Sunday, 26 April 2009

Di Sela-Sela Minum Kopi

Menghabiskan akhir pekan pulang ke rumah, menikmati detak hidup yang melambat. Yap, dan ternyata rasanya menyenangkan. Mungkin sedikit balas dendam karena beberapa minggu ini sibuk dengan urusan kerjaan hingga hidup dan detak waktu berlari sprint seakan mau memecahkan rekor. Rekor apa? Bukankah hidup bukan perlombaan?. Tapi terbukti kesibukan tetek bengek kerjaan begitu ampuh menyita waktu, hingga posting tulisanpun bulan ini menjadi rekor terburuk sepanjang masa ehehe. Sampai akhir bulan hanya 2 posting dan itupun postingan paksaan karena ikutan lomba kompetiblog. Doohh..memalukan.
Jadi untuk minggu ini memang jauh hari sudah kuselesaikan pekerjaan sebelum hari Sabtu, segala urusan perjalanan dinas ke Salatiga hari senin esok sudah beres. Inilah salah satu keuntungan jadi ”pegawai” yang kerjaannya nggak harus berada di tempat, asal kerjaan beres, tidak masalah bila sewaktu-waktu mengambil ”one day off” ehehe. Ini salah satu hal yang harus kusyukuri bahwa pekerjaanku memungkinkanku menikmati kehidupan lain selain kerjaan. Dari dulu memang tidak pernah bercita-cita untuk kerja Senin-Sabtu dengan jam kantor mengikat. Pernah merasa lelah melihat ritme hidup temen-temen yang pernah ku”tumpangi nginep” gara-gara urusan di Jakarta dulu. Ah betapa hidup mereka habis untuk bekerja. Berangkat pagi-pagi sekali mengejar transportasi menuju tempat kerja yang harus diselingi dengan macet, lalu pulang menjelang maghrib, bahkan kadang lebih telat dengan letih di badan karena pekerjaan plus perjalanan. Lalu kapan waktu untuk menikmati dunia yang lain?.
Tapi begitulah pilihan hidup yang harus dibuat, entah atas dasar keterpaksaan untuk survive hidup, alasan kebiasaan ataupun alasan lainnya.
Jadi bersyukur menikmati kemewahan yang diberikan sang waktu dengan merebahkan badan di kamar yang sudah beralih rupa, bereformasi tatanan seiring perubahan yang terjadi pada diri penghuninya. Menikmati hari sambil melahap tulisan Seno Gumira Ajidarma dengan ”Affair”nya. Cocok sekali buku yang kubeli sebelum pulang ini untuk menemani hari yang santai. Ulasannya yang kritis tapi santai, ringan bahasanya tapi berbobot dalam isi. Uhmm..aku suka gaya bahasanya dalam mengulas kehidupan homo jakartensis (begitu istilahnya untuk menyebut orang-orang Jakarta). Bercerita tentang perubahan budaya yang terjadi di ibukota, disajikan dengan ringan dan lugas. Dari berhala Jakarta yang bernama ”sukses” sampai air seni supir taksi.Ah, tulisan yang cerdas.
” Cinta yang dihayati selama 25 tahun bisa saja hanya merupakan hubungan dari kontrak ke kontrak yang membawa kepentingan di dalamnya, seperti hubungan kita dengan kopi instant. Dalam hal ini Jakarta adalah sebuah kota yang dingin dan tak peduli”.
Begitu ulasnya dalam ”Antara Cinta dan Kopi Instan”, (karena menyinggung kopi jadi langsung tertarik ehehe).
Ah, tapi hubunganku dengan kopi instan yang pasti lebih dalam daripada kontrak kepentingan, lebih bisa dipastikan kontrak hati hihi. Ah, hati ini mungkin kebanyakan kontrak, hingga mungkin lebih baik ditinjau ulang untuk kontrak-kontrak yang lain, tapi tidak dengan kontrakku dengan kopi yang selalu saja diperpanjang.
Oh ya, tulisan utama yang dijadikannya judul dalam buku itu yakni Affair mengulas fenomena sosial yang patut untuk disimak. ”Kalau anda terlibat affair, anda akan termasuk orang pinggiran. Affair berupa hubungan yang dalam sistem sosial yang tidak dilembagakan. Peradaban memberikan lokalisasi bagi pelacuran, tetapi tidak ada lokalisasi affair, dengan demikian affair menjadi marginal” .
Ehehe membaca tulisannya seperti melahap keripik kentang. Sudah lama tidak menikmati momen memperlambat hidup dengan sungguh-sungguh meluangkan waktu untuk membaca, bersantai dan menulis di sela-sela minum kopi. Tanpa hiruk pikuk jalanan, urusan kantor, ataupun line internet. Di tempat kelahiran yang masih juga dinilai jauh dari peradaban oleh banyak orang, termasuk olehku kadang. Tapi, kepala akan terasa longgar, dan jiwa akan full of charge bila kembali ke tempat yang kusebut ”rumah”.
Yeih, dan minggu depan harus tancap gas lagi, karena waktu luang tidak akan berharga tanpa adanya rutinitas bukan?***

