Friday, 28 March 2014

About Kindness


Saya dulu pernah diperingatkan oleh sahabat saya : “ Kamu itu jangan anggap semua orang itu baik. Bahaya juga. Nggak semua orang itu baik. Tetap waspada, “ Begitu masih kuingat sekilas kalimat sahabat saya itu. Bukannya saya sok baik, atau merasa baik, tapi memang “kelemahan” saya itu kadang menjadi manusia yang polos.
Saya nggak ngerti kenapa orang melakukan sesuatu yang jahat (jahat dalam artian nyeremin kayak ngerampok, menipu etc). Nah kepolosan itu yang dianggap oleh sahabat saya itu menjadikan saya kurang waspada. Kemudian pengalaman hidup di berbagai tempat membuat saya (agak) waspada terhadap orang lain dan juga lingkungan sekitar. Walaupun tetap saja, saya nggak begitu ngerti kenapa orang-orang ada yang mempunyai kecenderungan melakukan hal-hal yang jahat.
Tapi hidup di Indonesia saja kemudian mengajarkan banyak hal. Misalnya saja saya sampai di terminal, kemudian beberapa orang menghampiri saya, “Mau kemana mbak?”, “saya bantu bawa barangnya ya mbak” bla..bla…tentu saja hal ini terasa familiar kan? Bila didengar dari kalimatnya tentu saja seperti ingin membantu atau berbuat baik pada kita. Tapi pada kenyataannya, bukankah kita malah menjadi waspada karena takut ditipu, diminta duit, atau hal-hal jahat lainnya.
Kadang-kadang mana yang benar-benar bermaksud baik dengan yang pura-pura baik menjadi rancu. Kebaikan menjadi sesuatu yang terkadang dilematis. Mungkin masih banyak kita ketemu orang-orang yang tiba-tiba menyetop kita saat berjalan dan berkata “ Tolonglah mas, mba..saya nggak punya duit untuk untuk pulang blab la blaa” dengan muka yang memelas. Lalu kemudian kita menjadi berpikir, bahwa berbuat baik menjadi rancu karena kemungkinan besar dia hanya pura-pura.
Ah, dunia sepertinya semakin banyak kepura-puraan. Tapi saya masih percaya dimana-mana masih banyak orang baik yang benar-benar baik.
Hidup di sini saya juga banyak menjumpai orang-orang baik. Malah terkadang terheran-heran dengan kebaikan orang-orang yang tidak dikenal. Bila pergi ke kota lain dan bertanya arah tempat yang masih nggak ngerti, orang-orang akan dengan baik menunjukkan tempatnya. Ada yang bukan yang mengarahkannya ke tempat yang dimaksud, malah ada yang mengantarkannya ke tempat tersebut. Orang-orang juga terasa lebih sopan, mau membantu sesuai dengan apa yang seharusnya mereka kerjakan. Secara umum, saya menilai orang-orang sini baik-baik. Walaupun tentu saja tidak semuanya baik. Ada juga kejahatan-kejahatan yang dialami teman-teman di sini seperti dijampret, ditipu agen perumahan, kecurian dan lain-lain.
Yah, kebaikan dan kejahatan memang ada di mana-mana. Jadi semoga apapun itu tidak menjadikan kita untuk tidak berbuat baik. Trus gimana dong kalau kita merasa kebaikan kita bisa dimanfaatkan? Mungkin perlu intuisi dan tetap waspada menghadapi hal-hal tersebut.
Ah entahlah, apa pendapatmu mengenai hal ini?
Ada cerita menarik dari dosen pelatihan saya yang bercerita bahwa dia ditelpon oleh seorang teman lama yang lama yang ditemuinya. Kemudian mengalirkan obrolan melalui telpon tersebut, namun dosen itu sebenarnya apa maksud si temannya itu menghubunginya. Mungkin karena banyak cerita-cerita teman lama tiba-tiba menghubungi untuk menawarkan produk, ikutan MLM, dijadikan downline dan lain-lainnya. Hal tersebut membuat kita agak “nelongso” dan berpikir bahwa oh, jadi mereka menghubungi karena ada maunya. Hal tersebut menjadi wajar sekarang. Lalu sikap waspada dosen saya itu membuat ia menanyakan langsung dengan sopan tapi teman lamanya itu, karena si teman tersebut tidak juga memberitahu apa maksud ia menelpon.
            “Lalu apa yang kira-kira bisa kubantu?” gitu tanyanya
Lalu ternyata teman lamanya menjawab :
            “ Oh enggak, ehehe saya hanya ingin bersilaturahmi saja. Minggu kemarin saya ke Malang namun maaf nggak bisa mampir karena waktunya terbatas. Jadi telpon untuk menanyakan kabar njenengan saja. Semoga njenengan sekeluarga sehat-sehat selalu”
Aih, lihatlah. Betapa memang kebaikan orang sekarang ini semakin rancu. Dunia sekarang ini menjadikan kita makin gagu bersikap. Kadang-kadang kebaikan menjadi barang langka, lalu Nampak kejahatan ada dimana-mana. Berita pembunuhan hanya karena hal sepele, korupsi, perampokan, penipuan, ataupun banyak berita-berita kriminal lainnya yang mengerikan. Kadang menjadikan diri bertanya, seperti apakah dunia yang kita tinggali kini.
Mungkin setiap diri mempunyai jawabannya tersendiri. Bagi saya, seperti apa dunia yang saya tinggali mungkin tergantung pada persepsi saya memandang dan menganggap dunia yang saya tinggali sekarang ini. Memang ada orang jahat, tapi orang-orang baik juga ada dimana-mana.
Mari menambah banyak orang-orang baik di dunia, menebar kebaikan. Membaikkan diri dan orang-orang di sekitar kita.

Glasgow, 28 March 2014. 
Musim semi dimulai, tapi dingin masih mewarnai. Tetap syukuri. 




1 comments:

Alfaridzy Al Jawi said...

Kalo kata para ulama, doa itu ada tiga : Rintihan hati, lisan, dan tindakan. Prasangka, itu doa hati. Doa lisan, seperti yg biasa kita lakukan. Doa tindakan yg lebih unik. Ketika jalan2 membawa barang2 mewah / kalung gelang emas, itu sebenarnya doa tindakan (nantangin orang jahat) dll,,hihi
Tapi, sekalipun dulu pernah hidup di jalanan dan berkenalan dengan 'mereka', aku yakin Tuhan tak menciptakan manusia untuk itu. Mereka hanya beralasan 'untuk hidup'.
Untuk tulisan kedua yang 'berkeliling dunia', ituh agak ragu komennya. :p
*Nice story :D

Post a Comment