Tuesday, 31 January 2012

Merindu Salju

**Salju kembali turun, kali ini agak terburu-buru, seperti rinduku..yang terburu-buru ingin menujumu (SiwiMars, 26 January 2012)

Merasai bulir-bulirnya jatuh ringan di tubuhku, mukaku, telapak tanganku dan meninggalkan jejak putih di mantelku, rasaku membisu. Ada gelenyar yang tak dikenali hatiku, sebuah rasa “baru”. Bahwa rasaku pun berubah dari tataran “belum pernah merasai salju” berubah menjadi “pernah”. 
Hati-hati dengan perubahan rasa ini, terkadang sebagian besar dari hidupmu itu mendamba untuk mengubah dari belum pernah menjadi pernah. Dan juga bagi perkara saljupun sepertinya berlaku hukum itu. Sebagai manusia yang dihidupkan oleh iklim tropis, yang selama ini terbiasa dengan matahari dan hujan, salju telah lama masuk menjadi kategori “barang antah berantah” yang hanya berakhir pada imajinasi film-film drama romantis, kartun-kartun Disney atau film-film natal. Salju selalu diidentikan dengan Natal, sampai ada sebutan “white christmas”, mungkin karena turunnya salju biasanya terjadi pada Bulan Desember, saat musim dingin tiba. Maka karena termasuk kategori “barang antah berantah” itulah banyak orang mendamba merasai turunnya salju dalam hidupnya, termasuk aku tentu saja. Laiklah bila kami-kami yang baru saja menginjakkan kaki di daratan Eropa, terkana sindrom merindu salju.
Menunggu saat kapan si bulir-bulir putih lucu itu menjatuhkan dirinya dengan beruntun dari langit. Dengan terus memantau perkiraan cuaca, dan menunggu kalo ada tanda-tanda ramalan adanya “snow” walaupun cuma “light snow”. Dan betapa beruntungnya aku yang tinggal di Britania bagian utara yang notabenenya lebih dingin dibandingkan dengan daratan UK lainnya. Sehingga daratan yang kujejaki saat ini lebih cepat mendapat berkah salju dibandingkan daratan-daratan lain di benua biru ini.
Aku masih ingat salju pertamaku, turun tak terburu-buru, seperti rindu yang tak tentu. Hanya rintik rintik putih yang melayang terbang dan menimpa ringan di tubuhku. 

Aku dan Salju

Dan kemarin turun lagi si lucu itu, kali ini seperti serat-serat kapas yang beterbangan di luar jendela. Ah, salju-salju lucu itu...seperti menerbangkan angan, meloncatkan harapan. Memandangi  gumpalan-gumpalan putih terbang melayang sungguh mendebarkan. Hatiku seakan ikut dibawanya terbang, menyeberang samudra, menujumu. Titik–titik putih itu turun satu-satu, menggodaku untuk keluar dan bersama mereka. Merasai bulir-bulirnya jatuh di kulitku, merasai sensasi dingin di wajahku, dan tak terasa tanganku mulai membeku. Dan saat langit telah menggelap, dengan lagu-lagu yang diputar syahdu, plus teh hangat madu, serta salju di luar jendela masih terus turun membawakan rindu, sempurnalah hidupku ehehe. Salju memang cenderung membawakan rasa mellow di hati. Dengan suhu minus, jalanan beku dengan lapisan tipis es, akibat salju yang membeku, memang saat yang tepat untuk ber”hibernasi” di balik selimut.
Namun sayangnya tahun ini, salju tak sering-sering datang, tak seperti tahun lalu (kata mereka). Masih untung si bulir bulir lucu itu sudi turun, karena di bagian UK lainnya, sahabat-sahabatku masih merindu salju.
            “ Aku sudah lelah menantinya”, begitu katanya. Tanda rindu tak bersambut dalam sebuah pertemuan yang indah. Ah, bersabarlah..mungkin nanti salju lucu itu akan segera mampir ke tempat kalian. Agar berubah status hidup kalian, dari belum pernah merasai salju menjadi pernah, sebenarnya itu saja urgensinya. Namun walau hanya sekedar itu, perubahan status itu terkadang membuat orang-orang terkena snowholic..mencandu salju. Mood-nya menjadi tiba-tiba melankolik, bahagia nano nano..ahaha kombinasi yang aneh..sindrom ini terdeteksi dari berbagai status-status FB warga negara Indonesia tercinta yang tengah dilanda “candu salju”. Padahal rekan-rekan Labku yang orang Scottish dan orang Eropa lainnya, memandang salju sebagai sesuatu yang sangat biasa, bahkan menurut mereka “menganggu”. Karena salju bagi mereka adalah jalanan yang licin, mobil yang susah bergerak karena salju, suhu yang makin membuat beku. Ah, lihatlah hanya perkara salju saja sangggup menggerakkan kesadaran kita tentang sesuatu yang biasa dan luar biasa. Salju bagi kita-kita adalah sesuatu yang istimewa, hanya karena kita tak biasa mengalaminya, dan bagi mereka, salju sangatlah biasa. Jadi mereka merindu matahari tropis yang menghangatkan kebekuan mereka yang hampir sepanjang tahun diterpa hawa dingin. Itulah mereka mengganggap negeri tercinta kita itu sebagai surga.
            “why you came here, your country is paradise?” kata tutor les inggrisku pas awal-awal menginjakkan kaki disini.
Ah, begitulah ternyata hidup. Kita sering berteriak-teriak kepanasan, mereka merindukan matahari terik milik kita itu. Sementara kita mencemburui salju milik mereka. Jadi itulah tentang merindu, menantikan sesuatu yang ingin kau rasai, menunggu untuk bertemu seseorang atau sesuatu yang ingin kau temui, mendesak-desak tak tentu.
Salju kembali hilang, tapi kenapa rinduku masih di sini bersamaku.***