25.04.09 11.22 am

Thursday, 23 April 2009

Bila Tiket Ajaib itu Jatuh ke Tanganku


Bila ada yang namanya keberutungan dalam hidup, uhmm..sepertinya harus ada kosakata lain yang menggantikan kata ”beruntung” bila akhirnya tiket summer course di Utrecht University Summer School, Belanda itu jatuh ke tanganku!ehehe...beruntung banget...mungkin!

Bayangkan, cuma posting tulisan di blog dan mendaftar di kompetiblog lalu bisa jalan-jalan dan merasakan atmosfer lingkungan internasional di Belanda?uhmmm...layaknya mendapat durian runtuh! (nggak ketiban di kepala tentunya hihi). Makanya tidak heran bila ratusan peserta mencoba mengerahkan daya pikatnya lewat tulisan untuk menggaet hati para juri. Antusiasme peserta ini mencerminkan bagaimana generasi muda Indonesia berani beradu kemampuan dan berani bermimpi untuk memenangkan kompetisi ini.


http://www.freefoto.com/images/1450/10/1450_10_18---Keukenhof--Holland-The-Netherlands_web.jpg


Ticket to Global Community, tajuk yang harus diusung oleh para peserta kompetiblog, nampaknya memang topik yang terus menggeliat di antara para pelajar Indonesia. Bahwa kuliah di luar negeri adalah mimpi!. Mimpi yang harus diperjuangkan menjadi kenyataan. Kenapa mimpi? Yap, karena bagi kalangan menengah ke bawah masih menganggap kuliah di luar negeri sebentuk kemustahilan bila tanpa adanya sokongan tiket ajaib atau kata ajaib bernama ”beasiswa”. Mengikuti summer course di negeri-nya Van Basten itu akan menjadi mustahil tanpa adanya sponsor yang membiayai, begitulah yang ada di pikiran kami yang mengalami keterbatasan dana (huks..huks). Mungkin bagi anak-anak dari kalangan berduit, kuliah ataupun sekedar jalan-jalan ke luar negeri merupakan hal yang biasa saja.

Tapi jangan tanyakan betapa mimpi-mimpi indah itu sangat berharga bila menjadi nyata untuk kalangan masyarakat kebanyakan di Indonesia. Termasuk aku tentu saja, ehehe..yang selalu mengandalkan rejeki beasiswa dan gratisan.

Oh ya, pernah berpikir kenapa novel Laskar Pelangi nya Andrea Hirata begitu booming dan menjadi bestseller? Tentu saja selain acungan jempol layak diberikan atas kemampuan Hirata untuk mengolah kata-kata menjadi kumpulan cerita yang tidak pernah bosan untuk dibaca, satu hal esensial mengenai buku itu adalah kisah tentang BERANI BERMIMPI. Ruh itulah yang ditiupkan Hirata pada tetralogi Laskar Pelangi nya. Berani bermimpi untuk kuliah ke luar negri walaupun apapun latar belakang kehidupannnya, berani berjuangan sampai akhir, berani naik turun bersama tak terduganya sang kehidupan. Betapa suksesnya buku itu menggambarkan banyaknya mimpi-mimpi anak muda Indonesia yang ingin merasakan dunia lain di luar dunia yang biasa ditemukan di sekitarnya.

