Saturday, 6 July 2013

Melentur




Banyak orang berusaha untuk terus menerus menggengami kebahagiaan. Melekatkan bahagia menjadi berhala, dan memaksa bahwa tujuan hidupnya adalah untuk berbahagia terus menerus.
Kadang tak bisa kita pungkiri, secara naluriah manusia, yang kita rindu adalah sebuah zona nyaman. Manusia menginginkan kenyamanan. Hidup yang biasa, dengan sarapan pagi, secangkir teh atau kopi lalu menjalani hari dan diakhiri dengan sebuah doa sebelum tidur. Atau apalah yang kau sebut zona nyamanmu. Misalnya pekerjaan yang telah kau jalani bertahun-tahun, pernikahan yang lama-lama terasa menjadi kebiasaan atau banyak macam hal lainnya. Manusia merindu kenyamanan, zona nyaman itu.
Tapi manusia-manusia “tercerahkan” bilang bahwa keajaiban baru akan terasai bila kita mau meninggalkan zona nyaman kita? Beberapa dari pemikiran mereka merasuki kita dengan konsep, zona nyaman akan membuatmu tertidur, kepalamu menjadi beku, tanpa perubahan, hampa.
Lalu sebenarnya apa yang kita cari? Kenyamanan atau keajaiban?
Banyak orang tetap tinggal di zona nyamannya, ada pula yang beranjak.
Lalu kemudian saat kita memutuskan melangkah meninggalkan zona nyaman ini, mulailah ketidaknyamanan demi ketidaknyamanan terjadi. Perubahan seringkali menyulitkan dan menempatkan manusia dalam fase yang tak stabil, sedangkan zona nyaman menawarkan kestabilan. Tapi dengan ketidakstabilan, kejutan demi kejutan terus terjadi, keajaiban-kejaiban yang mungkin tak pernah terencanakan dan tak pernah terbayangkan terjadi dalam hidup kita mulai menjejali hidup kita. Lalu kemudian kita mulai terbiasa dengan perubahan baru tersebut. Pelan-pelan perubahan itu akan menjadi zona nyaman bagi kita. Selimut hangat yang menyamankan hidup, karena manusia mempunyai naluri untuk membuat hidupnya sendiri nyaman. Dipenuhinya kebutuhan biologis, rekreasi dan mungkin spiritual.
Lalu bukankah keluar dari zona nyaman pun akan mengalami tiba di zona nyaman juga? Tapi dia beranjak, bergerak, naik kelas. Entahlah, mungkin begitu pikirku. Dan mungkin berbeda dengan pikir kalian.
Tapi apakah hidup akan terhenti? Tidak, sebelum kita mati.
Manusia senang jika ia merasakan bahagia, gembira, merasakan kemenangan, dicintai, mencintai, kesuksesan, sehat, banyak rejeki. Tentu saja hal yang alamiah dirasai manusia. Di pihak lain, manusia merasa tidak senang merasakan kesedihan, luka, galau, sakit, dibohongi, dikhianati, berpisah, kehilangan orang-orang yang kita cintai ataupun kehilangan hal-hal yang berharga dalam hidup kita. Normal, wajar, tentu saja. Siapa yang ingin sakit? Siapa yang ingin terluka? Tentu saja manusia yang normal tidak ada.
Tapi siapa manusia yang tak pernah bersedih? Tak pernah terluka? Tak pernah sakit? Tidak ada bukan?
Jadi di antara sekian banyak manusia untuk merasa nyaman dan bahagia, tetaplah tak bisa menghindari sisi lainnya bukan? Semesta terus berjalan, terus berubah, sepertinya ia tak mengenal kemelekatan.
Amatilah siklus hidupmu dalam satu hari ataupun satu minggu. Pernahkah dalam satu minggu engkau merasa bahagia terus menerus? *ini pertanyaan iseng yang serius ehehe. Sepertinya tidak bukan? Kadang cuaca tanpa sadar mempengaruhi mood, kadang kondisi pekerjaan membuat penat, kadang hubungan dengan orang tercinta sedang tidak begitu baik, ataupun sedikit flu atau batuk. Begitukan siklus hidup normal manusia?
Maka ide untuk menggengami kebahagiaan sebagai berhala terus menerus sepertinya sebuah ide konyol bukan? Saya kembali hanya bertanya, seperti biasa.
Ada banyak kekecewaan, kesedihan yang panjang dan intens justru karena kegagalan manusia berupaya menggegami bahagia terus menerus tanpa siap menghadapi bahwa kehidupan begitu cair. Hidup berubah dalam beberapa menit, dalam detik, dalam hari, dalam minggu, dalam waktu. Kejadian pun berubah, perasaan pun bisa berubah, orang-orang di sekitar kita pun berubah. Lalu bukankah sepertinya konyol untuk terus menerus mengusung ide tentang keabadian?
Sedangkan manusia cenderung menyukai ide tentang keabadian, saya – kamu, saling mencintai, menikah, bersama sampai mati, harus begitu”. Misal taruh saja begitu sebuah contoh simpelnya begitu. Sedangkan setiap manusia juga berubah, orang lainpun berubah, hubungan pun bisa berubah. Sepertinya konsep menggengami terus menerus apapun itu akan terasa seperti kungkungan, pembatasan, kaku.
Ide memaksa keabadiaan atau bergerak dengan kelenturan pada perubahankah yang kalian pilih?
Dosen saya yang saya ikuti tulisannya, pernah menulis : 

