Monday, 28 November 2011

Diskusi Setan dan Malaikat (1)

Your job is not your career. Mungkin saya salah satu orang yang memegang nasihat itu. Saat ini saya bekerja di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) sebagai peneliti yang menggeluti kebijakan perdagangan dan ekonomi-politik internasional. Tetapi passion saya ada di dunia sastra dan kesenian. Saya lebih senang menjadi seorang “seniman kata-kata”, meskipun saya juga mencintai dunia riset dan ilmu pengetahuan. Demikianlah, rupanya kadang-kadang takdir kita sebagai manusia memang mengharuskan kita hidup di wilayah yang mendua, ambigu, bahkan paradoks. Tapi kita harus menikmatinya (profil Fadh Djibran)

Yeaap, membaca tulisan Fadh di blognya membuatku setidaknya berkata, aku tidak sendirian yang berada dalam posisi seperti itu. Bahkan mungkin lebih banyak dan banyak lagi orang yang sebenarnya mengalami kondisi yang serupa. Aku yakin ada banyak orang yang “terjebak” dalam situasi ini, dan takdir memang mengharuskan kita untuk menjalani dan melewatinya.
Mengapa?? Hei..aku yang bertanya..jangan mengharapkan jawaban sok bijaksana dariku sekarang..ehehe..
Kalian tahu, terkadang ada sisi dalam diriku yang membayangkan, betapa menyenangkannya menggeluti sebuah pekerjaan ataupun bidang yang benar-benar kita cintai. Cinta membuat segalanya terasa lebih sederhana bukan? Bukankah cinta yang membuat kita bahkan lupa waktu, lupa lelah saat mengerjakan sesuatu yang kita suka?
Coba bandingkan saja, kita harus melakukan dua macam hal. Pertama, hal yang kita sukai, dan yang kedua, sesuatu yang “tidak” kita sukai. Lupakan sekarang bahwa kau orang baik, lupakan bahwa engkau orang yang maha bijaksana, lupakan bahwa engkau melakukan sesuatu itu untuk kebaikan banyak orang. Mari kita berbincang-bincang antara manusia dan manusia biasa saja. Atau bila ada setan yang muncul dalam hatimu dan menyela berbicara, biarkan saja. Aku ingin mendengarnya.

Bila aku harus menjawabnya, tentu saja aku akan menjawab bahwa aku lebih menyukai melakukan hal yang kusukai. Kupikir semua orang..humm fine, aku menerima perkecualian, so..kebanyakan orang mungkin akan sependapat denganku. Tapi walaupun begitu, kutanya berapa kali kau harus melakukan hal-hal yang tidak kau sukai? Sering? Ahahaha....bergembiralah!! Mungkin Tuhan menambahkan porsi untukmu.

Yeah, aku sering menulis tentang ini, seingatku di posting blog terdahalu, aku pernah menulis tentang kompromi, tentang pertentangan, tentang “perdamaian” dengan hati. Ini mungkin berarti, hidup terus menjalankan “mekanisme” tersebut, berulang-ulang kali. Untuk apa? Entahlah masih kupertanyakan. Atau engkau sudah punya jawabannya?
Akhir-akhir ini sebenarnya, seperti biasa, nakalku padaNya kambuh lagi, dan bertanya,
“ Tuhan, kenapa sih selalu Engkau tempatkan aku dalam posisi yang begini rupa?seingatku, tidak hanya sekali..berkali-kali, maksudMu apa sebenarnya?”
Setan mencuri dengar suara lamat-lamat dalam hatiku, yang bilang “ Tuhan, terkadang aku lelah menghadapi itu semua

Lalu setan mencuri dengar lagi, lalu dia berbagi gosip : “ Bayangkan, bila engkau mengerjakan akan yang kau sukai, kau tenggelam dengan sepenuh hati, tenaga, waktu demi mengerjakannya, tapi engkau menyukainya. Semakin mengerjakannya, semakin kau menyukainya. Bahkan lelahpun tak terasa. Kau mungkin harus membacai buku-buku yang banyak, harus begadang sampai dini hari, tapi kau menganggapnya sebagai hiburan, bukan siksaan. Segala kesulitan yang ada saat kau mengerjakaan apa yang kaucintai, akan kau anggap sebagai tantangan, memacu adrenalinmu, memicu seribu akalmu mencari cara bagaimana menghadapinya

Ah, sepertinya setan mencuri dengar terlalu banyak.