Entah apa ini berlaku bagi orang lain, tapi bagiku menginjakkan kaki di tanah-tanah impian merupakan suatu mimpi yang membiusku untuk dapat mewujudkannya. Hidup yang berwarna, penuh tantangan, hal-hal baru dan cara pandang baru akan menawarkan sebuah peralihan hidup dari berotak beku menjadi berkembang. Bisa dirasakan bila terkungkung dalam suatu komunitas beragam, dengan cara pandang yang seumur hidup ini kau yakini benar dan lumrah adanya, perkembangan akan berjalan lambat bukan?. Kondisi ekstrim yang berbeda, kehidupan yang sama sekali lain, bertemu dengan komunitas yang beraneka ragam akan menawarkan tangga-tangga naik kelas dalam hidup. Keluar dari zona nyaman memang awalnya tidak mengenakkan, tapi justru langkah itulah yang membuatmu mengalami percepatan hidup. Looh, kok lama-lama kayak menguliahi yah..ehehe..


http://www.swanenburgh.nl/images/volendam3.jpg


Yah, semua itu bisa dirasakan bila kita berani untuk keluar dari zona nyaman, mencoba melihat kehidupan lain yang memberikan pengalaman berharga bagi hidup. Kuliah ke Belanda pastilah salah satu jembatan yang layak untuk disebrangi.

Semakin fasih berbahasa inggris, poin yang pasti didapat karena kita akan dipaksa setiap hari menggunakannya. Aku yakin sebolot-bolotnya orang, bila dipaksa dalam kondisi seperti itu akan jauh lebih progresif perkembangan bahasa inggrisnya. Toh bahasa adalah kebiasaan juga kan?. Trus, ingin sekali rasanya merasakan gimana sih sistem pembelajaran yang beda-beda itu. Ada yang menerapkan problem base learning system, pola beta-gamma system ataupun yang sudah diakui secara internasional yakni sistem pembelajaran ground-breaking problem based learning.

Resah rasanya melihat kondisi realitas sistem pendidikan di Indonesia. Apalagi ber profesi sebagai pendidik mahasiswa di lingkungan universitas, namun masih saja merasakan kurang pasnya sistem pembelajaran yang diterapkan di Indonesia. Lihatlah mahasiswa-mahasiswa sekarang yang berkembang seperti robot yang teoritis. Bahkan tidak jarang berpikiran dan berwawasan sempit (apalagi bila di daerah yang masih belum berkembang). Belum lagi bagaimana realitas pendidikan yang ada di luar jawa yang kondisinya masih timpang dengan kemajuan yang ada di pulau Jawa. Miris rasanya melihat mahasiswa dengan ijazah di tangan, lalu dihadapkan pada realitas mencari pekerjaan namun kemudian menjadi gamang apa yang harus dilakukan. Nampaknya kita memang harus memikirkan sistem pendidikan yang lebih baik dalam upaya menempa anak-anak Indonesia agar mempunyai kompetensi dan kualitas yang memadai untuk bersaing di dunia yang semakin kompetitif.

Makanya penasaran sekali rasanya seperti apa sistem pendidikan yang diterapkan di Belanda setelah beberapa waktu lalu membaca beberapa artikel tentang sistem pembelajaran di sana. Pembagian pasti jalur universitas yang bisa dipilih oleh mahasiswa. Belanda mengenal adanya binary sistem, dimana terdapat 2 program yakni :

1. Research-oriented education (wetenschappelijk onderwijs/WO)

Nah ini diselenggarakan oleh universitas riset. Di Belanda terdapat 14 universitas riset yang mengadakan penelitian di berbagai bidang ilmu.

2. Professional higher education (hoger beroesonderwijs, HBO)

Kalo yang ini diselenggarakan oleh Hogescholen atau istilahnya University of professional education.

Keduanya berbeda baik sistem pendaftaram, kurikulum, isi dan lama studinya. Jadi ada jalur-jalur pilihan studi tersendiri yang memungkinkan calon mahasiswa memilih mau menempuh universitas riset atau memilih yang lebih berorientasi ke praktek dan karir. Wah asyik ya bila ada kesempatan untuk memilih seperti itu ya?

