik, aku ingin bersinar dan berkarya dengannya, please...yaaa, kabulkan doaku,” begitu doa Ocha, sambil menangkupkan kedua tangan di depan sepiring nasi goreng dan secangkir kopi lumbung vanilla. Aku hanya nyengir melihatnya.***

Purwokerto yang terus saja gerimis, 2 Januari 2013.22.22


0 comments:

Post a Comment