Jumat, 31 Juli 2020

Mengunjungi Tapak Sejarah Shakespeare di Stratford Upon Avon



Udara pagi Birmingham yang sejuk mengiringi langkah-langkah kaki menuju stasiun kereta, yang akan membawa saya ke Stratford Upon Avon. Tadinya tidak ada rencana sama sekali akan mengunjungi kota kecil ini saat menyusun rencana perjalanan selama dua minggu di UK. Tapi karena saya memutuskan untuk tinggal di Birmingham selama 2 hari, sementara sahabat saya, Mbak Isnia sibuk ikut seminar, jadinya daripada saya krik-krik di Birmingham, akhirnya saya memutuskan untuk ke Stratford Upon Avon.
Kereta yang membawa saya dari Birmingham ke Stratford Upon Avon tidak terlalu penuh, sehingga saya dengan leluasa menikmati suasana di balik jendela kereta. Saya selalu suka mengamati pemandangan di luar jendela ketika dalam perjalanan. Hijaunya ladang-ladang, domba domba lucu yang asyik merumput serta kincir angin di kejauhan. Rasanya tenang, indah dan damai. Hal inilah salah satu yang selalu saya rindukan untuk mengulang kembali suasana ketika saya masih tinggal di UK. 
Selama empat tahun tinggal di UK dari Tahun 2011 hingga 2016 awal, saya tidak pernah saya jalan-jalan ke luar kota sendirian. Pasti biasanya dengan teman-teman bareng-bareng atau paling enggak berdua. Tapi kali ini berkelana sendirian memang terasa berbeda rasanya. Setelah sekitar 1 jam perjalanan dari Birmingham, saya tiba di stasiun Stratford yang sedang direnovasi, suasana terasa sepi, mungkin karena weekday juga. Stratford terletak di wilayah Warwickshire, sekitar 22 mil (35 km) sebelah tenggara Birmingham. Salah satu yang membuat terkenal kota ini tentu saja karena daya pikat William Shakespeare. Siapa yang nggak tau Shakespeare ya kan?
Walaupun secara pribadi, saya nggak favorit-favorit banget karya-karyanya Shakespeare, tapi tentu saja pengen juga dong mumpung sedang di UK, untuk melancong mencari jejak sejarahnya Shakespeare. Jadi memang tujuan wisata ke Stratford ini ya demi melihat tempat tinggalnya penulis besar Inggris tersebut hehe.
Saya langsung melangkahkan kaki menuju rumah tinggal Shakespeare tersebut, dengan bantuan google maps. Saya tidak berencana untuk  membeli paket tiket bis karena rencananya hanya jalan-jalan sekenanya saja, tanpa ada target-target tertentu. Menikmati suasana di sepanjang jalan, dengan bentuk bentuk bangunan yang khas memanjakan mata. Sekitar 20 menit jalan kaki dari stasiun kereta api, saya sampai di area rumah tempat lahir Shakespeare. Terletak di Henlet Street, rumah yang diyakini dimana William Shakespeare lahir di sana pada Tahun 1564 dan menghabiskan masa kecilnya. 


                                                                               Rumah lahir Shakespeare

Sebenarnya rumahnya terlihat sederhana, tapi katanya untuk rumah abad-16 itu dianggap hunian yang cukup besar. Secara artitektur juga biasa saja, tapi melihar sejarah ada di depan mata sungguh istimewa. Bisa melihat sendiri rumah lahir Shakespeare dan lingkungan sekitarnya jadi kebayang seperti apa kehidupan dulu saat Shakespeare masih hidup. Kotanya kecil tapi menyenangkan, kumpulan turis kebanyakan terpusat di sekitar area rumah tinggal Shakespeare karena di sekitar situ banyak cafe, charity shop dan museum shakespeare centre. Saya memuaskan diri menjelajah ke toko oleh oleh khas shakespeare yang berisi pernak pernik lucu tentang sang penulis itu. Untuk kenang-kenangan saya membeli magnet kulkas yang bergambar rumah lahir Shakespeare itu. Yah, ringan di kantong dan ringan untuk dibawa. 



Saya kemudian menghabiskan waktu berjalan jalan di daerah sekitar situ, asik melihat melihat di Charity shop dan membeli beberapa barang barang lucu. Saya memang gemar banget lihat lihat ke Charity shop, semacama toko barang second dalam kondisi yang masih bagus. Soalnya sering nemu barang barang lucu dan harganya terjangkau.  Dan sebenarnya yang bikin saya seneng juga suasananya, soalnya kebanyakan Charity Shop itu dilayani oleh orang orang yang volunteer bekerja disitu. Jadi entah kenapa ya...auranya itu bikin hepi,
        " Owh this is so lovely, isn't?" komentar seorang perempuan yang sudah berumur 60 tahunan yang bertugas di kasir, sambil menimang hiasan rumah yang saya beli. 
Begitulah, senyum..kalimat yang bikin adem, lalu dapat barang kece dengan harga yang murah. Kombinasi yang pas untuk hunting-hunting barang kece di UK. 
Saya kemudian menghabiskan waktu berjalan jalan ke daerah sekitar kanal, duduk duduk di rumput menikmati kanal yang tenang serta turis-turis yang tengah menanti jadwal kapal yang akan membawa mereka menikmati kanal. Saya sebenarnya pengen juga naik kapal dan berkeliling, tapi krik krik juga sendirian dan takut jadwal keretanya mepet. Memang yah, jalan jalan sendirian itu terkendala nggak ada yang leluasa motretin haha, sementara saya suka foto foto gitu. Akhirnya saya banyak foto foto suasana kotanya saja. 


Cantik kan kotanya, so kalau kamu punya waktu bisa banget untuk singgah di kota kecil ini. Mengunjungi tapak tapak sejarah Shakespeare. ***

Catatan perjalanan Agustus-September 2019