Kuliah di luar negeri juga membuat kita bisa berkenalan dengan mahasiswa asing dari berbagai negara. Merajut persahabatan walaupun berasal dari latar belakang bangsa, budaya, agama dan ras berbeda akan menghadirkan sebuah melting pot yang sempurna. Belajar menghargai perbedaan, membuka wawasan dan cara pandang baru. Uhmm menyenangkan dan menantang!


http://www.freefoto.com/images/1450/07/1450_07_9---Clogs--Keukenhof--Holland-The-Netherlands_web.jpg

Kemudian bisa melihat Indonesia dari luar akan memunculkan sebuah perspektif yang berbeda. Bila selama ini kita memandang Indonesia dengan segala pernak pernik masalahnya dari dalam, mungkin akan sangat berbeda bila memandangnya dengan kacamata yang baru. Bukankah salah satu tujuan kita menangguk pengalaman di luar negeri karena ingin memberikan sumbangsih perubahan yang lebih baik di negeri tercinta kita? Wuihh nasionalis toh..ehehe..

Tunggu apa lagi, siapkan dirimu untuk mewujudkan mimpi yeiiiihhhh....

Wednesday, 15 April 2009

Mari Mengejar Mimpi ke Negeri Kincir Angin

Kuliah di luar negeri?apalagi di daratan Eropa?uhmm..siapa yang nggak ngiler dibuatnya. Sudah mafhum rasanya bila beratus-ratus mahasiswa Indonesia mempunyai mimpi untuk mencicipi bagaimana rasanya menjadi bagian dari komunitas internasional. Sudah waktunya meninggalkan sarang yang sudah lumutan, mengepakkan sayap untuk melihat dunia lain yang akan merubah cara pandang dan memperluas wawasan. Semoga nantinya bisa membawa oleh-oleh setumpuk ilmu dan pengalaman untuk diimplimentasikan di negeri tercinta.

Masih bingung menjatuhkan pilihan kemana akan mengepakkan sayap untuk melanjutkan studi?. Nah, negeri kincir angin yang nyelempit kecil nan mungil di daratan Eropa nampaknya merupakan pilihan menarik untuk menjatuhkan hati. Negeri yang begitu lekat dengan bangsa kita karena begitu betah menjajah ibu pertiwi dengan kolonisasinya. Ah, sudah saatnya memaafkan sejarah, toh sekarang Belanda dengan tangan terbuka memberikan kesempatan bagi para mahasiswa untuk nglurug ilmu kesana. Ini terbukti dengan besarnya jumlah tawaran beasiswa setiap tahunnya untuk Indonesia, bahkan merupakan negara yang paling banyak menawarkan beasiswa bagi mahasiswa Indonesia. Yah, mungkin salah satunya sebagai tanggung jawab moral akibat jelaga-jelaga kesalahan masa lalu kali ya ehehe. Terdapat beberapa beasiswa yang ditawarkan antara lain Erasmus Mundus, HSP Huygens Programme, NFP (Netherland Fellowship Programme). Uhmm hayuk singsingkan lengan baju untuk menjemput mimpi-mimpi masa depan.


http://thedestinationcenter.com/images/tourimages/64430900_1209657094.jpg

Nah, mengapa menjatuhkan pilihan pada Belanda? Nih bisa dilihat poin plus-plusnya yang bisa membuatmu tertarik.

