Jumat, 25 September 2009

Eid Mubarak, Sebuah Pemaknaan


Di tengah suasana lebaran yang masih terasa, ingin menulis sesuatu setelah sekian lama disibukkan oleh persiapan lebaran. Akhir ramadhan kali ini agak terganggu dengan sakit yang cukup “lumayan” dan beberapa kejadian yang jauh dari kendaliku sebagai manusia. Namun, di sela-selanya ada senyuman saat menyadari bahwa diri manusia ini mungkin tengah disentil Tuhan, bahwa banyak hal yang “Kun fakuyakun..Bila Tuhan menghendaki, maka terjadilah dengan kehendakNya”.

Sampai pada titik perjalananku kini, aku berpegang bahwa ada peran usaha, doaku dan kehendakNya dalam setiap peristiwa dan tahapan hidup yang terjadi. Tapi beberapa saat lalu, Tuhan seperti hendak menunjukkan padaku kuasaNya saat apa yang terjadi jauh dari semua kendaliku.

Dan begitulah akhir ramadhan kujalani dengan sebuah pemaknaan mendalam, dan terselip sebuah peristiwa yang membuat tersenyum dan geleng-geleng kepala

Tuhan, mungkin dulu tak pernah terlintas bayangan dalam pikiranku kalau akan jadi seperti ini ceritanya, skenarioMu memang tak terjamah alur pikiran manusia”, begitulah pemaknaan yang kutoreh saat bersinggungan koordinat kembali dengan penghuni “recycle bin”.


Dan saat gema takbir berkumandang, bertanda satu syawal telah menjelang, ada satu lagi pemaknaan yang hadir. Pemaknaan kata “maaf” yang mungkin menbanjiri inbox dengan pesan-pesan selamat idul fitri dan permohonan maaf, demikian pula status-status di FB. Sudahkah termaknai dengan penuh sebuah kata maaf yang terucap, atau terkirim lewat pesan, atau terdisplay lewat layar komputer? Ataukah sekedar kata-kata yang menjadi rumusan umum yang wajib dan biasa saat idul fitri datang?

Dan mungkin ada yang melewatkan untuk merenunginya..

Beberapa hari sebelum ramadhan beranjak pergi, seperti biasa aku menonton kultum Quraish shihab menjelang berbuka puasa. Saat itu beliau berbicara mengenai bahasan kata maaf, entah mengapa aku selalu suka tuturan kata dan pemaknaan yang disampaikan beliau, salah satu ulama yang kujadikan anutan. Bahwa maaf ada beberapa tingkatan, maaf dalam tingkatan memaafkan, menghapus, dan melupakan kesalahan orang lain..

Aku memaknai “memaafkan” dengan sebuah pembebasan jiwa. Bukankah dengan memaafkan, menghapus dan melupakan kesalahan orang lain kita akan mengurangi beban-beban tak perlu dalam hati?. Apakah pernah ada dendam, ada rasa benci yang pernah mengarat dalam hati.. bukankah rasa-rasa itu akan menjadi beban bagi diri kita sendiri?

Sebenarnya tidak pilihan yang lebih menarik daripada memaafkan, menghapus dan melupakannya, dan kita tidak lagi “membawa” beban-beban masa lalu yang tidak perlu***

Previous Post
Next Post

0 Comments: