Monday, 26 September 2011

Glasgow, Suatu Sore


Sebuah sore yang tenang di Glasgow, seusai shalat ashar setelah lelah berjalan-jalan (ngapalin jalan lebih tepatnya). Masih sms-an dengan nomor simpatiku, membiarkan provider itu menyampaikan pesan-pesan menembus jarak dan perbedaan waktu 6 jam. Meredakan rindu..ahihii. Ini kali pertama aku kangen “berat” dengan Indonesia dengan segala macamnya. Mungkin karena hari ini sendirian, Mba Niken yang tadinya mengajak untuk jalan-jalan menjelajah kota membatalkan niatnya,

“ Lagi pengen molor nih hari ini, jalan-jalannya besok aja yah.. besok pagi jam 9 aku sudah di flatmu ya” begitu pesannya ke nomor vodafone-ku. Walau sudah punya nomor HP sini, tapi masih sering iseng mengganti dengan nomer simpatiku, bersms-an secara “minimalis” namun rasanya “maksimalis karena tarif per sms 4000 rupiah ke nomer Indonesia. Tapi entah kenapa rasanya jadi luaaaaar biasa ahaha lebaaaay :p

Ajaib, tehnologi selalu membantu manusia untuk terus terhubung. Di Indonesia pasti sudah lewat tengah malam, sedangkan di sini masih sore. Hari ke 4 di Glasgow, menikmati sorenya yang tenang di flatku. Dengan segelas teh hangat dan alunan lagu-lagu Indonesia di Laptopku, aku merinduinya, merindui Indonesia. Akhir pekan, biasanya setiap sabtu sore aku mbalap dari Purwokerto-Kebumen pulang ke rumah..humm merindui keluargaku. Yang kemaren mengantarkanku di Bandara Soetta dengan isak tangis, tapi tetap dengan senyuman. Karena mereka semua tahu, aku pergi untuk sebuah alasan yang baik. Kangen sahabat-sahabatku, terutama sahabat-sahabat terdekat. Biasanya bila sepi, cukup dengan bunyi sms 911.

“ Sepiiiii, ngobras yuuuk” maka ia pun akan mengerti, lalu kamipun ngobras (ngobrol nggak jelas ehehe) berlama-lama. Tapi kini, ritual itupun belum bisa kami lakukan. Internet di flat belum bisa dipasang, baru dijanjikan minggu depan. Sehingga selama ini aku masih tergantung dengan internet kampus di International Office di Fraser Building. Untunglah jarak flatku dengan kampus tidak terlalu jauh, walaupun dengan MRC (Medical Research Council) tempatku nantinya belajar—masih bingung ini mau ngapain ahaha—agak lumayan jauh, sekitar 20 menit jalan kaki.

Sejauh ini, aku merasa melewati proses adaptasi dengan baik, lebih baik dari yang kubayangkan sebelumnya. Tidak terlalu membutuhkan usaha ekstra keras, seperti waktu di Italia tahun 2008 lalu. Pertama, bahasa yang digunakan orang-orang di sini adalah bahasa Inggris, walaupun aksen penduduk asli sini (Glaswegian-akses orang Glasgow) sungguh-sungguh aneh dan agak susah dimengerti tapi secara umum, komunikasi sama sekali tidak masalah. Bila mau nanya jalan ke orang, beli sesuatu di toko, naik taksi dan tanya sesuatu yang belum dimengerti, dengan bahasa yang bisa dipahami ini, aku tidak merasakan kesulitan yang berarti.

Kedua, Glasgow sangat ramah. Aura itu terasa sehingga menjadikanku sejak pertama merasa “klik” dan merasa nyaman. Orang-orangnya begitu ramah, entah itu pendatang, entah itu penduduk asli (walau belum begitu banyak mengenali penduduk asli). Mereka sangat helpfull bila ditanya jalan—(bakat nyasaranku memang top ehehe), terkadang walau mereka sama-sama pendatang mereka mau memperhatikanku sejenak, membantuku membaca peta, dan menunjukkan jalan yang tepat..huum thanks to them. Di toko-toko, atau penjual di pinggir jalan, kadang mereka menyapa dengan ramah, atau saudara sesama muslim yang melihatku berjilbab terkadang menyapa Assalamulaikum

Glasgow merupakan tempat yang ramah terhadap pendatang, mungkin karena di sini banyak tinggal orang-orang dari berbagai negara. Kulihat bervariasi orang-orang yang tinggal disini, mulai penduduk asli, orang EU (European Union), orang Afrika, maupun Asia. Jadi mereka sangat terbiasa dengan pendatang, dan penerimaan serta toleransi di Glasgow kulihat lebih baik dibandingkan saat aku di Italia. Mereka sudah terbiasa dengan berbagai komunitas agama, sehingga penampilan berjilbabku ini sama sekali tidak “aneh” di mata mereka. Di jalan-jalan, di kampus, di pusat kota, banyak kulihat perempuan-perempuan berjilbab. Islam di UK memang cukup berkembang, walaupun di Scotland belum begitu berkembang dibandingkan England.

“ Paling banyak komunitas muslim di UK itu di Birmingham, trus di Nottingham. Kalo di sini lebih sedikit” begitu kata Pak Nanung kemaren sore saat menunjukkanku toko-toko halal di Glagsow. Dosen Fakultas Peternakan UGM yang telah mempunyai dua putri ini sangat baik, menunjukkan tempat-tempat yang menjual makanan-makanan halal di Glasgow.

“ Daging di Tesco (nama supermarket) itu disembelihnya mengerikan, dikasih air banyak-banyak trus dilewatkan pada mesin pemotong. Nah kalo mau mencari daging dan makanan-makanan halal ada di Great Western Road” begitu terang beliau.

Ah lega, ternyata disini banyak toko halal yang menyediakan makanan berbagai variasi, dan akhirnya menemukan cabaaaaaiiiii...ahaha, walaupun mahal setengah ampun. Jadinya aku beli cabai ijo botolan yang ternyata pas dicoba untuk memasak...pedeeeeessss...Alhamdulillah ehehe..can’t live without chili hihi...di toko An Noor itu kubeli daging ayam, nudget, mie rebus (di Glasgow ada indomie tapi tokonya jauh—belum pernah kesana), cabai ijo botolan dan Maggi (kaldu buat sop). Huuuummm...rasanya nggak akan kelaparan di Glasgow nih..walaupun kangen mendoaaaaan ehehe

“ Wah kalau ada pertemuan orang Indo, tempe itu pasti makanan yang paling cepet habis” lanjut Pak Nanung. Beliau setelah mengajakku jalan, malamnya akan ke London untuk mengisi pengajian. Beliau sering pergi ke luar kota di UK bahkan ke negara eropa lainnya untuk mengisi pengajian. Dan aku dibantu beliau untuk masuk ke komunitas KIBAR (Keluarga Islam di Britania Raya), Alhamdulillah..walau di negeri orang, aku ingin tetap beribadah, ngaji dan bergabung dengan komunitasku.

“ Rajin-rajinlah shalat tahajud dan Dhuha, InsyaAllah akan banyak mendapat kemudahan” Begitu pesan beliau, ehehe berasa nemu seorang “bapak” di sini, Alhamdulillah dipertemukan dengan orang baik hihi.

Beliau menunjukkan masjid-masjid di Glasgow, membantu mengecek proses registrasiku lewat komputer kampus di Fraser Building dan mentraktirkan kebab downer yang ternyata porsinya sangaaaaaat besaaaar ehehe padahal aku pesen ukuran small...wuduuuh nggak bisa bayangin yang porsi Big!

Makanya, faktor ketiga yang membantu proses adaptasiku adalah komunitas orang Indonesia di sini. Aku seflat dengan Puput, mahasiswa Indo dari Jember yang menempuh studi master di International Bussines. Kemudian ada mba niken, dosen UNEJ yang tengah short course di GCU (Glasgow Caledonian University) yang kadang-kadang telpon

“ Huaaaa...homesick nih, aku maen ke flat kalian yaaaah” lalu bruk bruk..beberapa saat dia sudah di flat, membawa belanjaan indomie goreng dan telor. Ehehe dia itu lucu, masih belum bisa adapatasi dengan cuaca Glasgow hingga sering loncat-loncat kalau kedinginan, dan masih susah makannya.

Setahuku masih ada beberapa mahasiswa Indonesia lainnya, namun masih belum bertemu. Begitulah ceritaku di awal pertemuanku dengan Glasgow. So far, Glasgow..kota yang nyaman untuk tinggal, semoga tidak terlalu membuatku homesick karena aku akan tinggal dalam waktu yang relatif lama di sini..

** Glasgow sudah menggelap, saatnya shalat magrib, lampu-lampu flat yang terlihat dari jendela kamarku sudah menyala. Aku menengok waktu di jam tanganku..01.30 waktu Indonesia....

Salam kangen untuk semuanya, aku baik-baik saja dengan kehidupan baruku di sini, kuharap kalian semua juga...***

4 comments:

richassa_rissa said...

suka'suka'suka

membaca n kadang dalam setiap kata yang terbaca tersirat bayangan suasana disana yang tak kasat mata bahkan mungkin jauh dari bayangan nyata pada benak sebenarnya

membayangkan dapat alami kejadian sama "pengen punya pengalaman sama" hehehe...
ngebayangin ja bu...

SEMANGKA
"semangat karena Allah SWT"
ibu...FIGHTING...

Siwi Mars said...

ehehe makasih udah mampir baca rissa....yupieee...semangat juga ya buat risa :)

Bintang Kejora said...

hi...salam kenal

InsyaAlloh december 1st sy mulai stay di glasglow untuk suatu pekerjaan

sy agak bingung juga...soalnya tidak ada teman disana

sy akan sangat senang sekali bisa bertemu dengan anda disana

Siwi Mars said...

haloo bintang kejora...waaah...bakal ada orang indo lagi nih yang meramaikan Glasgow..so glad to hear that..silahkan add FB saya, nanti kita bisa kontak via FB..:)
*c.u in Glasgow :)

Post a Comment