Bahkan setanpun pun juga tahu, bahwa diam-diam aku sering “iri dan cemburu” pada orang-orang yang bekerja/melakukan sesuatu yang mereka cintai dengan penuh totalitas. Aku mengenal beberapa orang yang seperti itu, terlihat dari antusiasme saat membicarakan sesuatu yang mereka kerjakan itu, karena mereka membawa rasa, membawa cinta di dalamnya. Bukan hanya sekedar label-label kewajiban, tapi sebuah totalitas. Jujur, aku iri berat.

Dan manusia biasa dalam diriku, protes : “Kenapa sih aku nggak begitu?” Aku harus selalu membagi porsi, karena terbentur dalam dualitas.
Setan yang mencuri dengar itu benar, aku merasa lelah. Lelah berkompromi. Lelah membangun semangat tingkat tinggi tiap kali, lalu terjun bebas, terpuruk , kemudian bangkit lagi. Lari lagi, lelah, memasok semangat lagi, lari lagi.

Rasa-rasa seperti itulah yang ternyata dirasai manusia, dan pada satu titik, manusia harus berjuang berserah pada takdir. Saat kita sudah merencanakan sesuatu seperti apa yang kita suka, apa yang kita mau, tapi keadaan menempatkan kita pada sebuah “kondisi” yang sama sekali di luar dugaan kita. So? Tuhan memang selalu mempunyai mekanismenya sendiri.
Lalu tiba-tiba, Malaikat datang untuk duduk bersama, lalu mulai menanggapi celotehanku tentang dualitas :
--Anggap saja engkau diberi lebihan jatah, bahwa selain kau mempunyai porsi sesuatu yang engkau senangi, Tuhan mencobaimu seberapa kuat kau bisa bertahan bila dihadapkan pada sesuatu yang tidak kau sukai
--Heii..coba kau lihat, kalau orang berhasil karena mengerjakan sesuatu yang mereka sukai, emang mah wajar, memang sebaiknya begitu. Tapi kalau kau berhasil mengerjakan sesuatu yang sebenarnya engkau tidak kau sukai, itu baru luar biasa!
--Teruslah berpikir positif, pasti ada sesuatu yang menyenangkan di balik itu semua.
--Begitulah hidup, santai saja, anggap saja sebuah permainan, kau hanya butuh berupaya lebih keras lagi, sayang...

Hihhihi...sudahlah, kubiarkan saja setan dan malaikat dalam diriku terus bicara, aku baik-baik saja..walau sudah lumayan setengah gila. Itu bisa ditilik dari berapa posting tulisanku bulan ini. Suatu saat mungkin bisa diadakan penelitian hubungan tingkat kegalauan dengan banyaknya tulisan yang dihasilkan, sepertinya korelasinya signifikan!!
Sambil kunanti hasil diskusi setan dan malaikat, aku memasak saja, cah jamur dan ikan sarden. Karena kuprediksi, diskusi setan dan malaikat ini akan memakan waktu yang relatif lama, akan kuingat-ingat untuk menuliskannya hasil diskusi mereka suatu saat.
Kalianpun, kuyakin pada suatu masa, sama denganku, pernah mengalami diskusi seru antara setan dan malaikat. Dan bersyukurlah, itu berarti kalian “hidup”
Oh ya, mungkin kalian pernah mendengar kutipan ini :

Intinya bukan pada mengerjakan apa yang kita sukai, tapi menyukai apa yang kita kerjakan
Sejak lama aku agak tidak setuju dengan hal itu, dan lebih memilih :

Aku ingin mengerjakan apa yang kusukai, dan mencoba belajar menyukai apapun yang harus kukerjakan
Setan menyela “ yeah..that’s sounds great..but It’s hard... you know (aksennya sengau..sepertinya setannya fasih berbahasa Glaswegian ekekek)
Malaikat balas menjawab : Justru karena berat itulah, bila kau berhasil melewatinya, rasanya sungguh terasa berharga...
Lalu orang lewat berkomentar : Ah, kagak bersyukur banget sih elu jadi orang”..
sedetik kemudian, aku tersentil mendengar pernyataannya, “ Hei..ini bukan masalah bersyukur atau tidak..tapi masalah....”
Baiklah...diskusi mereka memang masih lama...daripada mendebat mereka, mari temani aku menumis saja..***


Glasgow, 29 Nov 2011. 8.45 pm..



Ketakutan-Ketakutanku

Takut, apakah engkau mempunyai ketakutan-ketakutan tertentu..coba ingat-ingatlah ketakutanmu...kau sedang beruntung, karena kali ini aku ingin membagi ketakutan-ketakutannku. Baca pelan-pelan daftar ini,
--pas anak-anak, takut dimarahi karena menghilangkan satu anting yang baru saja dibelikan ibuku, lalu bersembunyi di kadang ayam sampai hampir gelap.
--Takut sama orang-orang yang suka padaku dengan cara yang frontal pas masih kanak-kanak...hadeeeeh ahahaha...risiko orang manis hihi...tapi sumpah bikin trauma seperempat abad!!
--Takut Ular ( oh No! Kenapa sih Tuhan menciptakan binatang ini....huhuhu takut setengah mati, banyak kejadian traumatis dengan binatang ini).
--Takut Matematika, Fisika, Kimia (ketauan banget nggak bakat orang eksak)
--Takut ketahuan suka sama seseorang pas SMA (mau bilang aaaah sama orangnya sekarang, biar lucu ;p)
--Takut dimarahi karena pulang malam habis nonton bola pas SMA (sebenarnya tidak beralasan, karena sebenarnya nggak pernah dimarahi sama ortu)

-- Takut masuk IPS (eghhhh....gemes!!! dari sinilah pilihan hidup selanjutnnya terus berantai)

-- habis ini,mikir lama..pas kuliah apa yang kutakutkan? Nggak ada yang spesifik, malahaan melakukan hal-hal yang menakutkan bagi orang lain ehehehe..
lalu sepertinya setelah itu susah kucari apa yang kutakutkan lagi, dan baru saja kutemukan
--Takut kehilanganmu...;p
Ahaha....baiklah, tulisan nggak jelas, efek dari terjungkalnya semangat maha tinggi ingin membaca paper untuk diskusi di lab meeting besok, tapi fiuuh...fine, setelah membaca satu paragraf saja aku nggak mudeng...kubagi saja judulnya : Strand antagonism in RNAi : an explanation of differences in Potency between Intracellularly expressed siRNA and sh RNA

Musti menarik nafas panjang-panjang...oh Gusti, sepertinya aku kuwalat hihihi...dulu saat masih belajar dalam tahap “kompromi” dengan ilmu Kesmas, dalam hati pernah membatin “ Hadeeeeh ilmu apa iniiih”
Dan kini, setelah agak menemukan chemistry dengan kesmas, dan berniat sepenuh hati ingin belajar lebih mendalam, ealaaaah.. malah di”hajar” dengan ilmu antah berantah begini...ahaha..tapi baiklah, kalau Tuhan mentakdirkan aku di sini, pasti aku tidak salah “tempat”!!! mari cari apa yang tepat kenapa aku di sini, semangaaaaat!!
buktinya, daftar ketakutanku belum bertambah.ahaha..selamat!!
**mulai nggak waras ;p



Thursday, 24 November 2011

Berdua (saja) Denganmu

Masih ingat pertama kali bersamamu, saat menjelang sore kala itu, dengan terburu-buru, aku memutuskan untuk bersamamu. Ah, beruntunglah engkau dan orang-orang yang mampu membuatku membuat keputusan dalam waktu yang mendesak. Karena aku selalu mencoba untuk belajar tidak menyesal pada apa yang kupilih. Heiii..tentu saja, aku tidak menyesal bersamamu. Hingga kuputuskan saja sore itu untuk bersamamu, lalu malamnya kita naik kereta Gajayana ke Malang. Aku tidak ingat, apakah aku sudah mulai memelukmu waktu itu. Seingatku, kereta kala itu datang tepat waktu, pukul 10.45 malam, dan udara malam terasa dingin, tapi aku masih ingat, aku bersamamu.
Lalu, sejak itu..seingatku kau tak pernah mengeluh, bila aku mengajakmu berpeluh, dan berjalan-jalan jauh. Bersamamu, dalam teriknya mentari, rinai-rinai hujan, dan perjalanan panjang, entah pagi buta, siang ataupun malam menjelang.

