Tuesday, 20 December 2011

Menempatkan Sejarah


Atas nama sejarah, engkau mengenggamnya erat-erat, engkau bawa-bawa kemanapun langkahmu pergi. Berdetik hingga tahun, atas nama sejarah, cerita itu engkau putar ulang di benakmu. Engkau mengenggamnya seakan masih kau miliki, dan lupa kapan terakhir kali “pengalaman langsung” yang kau rasai bersamanya? Terakhir kali kalian berbincang tentang cuaca, tentang jalanan yang ramai, tentang menu makan siang atau kemana tujuan jalan-jalan akhir pekan.
Kebersamaan yang tak pernah engkau punyai (lagi), karena kebersamaan kalian berdua sudah ada dalam lembaran-lembaran sejarah. Sejarah yang masih runtut kau buka-buka lagi, tapi masihkah akan ada cerita untuk kalian berdua di masa mendatang?
Engkau membuta, atas nama yang kaunamai cinta. Mungkin memang benar adanya, dan pastilah benar kurasa. Tapi sampai kapan kau terus menghidupi sejarahmu itu? Sedangkan harimu berjalan. Yang setiap detiknya menawarkanmu sejarah baru, bukan untuk menghilangkan sejarah lama, tapi mewarnainya.
Dialah bagian terbesar dalam hidupmu, tapi kamu cemas. Kata “sejarah” mulai menggantung hati-hati di atas sana. Sejarah kalian. Sejarah memiliki tampuk istimewa dalam hidup manusia, tapi tak lagi melekat utuh pada realitas. Sejarah seperti awan yang tampak padat berisi tapi ketika disentuh seperti embun yang rapuh (Surat yang tak pernah sampai-Filosofi Kopi-Dee)

Walaupun aku bisa mendengar harapmu dengan jelas, saat engkau berkata :

Aku ingin bersamamu, saat mengecat tembok rumah kita. Dengan cipratan warna cat di wajah coreng moreng kita, tapi kita masih terus tertawa, bahagia. Aku juga ingin memperbaiki kancing bajumu yang tak lagi lengkap..ataupun minum teh hangat bersama di teras rumah kita. Ingin memberikan senyuman terbaikku untuk luruhkan penatmu, agar kembali lagi senyummu itu. Hanya cukup satu senyum saja, senyummu. Terciptalah sebuah simphoni sore hari yang sempurna, sederhana. Tak lagi rupa-rupa, karena cintaku sederhana saja. My love for you is for free, tak usah kau hitung-hitung lagi.

Dan saat yang sama pula aku mendengar pula resahmu : Terkadang ingin mengalahkan waktu, tapi bisa kubayar dengan apa ketinggalanku bertahun-tahun lamanya?
Tak perlu, tak perlu kau kalahkan waktu. Karena sebenarnya waktu tak pernah peduli apapun kejadian di muka bumi ini. Ia hanya peduli untuk berputar, berjalan, sesuai dengan tugasnya.
Hidup ini cair, semesta ini bergerak, realitas berubah. Seluruh simpul kesadaran kita berkembang, mekar. Hidup akan mengikis apa saja yang memilih diam, memaksa kita untuk mengikuti arus agungnya yang jujur tetapi penuh rahasia. Kamu, tidak terkecuali. Masih ada sejumput kamu yang bertengger tak mau pergi, dari perbatasan usai dan tidak usai. Bagian dari dirimu yang merasa paling bertanggung jawab atas semua yang sudah kalian bayarkan bersama demi mengalami perjalanan hati sedahsyat itu. Dirimu yang mini, tapi keras kepala, memilih untuk tidak ikut pergi bersama yang lain, menetap untuk terus menemani sejarah (Surat yang tak pernah terkirim, Filosofi Kopi, Dee)

Pilihan itu di tanganmu, aku tahu engkau akan tetap sanggup “hidup” walau dengan membawa-bawa sejarahmu itu sepanjang hidupmu. Tapi, tidakkah engkau mengijinkan ada sejarah baru, biar lembar-lembar hidup anugerah GustiMu itu terwarnai?
**Untuk seorang sahabat, You deserved the best, my dear sis
Glasgow, 20 Dec. 11.15 waktu malam hari, dengan suhu yang mulai menggila, tapi tak jua bisa kupejamkan mata hingga tulisan ini usai***

2 comments:

Suryati Arifatul Laili said...

Terharu............ambil tissue ni :)

Siwi Mars said...

ehehe..cukup mba??ta ambilin ember nek kurang wakakak ;p

Post a Comment