 

Thursday, 26 January 2012

Catatan Perjalanan : Edinburgh, Menatapi Sejarah Peradaban

Sabtu, 21 jan 2012. 05.30 My flat
Glasgow masih lelap, tak banyak manusia-manusianya yang sudah bangun pada saat-saat jam dimana berkelubut dalam selimut saat dingin menusuki tulang benar-benar menjadi hal yang menyenangkan. Saya memang penggila rasa, bahkan untuk merasai dinginpun, ritual bangun pagi kusisakan beberapa menit untuk sekedar mengumpulkan nyawa, namun selebihnya adalah untuk menikmatinya, merasai rasa dingin dipadu dengan selimut dobel adalah seperti paduan secangkir teh hangat dan hujan, saling menyempurnakan..ehehe
Tapi karena mengingat jadwal bis ke Edinburgh berangkat jam 8.45 maka setidaknya 45 menit sebelumnya aku sudah harus beranjak menuju halte bis menuju stasiun. Maka kutinggalkan dingin dan cerita selimutnya, lalu bersiap-siap. Kali ini ingin menikmati perjalanan dengan santai, karena seringkali liburan atau jalan-jalan tak lebih dari cerita serba terburu-buru. Apa yang kau nikmati dari serba buru-burumu? Maka tas punggung—pacar keduaku- sudah siap dengan segala tetek bengek keperluan selama 2 hari,persis kayak kantong doraemon saja. Bila lapar?ada sekotak Bakmi Kangen, bila ingin camilan? Ada shortbread, cemilan kue khas Scotland favoritku itu, Bila hujan ada payung, bila merinduimu..ada saputanganmu ;p

07.35. Halte bis Great Western Road
Glasgow masih saja menggelap, saat kulangkahkan kaki keluar flat. Iseng memotret Glasgow-ku yang masih terlelap, ternyata mempesona. Dengan santai pula kutunggu bis lewat di halte terdekat di Great Western Road. Aku teringat betapa aku terburu-buru saat akan ke Edinburgh tahun baru lalu, begitu cemas ketinggalan bus di stasiun. Ah, betapa tidak menyenangkannya buru-buru. Dan bis no 20 pun mengantarkanku ke Buchanan Bus Stasiun, sekitar 30 menit sebelum jadwal keberangkatan. Masih sempat duduk santai, masih sempat makan Bakmi Kangenku, dan menulis catatan-catatan kecil di notesku.

