Rabu, 25 September 2013

What If




Syal ungu lembut dan cardigan hitam disambar Kinan dari lemarinya dan bergegas pergi ke suatu tempat. Dikenakannya cardigan sambil berjalan keluar dengan tergesa-gesa.
            “ Mada ada di kota ini, Kin. Ia ada konferensi di sini, dan hanya tinggal sampai besok malam. Ia menanyakan kontakmu berkali-kali. Sepertinya ia sungguh ingin bertemu lagi denganmu, Kin.” Suara Melia di ujung telponnya sehari lalu.
Mada? Lelaki dengan senyuman itu. Perlukah kutemui ia lagi? Kinara membatin. Mungkin tidak. Untuk apa menemuinya? Waktu telah membekukannya.
Tapi lihatlah kini ia berkejaran dengan waktu menuju Bandara Muenchen. Menemuinya.
What if? Bagaimana bila kesempatan ini adalah satu satunya kesempatan untuk melihatnya lagi? apakah akan ia lewatkan begitu saja?. Apakah setelahnya, hidupnya adalah tentang kenang dan masa lalu Mada. Dan masa depan tak pernah menyisakan cerita dengan nama itu lagi?
Kinar meminta sopir taksi membawanya ke Bandara Muenchen dengan segera. Laju mobil seakan berpacu dengan degub jantungnya. Tidak akan pernah ada lagi What If, bisiknya lagi. Dibenarkan posisi syal ungu yang menghangatkan lehernya, dan disibakkan rambut panjangnya.
            Nada sambung itu akhirnya terjawab dengan suara yang amat dikenalnya di ujung telpon. Suara itu masih sama, hanya terdengar lebih berat.
            “ Mada? Tunggu aku. I just want to see your face,” Kinara mengucapkan kalimat itu seakan bicara dengan seseorang yang tiap hari disapanya.
Tapi Mada, lelaki itu sudah menghilang dari hidupnya empat tahun yang lalu. Ah bukan Mada yang menghilang, tapi Kinarlah yang menghilangkan dirinya dari hidup Mada.
Karena rasanya sudah terlalu penat. Bersamanya dulu terlalu banyak What If. Andaikata, bila...Tak ada hidup yang sebenar-benarnya kala bersamanya, hingga akhirnya Kinar memutuskan untuk menghilang. Pergi mencari hidup yang memberinya banyak pertanyaan dan jawaban, tapi bukan lagi, andaikata.
Ditutupnya telepon dan merasai degub jantungnya yang berpacu lebih cepat. Tangannya berkeringat. Ia gugup. Tidak akan pernah ada lagi What if. Tegas Kinara dalam hatinya lagi.
         Sesampainya di Bandara, matanya mencari sesosok yang empat tahun lalu diakrabinya itu. Belum juga ia temukan. Berkali kali Kinar menengok pada jam tangan di pergelangan, sometimes I hate time!
            “ Hai pipi merahku, tengah mencariku?” suara di belakang Kinar mengagetkannya. Kinar segera berbalik dan menemukan sosok yang sedari tadi dicarinya.
Lelaki dengan tinggi sedang, berjaket berkerah tinggi, dan syal melilit di lehernya. Kinar terpaku sejenak memandangi syal yang melilit menghangatkan leher Mada. Itu syal dariku.  Aku tak salah lihat, ia bahkan masih memakai syal pemberianku. Bisik hati Kinar yang seketika menghangat.
                                                            ***
            Napcabs ini sungguh teroboson unik di Bandara Muenchen. Ruang tunggu pribadi ini berbentuk kotak dengan perlengkapan yang nyaman yang bisa disewa sambil menunggu jadwal keberangkatan. Agak mahal memang, harga yang pantas untuk sebuah kenyamanan.
            “Masih minum kopi kan, Kin? “ Tanya Mada sambil terlihat menyiapkan dua cangkir kopi untuk menemani mereka ngobrol.
            “ Satu  sendok gula,  dua sendok bubuk kopi dan sedikit cream. Rumus racikan kopimu masih sama kan? “ lanjut Mada dengan cekatan menyiapkan kopi.
Kinar tersenyum samar. Dia masih saja menyebalkan, seru batinnya. Mada baginya menyebalkan karena hampir tahu semua tentang dirinya dan bahkan sampai kini tak berniat melupakannya.
            “Kok diem? Ayo minum kopinya. Dulu kamu suka banget racikan kopi bikinanku. Sudah ada yang bisa menggantikannyakah? “ tanya Mada dengan ringan, lalu tersenyum padanya.
Mada tak menyadari ada gempa bumi kecil di hati Kinar saat memperhatikan cara Mada berjalan, tersenyum, dan bicara. Nada suaranya, caranya tersenyum, gaya bicaranya masih tetap sama. Hey, Kinar ..bukan untuk itu kau menemuinya! Sergah batinnya. Sebenarnya ia lebih mengharapkan pertanyaan Mada padanya seperti : “Kemana saja kau selama ini? Apakah kau baik-baik saja tanpaku? Kenapa menghilang begitu saja tanpa kabar apapun?
Atau sekedar pengakuan sederhana : “Aku sungguh merasa kehilanganmu, Kin”.
Tapi Mada hanya bicara soal kopi.
Kinar hanya tersenyum sambil menggengam secangkir kopi hasil racikan Mada. Matanya melihat lelaki di hadapannya itu lagi, mencari-cari perubahan apa yang dilewatkan setelah beberapa tahun tak melihatnya. Rindu itu sudah beku.
            How’s life? “ hanya pertanyaan singkat itu yang mampu terlontar dari bibir Kinara. Walau terlalu banyak yang ingin ia tanyakan sebenarnya.
            “ Aku masih hidup. Tak dinyana ya. “ jawab Mada lugas. Ah, lelaki penderita cyctic fibrosis yang menunggu jadwal transplantasi hati bertahun-tahun  itu terlihat masih bugar di hadapannya.
Ia bahkan tak pernah mengira akan bisa melihatnya lagi. Lelaki itulah yang dulu sanggup meyakinkannya untuk meraih apapun impiannya. Lelaki yang datang dengan senyuman dan serombongan anak-anak yang memaksanya mengajar di halaman belakang. Tapi penyakitnya itu menggerogoti keberaniannya sendiri, bahkan keberaniannya untuk mencintai.
Mereka kemudian diam membisu. Padahal Kinar hanya ingin menghambur di pelukan lelaki yang aroma tubuhnya bahkan masih dikenalinya itu. Namun melihat lelaki itu masih sanggup menghirup udara, dan hati hasil transplantasi dalam tubuhnya masih mengenalinya, hanya itu saja sungguh sangat membuatnya bersyukur.
