Sunday, 7 November 2010

Sebuah Paradoks Pagi

6.56 am. Jl Jember No 5 Malang

Pagi yang cerah, hangatnya sinar mentari menyelusup ke kamarku yang pintunya kubiarkan terbuka. Malang, biasanya sering mendapati paginya yang muram, makanya begitu menyenangkan mendapati pagi yang berbinar-binar seperti pagi ini. Secangkir kopi dan alunan “the music of my heart”-lagu jadulnya N’sync- melengkapi setting pagi ini, dan aku bersyukur untuk itu. Walau tak bisa pulang mudik ke rumah seperti teman-teman sekelas yang lain, tapi toh pagi ini tetap indah ;p

Sambil membuka-buka email, FB, mengucapkan ulang tahun pada beberapa sahabat yang berulang tahun hari ini, mengirim pesan, people need to be connected to everyone else right?

Beberapa kali mendapat pesan dari sahabat yang tengah menjadi relawan korban meletusnya Gunung Merapi. Terbersit rasa bersalah menikmati pagi seindah ini, tatkala jauh di sana banyak orang yang tengah menderita. Di antara barak-barak pengungsian, yang sumpek, gelap, sempit, dan ala kadarnya untuk menyambung sebuah kehidupan agar tetap berlangsung. Ah, Jogyaku menangis..wajah-wajah penuh nestapa itu, abu-abu yang menutupi kebahagiaan sementara, gemuruh suara Merapi yang meniupkan kekhawatiran dan keresahan. Kehidupan normal yang tercerabut, saat biasanya mereka bisa pagi-pagi menikmati santapan gudeg dan kopi panas, kini mereka tergantung pada pasokan nasi bungkus bantuan. Siapa yang tak lara hatinya, bila melihat tayangan di televisi (entah tayangan tersebut terlalu memblow-up atau tidak) begitu rupa penderitaan yang mereka rasakan. Belum lagi korban-korban Wasior, humm Indonesiaku, aku sedih melihat wajahmu kini. Bencana silih berganti mencerabut kehidupan orang-orang biasa, yang sudah sulit dengan kondisi ekonomi yang pelik.

But there’s a rainbow after every storm…hope so..kalau kita semua bisa belajar dari peristiwa, kita semua pasti menjadi pribadi yang lebih baik. Tapi apakah Indonesia telah belajar dari bencana? Atau masih saja tuli dengan kata “peduli”?

Merapi mengingatkan lagi, memberikan kesempatan lagi,

Teringat ucapan seorang sahabat saat berbincang-bincang, walau konteksnya bukan tentang bencana tapi rasanya bisa kuambil pembelajaran yang sama. Menurutnya, Tuhan akan terus memberikan ujian-ujian yang “sama” bila pada ujian hidup yang lalu kita belum lulus.

Begitukah? Mungkin juga benar. Bencana-bencana yang sepertinya selalu bergantian datang mungkin adalah soal ujian-ujian yang masih sama, dan kita belum juga lulus.

Debu-debu Merapi menyampaikan pesan-pesan cinta

Pada mereka yang mungkin telah buta akan sesama

Atau telah terlalu tuli dengan kata peduli

Ia membawa cinta berbungkus duka,

Lihatlah cintanya, dan hapuskan duka

Untuk Indonesia, Untuk sesama manusia***

0 comments:

Post a Comment