Setapak jalan di samping flatku
08.45 Citylink
Bus yang nyaman ini mengantarkanku ke Edinburgh, sebuah perjalanan sendirian, berbeda dengan perjalananku kemarin itu yang bersebelas orang. Tapi kunikmati benar pemandangan di luar jendela. Itulah mengapa selalu saja kupilih posisi di dekat jendela bila aku naik apa saja, entah bis, kereta atau pesawat..entah kapal, aku belum tahu bagaimana rasanya. Karena menurutku dari sebuah perjalanan, terkadang menyenangkan menikmati perjalanan itu sendiri, bukan hanya melulu memusatkan diri pada tujuan. Lalu pemandangan di luar jendela adalah hal-hal yang  tak bisa tertampikkan, begitu mempesonakan. Sungguh pemandangan yang memanjakan mata, dengan deretan rumah rumah berdesain unik, mungil, sederhana namun nampak nyaman, lalu bukit-bukit menghijau dengan domba-domba yang menunduk sibuk merumput.
Entah kenapa aku menyukai kala memandangi domba-domba lucu itu. Sampai bertanya dalam hati, kenapa semua domba yang kulihat selalu dalam posisi menunduk?apa ia tak lelah makan terus? Tapi pertanyaan itu terjawab setelah beberapa kali melihat si lucu itu mendongakkan kepala..ahaha pertanyaan nggak penting ya. Cuaca hari ini nampak bersinar, membuat hatiku cerah. Humm memang terkadang entah ada hubungan apa antara hati dan cuaca hingga mereka berdua seringkali saling mengkoneksi. Mungkin matahari sedang senang, hingga muncul terang melihatku datang. Jadi sepanjang jalan, betapa kunikmati memandangi landskap mahakarya sang kuasa yang sungguh indahnya. Andai naik kendaraan pribadi, pasti aku ingin berhenti, menikmati pesonanya dengan duduk-duduk di hamparan rumput menghijau itu, mengamati tingkah polah domba domba lucu itu hingga bisa menghitung frekuensi sebenarnya berapa lama ia menunduk dan berapa lama ia mendongakkan kepalanya. Atau menatapi pagar-pagar kayu yang berbaris rapi, menentramkan hati. Mengingatkan bahwa apa saja yang berjalan sesuai batas memang lebih menyamankan nurani.

09.45. Edinburgh Bus Stasiun
Masih agak mengantuk, karena ternyata pemandangan yang mempesonakan dan domba-domba lucu tadi itu sungguh melenakan. Aku terlelap ehehe..dan tersadar saat bis sudah melewati kota Edinburgh menuju bus stasiun. Belum-belum sudah kukagumi sisi-sisi lanskap kota tua ini. Humm..cantik..khas lanskap kota tua yang masih terjaga kelestariannya.
Sampai di bus stasiun, kuambil peta yang disediakan disana, trus mencari jalan ke arah flat-nya Detia. Sebelumnya sudah mem-bookingnya untuk menemaniku jalan-jalan sekaligus numpang nginep di tempatnya. Hiyaaa..kali ini bakat nyasaranku rada sembuh, setidaknya hanya sekali menelponnya, dan akhirnya berhasil sampai di flatnya setelah berjalan sekitar 30 menit. Setelah makan, ngeteh, leyeh-leyeh sambil menunggui detia mandi. Detia ini mahasiswa S1 di Uni Edinburgh, baru semester awal..hadeeeh bisa dibayangkan, baru seumur segitu sudah kelayapan ke negeri antah berantah sini.