Tapi mereka tak bergeming.
            “Kenapa dulu kamu tak pernah berani? Berusaha agar kita tetap bersama? “ akhirnya Kinara menanyakan apa yang ingin ditanyakannya selama bertahun-tahun belakangan ini.
            “ Kin, aku tidak tahu apa aku bisa bertahan atau tidak. Apa transplantasi hatiku akan berhasil atau tidak. Apa setelah itu hatiku masih mengenali hatimu? Aku tidak bisa menjanjikanmu apapun. Sebuah hubungan yang normal, pernikahan, anak-anak. Mungkin saja aku tak pernah bisa,” jelas Mada pada akhirnya.
            “ Kamu masih ingat berapa lama aku bertahan untuk bersamamu? “ ada nada protes pada kalimat Kinan.
Mada membisu. Ia tahu betul lebih dari tiga tahun Kinara bersamanya. Namun ia memang tak pernah berani memutuskan apapun. Apabila aku mati minggu depan? Bulan depan? Bagaimana dengan Kinara? Mungkin terlalu banyak kecemasan dan ketakutan yang menyelimuti hatinya. Kecemasan membuatnya menjadi seorang pengecut.
            “Bukan penyakitmu yang membuatku pergi. Tapi ketidakberanianmu mencintaiku. Terlalu banyak apabila, andaikata. What if” jelas Kinan mengenang kembali luka dalam hatinya.
Entah kenapa lukanya kembali terasa segar. Hatinya sakit.
            “Kau bersama siapa sekarang? “ tanya Mada mengalihkan pembicaraan. Tapi sekaligus pertanyaan yang disimpannya beberapa waktu lamanya. Kinara, perempuan berpipi merah itu, terlalu sulit untuk bisa melupakannya.
            “ Kau tahu aku memutuskan bersama seseorang bukan karena takut sepi, bukan karena takut sendirian,” jawaban Kinar bersayap. Ia kembali membetulkan syal ungunya, lalu menyesap kopi racikan Mada. Ah, bahkan rasa racikan kopinya masih tetap sama. Ia tak pernah lupa sensasi rasa kopi hasil racikan Mada.
            “ Aku menelpon untuk bertemu hanya ingin melihatmu saja. Itu saja. Agar tak pernah ada lagi apabila, andaikata. What if. Aku lelah dengan kata itu dalam hidupku. Kini tak akan pernah ada lagi” lanjut Kinara panjang. Tapi kegugupan melanda hatinya. Disesapnya kopi di cangkirnya lagi.
            “ Kamu dulu itu takut hidup, walaupun kau masih hidup. Mungkin sesekali kau harus membiarkan hidupmu lepas. Mengambil risiko, memutuskan pilihan dan terus berjalan,” Kinara masih berkata dengan acak. Sementara Mada masih memperhatikan perempuan di hadapannya. Pipi chubbynya yang masih tak berubah, rambut panjang lebih dari sebahunya yang tak pernah dipotong pendek, mata hitam bulatnya yang selalu terlihat antusias saat bicara. Ah, ia dulu terlalu takut kehilangan perempuan berpipi merah itu.
Mada meletakkan cangkir kopinya.
            “Kamu mengajariku untuk tak pernah takut lagi. Apalagi yang sanggup aku takutkan? Aku sudah pernah merasakan bagaimana rasanya kehilanganmu? Memangnya ada sesuatu yang lebih pahit dan lebih sakit daripada itu? “ kata Mada dengan suara yang bergetar.
Ditatapinya wajah perempuan yang bahkan masih diingat setiap detailnya. Hidungnya yang kecil, matanya yang bulat, alisnya yang tebal. Ah, si alis ulat buluku, si pipi merahku,  serunya dalam hati. Waktu memang ambigu. Bahkan waktu tak sanggup menyembunyikan rindu.
            “ Sebentar lagi waktu penerbanganmu. Ayo bersiap, nanti terlambat.” Kata Kinara mengingatkan Mada. Oh, lagi-lagi ia membenci waktu.
            “ Kin... selama ini aku nggak  pernah melupakanmu. “ Mada masih saja terus bicara.
            “ Itu udah nggak penting lagi, aku cuma pengen ngeliat kamu baik-baik. Itu saja, cukup.” jawab Kinara sambil menunduk, memainkan syal ungunya. Hatinya teraduk aduk.
            What if..” kalimat Mada menggantung
            “ Uhmm.. tak pernah ada lagi andaikata. Bagaimana jika. Nggak ada lagi What if. Kutanyakan sekali ini saja, masihkah kau mau bersamaku? Hingga tak pernah ada lagi penyesalan. Andai saja dulu aku berani untuk mengambil keputusan? Jika saja aku memutuskan untuk tetap bersamamu? What if..what if..menghantui hidupku.” Kata Mada seakan kata-kata itu berloncatan dari bibirnya.
            “Aku tidak ingin membawa-bawa pertanyaan  yang belum usai dalam hidupku. Sekarang kau jawab, kita selesai atau bersama.” Lanjut Mada tegas.
Kinara sedikit bingung menghadapi pertanyaan Mada yang spontan. Tangannya meremas sofa yang didudukinya. Pikirannya gundah, tapi sebenarnya hatinya tidak.
            “ Pulanglah, jadwal penerbanganmu sudah tinggal sebentar lagi,”jawab Kinar sambil merapikan tas dan mengenakan lagi cardigannya agar terasa hangat. Musim gugur akan segera datang. Udara dingin sudah makin menusuk tulang.
Mada masih menatapnya dalam-dalam. Ada harap yang belum padam. Dan juga cinta yang masih membayang di matanya.
            “ Pulanglah... sehat-sehat ya,” pesan Kinara sambil membenarkan syal milik Mada. Syal pemberiannya di Ulang Tahun Mada yang ke 28. Tangannya yang lembut sedikit menyentuh kulit leher Mada.
            “ Tapi Kin,..” tanya Mada menggantung, ada harap yang sulit disembunyikan.
            “ Pulanglah dulu, nanti kita cari cara bagaimana mengalahkan jarak dan samudra,” kata Kinara mantap. Dan senyum dari perempuan berpipi merah itu kembali merekah. Mereka membenci waktu sekaligus menghormatinya, karena waktu mengajari mereka menaklukkan kecemasannya sendiri.
            Papan elektronik di Bandara Muenchen sudah menunjukkan waktu saatnya penumpang penerbangan menuju Amsterdam check in. Langkah Mada lebar-lebar sambil menggiring koper besar miliknya. Tapi mereka sebenarnya tak kemana-mana. Hati mereka terbang bersama.

