Sunday, 31 July 2011

Rasaku, Sebelum aku pergi..

Layang-layang itu kulihat bebas melayang di udara, diciumi angin, merajai langit yang membiru itu. Di lapangan dekat rumahku itu, tiba-tiba aku melihat “aku kecil” berumur 5 tahunan dengan rona penuh keriangan menerbangkan layang-layang, dengan rambutku yang dipotong cepak dan pipi endutku, mengenakan baju dari kain sisa jahitan ibuku.

Jelas aku melihat lagi diriku saat kecil dulu, bermain layang-layang di lapangan, bersama adik-adik dan saudara sepupu yang kini telah tenang beristirahat di sisiNya. Bayangan itu terlintas lagi sore tadi, saat aku melihat anak-anak kecil itu menerbangkan layang-layang, dan memoriku berbalik melesat ke belakang.

Rasanya aku ingin bermain layang-layang lagi. Mungkin aku seperti layang-layang itu, akan terbang jauh..jauh..dari tempatku dilahirkan, jauh dari akar dimana aku ditumbuhkan. Tapi seperti juga layang-layang yang mempunyai tali tak terlihat, yang akan membawanya selalu kembali, seperti juga aku. Tali cinta tak terlihat itu, akan selalu membawaku kembali.

“Bu.kapan-kapan pengen jalan-jalan sama ibu..sebelum pergi ehehe..maaf bu, jika terlalu berlebihan permintaannya Ica bu “ (16.56. 30 July 2011).

Aih…sms dari mahasiswiku, terasa mellow di hati. Ia juga September ini akan menyelesaikan studinya, berpisah adalah kata yang sebenarnya enggan ia pikirkan. Sama sepertiku.

“Kalau mbah meninggal nanti, apa yayan bisa pulang?” kalimat itu diucapkan simbah putriku, memang tak langsung diucapkan padaku, tapi pada ibuku. Betapa tidak trenyuh menyergapku tiba-tiba mendengar pertanyaan semacam itu.

Aku dilanda sebuah rasa yang tak dikenali, dulu pernah kualami rasa seperti ini, sewaktu “tak sadar akan pulang ke Indonesia” tahun 2008 silam saat di Itali. Kali ini aku diracuni rasa “tak sadar akan segera pergi”. Rasa yang membuatku enggan untuk mengurus dokumen-dokumen keberangkatanku, menghindari pikiran bahwa aku akan segera pergi. Tiap kali ingin kuperangi rasa itu, semakin tak jelas rasa di hati. Kau tahu rasa macam apa itu?

aku suka mendengar tawa renyahmu, jadi nanti bawa headset ya ke Glasgow..biar bisa tetap mendengar suaramu” kata seseorangku, yang sedetik kemudian membuatku membisu.

Jangan bicarakan itu dulu” selalu itu kataku. Penyangkalan, penghindaran diri, terus dan terus meracuniku. Membuatku berperang dengan diriku sendiri. Lelah terkadang…

Tapi matahari dan bulan terus bergantian menjalani perannya, mengingatkanku akan waktu. Dan ternyata aku sudah sampai di penghujung Juli. Menjelang tanggal 1 Agustus, rasanya hatiku ingin bilang “andai September itu adalah dua atau tiga bulan berikutnya”, tapi andai, adalah kata yang penuh racun. Hingga jarang sekali kupilih, karena jika kata itu kupilih, tak pernah bisa merubah nyata. Satu-satunya pilihan, semuanya harus kuhadapi dengan berani, walau dengan rasa yang tak jelas ini..

Perlahan-lahan kubincangi diriku sendiri, apa mauku, apa inginku, mau apa langkahku, mau bagaimana langkah kutapaki selanjutnya. Kubagi rasaku dengan sahabat dan orang-orang terdekatku. Aku memang harus pergi, demi impian-impianku, demi suatu alasan yang baik, demi menuntaskan perjuangan dan memulai perjuangan berikutnya, demi sebuah pergerakan, demi sebuah perubahan yang tak pernah bisa ditawar.

Pergi, pergi kali ini memang terasa berbeda dengan kepergianku yang sebelumnya. Pergi ke tanah-tanah yang jauh, dengan rentang waktu yang tak sebentar. Keberangkatanku kini tak seperti kala itu, tiga bulan saat itu adalah tamasya, seperti mata yang terus terpesona, hati yang selalu terkejut bertanya. Petualangan yang menggembarakan keingintahuanku akan perabadan di negeri antah berantah sana. Tapi kini bukan lagi tiga bulan, tapi tiga tahun.

Sebenarnya/ada sebagian dari diriku..yang tak ingin pergi//

Bisa saja aku memilih, menjalani hari yang biasa yang rutinitas pagi yang sejuk di purwokerto, sarapan mendoan hangat dan berangkat ke kampus. Menjumpai anak-anak dengan segala macam polah tingkahnya, dan menerima gaji tiap bulan. Pulang ke rumah setiap minggu. Bisa menjumpai sahabat-sahabat bila ada waktu, mengatur jadwal liburan bersama. Bisa saja, bisa saja aku memilih untuk itu. Tapi aku memilih untuk pergi, walau harus melewati fase “rasa tak jelas” ini.