11.30. Kawasan Kastil Edinburgh
Menjelang siang kami berangkat jalan-jalan, iyap, jalan-jalan dalam artian sebenarnya, dengan berjalan kaki. Berjalan menyelusuri jalan-jalan Edinburgh rasanya menyenangkan, walau angin bertiup kencang dan gerimis rinai datang sesekali. Cuaca memang aneh, mentari bersinar terang tapi gerimis datang. Ah, mungkin mereka berdua ingin menjumpaiku dalam waktu yang sama ;p Melihat sisi-sisi Edinburgh rasanya ingin lama berhenti, mengamati dan menikmatinya. Coba kalau bisa berlama-lama, hummm maunya. Kami mengarah ke kastil edinburgh, tempat ini adalah hotspot yang paling dicari banyak orang. Belum dikatakan ke Edinburgh bila belum mengunjunginya. Dan juga, tempat ini kujadikan setting cerpenku “Cinta di antara dua huruf “O”” di buku Balada Seorang Lengger, jadi ingin mengecek bagaimana sebenarnya aslinya. Kastil ini menangkup skyline Edinburgh karena letaknya di puncak volcanic Castle Rock, jadi merupakan pusat pemandangan yang bisa terlihat yang mudah dari sudut-sudut kota.
Kastil megah ini menjadi simbol kota Edinburgh, bahkan juga menghiasi logo University of Edinburgh, ada di gambar perangko-perangko dan juga lembaran duit pounsterlingnya scotland (eit..duitnya orang scotland sama orang England beda lho walau sama-sama poundsterling, arogansi memang menjamur dimana-mana kawan, bukan hanya di bumi pertiwi). Angin bertiup kencang, beginilah khas cuaca di Scotland..memang lebih brrrr dibandingkan bagian UK lainnya. Kusempatkan foto-foto di kastil yang dulunya adalah tempat tinggal kerjaan (royal castle) sejak rezim David I abad 12 sampai tahun 1603 itu. Sebagai banteng paling penting di Kingdom of Scotland, tentu saja banteng ini ikut berperan dalam perang kemerdekaan Skotlandia pada abad ke 14. Hummm..selalu merasa bagaimanaa...bila berhadapan dengan bangunan-bangunan yang sudah “simbah buyut” umurnya. Bahwa aku bisa melihat apa yang dulu orang-orang antah berantah, beratus ratus sebelumku lihat juga, rasanya ada yang berdesir di dadaku, entah apa itu. Mungkin karena rasaku yang sedikit rasa “aneh” dengan bangunan-bangunan historis. Mungkin secara genetis aku lahir dengan pecinta “klasik” daripada sesuatu yang mengusung modernitas.
Foto di depan Kastil...cantik ya...kastilnya hihi ;p
Sayangnya belum sempat masuk ke dalam kastilnya, untuk tiket masuk seharga 14 pounds..heuu cukup mahal ya, dan saat itu antrean sudah mengular, akan memakan waktu lama untuk mengantri. Jadi lebih baik nanti masuk kalau ke sini lagi, agar ada alasan untuk kembali lagi hihi. 
Kemudian kami berjalan meninggalkan kastil, aku dan Detia menikmati berbagai atraksi. Banyak atraksi menarik para seniman jalanan, mulai dari si bapak-bapak yang berdandan ala William Wallace yang terkenal dengan film Brave Heart itu  
Lalu di sepanjang jalan bisa ditemukan gambar dari seniman-seniman local ataupun toko-toko souvenir khas Scotland yang menjual berbagai pernak pernik nan lucu. Humm..berharap kurs rupiah dan poundsterling lebih mesra lagi saat melihat harganya, hadeeeeh....ehehe tapi akhirnya kubeli juga beberapa souvenir Scotland yang unik,dan nggak ada di Glasgow. Sepertinya lebih banyak variasi di sini, dan harganya lebih rasional.
ini dia si bapak-bapak yang berdandan ala William Wallace

2.00 pm- Old College-Kitchen Mosque-Central Mosque-Uni Edinburgh
Kemudian, kami meneruskan perjalanan ke kawasan University of Edinburgh, mantan calon kampusku hihi. Di tengah jalan, kami mampir di Old College dengan arsitekturnya yang waw..cantik dan klasik, betah banget berlama-lama memandanginya. Kemudian juga iseng masuk ke museumnya, hum museum di sini memang selalu terawat dan dikelola dengan baik, pokoknya ngiriiii. Setelah agak puas kami mampir makan siang, karena perut sudah keroncongan. Detia menunjukkan Kicthen Mosque di dekat Uni, yang menyediakan masakan halal dengan harga yang lumayan. Aku memesan nasi briyani dan sayur, sedangkan detia memesan Nasi dan Ayam Curry. Harganya standard, sekitar 5 pounds seporsi , tapi hebatnya Detia habis.