What if,   I had never let you go
 Would you be the man I used to know?
 If I'd stayed
 If you'd tried
 If we could only turn back time
 But I guess we'll never know (What If, Kate Winslet)
                       
Glasgow, 24 Sept 2013.

Sabtu, 21 September 2013

Tujuh




Aku mencintai angka tujuh jauh sebelum aku mencintaimu. Jauh sebelum aku bertemu denganmu, mengenalmu.
Bila kau masuk lorong waktu dan melihat hidupku dulu, engkau akan banyak menemukan angka tujuh di situ.
Ah, tapi bukankah tak perlu masuk lorong waktu. Karena Aku, kamu, angka tujuh, dalam detik ini saja sudah cukup.
            “Kenapa harus angka tujuh?” tanyamu. Tanya orang-orang lain juga terkadang. Seringkali hanya kujawab dengan senyuman. Kau selalu cukup dengan senyumku bukan? Dan lupa apapun pertanyaan yang kau ajukan sebelumnya.
Padahal kadang kala ingin kujawab, dengan berkata :
“Mungkin itu nomer punggung.”
“Mungkin juga bukan.”
Ah, iya itu sebenarnya nomor punggung. Ah, kadangkala manusia pada suatu ketika ingin menghapus kekonyolan-kekonyolan masa lalu. Merasa bahwa andai ia langsung menjadi dewasa tanpa melewati tahapan-tahapan yang menyimpan senyum  malu bila diingat.
Ah, baiklah. Bukankah aku juga harus berani untuk tetap menyimpan kekonyolan masa lalu.
Iyah, tujuh itu nomor punggung.
Sudahkah pernah kubilang padamu tentang ini?
Kau hanya tahu aku suka angka tujuh dengan alasan yang tak pasti. Dan melihat angka tujuh tersemat dimana-mana. Nama akun BB, nomer ponsel, password, angka tujuh bertebaran di mana-mana.
            “ Adek kirim semangat 7 kg ya dari siniiii,” kataku seringkali. Dan kamu senang hati tanpa banyak bertanya kenapa apa-apa harus tujuh kilo, tujuh kali, tujuh..dan tujuh.
Tapi beberapa saat lalu, aku kelu. Obrolan tek-tok dan never ending conversation yang biasa kita lakukan mendadak bisu. Aku yang bisu.
Sementara layar penuh dengan celotehanmu yang cerewet.
            “ Bingung mau ngetik apa hehe,” hanya kalimat itu yang terketik di layar ponselku.
Lalu terlihat berbaris-baris kalimatmu lagi. Cerewet!
            “ Ingin bilang sesuatu tapi tidak tahu apa,” lanjutku. Ada yang ingin kusampaikan saat itu tapi tak tahu apa.
Lalu di layar kembali muncul berbaris-baris kalimatmu lagi. Sampai pada kalimat “sehat-sehat ya, baik-baik ya, makan rutin ya. Bla bla..bla..
Dan aku membalas dengan berderet-deret ikon senyuman.
            “ Sudah dulu ya, baik-baik ya. Assalamualaikum,” pungkas kalimatmu.
            “ Walaikumsalam” jawabku mengakhiri obrolan tak jelas malam ini, waktu milikku, dini hari milikmu.
Tapi sedetik kemudian kusadari satu hal, lalu kuketik lagi
            Eh sebentar, senyumannya dikurangi satu, itu delapan. Kurangi satu biar jadi tujuh. Walaikumsalam.
            “ Hahaha hadooh,” dan ikon tepot jidat muncul di layar.
Ah kamu, pahamilah aku dan angka tujuh.
Kau tahu, kini aku tahu apa yang sebenarnya ingin kubilang padamu beberapa saat lalu itu.
            “ Tujuh itu sempurna. Dan Kamu itu..delapan! sempurna dengan segala kurangmu. Lebihmu!”


