Tuesday, 14 July 2009

Things That I Never Predicted


Kali ini aku menulis saat senja mulai menandai langit Purwoketo, sambil duduk santai di balkon depan kamar, menikmati alunan klasik suara Andrea Bocelli uhmm..ada sedikit waktu untuk menulis setelah seharian “ngebut” uff work overtime!.
Walau pekerjaan belum lagi usai, namun kepala rasanya perlu dicairkan dalam barisan kalimat yang meleraikan rutinitas barang sejenak. Dan beginilah saat banyak hal-hal tak terduga terjadi, harus berkejaran dengan waktu dan menyelesaikan apa yang telah menjadi tanggung jawab.
Hidup berjalan dengan kejutan-kejutan Tuhan yang tak pernah kita duga kapan akan menjumpai kita. Bukankah kejutan memang sengaja diskenariokan untuk membuat kita terkejut?ehehe…
Sore hari menjelang pencontrengan tanggal 8 Juli lalu, sebuah email di inboxku dengan sender DP2M Dikti..uhmm berjudul surat undangan. Dan saat kubuka ada kegembiraan yang membuncah saat mengetahui namaku ada di daftar peserta pelatihan penulisan artikel ilmiah nasional di Yogyakarta..uhmm, iseng-isengku membawa hasil ternyata. Walaupun aku dulu mengirim aplikasi plus naskah publikasi secara pribadi, tidak melalui institusi, tapi toh ternyata dipanggil juga. Poin pertama yang membuatku senang tentu saja berkesempatan menimba ilmu lagi dan pelatihan ini akan sangat berguna untuk menulis jurnal berstandar nasional nantinya. Poin kedua, semua biaya pelatihan mulai dari pelatihan, transport, akomodasi dan konsumsi semuanya dibiayai oleh Dikti. Yap..jadi sangat gampang untuk minta surat tugas dari pimpinan..
Poin ketiga, tentu saja kau bisa menebaknya...JOGYA lagi hihi..menyenangkan untuk kembali lagi ke sana.
Kejutan selanjutnya saat aku mengkonfirmasi tiket MU untuk pertandingan di Senayan tanggal 20 Juli nanti. Memang jauh hari aku sudah nitip ke sahabatku yang seorang wartawan olahraga Jawa Pos, tapi sekian lama kuminta konfirmasi tak ada kabar beritanya. Tapi satu pesan di inboxku yang sangat singkat membuatku tersenyum
onok bu. Yang 100 rebu 1 tok toh yo..”
Eheehee..yipiiiiieeee...jadi nonton MU nih di senayan. Bling..bling...
Tapi yang langsung membuatku panik adalah jadwal. Uhm, jadwal pelatihan di Jogya tanggal 16-19 dan pertandingan MU tanggal 20 jam 7 malam. Jiahh..padahal seabrek kerjaan lagi banyak-banyaknya dengan deadline pengumpulan nilai tanggal 18 Juli. Sempurnalah kejutannya hihi..jadi harus berpetualangan lagi dengan rute Purwokerto-Jogya-Jakarta-Purwokerto nih
Dan beginilah selama beberapa hari ini, menjadi asosial karena kehidupan hanya berkisar antara kos dan kampus. Ngebut koreksi ujian, entry data, koreksi skripsi, seminar hasil mahasiswa bimbingan skripsi..hiyakkk..
Tapi herannya aku baik-baik saja, bahkan lebih bersemangat dari biasanya, senyumku lebih berbinar dari biasanya (weh..weh...), walaupun badan sudah mulai protes.
Oh ya, aku beberapa saat yang lalu menulis status pada FBku
”Bila alur hidup ibarat roda, aku tengah belajar mendekati porosnya
Yap, bila kau berada di pinggirnya, kau akan ikut terombang ambing dalam alur naik turunnya kehidupan. Tapi bila sudah mulai berada di tengah, kehidupan akan stabil namun bukanberarti tanpa tantangan hingga akan berujung pada kebosanan. Lihatlah roda yang terus berputar, begitulah kehidupan eksternal, ragawi, duniawi yang wajib kita jalani dengan baik. Tentu saja setiap tapak kehidupan menawarkan tantangan, impian, jalan yang terjal, persaingan serta naik turunnya roda nasib. Tapi bila sudah berada di tengahnya dalam artian bisa mencapai keseimbangan internal, apapun yang terjadi..hidup akan terus dalam tataran ”eling” yang stabil. Uhmm pengen seperti itu....
Aku teringat apa yang dikatakan Jean Daniel, teman sekelasku yang sudah berumur 70 tahunan asal Swiss dulu saat di Perugia. Kami berenam tengah berjalan menuju Piazza IV Novembre untuk minum kopi di Bar, dan kami tengah mendiskusikan apa yang paling penting dalam hidup.
”Menurutku yang paling penting dalam hidup adalah cinta. Cinta adalah hal pokok yang menjadi sumber dari kehidupan”, kata Yuta, teman jepangku menjawab. Pun setujui oleh beberapa teman yang lain. Tapi tiba-tiba Jean Daniel menimpali
Yang paling penting dalam hidup adalah keseimbangan internal” Katanya dengan senyumnya yang bijaksana, gurat-gurat usia lanjutnya memang kentara tapi tidak dengan semangatnya, hingga tak canggung untuk bersahabat dengan kami yang jauh berumur di bawahnya.
Uhmm keseimbangan internal atau personal..semacam itulah.. dia mengistilahkan dengan ”equilibrilium of personality”. Si Jean Daniel itu memang campur-campur menggunakan bahasa Itali, Inggris dan Prancis..Beuhh..asal mudeng saja apa yang dikatakannya...Saat kami kami hanya bengong, tak bisa mencerna apa yang ia katakan. Maklum kami-kami ini masih terlalu ”kencur” dibandingkan dengannya yang telah sarat pengalaman hidup.
Ah, baru sekarang aku mengerti setelah sekian lama. Dan kini aku bisa mengangguk setuku akan pendapatnya.
Uhm..senja sudah hampir meninggalkanku, sayup-sayup suara adzan maghrib terdengar dan waktunya menghentikan aktivitas...
Malam sudah mulai mengendap-ngendap menuaikan tugasnya untuk mengganti wajah bagian bumi yang sedari tadi benderang. Dan manusia dalam dirikupun juga sudah waktunya mengambil waktu bersujud padaNya...
Rayakanlah hidup sebagai suatu berkah, kawan..

14 Juli 2009.5.45pm

1 comments:

septarius said...

"Yang paling penting dalam hidup adalah keseimbangan internal"
uedan kueren tuh quotenya..
makanya intrapersonal skills sangat penting bagi setiap individu
kemampuan untuk mengerti dan mengendalikan emosi dalam diri
dengan itu segala masalah dan cobaan hidup akan mudah disikapi..
tul gak..??

Post a Comment