Friday, 9 December 2011

Badai Glasgow

Aku dikagetkan bunyi gemeretak di luar jendela, kuurungkan memakai mukena untuk shalat dhuhur hari ini, lalu kudekati jendela kamar flatku dan melihat ke luar jendela. Heuu hujan es turun lagi, butiran-butiran es sebiji jagung kecil turun deras menyebabkan bunyi gemeretak terdengar dari kamarku. Yap, hari ini terjadi badai di Glasgow. Tadinya tidak menyangka hari ini akan ada badai, maklum belum terbiasa mengecek prakiraan cuaca, terbiasa dengan cuaca di Indonesia yang paling-paling hanya hujan deras ehehe.

Tadi jam 8 pagi, masih gulita seperti jam 4 pagi waktu Indonesia, kulangkahkan kaki ke perpus karena ada janjian skype. Seperti biasa di lantai 3, dimana ada cafe dan tempat-tempat duduk sambil browsing internet, dan orang bisa ngobrol di sana. Iyap, tempat itu akhir-akhir ini menjadi tempat langganan tetap semenjak internet flatku bermasalah. Lalu kuamati lewat jendela besar perpus, kok angin bertiup sangat kencang. Kubaca account email student-ku,dan ada email dari principal Uni Glasgow, memberitahukan karena ada badai sampai sore hari, maka kelas dan exam semua dibatalkan. Heuu kaget juga, akan ada badai sampai semua kelas dan exam dibatalkan. Tapi kan aku nggak ngambil kelas, jadi mungkin nanti akan ke lab setelah makan di flat. Namun beberapa saat kemudian, ketika tengah mengobrol, tiba-tiba ada pengumuman, bahwa perpus akan segera ditutup dalam waktu 15 menit lagi. Fiuuuh perpus juga tutup, padahal biasanya perpus buka sampai jam 2 pagi, hihi soalnya pernah pengalaman di perpus sampai jam 2 pagi. Waaah jadi berpikir kayaknya badainya serius ini.

udah dulu ya, perpus udah mau tutup, kudu segera balik ke flat, menerjang badai ehehe” kataku mengakhiri perbincangan setelah ngobrol cukup lama.
iya,..disini juga sudah magrib. Baik-baik ya begitu kalimat penutupnya.

Jadi, ternyata beginilah Glasgow. Karena terletak di sebelah utara daratan Britania Raya, maka cuacanya lebih ekstrim. Salju sudah mulai turun semenjak hari minggu lalu, walau baru benar-benar terasa pada hari Senin, saat salju sudah turun dan daratan Glasgow sudah ditutupi lapisan-lapisan salju berwarna putih. Jalanan pun sudah tertutupi es, jadi bila berjalanpun harus hati-hati agar tidak terpeleset. Salju pertamaku, musim dingin pertama yang kurasai. Kurasai saja, kunikmati saja, karena inilah kebaruan-kebaruan hidupku. Termasuk badai ini pun begitu, anugerah, pengalaman yang tak semua orang bisa rasakan. Badai inipun membuatku bisa berduaan yang laptopku, menulis tulisan ini dan membagi cerita dengan kalian. Karena Massimo Palmarini, direktur CVRpun mengirimkan email tentang severe weather yang memaklumi staff dan student CVR bila tidak bisa datang ke lab. Ehehe ruangan lab-ku sedang direnovasi mejanya, dan karena adanya severe weather ini rasanya sah bila hari ini aku tidak ke lab, cukup bersama si hitam manis, laptopku, menulis dan pastinya..segera mengerjakan literature review!! Deadline-nya sebentar lagi....ayoo bersemangaaat!

Bila kalian duduk di sini bersamaku, dengarkanlah suara angin bergemuruh di luar jendela, badai angin kencang yang menggoyang-goyangkan pohon-pohon, menerbangkan daun-daun dan beberapa barang-barang, tong sampah di belakang rumah juga sudah tumbang. Kulihat tupai dengan biasa menghuni tong-tong sampah itu meloncat-loncat kebingungan, lalu meloncat ke pohon terdekat, kebingungan ia menghadapi badai. Ah, seandainya bisa bicara aku padanya, akan kubilang “Mari sini, duduk dekat-dekat denganku” ehehe. Lalu kupandangi sesekali tiang listrik dengan kabel-kabelnya yang nampak berusaha tetap tegak melawan badai. Langit makin menggelap lalu terdengar di kejauhan suara ambulans-ambulans yang bersahutan. Aku merasainya sebagai sebuah pengalaman baru.

Dan di antara tanda-tanda kekuasaanNya, Dia memperlihatkan kepadamu kilat untuk (menimbulkan) ketakutan dan harapan. Dan Dia menurunkan air hujan dari langit, lalu menghidupkan bumi dengan air itu sesudah matinya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang mempergunakan akalnya (Ar-Rum.24)

Ow..jari-jariku tanganku sudah terasa makin dingin, padahal pemanas ruangan sudah dinyalakan. Mungkin suhu-nya sudah makin turun. Brrrr....Baiklah, kunikmati saja suara badai yang masih terus saja bergemuruh di luar jendela, dengan hati yang lega, karena badai di hatiku sudah agak reda, setelah beberapa lama berjuang menghadapi badai, hari ini hatiku lega, karena sudah kuhadapi badai itu dengan berani. Walaupun sebenarnya takut, tapi kuhadapi saja, dan kini, badai itupun agaknya telah berlalu. Seperti lagu-nya Alm. Chrisye..Badai pasti berlalu. Pasti!

Yeaap karena apapun akan berlalu, dan inipun akan berlalu, begitulah terus kehidupan, berubah, tanpa kemelekatan pada sebuah fase, bergerak dinamis, terus mengalir bersama perubahan. Jadi terkadang, bersiaplah dan belajarlah menghadapi setiap perubahan. Sulit? Mungkin, tapi bukankah semuanya bisa diupayakan?

Dan lagu peluk-nya Dee (Dewi Lestari) sayup-sayup beradu dengan suara badai,

Lepaskanku segenap jiwamu
Tanpa harus kuberdusta

Karena kaulah satu yang kusayang
dan tak layak kau didera

(Peluk-Recto Verso-Dee)

21 Hillheadstreet. 6 Dec 2011. 1.45 pm

0 comments:

Post a Comment