Di Old College...waw, betah banget di tempat ini
            “ pertama kali makan di sini nggak habis mba, tapi lama-lama habis juga, sepertinya perut sudah menyesuaikan” katanya sambil tersenyum, dan kembali merampungkan nasi dan ayam di piringnya.  Aku menyerah, dan minta sisanya dibungkus ehehe.
Nasi Briyani..enaaaak bangeeet...
Dari situ, kami melewati Central Mosque, lalu ke kawasan Uni Edinburgh. Dan ke university shopnya...hyaaaa..mata langsung berbinar-binar melihat pernak-pernik uni. Hihi nakal, padahal belum satupun pernak pernik Uni Glasgow yang kubeli, tapi demi melihat pernak pernik Uni Edinburgh langsung berhasrat untuk membeli, kadang-kadang cinta memang terlalu jelas, tak sanggup disembunyikan. Apalagi ada diskon, kaus merah dengan lambang Uni Edinburgh-pun akhirnya berpindah ke tanganku, ahaaaay..5 pounds, harga yang rasional setelah diskon lumayan. Untuk urusan souvenir, pikirku, yang bikin mahal adalah tulisan, lambang, logo dan sebagainya ehehe..begitulah kira-kira hipotesisku.
Setelah itu kususuri bangunan-bangunan Uni yang antik dan telah berumur ratusan tahun itu, sampai gelap. Jam 4 sore saja, langit sudah menggelap menjadikan hari terasa begitu singkat. Akhirnya kami beranjak pulang, tapi di tengah jalan, tetep mampir ke beberapa toko dan akhirnya sampai di flat dengan keresek belanjaan. Entah, biasanya tidak begitu..hihi, mungkin karena menjelang pulang, jadi pikirannya beli oleh-oleh terus ;p

6.30. Flat Detia
Di Flat-nya Detia, bersama Minfi
Humm...kaki rasanya pegeeeeel setelah berjalan sedemikian jauh dan lama. Kaki di sini memang memiliki peran yang sangat penting, karena akan dipakai terus terusan untuk jalan kaki. Nggak ada becak, nggak ada ojek walaupun jalanan kadang becek hihi...makanya saat tubuh bertemu dengan kasus dan boneka minfi (boneka khas belanda) yang pas dipeluk itu, waa nempel terus. Sementara detia asyik memutar lagu-lagunya Ada band sambil bernyanyi-nyanyi, katanya pemanasan sebelum  mengerjakan tugas, tapi pemanasannya lamaaa..nggak sampai inti-nya hihi. Salut juga dengannya, dengan umur yang belum lagi 17 tahun, sudah melalang buana, jauh dari orang tua. Humm..sementara pemuda pemuda lain masih nyaman di “suapi” emaknya. Kuraih buku “cinta padang bulan”nya Andrea Hirata di rak bukunya, dan iseng membacai kalimat-kalimatnya. Haus bacaan Indonesia, semuanya di sini berbahasa antah berantah semua. Menjelang jam 8, karena perut keroncongan..kami segera ke dapur, masak cah kangkung dan tahu goreng, ayeeee...pertama kali makan kangkung di negeri ini. Namun, sayangnya Detia nggak suka  pedes, jadinya nggak ada cabe satu bijipun. Alhasil jadilah cah kangkung tanpa cabai...oh, cintaku pada cabai..hambarku tanpamu ;p