Aku telah rindu kini/bahkan jauh sebelum aku pergi//

Sebagai manusiaMu, aku akan terus melakukan rihlah (perjalanan untuk belajar) thalabul ilmi, seeking knowledge and wisdom, karena bukankah salah satunya manusia diciptakan untuk itu?jadi kini ingin lebih banyak lagi kubincangi diriku sendiri, agar perlahan-lahan aku akan bisa pergi dengan ketegaran, dengan ketangguhan.

Sebuah pesan dari Mba nuk (sahabat saat kursus pre-departure English Course di Malang) di milis, semakin menguatkan tekadku,

Ibn Taimiyyah Rahimahullah mengatakan: "Carilah Ilmu, karena mencari ilmu semata-mata dengan niat karena Allah swt adalah ibadah; memahaminya meningkatkan taqwa; berjuang memperolehnya adalah jihad; mengajarkannya kepada mereka yg belum tahu adalah kedermawanan; dan mengkajinya adalah seperti bertasbih. Melalui ilmu maka kebesaran Allah swt semakin kita pahami dan ibadah kita makin baik."

Jadi, aku pergi semoga untuk sebuah alasan yang baik…

*usai sahur pertama ramadhan tahun ini--

Wednesday, 13 July 2011

Sebuah Hidup Penuh Kasih (Perayaan Hidup 60 Tahun Signora Laura Romano)

Sebuah perayaan hidup, karena hidup adalah sebuah perayaan. Bukankah memang hidup seharusnya dirayakan?karena hidup dalam setiap detik adalah hadiah Tuhan.

Karena itu, walaupun tak terhitung dekat, aku menyempatkan waktu untuk menghadiri undangan ulang tahun ke 60 dosen bahasa Italiaku dulu, Signora Laura Romano di Solo. Bersama tiga orang sahabat lainnya, yang juga mahasiswa beliau dulu, kami ikut merayakan pesta—dan memang benar-benar pesta—yang tak biasa.

Alunan gamelan jawa, liris mendayu nyanyian sinden-sinden bagai mantra-mantra magis, sajian makanan yang semua serba sangat jawa serta suasana rumah joglo membuatku seperti diajak untuk merasai hidup berpuluh-puluh tahun silam. Kilasan rona penuh kebahagiaan di wajah Signora Laura terlihat jelas saat menyapa kami, senyuman sumringahnya dan sebuah pelukan hangat. Dalam hidup, selalu kuupayakan untuk bisa hadir di saat istimewa orang-orang terkasih dalam hidupku. Entah itu ulang tahun seperti kali ini, pernikahan ataupun sebuah kelahiran buah hati. Mungkin hanya sebuah kehadiran, tapi aku belajar bahwa hal remeh temeh terkadang adalah hal-hal yang justru berarti dalam hidup.

Rasa lelahku setelah menempuh perjalanan panjang Purwokerto-Jogya dengan bus Efisiensi, dilanjut Jogya-Solo dengan kereta Prameks rasanya hilang seketika saat melihat kebahagiaan beliau, dan merasai kebahagiaan yang hadir pada diriku sendiri. Dan bertemu lagi dengan sahabat-sahabat lama selalu saja menyenangkan.

Calabria..Universita di Calabria, Italia mba..September ini aku melanjutkan kuliah masterku di sana. Dapet beasiswa dari IIC” ungkap Monis dengan antusias saat kami menunggu kereta prameks tadi sore.

ehehe aku juga September ke Prancis, aku dapet Erasmus..dobel master nih ehehe, setahun di Prancis trus setahun lagi di Bologna..gimana, jadi kan berangkat September juga? Ahaha ajaib ya..kita berangkat bareng-bareng. Kapan-kapan kita reunian disana” kata Sandy, sahabatku yang kini menjadi dosen sastra perancis di UGM.

Waw, hidup memang selalu penuh kejutan dan keajaiban. Semangatku yang kala itu drop karena mendapat kabar kepindahan Alain (supervisorku) ke Glasgow menjadi terang lagi. Aura semangat itu menularkan binar-binar ke orang-orang sekelilingmu, percayalah..maka mari terus bersemangat ehehe…

Ah, mimpi..beberapa tahun lalu, kami semua hanya bermimpi untuk menjelajahi eropa, menyesapi setiap jengkal pesonanya, namun sebentar lagi kami akan memulai petualangan berikutnya. Eropa!

