Thursday, 30 April 2015

Cerita Tentang Dapur




Saya tengah iseng menscroll timeline Facebook seusai mengirimkan revisian draft paper ke supervisor, dan senyum-senyum melihat ada gambar-gambar lucu di timeline. Menemukan beberapa gambar karya “Puuung” yang bertemakan tentang "in relationship, everyday interaction are more important than grand gestures-don't forget the small things". Itulah tema yang coba dibawakan oleh Puuung dalam karya-karyanya. Ada beberapa karya yang hampir semuanya saya suka, tapi entah kenapa paling suka dengan karyanya seperti foto di bawah ini :




Mungkin karena mengingatkan saya pada percakapan dengan pasangan beberapa waktu lalu tentang dapur. 
           " Dapur di rumah Purwokerto itu bentuknya open kitchen atau seperti apa?" tanya pasangan saya.  Hiyaaa entah kenapa tiba-tiba saya menemukan diri saya merona ketika bicara soal rumah. Rumah kita- kata itu ternyata memberikan efek seperti ada kupu-kupu di perut saya. *ahaha halaaah.
              " Dibikin desain kayu-kayu gini bagus ya?" hih saya malah tambah merona. Fiuhh..
Kata orang, cinta kalau baru itu berasa luar biasa, tapi kalau lama-lama ya biasa aja, sudah terbiasa. Tapi entah kenapa kok rasanya tetap luar biasa, eh bertambah luar biasa *maafkan kalimat saya yang gombal amoh ini. Padahal saya mengenal pasangan saya ini sudah cukup lama, hampir setengah dekade usianya. Tapi satu hal yang saya percayai bahwa setiap pasangan bisa menciptakan rasa luar biasanya sendiri-sendiri. Maksud saya, pasangan-berapapun umur hubungan mereka-bisa tetap saling mesra, penuh romantika dan tetap berasa luar biasa. Itu tergantung upaya masing-masing pasangan itu sendiri. Saya ingat kata Fadh Padhdepie dan istrinya, rizqa. Ah siapa sih yang tak kenal pasangan ini, seantero Indonesia Raya pasti banyak yang iri dengan kemesraan cinta mereka. Well, itulah untungnya punya pasangan penulis-bisa diromantisin tiap hari ahaha. Fadh dan Rizqa menyepakati untuk tetap mengupayakan ada waktu berdua di tengah tengah kesibukan mereka dan juga di antara waktu mengurus dua krucil mereka yang lucu-lucu, si kalky dan si kemi itu. Secara pribadi, saya setuju dengan pendapat mereka, walaupun cara tiap tiap pasangan masing-masing berbeda tentu saja. Tapi poinnya adalah untuk menjaga cinta tetap luar biasa memang selalu harus diupayakan dan diusahakan secara luar biasa pula oleh kedua belah pihak. 
We can create our own life, termasuk bagaimana kita mempersepsikan tentang relationship yang kita jalani. Yaaah, tuh kan lari kemana mana ini tulisan hahah.
Well, kembali soal dapur. Karena saya suka masak-dan pasangan saya juga suka makan (dan bisa masak juga), jadi dapur merupakan spot yang penting untuk rumah kami. Kami belum mengetahui dengan detail rumah yang baru saja kami beli, hanya lewat foto saja. Namun ada sedikit gambaran dari foto dapur yang dikirimkan orang rumah di Indonesia. Dapur sederhana saja, sepertinya sejenis open kitchen yang menjadi satu ruangan agak besar dengan ruang makan. Tapi tentu saja bisa disulap menjadi dapur yang istimewa dengan upaya yang ekstra pula.
Dapur bagi saya pribadi merupakan tempat yang penting, karena secara filosofis dari tempat itulah saya bisa menciptakan berbagai macam rasa masakan untuk disajikan pada orang tercinta saya. Namun banyak orang mengesampingkan sebuah ruangan bernama dapur ini. Misalnya saja dari filosofi jawa tentang dapur, tempat ini selalu diletakkan di belakang karena mempunyai konotasi dengan tempat untuk hal-hal yang kotor, sehingga harus disembunyikan.
Ah, apapun pandangan masing-masing orang dapur, kadangkala yang harus didengarkan adalah tentang preferensi diri sendiri. Dapur, bagi saya adalah tempat mengejawantahkan cinta saya dalam rasa. Rasa-rasa masakan yang saya ciptakan untuk orang tercinta. 
Terimakasih untuk gambar karya Puuung tadi itu, setidaknya bisa menjadi pengingat, untuk selalu berupaya menjaga cinta senantiasa tetap hangat.
Seperti dengan meluangkan waktu untuk memasak bersama-sama di dapur kita.

Salam.
Glasgow, di penghujung bulan April 2015 yang penuh warna warni


 

3 comments:

Arian Sahidi said...

setelah berulang kali direfresh akhirnya bisa kebuka, meski kudu nunggu dulu haha.

dapur di kosan saya selalu saya jaga sebersih mungkin, meski kadang kotor lagi dan lagi oleh temen sekosan yang sehabis masak udah ditinggal begitu aja haha. saya baru merasakan betapa menyenangkan mengelola masakan yang kita sajikan bukan hanya untuk diri sendiri, tapi juga untuk orang-orang di dekat kita. sepertinya saya kudu membuat tulisan filosofi dapur haha

Siwi Mars said...

Filosofi dapur-itu dah judul bukunya udah dapat kan..tinggal ditulis hehe

Bsf Admin said...

wow, bicara soal dapur jadi pengen masak hehehehhe
www.peluangproperti.com

Post a Comment