1. Kuliah berbahasa Inggris

Yup, faktor bahasa pengantar kuliah sangat penting bagi mahasiswa asing. Sudah jauh-jauh berkelana ke negri orang tapi kalau kuliahnya nggak mudeng gara-gara kendala bahasa kan nggak okey. Untungnya Belanda merupakan negara pertama yang bahasa nasionalnya non Inggris (bahasa nasionalnya boso londo alias bahasa belanda) yang menawarkan program studi berbahasa inggris. Pada tahun 2009/2010, Universitas di Belanda menawarkan 1.391 program sarjana, master, Ph.D serta kursus singkat (short course) yang diselenggarakan dalam bahasa Inggris. Jadi nggak usah bingung mikirin kendala bahasa deh, kita nggak harus ribet dengan persiapan mempelajari bahasa negara yang dituju untuk bisa mengikuti perkualiahan. Hal ini berbeda bila ke negara lain seperti Jepang atau Italia yang bahasa pengantarnya kebanyakan masih menggunakan bahasa nasional negara tersebut. Trus nilai plusnya lagi, ternyata 95% masyarakat Belanda berbicara dan membaca dalam bahasa Inggris. Hal ini tentu saja membuat atmosfer selama belajar di belanda akan menjadi lebih nyaman dan menyenangkan. Import buku dalam bahasa Inggrispun banyak dilakukan oleh negeri ini dibandingkan dengan negara lain yang tidak berbahasa Inggris. Nah tuh, sudah bahasa pengantarnya bahasa Inggris, masyarakat di sanapun sudah biasa bertutur dengan bahasa Inggris, dijamin akan nyaman untuk tinggal dan bersosialisasi.

2. Biaya kuliah yang relatif rendah

Bila kita kuliah ke negri orang bermodalkan beasiswa, mungkin nggak perlu terlalu memusingkan soal budjet uang kuliah. Mungkin lebih mikirin jatah bulanan harus cukup untuk kebutuhan hidup sebulan itu, jangan sampai nombok ehehe. Nah, bila rekan-rekan ada yang berminat kuliah ke Belanda dengan kocek sendiri, jangan khawatir karena biaya kuliah di Belanda relatif lebih rendah daripada negara uni eropa lainnya. Kenapa? Ternyata hal ini disebabkan karena subsidi dari pemerintah Belanda yang cukup besar di sektor pendidikan. Tuh, perhatian banget kan?. Biaya kuliah program internasional untuk sarjana sekitar 1200-3000 euro setiap tahun, sedangkan untuk program master berkisar antara 5000-13.000 euro (tergantung juga dari universitas dan bidang yang diambil). Nah trus tentu saja ada plus plusnya lagi, yakni biaya hidup untuk mahasiswa yang tidak terlalu mahal. Jatah 650 euro per bulan diperkirakan sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup standar termasuk akomodasi, transportasi lokal, asuransi kesehatan, kehidupan sehari-hari dan buku-buku. Bila merasa keuangan kembang kempis setiap bulannya, eitss..ada pilihan lagi, yakni mahasiswa diijinkan untuk bekerja paruh waktu maksimal 10 jam per minggu, bahkan untuk bulan Juni, Juli dan Agustus bisa bekerja penuh. Nah tuh, jangan khawatir kekurangan duit, tapi bila kepepet...bisa ngutang sesama rekan Indonesia yang pastinya banyak jumlahnya di sana, tapi konon jangan coba-coba pinjem duit sama orang londo, karena hasilnya bisa dipastikan...ditolak mentah-mentah!!! Ehehe...

3. Metode pengajaran yang berkualitas

Gaya pengajaran di Belanda memberikan porsi perhatian lebih pada mahasiswa sebagai pusat, dengan memberikan perhatian dan kebebasan untuk mengembangkan opini dan kreatifitas mereka. Kurikulumnya berorientasi dan dirancang untuk meningkatkan kompetensi mahasiswa sesuai dengan bidang yang diambil. Umumnya setiap universitas mempunyai sisitem pembelajaran yang berbeda. Di Maastricht University, mereka menerapkan problem base learning system. Setiap pokok bahasan bermuara langsung ke penyelesaian masalah. Lain lagi di Wageningen University and Research Centre, di sana menerapkan pola beta-gamma system dalam pengajarannya dengan tujuan agar para alumninya bisa memahami teknologi dan gejala gejala sosial. Belanda juga sudah memperoleh pengakuan internasional atas sistem pembelajaran ground-breaking problem based learning. Jadi selama kuliah mahasiswa dilatih untuk menganalisis dan memecahkan masalah-masalah praktis secara mandiri melalui belajar mandiri dan disiplin pribadi. Tertarik untuk mencicipi suasana kelas dengan metode ground-breaking problem based learning ? Belum-belum saya sudah membayangkan betapa bedanya dengan sistem pengajaran di Indonesia yang sampai saat ini baru bisa menghasilkan mahasiswa-mahasiswa teoritis tapi masih gamang bila dihadapkan pada masalah-masalah praktis di masyarakat. Maka dari itu, yuk kita menangguk ilmu dan pengalaman untuk diterapkan di Indonesia.