Bila kuhitung kebersamaan kita, mungkin baru sekitar 1 tahun, 11 bulan, 29 hari, 21 jam lebih 20 menit dan 55 detik. Singkatkah menurutmu? Atau sudah cukup lamakah? Cukup singkat untuk membuatmu cemburu, bahwa engkau telah melewatkan bertahun-tahun sebelum bersamaku. Karena engkau tak bersamaku, kala aku masih belia, pulang sekolah dengan baju coret moret sehabis gelutan dengan teman laki-laki sekelasku, atau kau tak juga bersamamu, saat setiap pagi aku mengayuh sepeda onthelku menuju jalan besar untuk ke sekolah SMAku, dengan wajah tanpa make up, dengan tampang polos dan ndeso. Kau juga tak bersamaku, saat kuhabiskan warna-warni kuliah dengan segala rona dan cerita. Namun percayalah, kebersamaan kita cukup lama, untuk berbagi cerita, tentang kemana saja kita bersama, perjalanan yang telah kita jalani bersama. Bersama, saat bahagia, saat tertawa, ceria, tawa, canda, atau lara, derita, duka, ataupun dilema. Cukup lama, tak usah kau khawatirkan itu.
Pagi ini, pun aku masih bersamamu, kubuka pintu flat, humm..hujan turun, deras. Segera kupakai payung ungu itu, dan segera kulangkahkan kaki, bersamamu. Angin berhembus kencang, hingga payung ungu itu tak sanggup lagi menahan hujan dan angin, akhirnya memilih untuk menutup payungnya, dan menaikan hood-mantelku melindungi kepalaku dari hujan. Lalu kita lewati Fraser building, saat angin tiba-tiba datang tiba kencang, tubuhku limbung, seakan ikut terbawa angin. Kupeluk engkau erat-erat, lalu kusandarkan tubuhku pada tembok, menunggu beberapa menit saat angin Glasgow mulai jinak. Ah, untung saja aku bersamamu. Sebentar lagi, mungkin bukan hanya hujan dan angin, mungkin bulir-bulir salju akan segera menghajar kita. Tapi aku tidak khawatir, karena aku bersamamu. Kau boleh berbangga, karena pernah suatu kali, seseorang pernah berkata bahwa ia ingin mencoba mengkudeta posisimu. Iya, dia memang berhasil, sesekali waktu. Karena waktunya memang hanya sesekali.

Hari ini, saat eksperimen lab-ku ternyata salah, lalu saat pulang ke flat, internet masih saja bermasalah. Aku masih bersyukur, aku bersamamu.
Lihatlah foto itu, foto kita berdua..kau suka? Mari duduk bersama, bercerita kita tentang perjalanan, tentang kenangan, tentang kebun teh, toko buku atau angkringan. Mungkin kali ini, saat ini, memang aku ingin berdua (saja) denganmu, seperti saat kali pertama kita bertemu *** (Dear tas punggungku)—hihihi tas punggung exportku, beberapa orang tahu betapa susahnya aku dipisahkan dari tas punggung.

*Baiklah, kau benar, mungkin aku sudah setengah tidak waras, karena mulai menulis tentang secangkir teh, mie instan dan tas punggung, lalu kenapa kalian masih membacainya? Bagi pihak-pihak yang protes, yang cemburu setelah membaca postingan ini, bersyukurlah. Karena kini aku masih bersamanya, tas punggungku, dan menambah lagi beberapa menit kebersamaan kami. 1 Tahun 11 bulan, 29 hari, 21 jam lebih 45 menit dan 10 detik. Mari kita rayakan bersama, dengan sebuah senyum sederhana, bahwa hidup akan baik-baik saja.
Ini kisah cintaku dengan tas punggungku, apa ceritamu??