Wednesday, 24 November 2010

The Tide Rises...The Tide Falls


Pernah terpikirkah bahwa suatu saat kalian akan dilupakan semua orang..ditelah waktu..ditelan bumi, dan keberadaanmu tak pernah ada lagi?

It sounds terrible right? Tapi bukankah cepat atau lambat hal itu akan terjadi? Kita sebagai manusia hanyalah sebuah noktah kecil dalam rentangan waktu yang sangat lebar. Duapuluh tahun lagi…lima puluh tahun lagi…seabad lagi…bila lingkaran waktu-sebagai ukuran manusia- masih terus berputar. Dimana kita dalam rentangan sejarah manusia yang begitu lebar itu?

Sebuah pertanyaan terlontar di antara sesi “speaking class” siang menjelang sore itu, “ mungkin anak..atau cucu kalian akan masih ingat bila kalian semua meninggal dunia, tapi kemudian..hanya tinggal nama yang teringat, lalu apa lagi?” Tanya Mr.Arif dengan gaya ekspresifnya saat membahas sebuah puisi karya Henry Wadsworth Longfellow bertajuk “ The tides rises the tides fall”

Pertanyaan ini hampir sama dengan pertanyaan yang selalu bisa meluruskan lagi jalur-jalur hidup yang terkadang membelok-belok yakni,

“ Apa sih bedanya dunia tanpa kamu..dibandingkan dengan adanya kamu?” pertanyaan ini kalau tidak salah dilontarkan Rene Suhardono, pengisi acara Motivatalk yang rutin kuikuti itu. Maksudnya, keberadaan kita seharusnya bisa memberikan lebih banyak makna. Ironi nggak sih kalau dunia sama sekali tidak ada bedanya saat kita ada atau tiada? Bila tak bedanya, mungkin kita gagal memainkan misi pribadi yang seharusnya diperankan. Begitukah?

Pertanyaan ini juga membawaku ke pertanyaan lain yang sejalur yakni what is the goal of your life?” tujuan hidup, yang tentu berbeda artiannya dengan “target” ataupun “keinginan”. Tujuan hidup, yang apabila kita mati besok..atau sesaat lagi, tak akan pernah ada kata menyesal, karena kita telah berada dalam tujuan hidup yang kita tentukan, entah telah selesai atau belum..that’s not the point.

Pertanyaan ini berhasil membuatku berpikir ulang tentang jalur-jalur hidup, menyusun lagi beberapa hal, dan mengambil keputusan.

Tentang tujuan hidup, aku kembali teringat kalimat-kalimat Rene dengan gayanya yang santai dan semau gue itu..

Kagak peduli elu punya karir selangit, rumah mewah, mobil berapa, rekening di bank berapa..kagak penting itu..siapa peduli? Tapi..apa sih kontribusimu pada sesama manusia? Apa sih kontribusimu pada dunia? “

Humm…bila ada waktu, atau saat kalian tengah bersedia sejenak untuk “menghentikan hidup” cobalah memikirkan pertanyaan-pertanyaan itu…

Hidup detik ini, saat ini..sudah seharusnya diisi dengan hal terbaik yang bisa kita lakukan. Karena kita sedang membuat “jejak-jejak sejarah”

Dunia terus berjalan, berjalan dan terus berjalan…tak pernah peduli dengan bagaimana kita, apa yang tengah terjadi..

The day return, but never again

Return the travelers to the shore

The tide rises..the tide falls…

(oase kecil di tengah jalur-jalur hidup yang tengah membelok-speaking class, Tue 23 rd nov’10)


1 comments:

Eling Permana said...

mantab bu... :D like this!

Post a Comment