Tsaaah, abaikan tulisan ini hihiii..

Glasgow dini hari. 21 Sept 2013.
         



Senin, 09 September 2013

Tentang Cemas



Glasgow sudah lewat tengah malam, namun mata belum juga bisa terpejam.  Jam meja berdetak perlahan.
Senyap. Dini hari membekukan Glasgow yang sudah memasuki musim gugur. Dingin sudah menyelusup tulang. Aku tiba-tiba memikirkan tentang rasa cemas. Sejenis rasa cemas yang baru, dan itupun bila beberapa tahun bisa dianggap baru.
Kau tahu seperti apa mencemaskan?
Pasti semua manusia mengalami dan merasai kecemasan-kecemasan. Karena cemas juga mungkin sama saja seperti katalog rasa lainnya. Ia datang dan pergi
Iya, datang dan pergi
Ah, mungkin aku hanya harus memeluki cemas dengan lebih mesra
Lalu kenapa cemas? Apakah karena takut hal buruk yang akan terjadi? ataukah takut akan kehilangan? Atau memang cemas itu rasa manusiawi yang menyelusup di hati tiap manusia.
Ini bukan semacam cemas yang berlebihan. Ini hanya sejenis rasa yang sekelebat datang dan pergi. Manusiawi saja.
Kini, kucoba dekapi cemas dengan tak terlalu erat. Menyisakan ruang agar ia tak sepenuhnya hilang.
Karena mungkin cemas berguna untuk membuat kita waspada.
Dalam hidup, manusia tentu saja harus berhadapan dengan kecemasan-kecemasan.
Mungkin sepertiku, yang tak bisa terpejam saat kau menyetir.
Mungkin sepertiku, yang gulana sejenak bila kau dalam perjalanan.
Mungkin rasa campur aduk milikku, melihatmu di ruangan itu, berjuang untuk mimpi-mimpimu. Sedang aku berada dalam radius yang bisa melihatmu dengan jelas, hanya bisa membantumu dalam doa.
Mungkin suatu saat,
Iyah suatu saat nanti, rasa cemas pun akan berganti-ganti.
Cemas sejenis tanggal melahirkan yang diperkirakan dokter akan semakin mendekat,
Sejenis menyapih anakku yang pertama,
Semacam menantimu pulang dari dinas luar,
Serupa cemas saat anak-anak kita ataupun engkau sakit,
Atau mungkin cemas akan kematian,
Dan mungkin juga kecemasan-kemasan lainnya.
Mungkin aku harus terus belajar memeluki rasa cemas dengan lebih mesra, lebih lembut.
Karena cemas bukan dihindari, bukan diusir-usir pergi, bukan dihadapi dengan penolakan.
Ia, seperti juga rasa-rasa lainnya,
Mungkin belajar kupeluki cemas dengan doa, dengan sujud.
Karena terpikir bahwa,
Mungkin Tuhan mencipta cemas agar manusia merasai tentang keMaha KuasaanNya.

Glasgow, 9 Sept. Hampir jam 2 pagi.

