Wednesday, 28 December 2011

Sebaris Kalimatmu (Saja) 2



Masih, masih juga kau nanti, sebaris kalimatnya. Yang tak kunjung jua datang. Yang kaunanti dengan sedu sedan itu, dalam bayangan-bayangan kecemasanmu itu. Apa kabar ia, yang tak kau dengar kabarnya selama 23 hari. Sudah 23x24 jam miliknya, tak disisakan untukmu walau hanya untuk sebaris kalimat saja. Sedangkan engkau, lelah menantinya dengan mengisi setiap menitmu dengan harapan untuk mendapat sebaris kalimatnya saja. Ironi, entahlah, aku tak yakin ada ironi dalam cinta.
Cinta? Entahlah. Padahal sebaris kalimat yang kau nanti itu aku tahu pasti apa. Bukan sebaris kalimat seperti, aku mencintaimu, aku menyayangimu, atau barisan kalimat lain semacam itu. Karena aku tahu pasti barisan kalimat itu telah menghilang—lama menghilang, atau bahkan belum sempat muncul, belum pernah, atau barangkali tidak pernah.
Sebaris kalimat itu, hanya berisi kalimat sederhana
“ Aku baik-baik saja”
Hanya itu, cukup itu. Hingga aku jadi bertanya, mengapa sebaris kalimat itu saja tak kau berhak kau dapatkan darinya. 
            “Lalu maksudnya apa memperlakukanmu seperti itu?”
            “ Jujur saja, sebagai sahabatmu, ada sebagian dari diriku yang tak rela ia memperlakukanmu seperti itu” ketikku saat kita mengobrol lewat YM.
Dan ikon sedu sedan itu kembali muncul.
Kau, dan sedu sedanmu. Menanti dia-mu yang pernah membawamu dalam liku-liku ceritamu. Hanya tak habis mengerti, mengapa menyayangi seseorang menjadi begitu rumit. Teringat film Milly dan Nathan yang kutonton beberapa hari lalu.
            “ Aku lebih memilih melihatmu marah, daripada melihatmu bersedih” itu tulis Nathan yang memilih menyembunyikan penyakit kanker otaknya pada Milly, perempuan yang dicintainya. Dan akhirnya memilih bilang bahwa ia akan menikah dengan gadis lain, dan meninggalkan Milly. Sebelum meninggal ia menuliskan surat pada Milly tentang alasan mengapa ia meninggalkannya.
Entahlah, sahabatku. Mungkin dia-mu juga memilih melakukan langkah begini karena begitulah caranya menyayangimu. Tapi andai ia tahu, betapa engkau tenggelam dalam sedu sedan, dalam praduga, dalam kecemasan yang tak pernah ia bayangkan, ia pasti takkan melakukan hal itu. Mungkin.
-----


“Sebuah cinta memang harus diungkapkan karena tidak pernah ada cinta yang disembunyikan, kecuali oleh seseorang yang terlalu mencintai dirinya sendiri.”
(5 cm, Donny Dhirgantoro)
 ---


*Untuk sahabatku tersayang, cukup bersyukurlah..karena Tuhan menganugerahimu dengan kisah yang membuatmu kaya cerita hidup, dan cinta yang membuatmu mengerti. Hilangkan sedu sedan itu, kami semua tetap ada untukmu..

3 comments:

R. Widyaniarti said...

wuah ini 11 12 sama Balada Cinta Si Oneng ku. wkwkw. girl's thing banget ya kayaknya. hehehe

Siwi Mars Wijayanti said...

ehehe iyaaa...kutipannya Donny itu juga dari pas baca cerita balada cinta si oneng-mu :)
*emang gitu deh....perempuan bangeeet..

Siwi Mars Wijayanti said...

dan di empunya cerita, pagi ini mengetikkan kalimat ini di YM-ku :
"pertama kali kubaca tulisanmu ak nangis
lalu ku baca kubaca dan kubaca lagi lalu membuatku tersenyum
lalu ak merasa bersyukur aku punya banyak cerita"

Post a Comment