https://secure.cscm.org/images/uploaded//Students1.gif

4. Universitas bertaraf internasional

Marrik Bellen, direktor NESO Indonesia, lembaga non profit yang mewakili perguruan tinggi Belanda di Indonesia mengungkapkan laporan Times Higher Education Supplemen yang mencatat hampir 90% universitas di Belanda berada dalam peringkat 200 universitas teratas dunia. Uhmm siapa nggak pengen bisa kuliah di universitas bertaraf internasional?Apalagi bisa kuliah di Universitas yang gedungnya seperti kastil abad pertengahan misalnya di Maastricht Univeristy ini, uhmmm...

http://www.fdewb.unimaas.nl/meteor-seminar-et/M-BEES-2008/Vrijthof.jpg

5. Lingkungan multikultural dan berorientasi internasional

Terbiasa dengan lingkungan homogen dengan pola pikir dan cara pandang yang hampir seragam membuat kita lambat berkembang. Nah, sudah saatnya merasakan atmosfer internasional dengan mengenal dan berinteraksi dengan orang-orang dari berbagai negara dengan pola pikir, cara hidup dan pemikiran yang berbeda. Kita akan lebih berpikiran terbuka, toleran, dan berwawasan luas. Semua itu bisa kita rasakan dengan menimba ilmu di Belanda dimana mahasiswanya berasal dari berbagai negara. Lingkungan multikultural membuat kita ditempa dalam kondisi yang berbeda namun akan memberikan pelajaran hidup yang bermakna. Bisa bergabung bersama mahasiswa berbagai bangsa merupakan pengalaman yang bakal tak terlupakan bukan?


http://ascweb.unl.edu/students/ambassadors/2008_2009/group450x300.jpg

Nah, itu beberapa alasan mengapa Belanda patut untuk kita lirik sebagai alternatif pilihan melanjutkan studi. Alasan-alasan di atas patut dijadikan pertimbangan sebelum kita menjatuhkan pilihan kemana kita ingin mengembangkan diri dalam menimba ilmu. Oh ya, komunitas mahasiswa Indonesia juga banyak di Belanda. Berbagai Perhimpunan Pelajar Indonesia seperti PPI Wageningen, PPI Rotterdam memberikan wadah kebersamaan sesama warga Indonesia yang tinggal dan kuliah di Belanda. Jadi, jangan khawatir merasa terkucil di negeri orang, karena tetap bisa berkumpul, bertukar informasi, wisata bersama ataupun makan bersama dengan sesama rekan senasib sepenanggungan dari Indonesia. Tentang makanan, lagi-lagi jangan khawatir kangen masakan Indonesia kayak tempe goreng, rendang dan sambel terasi ehehe. Soalnya di sana banyak terdapat makanan pokok Indonesia tersedia di supermarket ataupun di toko-toko Cina dengan harga terjangkau.

Oh ya, yang satu ini nggak bisa terlewatkan bila bisa kuliah di daratan Eropa. Kamu bisa melancong muter-muter Eropa nan indah. Jadi saat akhir pekan ataupun hari libur, kamu bisa melancong ke negara-negara tetangga. Yipiiie, akhir pekan bisa nonton liga inggris, ataupun menikmati pemandangan kota London, mengunjungi negeri nan molek Italia dengan membuktikan sisa-sisa sejarah di Roma, naik gondola di Venezia, merasakan modernitas kota Milan, ataupun menyesapi romantisme Paris dengan menara Eifellnya.

Uhmm..ngiler pastinya. Semua itu bisa ditempuh dengan transportasi yang mudah dan nyaman. Asyiknya lagi adalah kita nggak harus membuat visa untuk bisa muter-muter Eropa karena Belanda merupakan bagian dari Uni Eropa. Nah, coba apalagi yang kurang? Siapkan dirimu dan terbanglah mengepakkan sayap, mengejar mimpi ke negeri tulip!


http://marsdreams.blogspot.com/2009/04/mari-mengejar-mimpi-ke-negeri-kincir.html