Tentang Kenapa




Di antara pertanyaan seperti  : apa? Dimana? Siapa? Bagaimana? Mengapa? Kenapa? Saya punya kesan tersendiri pada pertanyaan : kenapa?
Ada beberapa momen yang masih saja kuingat saat seseorang menanyakan hal tersebut pada saya.
Kenapa?
Kenapa itu seperti dua tangan yang terbuka menyambutku dengan segenap waktu dan  perhatiannya. Kenapa itu seperti genggaman di tanganku yang memberikan kekuatan. Kenapa itu seperti pemadatan dari ribuan kalimat yang ingin mengatakan “ada aku, kamu tidak sendirian”.
Kenapa itu seperti orang yang duduk di sampingmu, siap mendengarkanmu. Kadang mendengarkan saja, tanpa pretensi, tanpa menghakimi, tanpa pula berusaha setengah mati memberikan solusi. Karena sebenarnya kesediaan mendengarkan itupun merupakan sebagian solusi itu sendiri.
Saat hidup tengah penat, ataupun tengah ditumpuk segudang aktivitas, ataupun ada kejadian-kejadian yang membuat hari terasa berat. Saat ada yang datang padamu, dengan sapaan sederhana. Kenapa? Atau ada apakah? –bahkan bila itupun serupa text-text digital yang terbaca di layar HP, di layar laptop ataupun komentar. Rasanya saya ingin memeluki text itu, karena hangat menjalar tiba-tiba. Serasa beban terangkat serta merta.
Mungkin karena di balik kata kenapa, tersimpan perhatian, kasih sayang, ataupun juga cinta. Mungkin juga ada peduli, ada simpati. Ingat-ingatlah kapan terakhir kali kamu saat bermuka masam, ataupun saat harimu terasa berat. Lalu kemudian ada seseorang yang menanyaimu, kenapa? Dengan sepenuh-penuhnya perhatiannya. Mungkin saatnya kamu mengingat seseorang itu, karena tidak banyak yang menyayangi dengan cara yang seperti itu. Karena tidak banyak orang yang datang dengan pertanyaan kenapa tadi itu mampu mengubah harimu yang kelabu kembali jadi semanis madu. Meringankan bebanmu dan menerbitkan lagi senyummu.
Ingat-ingatlah, ah dan sepertinya memang engkau akan susah melupakannya. Jadi selamat ingat.

---
Terimakasih untuk kenapa-mu.


Jumat, 06 September 2013

Tentang Endorsement : Nada Tjerita




Minggu siang beberapa hari lalu, sebelum  berangkat ke lab sahabat saya Manunggal Kusuma Wardaya atau biasa disingkat MKW mention di twitter untuk minta endorsement buku barunya yang akan segera terbit. Dia itu rekan dosen di Unsoed, namun beda fakultas yakni mengajar di Fakultas Hukum. Saat inipun dia sedang menempuh studi doktoral di Universitas Nejmegen, Belanda, tapi seringkali dia kabur ke Indonesia untuk berkumpul dengan keluarga dan krucil-krucilnya. Menjadi maklum bagi saya, karena studinya di bidang hukum tentu saja tidak terikat kerja laboratorium seperti riset saya.
 Kali ini ia sedang menggarap projek untuk menerbitkan buku pertamanya dengan judul Nada Tjerita yang akan diterbitkan penerbit Indepth Publishing, Lampung. Caranya minta endorsement juga unik, serupa dengan gayanya yang selenge’an itu. Dia kirim email singkat dan batasan waktu yang super singkat pula. Dududuuh kelakuan memang.
Ini PDF nya,
Tolong kasih satu dua kalimat singkat endorsement ya, sekalian identitasmu (Penulis buku bla blabla dst itu)
Ditunggu dalam beberapa jam ini. Awas nek kesuwen ora usah san gawe hahahaahax.
I want to have your name on the back cover of my book.
Greetings
Awas nek kesuwen ora usah san gawe (ini bahasa super ngapak yang artinya : awas kalau kelamaan nggak usah sekalian!). Hihi begitulah gaya bahasanya. Kadang-kadang beberapa orang yang membaca gaya bahasanya mungkin bisa tersinggung dengan kalimatnya yang ceplas ceplos itu. Tapi bagi saya tidak terlalu masalah. Saya menganggap dia itu berbahasa preman berhati roman. Jadi hanya bahasanya saja yang terdengar ceplas ceplos dan mungkin kalau berkomentar nyelekit.

Akhirnya saya menunda untuk berangkat ke lab untuk membaca cepat naskah yang dikirimkan ke email. Untung beberapa chapternya sudah pernah saya baca sebelumnya melalui blognya, jadi mempermudah saya untuk mengerti sekilas buku barunya tersebut. Jadi kurang dari satu jam saya selesai membaca cepat, dan kemudian membuat endorsement. Entah karena sedang gila-gilanya makan atau entah karena apa. Kenapa kalimat endorsement saya jadinya begini :

Membaca Nada Tjerita itu seperti melahap berbagai menu makanan yang tidak hanya bergizi tinggi bagi jiwa dan cara pandang hidup, tapi sekaligus juga lezat dinikmati dari kisah per kisah. Bersiaplah menyantap setiap menu cerita apik sampai hidangan terakhirnya!

(Siwi Mars Wijayanti. Penulis buku Koloni Milanisti-Leutika Prio, kontributor buku The jilbab Traveler-Asma Nadia Publishing).