Minggu, 22 Januari. 10.30. Royal Botanical Garden, edinburgh
Humm hijau-hijaunya taman selalu menyejukkan
Tema jalan-jalanku kali ini memang “menikmati”, jadi memang nggak bernafsu untuk menjelajah ke banyak tempat. Masih ada waktu mengunjunginya lagi, pikirku. Jadi, kami menikmati pagi dengan leyeh-leyeh, sarapan dan cerita di ruang dapur. Sambil menikmati mentari Edinburgh yang tersenyum cerah. Entah mengapa bila mentari tersenyum cerah, hati ikutan cerah, mungkin karena kelamaan disuguhi mendung, badai, dan hujan, jadi aku merindui matahari. Menjelang siang kami jalan menuju Royal Botanical Garden, sekitar 20 menit jalan kaki dari flat Detia. Humm, taman saat musim dingin dengan pohon-pohon yang meranggas ternyata tetap cantik juga. Kupikir, pasti taman ini akan punya warna yang khas setiap musimnya. Cantik berwarna warni saat musim semi ataupun musim panas, lalu menguning atau merah kekuningan saat musim gugur. Royal Botanical Garden Edinburgh hampir sama dengan yang ada di Glasgow.. namun lebih luas, lebih lengkap dan variatif. Aku selalu betah berada di lingkungan yang hijau-hijau begini, rasanya segar, udaranya masih bersih. Humm ada danau dengan angsa-angsa, ada hamparan rumput menghijau yang luas, kursi-kursi duduk, tempat pameran, souvenir shop yang menjual pernak pernik, madu dan produk-produk kebun lainnya. Dijamin indah untuk lokasi foto-foto (ahaha teteeeep), enak untuk jalan-jalan, dan juga sip untuk belajar. Ada video tentang alam, ilmu pengetahuan, miniatur, gambar..wuiiii lengkap banget. Belum lagi ada koleksi tanaman dan bunga-bunganya yang belum sempat kulihat. Oh ya, bedanya kalau di Glasgow, masuk ke koleksinya gratis, dan kata Detia kalo masuk koleksi tanaman dan bunga di sini bayar hohoho.
Koleksi madu scotland di souvenir shopnya
Menjelang jam 1.30, kami pulang ke flat karena jam 2.45 tiket bisku pulang menuju Glasgow. Jadi, setelah mengepak semuanya, aku kembali berjalan menuju stasiun. Dengan hati senang, jiwa terang, ehehe. Satu yang pasti, memang suatu kota ada jatahnya untuk selalui dirindui, seperti Jogya. Tapi ada kota yang nyaman dan membuatmu mau pulang, seperti Purwokerto ataupun Glasgow.
04.30. Buchanan Bus Stasiun, Glasgow
Aku kembali menjejakkan kaki di Glasgow, humm rumahku. Mampir sebentar membeli Lamb Kebab di King’s Kebab di Sauchihall Street, karena sepertinya perut sudah tak sabar menunggu bila harus masak lagi. Hihi perutku memang manja akhir-akhir ini . Akhirnya kembali ke flatku, kamarku yang super nyaman. Dan merasa beruntung, aku bisa berjalan-jalan, menikmati semua anugerah Tuhan, sambil mengucapkan, Edinburgh-ku, suatu saat, aku akan kembali lagi ;p

** panjang ya ceritanya...hoho, begitulah kawan, akupun ingin kalian melihat apa yang kulihat.

Tuesday, 24 January 2012

Yang Mungkin Tak Ingin Kau Kenang

“Betapa ingin saya berani memungut kembali satu-persatu kenangan itu, betapapun ia bikin malu. Karena hidup yang sekarang, pasti tidak disusun cuma berdasarkan kebenaran dan kemuliaan. Di antaranya, ia pasti disusun juga dengan kebodohan, aib dan kekeliruan.
Maka kedudukan aib dan kesalahan itu, sesungguhnya setara dengan kebenaran dan keberhasilan. Ia sama-sama menjadi batu penyangga hidup saya. Jadi ia tak perlu diruntuhkan” (Prie GS)
Satu hal yang menyenangkan saat membacai tulisan Prie GS adalah keterusterangannya, bagaimana ia menulis tanpa label-label. Ia membukakan ruang bagi para pembacanya untuk menertawakan kisah-kisahnya, dan pastinya sedang menertawai diri sendiri, dan dengan begitu kita semua menarik pembelajaran dengan menyenangkan. Betapa terkadang manusia butuh momen seperti itu.
Terkadang ada kalanya, kita ingin “membuang “ beberapa petak sejarah dalam hidup karena kita pikir itu sebuah kesalahan, hal yang memalukan, nggak keren, ndeso atau sebagainya. Betapa bila dikenang, akan ada berbaris baris daftar hal-hal konyol yang telah kita lakukan. Banyak orang yang serta merta ingin men-delete-nya, tapi tulisan Prie GS itu membuatnya tersenyum, terkikik, dan tersadar. Bahwa kenangan sebagaimanapun bentuknya, memang tak seharusnya diruntuhkan. Karena batu-batu penyangga hidup kita ini memang tidak hanya dibentuk dari prestasi-prestasi, kebaikan, kemuliaan, dan kecemerlangan semata, tapi juga kekonyolan laku, kesalahan, serta peristiwa-peristiwa memalukan.
Tak perlu berlama-lama menengok daftar, tingkah kita tempo hari, minggu lalu, tahun lalu saja bisa membuat diri kita tersenyum semu sendiri menahan malu. Apa yang kutulis saja bila kubacai lagi bisa membuatku tak kuasa bila membacainya lagi. Seperti bukuku yang tengah kunanti terbitnya, saat dulu kubacai lagi seluruhnya untuk mengkoreksi naskah, banyak bab yang tak sanggup kubacai saking konyolnya, dan bila tak kuingat lagi misi di balik buku itu, segera ingin kuurungkan penerbitan buku itu karena tak sanggup menahan malu bila orang lain membacainya. Persis seperti sebuah kalimat endorsement dari Sg.Laura Romano...
 I could not stop reading. At least 10 times I was moved to tears and at least as many I was cracking into laughter…
Cerita macam ini pasti juga dialami Prie GS, yang berkata : 
Saya amat gemar menulis surat cinta di zaman sekolah. Dan ketika surat-surat itu saya baca ulang bertahun kemudian, hasilnya adalah aib berkepanjangan. Membayangkan surat-surat ini dibaca orang bisa membuat saya mati berdiri.
 
