Friday, 27 November 2015

Salju





Aku masih menantikan lagi datangnya derai butir-butir salju tahun ini,
agar kita bisa bersama lagi berjalan di tengah guguran salju seperti kala itu,
Saat merasakan bekunya udara dan hangatnya hati pada waktu yang sama.
Menyaksi engkau yang tersenyum, di antara bulir-bulir putih seperti doa-doa yang turun dari langit.
Aku merekamnya dalam kenang.
Dalam hati yang senantiasa menghangat ketika engkau selalu lekat dalam ingat.

Wednesday, 25 November 2015

Membandingkan Kebahagiaan




Seeking happiness outside ourselves is like waiting for sunshine in a cave facing north
                                                                                                            (Tibetan)



Saya harus kembali mengingat kalimat di atas, membuka lagi buku yang ada di rak. Begitulah hidup, harus mengingat kembali..menyadarkan diri kembali. Sering kan kita merasa terhanyut pada jalannya hidup? Dan kok berasa sering iri, kok berasa sering susah bersyukur, kok sering protes-protes sama Tuhan..ihiks, manusia banget yaah..ahaha.
Itu tandanya disuruh “sadar” kembali, mengingat lagi. Kadang-kadang kita tiap hari menghadapi paparan macam-macam yang membuat mood gampang swing nggak jelas, tekanan yang membuat kita stress, ataupun masalah-masalah yang membuat kita terkadang merasa “lelah”.

Yang sering terjadi adalah saat keadaan nggak sesuai dengan mau kita, lalu deh muncul bibit bibit bernama kesedihan ataupun kekecewaan. Itu bibit-bibit kalau dipupuki ataupun dibiarkan tumbuh terus lama-lama akan menggerus energi positif, lalu menyebarkan rasa-rasa yang semakin menciutkan kebahagiaan. Yang kadang berbahaya adalah, kita nggak sadar ketika kita membiarkan bibit-bibit tersebut terus tumbuh. Oleh karena itu, kepekaan itu penting banget. Kalau sudah sering dilatih, kadang-kadang “rasa” kita semakin peka kalau energi kita banyak mengalir untuk perasaan-perasaan yang negatif. Tapi ya gitu, kalau semakin jarang dilatih, kepekaan itu bisa makin tumpul.

Beberapa saat ini, saya dijangkiti “sensi” kalau terpapar hal yang sedang saya upayakan, yang lama yang inginkan, bertahun tahun saya perjuangkan namun belum juga mewujud. Sedangkan orang lain “nampaknya” mendapatkan itu dengan mudahnya, seperti effortless. Namanya saja “nampaknya”, tentu saja tidak seperti itu adanya. Walaupun tahu dan sadar kalau nggak seperti nampaknya, namun tetap saja ya..sensi-sensi sedikit..eh banyaak mahahah.
Sensi itu kemudian “melahirkan” protes semacam kalimat : “Tuhan, kok Engkau masih belum mengangguk juga sih”
Nah kan..begini ini kalau dibiarkan bisa merusak. Akhirnya kita membanding-bandingkan kebahagiaan kita dengan orang lain. Iya tahu sih, don’t compare ourselves to others! Itu rumusnya..tapi praktiknya, masih lah yaaa kadang-kadang hihih..
“ Kok mereka bla bla bla..ya...kok dia bla bla yaaa..”

Kalau lagi begitu, memang saatnya harus banyak banyak melongok ke dalam diri. Melihat keberkahan, rejeki, kebahagiaan yang telah Tuhan berikan pada kita. Cari dan terus cari alasan-alasan untuk terus bersyukur.
            “ Kamu itu harus banyak bersyukur lho, udah dikasih kesempatan sekolah tinggi di luar negeri, dapat beasiswa, bisa jalan-jalan..bla blaaa” itu sih sering dibilang temen-temen.

Iya sih itu bener juga, tapi Tuhan ternyata kasih standar peperangan orang itu beda-beda,  setiap orang menghadapi peperangan ujiannya masing-masing.