Lihatlah? Sepertinya nafsu makan dan berat badan juga mempangaruhi perbendaharaan kalimat saya ahaha. Tapi sebenarnya memang begitulah gambaran saya pada buku Nada Tjerita karya MKW sahabat saya itu. Komplit dengan berbagai kisahnya yang kadang sederhana namun tetap membukakan kita akan cara pandang baru. Kumpulan kisah-kisahnya tentang belanda, Australia, ataupun sudut-sudut Indonesia dengan berbagai warna warni kisah yang dibawakannya. Sajian yang cukup lezat dan lengkap. Hingga walaupun sudah dikirimi naskah lengkap versi pdf ubukunya, namun tetap saja saya ingin membeli buku versi hardcopynya. Saya masih penggemar buku hardcopy karena membaca buku nyata memberikan sensasi tersendiri dibandingkan membaca softcopy/online.
Oh ya, setelah melihat cover jadinya. Eh eh..nama saya bersanding dengan nama-nama besar seperti bapak Ahmad Tohari dan Ardian Kresna. Uhuk semacam grogi sedikit, eh siapa sih saya? Ahaha sempat terasa seperti itu.
Beberapa kali saya memberikan kalimat endorsement untuk sahabat-sahabat saya sesama penulis karena ternyata berada dalam satu komunitas akan meletupkan energi untuk berkarya. Kadang bila sedang bad mood, menghadapi writer block, nggak tau apa yang mau ditulis, bila mempuanyai kontak dengan orang-orang dengan passion yang sama, tak terasa akan membuat kita bersemangat.
Seperti juga endorsement kali ini, selain apresiasi saya terhadap karya sahabat saya tersebut, hal ini juga merupakan lecutan semangat bagi saya untuk terus berkarya lagi. Membaca naskah lengkap buku yang masih di dapur, masih “kebul-kebul” dan siap dihidangkan itu memberikan semacam dorongan untuk menyelesaikan buku saya juga. Pengen segera menerbitkan buku tunggal lagi, sungguh ingin melahirkan lagi. Mungkin seharusnya penulis itu mempunyai jangka waktu berapa lama hingga ia harus melahirkan, untuk memicu produktivitas. Saya masih bergelut dengan naskah buku ilmiah saya yang sudah disetujui pihak penerbit namun belum juga bergerak halamannya ahaha. Jadi, marilah bersemangat kembali!



Rabu, 04 September 2013

(Lebih dari) Sempurna




Sempurna.
Utuh
Lengkap
Nyatanya mungkin bukan tiadanya kekurangan, ketidaksempurnaan, ataupun ketidaklengkapan.
Mungkin serupa adanya kekurangan, namun ada upaya untuk menaruh pemakluman.
Ketidaksempurnaan, namun ada kemauan untuk belajar tentang penerimaan.
Sempurna.
Mungkin seperti kondisi: apa adanya—setelah melakukan hal terbaik yang kita bisa.
Sempurna.
Mungkin pula bukan saling melengkapi
Mungkin pula bukan saling mengutuhkan
Mungkin pula bukan saling menggenapkan.
Tapi menemukan cermin dari keutuhan kita.
Menemukan seseorang yang membuat kita menyadari tentang keutuhan dan berbagi keutuhan bersama-sama.
Bukan saling tarik menarik, bukan kurang mengurangi atau menambahkan.
Sempurna
Serupa huruf O, serupa angka nol 0. Mungkin.
---

100
Seratus sempurna..seratus sempurna..
101...seratus satu.seratus satu....
Kamu (lebih dari) sempurna...( Malaikat Juga Tahu, Dee-Rectoverso)
---

Bersama secangkir coffee latte, For Always-nya Josh Groban dan dini hari Glasgow.
4 Sept 2013. 03.19 am.

