Thursday, 14 May 2009

Apa kabar mimpi-mimpi


Aku tidak percaya mimpi akan mati oleh rutinitas, tenggelam oleh terpaan kesukaran ataupun hilang bersama gerusan kehidupan. Silahkan saja tak percaya pada mimpi, dan hidupmu akan berjalan biasa saja. Dan apa yang menarik dari hidup yang tanpa makna? Silahkan mencibirku, “nanti kau rasakan bagaimana himpitan kehidupan akan membuatmu menyerah” atau “ Ah iya, saat ini kau masih bebas melakukan apa saja, coba nanti bla..bla..bla..”

Dan aku tidak bisa mengingkari hal itupun pernah terlintas dalam pikiranku. Mimpi-mimpi pernah mengabur tidak jelas kemana, mengawang meninggalkan hati yang makin tergerus kurangnya kepercayaan akan impian yang kupegang. Ada banyak setan-setan yang mencuri mimpi di sepanjang jalan perjuangan. Dan kau akan kalah bila menyerah…

Mimpi! Kuartikan sebagai keinginan besar, apa yang ingin kuraih dalam hidup, apa yang membuat diriku terasa berarti, bermakna setidaknya bagi diriku sendiri. Dan yang pasti memilikinya, mempercayai, berjuang untuk meraihnya membuatku melakukan perjalanan panjang yang ingin kumengerti artian hidup. Begitulah kuartikan mimpi (impian), bukan mimpi dalam tidur tentu saja.

Kau bilang ambisius? Apa yang salah dengan ambisi. Yang dibutuhkan hanya manajemen yang tepat dalam mengolah ambisi, bukan?.

Pernahkan terpikirkan tentang hal ini dalam hidupmu:

- Ah, waktuku sedikit sekali, kerjaanku menyita waktuku dan aku tidak punya ruang untuk mengerjakan hal lain,

- Ah, nanti saja setelah aku mengumpulkan banyak uang, bila anak-anakku sudah besar dan mapan..aku akan..bla...bla...

- atau orang akan mengatakan ini padamu ”Uhmm setelah kau menikah dan punya anak, aku yakin impianmu akan berubah. Kau akan sibuk dengan keluargamu”

Kawan, yang ada dari itu semua adalah ” excuses”, ”alasan/pembelaan diri”, mencari-cari alasan mengapa kau biarkan mimpi-mimpi itu mengawang hilang dari dirimu.

Ah, aku sok tau ya..padahal sebenarnya kata-kata itu lebih kutujukan untuk diriku sendiri yang akhir-akhir merasa ”tercuri mimpi”, tapi sudah kugenggam lagi (semoga).

Mungkin aku terlalu lambat berjalan, sepertinya harus belajar sprint lagi.

Wait... aku berlari untuk memecahkan rekorku sendiri. Bukan untuk mengalahkan orang lain, karena aku sama sekali tidak sedang berkompetisi dengan orang lain dalam kehidupan, tapi melampui targetku sendiri.

Aku tidak harus menyamai atau melampui prestasi orang lain, mencari pekerjaan yang lebih baik dari si X misalnya, atau harus punya X, Y, Z dan lain sebagainya. Tapi aku tau apa yang aku inginkan, apa yang ingin aku raih, target yang kupunya, dan aku ingin melampui itu. Menurutku begitu, entah menurutmu, kawan.

Oh ya, ada kiriman kisah di emailku sudah lama sekali, tapi selalu kuingat karena aku sungguh terkesan dengan kisahnya, dan ini intisari dari kisah tersebut :


"Urusan kita dalam kehidupan ini bukanlah untuk mendahului orang lain,
tetapi untuk melampaui diri kita sendiri, untuk memecahkan rekor kita
sendiri, dan untuk melampaui hari kemarin dengan hari ini."

Stuart B Johnson


Setuju?ehehe...terserah kau. Menulis tentang hal ini karena tengah bergelut dengan sekumpulan referensi kisah manusia-manusia yang luar bisa, yang bisa menembus keterbatasan untuk meraih apa yang mereka inginkan. Yap, saat ini tengah menyelesaikan beberapa buku, salah satunya ”Breaking the Limits” (kumpulan kisah para manusia penembus batas), masih kolaborasi dengan seorang sahabat. Doakan cepat selesai (no excuse lagi soal nggak ada waktu, banyak kerjaan, mood byar pet ehehe) dan semoga bisa segera terbit!

3 comments:

Aziz Farihudin said...

aq setuju bae lah......

PoENYa-koe said...

ada yg lg gregetan neh... apa bergejolak yaa... hmmmm

MARS said...

ehehe..gregetan dgn diri sendiri pen,pengen berjuang lg dengan semangat spartan..serbbuuuuuu!! hihi

Post a Comment