Bila Prie GS bilang—bertahun kemudian-sedangkan aku baru saja-sebulan kemudian, saat dibacai lagi, sudah mampu membuat aku ingin menghilang kehabisan malu. Merona pipi sampai warna merah kalah terang.
Lalu saat muda dulu—seperti simbah sedang bercerita—daftar kekonyolan rasanya tak akan pernah habis dicentang, bagaimana aku bisa tahan malu, bisa ingat lagi saat dengan hati berdebar menggantungkan permen payung dengan diselipi kertas berisi puisi di motor seseorang kala itu menarik hatiku, menempelkan kertas pengumuman di papan pengumuman kampus yang menggegerkan se-angkatan atas, atau menuliskan pesan-pesan padanya di daftar absen ujian yang tertempel di depan pintu kelas. Cinta memang banyak melahirkan kekonyolan, sekaligus roman yang bahkan kau rela membayar berapapun dan apapun untuk mendapat geleyar rasa itu.
Berapa kali engkau jatuh cinta secara platonik dalam hidupmu? Tidak banyak, terkecuali kau maniak.
Belum lagi bila catatan beranjak ke daftar hal-hal gila, misalnya saat nekad memanjat ruang dosen ekologi hanya untuk mengumpulkan tugas tepat waktu. Kala itu sudah lembur-lembur mengerjakan laporan, dan tiba-tiba dunia seakan runtuh saat file-ku hilang, lalu dengan kesetanan kuketik ulang, sampai tak tidur semalaman. Sementara teman-teman yang lain memang baru selesai saat sore hari, teeeet hari terakhir laporan harus dikumpulkan. Dosen ekologi itu memang tampangnya sedikit sangar, berwibawa dan membuat segan. Dan nilai ekologi kala itupun terkenal menyeramkan, terlambat menyerahkan tugas alhasil nilai terancam mengulang. Maka sore itu, segerombolan kami-mahasiswa yang telat mengumpulkan-mencari cara agar berkas laporan kami yang telah disusun dengan curahan semangat lembur dan tetes darah penghabisan (mulai lebay) dapat tergeletak dengan aman di meja pak dosen ekologi itu. 
Ruang utama dosen ekologi masih terbuka, sayangnya pintu ruangan masing-masing dosen sudah tertutup rapat. Kami kebingungan, lalu muncullah ide gila, manjat sekat ruangan dosen yang terbuat dari papan itu. Sekat setinggi hampir 4 meter itu, tak bisa dipanjat oleh manusia dengan berat badan tertentu, dan aku yang notabenenya masih cungkring kala itu, ketiban sampur. Selain itu, karena memang tidak ada lagi perempuan setengah laki-laki yang mau memanjat selain aku. Maka, jadilah aku pahlawan kesorean dengan usaha setengah mati memanjat papan tinggi itu, dengan membawa sebendel laporan teman-teman. Sementara yang lain, serius mengamati pergerakan, sudah sampai mana si penjaga kampus berjalan hendak mengunci pintu semua ruangan. Dan dengan debaran jantung berpacu entah sampai berapa kecepatan, selamatlah aku kembali dan keluar ruangan dengan tersenyum polos inosen pada si penjaga kampus, agar percaya bahwa aku sejenis mahasiswi penuh sopan santun yang tak akan berbuat nakal.
Dan sekarang, percayakah kau kawan..setelah sebelasan tahun kemudian, dua bulan lalu aku menggarap proyek buku bersama beliau, bersama 18 penulis lain dalam sebuah antologi “Balada Seorang Lengger”. Lalu akupun melakukan pengakuan dosa, dan beliaupun malah tertawa. Apalagi saat kukenangkan lagi saat wawancara mahasiswa berprestasi kala itu, sergahan beliau singkat saja, tapi cukup membuatku yang begitu lugu kala itu menjadi ciut nyali,
            “ Jadi begitu tipe bacaan bukumu? Sejenis Cinderella story?” tanyanya dengan nada mengintimidasi, mengomentari jenis bacaanku yang sejenis roman picisan. Hadeeeh rasanya kala itu aku mau menghilang saja.
Tapi begitulah cara kehidupan bertutur, bahwa ternyata kekinian bukan dibangun serentak dalam sehari, menjadikanmu diri yang seperti ini saat ini. Tapi itu juga  terbentuk dari susunan episode-episode memalukan, konyol, kesalahan, sedih ataupun kegembiraan.
Aku tahu pasti, engkau yang saat ini membacai tulisan ini mulai menengok daftar-daftar kekonyolanmu, tersenyum simpul sendirian, atau bahkan tertawa mengingatnya. Syukurlah kawan, engkau masih hidup normal. Setidaknya itu membuktikan, betapa mentereng dan kerennya engkau saat ini, bila dikupas episode-episode dalam hidupmu..kita semua ini tetaplah manusia biasa, yang penuh dengan kekonyolan-kekonyolan itu, Dan bersyukurlah kita bila masih mampu menertawainya, dan semoga bisa belajar darinya...***