Lihat ke dalam diri, terus berjalan ke dalam diri. Kadang-kadang memang banyak distraksi di sepanjang jalan. Anggap saja warna warni.

Ah, percayalah, tulisan ini lebih pada sebagai pengingat diri sendiri.

Salam,
Glasgow di saat suhu yang makin menggigil
 
 

 

The Hermitage-Pitlochry-The Loch Tummel




Suhu udara memasuki musim dingin ini sudah makin menurun saja. Rasanya musim dingin kali ini lebih dingin daripada tahun sebelumnya. Saya merapatkan syal untuk menahan hawa dingin yang menyelusup sembari menunggu kedatangan bis tour yang akan membawa saya menuju Pitlochry. Saya dan teman seperjalanan ikut bus tour kampus yang akan mengunjungi beberapa lokasi di Highland. Saya beberapa kali ikut tour kampus ini, terutama untuk lokasi yang sulit dijangkau dengan kendaraan umum seperti bis maupun kereta. Pitlochry, tujuan tour kali ini berada di area highland. Oh ya, Skotlandia dibagi menjadi dua daerah besar yakni lowland (dataran rendah) dan highland (dataran tinggi), dan Glasgow termasuk ke area lowland.

Bus tiba tepat waktu sekitar pukul 7.45 dengan waktu keberangkatan yang tertera di tiket adalah pukul 8.00. Satu hal yang patut untuk dicontoh yakni ketepatan waktu sesuai jadwal. Seperti biasa saya mengambil posisi duduk di dekat jendela, tentu saja agar bisa lebih leluasa menikmati pemandangan di luar jendela. Pemandangan lanskap Scotland apalagi area highland selalu memanjakan mata. Bus meninggalkan Glasgow dengan matahari yang baru saja terbit menampakan gurat gurat kemerahan di langit pagi itu. Jarang sekali rasanya melihat matahari terbit di sini. Tentu saja karena jarang matahari muncul ehehe. Beberapa waktu itu cuaca sudah makin tak menentu, seringkali hujan disertai angin yang membuat malas sekali ke luar rumah. Makanya Alhamdulillah hari ini cuacanya cerah, walau tetap saja suhunya bbrrrrr.

Bus melaju menuju area higland dengan pemberhentian pertama kami adalah The hermitage National Park. Agendanya jalan-jalan saja menyusuri River Braan di hutan Craigvinean tersebut. Pemandanganya hampir sama lah dengan National Park di Indonesia, bahkan beberapa lebih indah di Indonesia. Ada air terjun dan juga gardu pandangnya. Memang agak aneh sih, dingin-dingin begini jalan-jalan ke park ehehe..tapi tetap saja menyenangkan kok. 

The Hermitage-Hutan Craigvinean
Tujuan tour kali ini adalah ke Pitlochry, sebuah kota kecil di area Highland. Kotanya cantik dengan lanskapnya yang apik. Walaupun tidak terlalu banyak tempat yang bisa dikunjungi, namun berjalan-jalan di area city centre-nya saja juga sudah lumayan menghibur. Kami mampir ke toko fish and chips sebelum mulai menjelajah. Sebenarnya kami sudah menyiapkan bekal berupa nasi dan ayam kungpao, namun sepertinya hawa dingin yang menyergap membuat kami ingin makan sesuatu yang hangat-hangat. Kami ngobrol dengan di penjual fish and chips dan bertanya lokasi mana yang layak untuk dikunjungi. Katanya dia sih pergi saja ke Fish Ladder.
Akhirnya kami pun menuju ke sana. Hummm, sebuah bendungan yang terlihat sudah cukup tua. The Dam and Fish Ladder ini dibangun antara 1947-1951, yang fungsi untuk generator listrik dan fish laddernya untuk memungkinkan migrasinya salmon atlantik melewati dinding bendungan. Kalau bagi saya yang anak tropis, wisata begini gini emang terasa tidak terlalu menarik. Ya lumayan buat tahu-tahu aja lah. Di seberang dam, ada jembatan yang lumayan unik dimana ada gembok gembok kunci yang bertuliskan nama pasangan-pasangan gitu. Ala-Ala yang ada di Paris gitu lah.

