Tuesday, 4 May 2010

Happines dan Fulfilment dalam Pekerjaan


Setiap orang mempunyai saat kapan ia mau menyerap informasi dari luar, mendengarkan kata orang, membaca buku, melihat alam sebagai pertanda, untuk dapat mengubah cara pandangnya terhadap hidupnya sendiri. Dan hal itu juga terjadi padaku. Pemahaman baru mengenai kebahagiaan (Happines) dan Fulfillment (Kepuasan/pemenuhan). Ok, pemahamanku akan choice to be Happy, rasanya semua orang juga setuju, yakni dimana kehidupan memilih untuk bahagia, sekarang ini juga, di sini, tanpa menunggu hal-hal yang kita pikir hal itu adalah sumber kebahagiaan kita terwujud.

Tapi aku telah melewatkan kata “pemaknaan”, pemaknaan pada setiap hal yang dilakukan dalam hidup. Dalam kegiatan bekerja, meluangkan waktu untuk diri sendiri, sahabat, dan keluarga.

Apa yang engkau maknai dari pekerjaanmu?

* Aku memaknainya sebagai sesuatu yang harus kulakukan, hal itu memberikanku “rutinitas” yang membuatku merasa berguna, memperoleh penghasilan tetap, kemapanan dan keseimbangan.

* Tapi juga di sana berpenghuni pemantik stress, proporsi waktu yang banyak tersita (entah efektif entah tidak), kompetisi, rutinitas yang membosankan, tekanan, kewajiban sehingga terkadang harus melakukan hal yang tidak kusukai.

* Lalu dimana enjoyment? Fulfillment? Apakah aku cukup puas telah menghabiskan berjam-jam di kantor hanya dengan menerima gaji setiap bulan? Tik tik..tikk..aku berpikir, mungkin aku telah salah memaknai pekerjaanku.

Bagaimana mencintai pekerjaan kita? Begitu tanya seseorang di sebuah acara yang runtut kuikuti setiap malam itu. “ Untuk apa mencintai pekerjaan kita, pekerjaan tidak mencintai kita kembali? Cintailah dirimu, keluargamu, kekasih, sahabat melalui pekerjaanmu”. Jawab Rene Suhardono, si motivator itu. Hmm..jadi pekerjaan adalah alat. Melakukan sesuatu dalam pekerjaan atas dasar kontribusi yang dapat kulakukan, kontribusi seperti kata yang lebih pas daripada pemenuhan kewajiban. Kontribusi memberikan nilai, dimana kehadiran kita dalam pekerjaan saat terasa signifikan bila ada atau tidak ada kita.

Fullfilment/kepuasan/pemenuhan…kadang hal itu terpinggirkan saat kita bekerja. Seperti merasa bahwa yang dapat memberikan kita fulfillment adalah hal-hal lain seperti liburan, jalan-jalan. Padahal dalam pekerjaan kita juga dapat mendapatkan fulfillment, bila kita memaknai pekerjaan dengan lebih mendalam.

Kita terkadang harus melakukan pekerjaan yang tidak semuanya kita sukai, tapi lakukanlah itu dengan penuh suka cita agar kita bisa mempunyai waktu/sarana/uang untuk melakukan hal-hal yang kita sukai. Hehehe…juga uang/sarana adalah alat bukan tujuan. I got his point! Aku tersenyum dan mendapatkan sudut pandang yang baru.

Bagaimana menurutmu, masih mau dibelit rutinitas membosankan dari pekerjaanmu?

1 comments:

muhammadtaufiq said...

Pernah menonton Okuribito (Departures). Berkisah pria perawat jenazah, pekerjaan paling hina di Jepang. Tapi ia melakukan dengan tulus dan profesional. Apapun pekerjaannya, asalkan kita kerjakan dengan profesional, menjadi pekerjaan terbaik. Tapi ... bukankah beranjan dari situasi nyaman memang tdk menyenangkan, tapi itulah yan harus dilakukan tuk percepatan hdp
hidphidup ...gh

Post a Comment