Selasa, 03 September 2013

Tentang Kopi dan Rasa Hidup




Masih tentang kopi, dan saya menulis pun ditemani secangkir kopi di sorenya Glasgow yang sudah mulai dingin. Cuaca awal September sudah serupa dengan musim gugur,  karena memang sudah waktunya. Musim kali ini sepertinya datang tepat waktu. Langit sudah sering gloomy, hujan sudah sering kali mengunjungi dan yang paling khas tentu saja anginnya Glasgow yang mantap itu. Usai dari lab tadi anginnya sudah lumayan menampar-nampar muka, memang belum iseng mengaburkan badan sih. Tunggulah menjelang pertengahan atau akhir September, anginnya Glasgow pasti bertambah iseng.
Dan teman terbaik untuk cuaca seperti ini memang secangkir kopi hangat. Iyah, seakan menemukan semacam alibi yang tepat untuk melegalkan ritual minum kopi. Minum kopi bagi beberapa orang memang merupakan ritual tersendiri. Lihatlah bagaimana Dee dengan gemilangnya membuat Filosofi Kopi yang hampir siapapun membacainya. Kopi itu minuman yang sangat berkarakter-begitu tulisnya dalam filosofi kopi. Pilihan masing-masing pribadi akan jenis kopi favoritnya kadang kala pula mencerminkan kepribadian si peminum kopi itu sendiri. Kadang ada lho artikel yang menulis tentang hubungan karakter seseorang dengan jenis kopi yang diminumnya, ada pula yang melakukan studi ilmiah tentang hal tersebut. Iseng-iseng saya juga sering membacainya. Kadang ada pula yang sesuai, seru juga.
Saya pecinta coffee latte, dan sayangnya sulit yang mampu memuaskan lidah saya akan selera kopi saya. Seriusan! Menurut saya kopi paling enak itu ramuan sendiri, seperti hidup memang paling pas bila kita tahu apa yang kita mau. Dan yang tahu apa yang kita maui tentu saja diri sendiri. Seberapa bubuk kopi yang ditambahkan, seberapa sendok gula, berapa air panas serta berapa susu ataupun cream yang ditambahkan. Bahkan kopi seperti apa, susu jenis apa pun kadang sampai sespesifik itu. Repot? Tidak, saya hanya tahu apa yang saya maui. Akhir-akhir beberapa kali mencobai kopi baru, dan lidah mulai “manja” enggak mau lagi kopi biasa yang saya biasa saya beli dengan harga relatif murah. Kopi biasa sangat terasa asamnya, kadangkala rasa asam itu menganggu rasa pahitnya.
Kadang dengan melihat perpaduan warnanya di permukaan cangkir saja yang bisa mengira apakah susu yang ditambahkan sudah cukup atau belum. Warna setelah gula, kopi dan susu itu bercampur pun harus pas untuk mencipta paduan rasa yang orgasmik! Hihi. Saya membuatnya hampir setiap hari, telah menjadi bagian dari hidup seperti saya makan nasi, jadi jangan heran saya sudah hapal benar takaran dan paduan favorit saya.
Bahkan untuk cangkir kopi sendiripun saya punya preferensi sendiri. Saya jarang sekali membuat kopi untuk saya sendiri dengan menggunakan gelas. Saya suka membuat kopi dengan cangkir berbahan keramik, dengan bentuk yang bulat atau sejenisnya (bukan bentuk seperti gelas) dan sisi dalamnya berwarna putih/terang. Entah kenapa saya menggangap pilihan cangkir juga mempengaruhi rasa. Sisi dalamnya yang putih akan memudahkan saya untuk mendeteksi apakah campuran yang saya buat sudah pas atau belum. Dengan gampang bisa tahu apakah masih kurang susu, atau kebanyakan karena pastinya rasanya akan lain nantinya. Dan satu hal lagi, saya menikmati melihat perpaduan warna itu. Saya mahluk visual yang “terpuaskan” dengan memandangi terlebih dulu kopi yang akan saya sesap. Dan begitulah minum kopi bagi saya memang serupa serangkaian teori-teori yang memang hanya cocok untuk saya sendiri. Karena bagaimana saya menentukan seperti apa kopi kesukaan saya, persis seperti bagaimana saya menentukan hidup seperti apa yang saya inginkan.
Kadang kala ada pula cerita ataupun alasan di balik preferensi orang terhadap jenis kopinya. Semalam saya nonton Rectoverso lagi (entah untuk ke berapa kali), dan pada adegan “cicak di dinding” ada dialog yang pasti sangat diingat penonton :
            “ Kenapa si suka minum kopi pahit?” tanya Laras yang diperankan Sophia Latjuba dengan gayanya yang sensual pada Taja.
            “ Biar ingat masih ada yang manis di luar sana,” jawab si Taja dengan raut mukanya yang dingin.
Atau alasan si Randy (Boy Hamzah) dalam film “Kata Hati”  yang mengubah selera kopinya menjadi kopi item setelah ditinggal pergi kekasihnya.
            “ Seperti hidupku, hitam dan pahit semenjak ditinggal Dera,” begitu dalam salah satu dialognya.

Kau lihat? Kopi itu memang ikonik ehehe. Lalu kenapa aku suka coffee latte? Humm saya suka paduan rasa pahit, manis dan gurih dan satu sesapan. Kopi bukanlah kopi kalau tidak pahit bukan? Juga hidup kadangkala bukan menghindari kepahitan, tapi menghadapinya karena masih ada rasa manis yang ditawarkan hidup.
Saya suka pahitnya kopi, pahitnya pare, pahitnya rebusan daun pepaya ataupun kadang pahitnya jamu. Pahit itu juga sama seperti katalog rasa-rasa yang lain seperti manis, asin, gurih, asam, hambar. Seperti juga hidup, kita harus siap menghadapi rasa apapun. Dan untungnya kita selalu bisa memilih bagaimana kita mensikapinya. Jadi teringat kalimat Gede Prama dalam tulisannya :
“full of attachment to pleasure, and full of rejection to the pain. As a result, life continuously swing from one extreme to the other extreme without having any rest. This is the root of many diseases such as stress and depression”
Jadi, coffee latte bagi saya itu seperti bagaimana menghadapi pahit, manis dan gurihnya hidup dengan berani #eaaa...dududu..

Glasgow, 2 Sept 2013 menjelang tengah malam.