Usai dari Fish Ladder kami kembali ke city centre, dan hendak menuju Pitlochry Church. Signal Hp di area ini sudah susah banget untuk google maps, jadinya ya asal jalan saja. Dan tadaaa...akhirnya ketemu juga. Bangunannya super cantik. Dari gereja ini juga bisa memandang lanskap kota ini dari ketinggian. 


Atap-atap bangunan bangunan kota yang terlihat dengan atap atapnya yang berbentuk kerucut itu membuat berasa seperti dengan di negeri dongeng gitu ehehe. Lihatlah foto di bawah ini, terlihat kan lanskap kota ini yang cantik.



Usai dari gereja, kami menghabiskan sisa waktu untuk berkeliling di area city centre. Memasuki toko-toko, ataupun sekedar jalan-jalan menyusuri kota sampai jam 3 sore, waktunya kami kembali ke bis untuk perjalanan berikutnya.
Dari area pusat kota Pitlochry, kami kemudian menuju The Queen's view. Kata di Hoji, pemandu tour ini..the Queen's view adalah salah satu tempat favorit dia selain Isle of Skye. Hiks, ingat Isle of Skye saya mendadak sedih. Soalnya sampai mau pulang pun belum kesampaian ke sana. Lokasinya yang sulit dijangkau dengan kendaraan umum itulah yang membuat susah menuju ke tempat itu. Biasanya anak-anak pada rombongan sewa mobil ke sana, ataupun ikut tour. Nah, berhubung kemarin-kemarin saya masih ribut dengan urusan thesis, jadi nggak sempat ikut rombongan anak-anak Glasgow. Baru deh, saat waktu sudah sempit begini berasa...dududu.
Ah, itu mungkin tandanya saya harus balik lagi ya ke sini buat jalan-jalan ahah

Baiklah, sekitar 30-45 menit kami sampai di Queen's View, Loch Tummel. Rencananya, tour ini mampir ke tempat ini sekitar jam 4 sore untuk melihat sunset. Tapi langitnya Scotland lagi nggak begitu bersahabat, jadinya sunsetnya nggak muncul. Tak apalah, udah dikasih cuaca nggak hujan saja seharian ini sudah Alhamdulillah banget.
Dan ternyata the Queen's view ini memang indah. Dari tempat ini kita bisa melihat Loch Tummel dari atas. Konon, tempat ini dinamai The Queen"s view setelah Ratu Victoria mengunjungi daerah ini pada tahun 1866. Tempatnya sungguh seperti di antah berantah, di antara Tay Forest Park,  jalan menuju ke tempat ini hanya sebuah jalan sempit yang hanya bisa dilalui 2 mobil yang mengharuskan mobil berjalan perlahan saat harus bersimpangan. Susah kan kalau pakai kendaraan umum, mana ada yang jurusan ke tempat ini. Ini sih salah satu keuntungan ikut tour kampus seperti ini, harganya lumayan bersahabat dan bisa ke beberapa tempat dalam sekali tour. 

Kami diberikan waktu satu jam untuk menikmati tempat ini untuk berfoto, duduk-duduk ataupun bisa ke cafe untuk minum kopi. Ada satu cafe yang tersedia di sini, tempatnya pun cukup representatif. Sempet kepikiran, ini pegawai cafe-nya gimana ya transportnya tiap hari kerja di sini? heheh lah kerja di tengah area antah berantah seperti ini.





Usai dari The Queen's view kami kembali menuju Glasgow. Dengan suhu yang makin menurun, dan dingin sudah semakin memeluki tubuh. Penat memang, hari ini lumayan jalan banyak. Tapi tentu saja menyenangkan.
Jalan-jalan selalu saja menyenangkan, iya kan?