 Anggap saja bahagia itu seperti kupu-kupu, menikmati indahnya bila dia tengah datang padamu, tanpa takut ia akan segera pergi karena toh ia akan pergi, biarkan saja ia pergi karena ia akan datang lagi. Jangan kau genggam kebahagiaan, biarkan dia datang dan pergi, memberimu harapan, tantangan, kerinduan, inspirasi. Bahwa galih kehidupan selalu berubah seperti ombak lautan. Jika kau tak sanggup tegar seperti karang, jadilah ganggang. Sesekali kau hanyut, layu, kering, namun kau tetap bertahan hidup di sela batuan, tak peduli air surut maupun pasang.

Saya pikir, ini konsep yang menarik. Sangat realistis, tapi juga filosofis. Realis, karena memang realitanya hidup terus saja berubah dan kita manusia belajar menjadi lentur terhadap perubahan.
Bukankah kita tidak ingin semakin sering mendengar anak SMP atau SMA yang bunuh diri karena tidak lulus, atau bahkan karena tidak dikasih uang jajan.? Atau putus asa karena putus dengan pacar?. Hidup membutuhkan lebih banyak lagi manusia yang lentur dan tangguh menghadapi hidup.
Bisakah kita belajar untuk menerima dualitas hidup dengan sama mesranya? Sakit-sehat, senang-susah, gembia-nestapa. Saya sudah pernah mendengar tentang konsep ini beberapa tahun lalu, tentang bagaimana berjalan di pusat roda, tapi lagi terengah-engah karena merasa hidup seperti roda yang kadang  di atas kadang di bawah. Tapi saat kita terpusat, kita semakin lentur menghadapi hidup entah sedang di “bawah” ataupun “ di atas”. Tapi kadang konsep yang pernah kita yakini kadang terlupa, lupa, hilang, tapi kadang menghampiri lagi dengan memberikan kedalaman yang sama, mungkin berkurang atau mungkin saja lebih.
Mungkin kita harus menengok ide tentang kelenturan akan kehidupan daripada memaksakan keabadian. Mungkin.

Glasgow dini hari, 6 July 2013 3.am

6 comments:

Afa said...

