Wednesday, 12 May 2010

Menjelang Kelahiran koloni Milaniti (2)


Gerimis rintis di luar jendela, sepotong sore yang sendu, serentetan lagu-lagu Jepang dari CD yang dihadiahkan seorang sahabatku terdengar syahdu, uhm..perpaduan yang sempurna untuk menimbulkan kesan mellow di hatiku.

Aku tengah merevisi naskah. Beberapa first reader sudah memberikan komentar, cenut-cenut kepalaku saat mendengar komentar mereka,

“ Alurnya nggak jelas, flashbacknya membingungkan. Klimaksnya yang mana?nggak jelas. Trus karakter tokoh-tokohnya kurang kuat” kata Iinesta.

“ Trus kok nggak ada roman-romannya. Nggak seru ah, kudu ada prikitiw..prikitiwwnya dong” ia berargumen.

Oke…baru dari satu orang

“ Mba…deskripsi tokohnya kurang greget, klimaks ceritanya sudah okey kok. Cuman kurang aura pinky-pinky nya” begitu kira-kira komentar Penny di email yang panjang lebar.

Fiuhhh dua orang.

“ Kalo menurutku, jangan diberi label novel, kasih tulisan catatan perjalanan aja. Kalau novel itu harus jelas alurnya, tokoh-tokohnya dan trus harus ada roman-roman..cinta-cintanya. Bumbu itu bikin cerita jadi sedap. ” komen Intan,salah satu yang ikut baca naskahku.

Fine, tiga orang…

Aku tersenyum, rada pahit. Oke, semua komentar mengenai naskahku aku cukup setuju dengan mereka. Terutama tentang penokohan yang karakternya kurang kuat. Ruh koloni Milanisti yang kurang terlihat. Tidak terlalu sulit untuk merevisi beberapa komentar mereka. Beberapa malam merevisi dengan memoles beberapa bagian membuatku semakin merasa okey dengan naskahku. Ternyata dengan mendengarkan komentar dari orang lain, aku bisa mendapat feedback sudut pandang yang lain, sesuatu yang aku lewatkan.

Tapiiiii….saran untuk memasukkan aura pinky-pinky nya ini revisi terberat. Banyak pertimbangan, sampai kepalaku pusing. Haduuuhhh…it’s hard to write this

Cuman…mungkin benar juga kata mereka.. Awas ya para first reader..kalo jadi enggak bagus ehehehe…

Okey, dengan suasana semellow ini. Aku mencoba merevisi dengan memasukkan aura pinky-pinky (sedikit) ke dalam naskahku. Ughh…beberapa baris kalimat, berhenti sejenak..menarik nafas panjang. Menuliskan lagi dengan mengerak-gerakkan jari jemari di atas keyboard, berhenti lagi..mengacak-acak rambutku. Eggghhh…nggak suka. Tapi harus…menghidupkan yang sudah mati. Fiuuuuhhh…

0 comments:

Post a Comment