Minggu, 01 September 2013

Secangkir kopi dan Laki-laki


          


           “Pagiiii...(lalu di belakangnya ada ikon skype dengan gambar secangkir minuman panas),” sapa sahabatku via chat  skype.
            “ini lagi ngopi. Lagi nyobain kopi baru...enaaaak bangeet,” sambutku dengan membalas chatnya. Kubalas begitu karena melihat ikon minuman hangat mengepul itu langsung kuasumsikan dengan secangkir kopi. 
            “ Aku cukup teh atau coklat panas saja” katanya. Dan baru kusadari setelah sekian lama, ternyata memang dia tak pernah minum kopi. 
            “ Kau tahu? Kopi itu identik dengan laki-laki. Jadi aku masih merasa aneh kalau perempuan suka ngopi.” Begitu paparnya.
Dan jawaban tadi sungguh tak terduga. What? Jadi kopi itu menurutnya sejenis minuman bergender?hihihi..unik dan lucu menurutku. Sama sekali tak pernah terlintas di pikiranku ada orang yang berpersepsi begitu. Dan yang baru saja mengatakan itu sahabat yang hampir tiap hari kuajak ngobrol tentang apa saja, lebih dari 10 tahun lamanya. Dan baru saja dia bilang hal yang tak pernah kuketahui tentang persepsinya tentang kopi. Sungguh aku tak bisa menahan diri untuk tidak tersenyum. 
            “Kalau kopi hitam mungkin identik dengan laki-laki, tapi aku minum kopi ditambah susu.” Aku melontarkan jawabanku.
            “ Tapi tetap saja itu kopi. Kopi itu identik dengan laki-laki. Itu opiniku sejak kecil, ” dengan polosnya dia menjawab begitu. 
Iyah persepsi tiap orang sungguh unik. Aku tak pernah terbayang ada orang yang berpikiran demikian. Aku tidak sedang bilang itu aneh, salah atau benar, ini masalah persepsi. Tiap orang bebas mempunyai persepsinya sendiri.
Tapi aku  jadi berpikir, kenapa kopi identik dengan laki-laki? Apa karena ia pahit? Atau karena warnanya yang hitam? Mungkin rasa pahit dan warna hitam inilah yang menurutnya identik dengan laki-laki. Mungkin ada simbolisme kejantanan dan kelelakian yang digambarkan dari kopi. Sedangkan perempuan lebih pas dengan minuman yang lebih “ringan” seperti teh, susu, coklat atau minuman yang lebih centil seperti cocktail. Ah persepsi memang menyimpan keunikannya tersendiri. 
Sedangkan bagiku kopi itu sejenis minuman universal yang diminum siapa saja, tidak ada preferensi gender. Lelakiku bukan penggila kopi, setauku dia minum apa saja. Teh, susu, bahkan bila makan di luar dia lebih tertarik untuk mencobai minuman-minuman yang namanya aneh dan belum pernah dicobanya. Sementara bapakku penggila kopi, lebih sering kopi hitam.
            “ Bapakku peminum kopi, sedangkan aku mirip sekali dengan bapakku, mungkin itu kenapa aku suka kopi” terangku.
            “ Hihi aneh juga ya, bapakku tak suka kopi. Sukanya teh pekat, dan akupun tak suka teh yang manis” jelas sahabatku. 
Wiw teori apalagi ini, apa kopi juga sejenis minuman yang diturunkan secara genetis? Ahaha tentu saja tidak. Mungkin hanya soal kebiasaan. Kita masing-masing ditumbuhkan dengan lingkungan sendiri-sendiri, dan ini pula yang terbawa sampai pada titik saat ini, mungkin kadang kita saja yang tidak menyadari.
Percakapan kecil tentang secangkir kopi ini menyadarkanku tentang persepsi. Tiap diri mewakili persepsi sendiri-sendiri. Banyak debat-debat di media dan dimana-mana tentang banyak hal yang sebenarnya semacam debat tak perlu karena berinti pada mendebat persepsi. Sedangkan persepsi lebih sering bersifat pribadi, namun orang kadang membuta menghakimi. Seperti halnya secangkir kopi yang identik dengan laki-laki milik persepsi sahabatku itu, bukan untuk didebat tapi untuk dimengerti. Dan satu hal lagi, percakapan tentang secangkir kopi dan laki-laki tadi kembali membuatku menyadari bahwa hubungan dengan orang lain sungguh bergerak dalam sebuah dinamika yang ajaib. Aku bersahabat dengannya sudah sekian lama, bahkan saat membuat CV untuk “keperluan khusus”pun, dia bilang,
            “ Kau sajalah yang buat, apa sih yang kau tak tahu dariku” dia dengan gampangnya bilang begitu.
Tapi nyatanya persepsi dia tentang kopi saja setelah lebih dari 10 tahun bersahabat baru aku tahu pagi tadi. Dan itulah yang aku sukai dari sebuah hubungan, baik dengan sahabat, orang lain ataupun dengan pasangan, ajaib!. Kita tidak pernah sampai pada titik “benar-benar tahu dan paham sepenuhnya dan seluruhnya”, karena tiap saat manusia selalu baru. Selalu bergerak, bertumbuh, ada laju masing-masing yang mencipta kebaruan. Dan aku merasa komunikasi antara dua manusia itu serupa keajaiban. Diri manusia juga keajaiban, karena ada yang terucap dan terungkap, tapi ada pula yang tak terucap dan mengendap. Dan komunikasi itu semacam jembatan untuk menghubungkan dua manusia.
Secangkir kopi bagiku juga keajaiban, karena ada kombinasi pahit dan manis dalam setiap sesapan. 

Glasgow, Dini hari di awal september, sudah hampir menjelang pagi...