Membaca awal tulisan ini, nuansa pesimis dan negatifnya kuat. Aku tak mau berprasangka 'mengapa'. (hehe)
Tapi setelah kutipan dari sang dosen, nuansa penerimaan terasa, bahkan padaku, yang hanya seorang pembaca. :)

Bagiku, apa yang manusia sebut surga adalah, perasaan sama ketika kita menghadapi kesedihan ataupun kegembiraan. Dan manusia yang memasukinya adalah orang-orang yang telah sampai pada perasaan itu : sedih atau gembira, sama.

Pernah dengar teori 'pesimistik terbalik'?
Bahwa orang-orang yang melihat kenyataan tak selalu seperti apa yang ditujukan dari kerja keras yang ia lakukan, akan sampai pada fase yang dinamakan pesimistik terbalik. Namun pesimis yang muncul karena usaha gigih ini, sangat berbeda dengan rasa pesimisitas pada umumnya (rasa putus asa orang-orang utopis). Pesimistik yang lahir dari kerja keras yang berkesinambungan namun gagal, akan menciptakan moralitas yang nampaknya menyerah pada keadaan. Gerak, ucapan, dan tingkah lakunya terlihat seperti orang lemah, putus asa, bahkan menginginkan ‘mati’. Tapi di balik semua itu, ada energi tersembunyi, yang siap mengubah keadaan tanpa harus diketahui orang lain sebelumnya. Energi ‘peledak’ yang siap memacu gerak, yang tak mau diketahui orang lain di balik kepesimisannya. Orang-orang seperti ini biasanya tak mempan dengan dorongan semangat dari orang lain. Juga tak peduli dengan anggapan negatif orang lain. Ia merasakan perasaan yang sama, ketika berada dalam kesedihan, ataupun kebahagiaan. Kedamaian konstan.

Siapa penemu 'teori' ini? Orang yang menulis komentar ini, saat masih mahasiswa semester 7, fase terirasional dalam hidupku. :)
Pepatah sufi mengatakan, Ia yang merasakan, pasti paham. :)

Btw, sudah pernah nonton film 'Before Sunrise'? Saat aku menonton ini, aku teringat dengan pemilik blog ini. :))

sonokesini said...

Salut buat ibu dosen
Tulisannya selalu inspiratif
Happy following :)

Siwi Mars Wijayanti said...

@ afa : ehehe mahasiswa semester 7 sudah punya teori sekeren itu, saluuut :)
Before sunrise? iyah udah nonton. Film yang unik..dan baru sadar juga kalau karakter Celine-nya mirip denganku hihi..thanks anyway
@sono kesini : tengkiu sudah mampir baca dan follow ya :)

Afa said...

sebenere bukan teori seh,,,hehe
bikin teori ituh kan mazyaalloh ribetnyah...cuma asumsi mungkin. tapi lumayan lah, saat itu ada beberapa temen perempuan yg 'tersesatkan' gara2 'teori' itu. (hihi) statemen dari salah satu temen adalah : rasanya nyaman sekali hidup tanpa harapan.

aku bikin semacam 'isme' waktu kuliah, namanya Doktrin Wonkissme (dari nama panggilanku 'Afa Wonk'). Doktrin kesatunyah ya ituh : Berhentilah berharap -bahkan pada Tuhan, milikilah mimpi, dan teruslah bekerja keras.
Terdengar kontradiksi memang, bermimpi tapi tanpa berharap, hanya terus bekerja keras. tapi ternyata manusia memang terkadang menyukai sesuatu yang absurd, kontradiktif. (hehe) :p

emm..btw, when there's a chance we met, I was invited to, err.. mybe lunch, want u? :)

Siwi Mars Wijayanti said...

ahaha doktrin wonkissme.lucu juga. saya di Glasgow, jauhnya euy. btw thanks for inviting :)

Afa said...

hehe,,namanyah juga mahasiswa, jd sok belagu bikin 'isme-isme-an'.. :p

just one day, yeap, u r very welcome :)

Post a Comment