*sempet-sempetnya belajar nari di pelataran ehehe ;p

Signora terlihat begitu menikmati pesta ini, kesana kemari menyapa tamu-tamunya. Mengobrol sebentar, menerima kado-kado, menyilahkan menikmati hidangan yang telah disiapkan. Kami semua menikmatinya, suasananya, hidangannya dan kehangatan aura yang tercipta. Hadir sahabat-sahabat beliau, rupa rupa dari berbagai negara, anak-anak angkatnya, sepertinya semua orang-orang terkasihnya hadir untuk merayakan sebuah hidup yang telah dijalaninya dengan berani. Ia, seorang perempuan Italia, yang kini telah menjadi warga negara Indonesia, yang terasa “lebih jawa” daripada kami yang orang-orang Jawa ehehe. Rumah joglonya adalah refleksi kecintaannya pada budaya jawa, serta kehadiran rekan rekan paguyuban “sumarah” adalah tempatnya menghabiskan banyak waktu untuk menemukan kasih bersama sahabat-sahabat dan memasuki dunia spiritualnya. Saat seakan waktu yang ada di depanmu terasa lebih pendek daripada yang telah kau lalui di belakangmu, mungkin jalur-jalur hidup akan sedemikian terasa. Dan menjalani hidup dengan penuh kasih rasanya membuah setiap detiknya terasa bermakna.

*sajian makanan ringan dan

tumpeng



Acara pesta ini begitu hangat dan informal, pemotongan tumpeng, makan-makan, ngobrol, bersendau gurau dan berdoa. Menjelang tengah malam, satu per satu pamit pulang, lalu kami berempat dan beberapa sahabat dekat Signora membuka kado satu per satu. Dengan muka antusias beliau membuka hadiahnya satu persatu.

wah..ternyata banyak orang yang mencintai saya” katanya dengan binar-binar kebahagiaan yang jelas tergurat pada wajahnya. Kalimat itu begitu mengena di hatiku, sederhana…tapi begitu mendalam terasa. Tentu saja, tak bisa ditampikbahwa pesta ulang tahunnya malam ini membuktikan bahwa Signora Laura dicintai orang-orang terkasihnya. Lalu tibalah kado dari kami, selain seikat bunga indah yang kami hadiahkan pada saat kali pertama datang tadi.

“ Apa nih..humm…dilihat dari bungkusnya..hummmm”katanya dengan penasaran tak sabar membuka hadiah kami. Dan kamipun deg-degan, aku suka atau enggak beliau dengan hadiah dari kami.

Deng..deng…beliau membukanya, kemudian takjub!

Bellissima!!cantik sekali” spontan reaksi beliau saat melihat hadiah dari kami, berupa 10 lembar cetakan besar collage foto-foto yang beliau dan mahasiswa-mahasiswanya. Foto-foto itu bercerita banyak, tentang kenangan-kenangan yang telah tercipta, kejadian-kejadian yang telah terlalui, bahwa hidup menyisakan lajur-lajur peristiwa yang setidaknya layak untuk dikenang.

Ternyata sudah lama ya” tutur beliau sambil memandangi kumpulan foto-foto satu per satu, sambil mengingat-ingat beberapa wajah mahasiswanya.

Wah terima kasih, hadiahnya spesial sekali. Saya sangat suka…” kata beliau sambil memandangi kami satu per satu. Kami bahagia melihatnya bahagia.

Dan giliran hadiahku dariku dibuka…dan beliau menemukan sebuah buku, "Koloni Milanisti"ku, ditimangnya sejenak..dan menemukan namaku disana.

Buku ini kamu yang nulis?” tatap matanya seakan setengah tak percaya.

Ehehe..iya. Ini buku yang dulu saya ceritakan” jawabku malu-malu

. “ Wah…che brava (cool)” kata beliau sambil memelukku erat-erat, sesak hatiku karena terharu dan bahagia. Dan kemudian aku dipandanginya lagi. Hey..tidakkah beliau ingat dua semester aku jadi mahasiswanya, dan beliau mengadakan lomba menulis dua kali, dan dua kali pula tulisanku menjadi tulisan terbaik dan mendapat hadiah yeiiii.

Humm…murid-muridmu, Signora” kata sahabat terdekat Signora yang juga hadir ikut acara buka kado. Lalu eitts…Signora mencubit pipiku, hiyaaak…memanglah pipiku selalu menjadi sasaran..fiuuh…tapi aku senaaaaang ahaha…

Satu per satu hadiah dibuka, ada macam macam benar..lukisan, foto, buku, wayang, pernak pernik..dan uniknya ada yang menghadiahinya sebungkus biskuit.

Dia ini orang yang berkekurangan, ini sudah hadiah istimewa darinya” jelasnya melihat kami sempat bingung dengan hadiah itu.

Ah, memang..sebuah pemberian itu tak harus mahal. Tapi sebuah esensi tetap hadir di sana, sebuah perhatian, sebuah kasih yang ingin dibagi. Dan aku juga belajar, hidup terasa lebih manis bila dijalani dengan penuh kasih. Mengasihi, menyayangi, merasakan bahagiaku saat memberi kasih pada orang lain.

Selamat merayakan hidup kawan, dan menjalani hidup dengan orang-orang terkasih**

13/05/2011 11.21 pm




** Sahabat dan orang-orang terkasih adalah hadiah terbaik untuk diri sendiri **