Monday, 23 January 2012

Pinjami Aku Hujanmu

Aku ingin pinjam hujanmu, hujan yang selama ini kucinta. Aku mencintai hujan, apalagi hujan rinai-rinai yang berloncatan riang di luar jendela. Lalu membaui bau hujan di tanah basah, seperti kehidupan berbicara sejenak tentang jeda.
Tentang menghentikan hidup sejenak, dalam mesra dan hikmat suara hujan. Bukankah hujan adalah tentang pertanda alam, agar kita berhenti sejenak, memberikan alasan untuk jeda sebentar. Jeda dari kecepatan-kecepatan yang terjadi pada hidup, orang berlarian, entah mengejar apa. Mengejar bus dengan terburu-buru agar tak terlambat masuk kerja, mengejar deadline pekerjaan yang apakah kamu tahu kapan akan berujung?hujan terkadang adalah cerita tentang memperlambat kecepatan-kecepatan yang terkadang tak perlu.
Pinjami aku hujanmu!
Hujan yang biasanya membuatku betah memandanginya lama-lama, dari teras rumah, dari balik jendela kampusku, dari teras kosku dulu.
            Sebentar, menunggu hujan mereda
            Nanti, lagi hujan nih..”
Hujan...berbaik hati, mengingatkan akan jeda. Hujan menawarkan peluang untuk mengingat kenangan, bersama secangkir teh dan iringan rinai iramanya menyirami bumi. Hujan itu menentramkan, sepertimu.
Pinjami aku hujanmu!
Tetes-tetesnya yang merindui bumi. Hujan yang mampu ciptakan puisi, prosa, sajak-sajak hati. Aku merindui hujanmu, ingin kudengar lagi rinai suaranya, ingin kurasai lagi tetes-tetesnya. Ingin kucipta puisi dan sajak, lagi
            Sedang hujankah? Biar kudengar suaranya dulu” kataku waktu itu, saat menyeberang ke duniamu, karena sekarang hujanku berbeda dengan hujanmu.
Pinjami aku hujanmu!
Hujanku di sini, adalah biasaku. Kapan hari yang tak hujan? Hujanku di sini tak sanggup memberikan jeda. Hujanku di sini tak pernah mampu memberikan alasan untuk memperlambat kecepatan apapun. Karena hujanku di sini ada atau tiada, tetap dianggap tiada. Tiada, karena sudah terlalu terbiasa. Hujanku di sini, kesepian dan kasian. Tak pernah dipedulikan, tak pernah diistimewakan. Entah ia turun, entah tidak, mana peduli. Orang tetap berlalu lalang, tetap jogging, tetap melakukan apapun, tak pernah peduli. Mungkin itu sebabnya, hujan di kotaku kadang merajuk, mengubah diri menjadi badai, agar alarm dibunyikan, agar semua memperhatikan, agar tanda peringatan dibunyikan. Betapa memilukan nasib hujan di kotaku ini,
Jadi, pinjami aku hujanmu..
Agar bisa kudengar lagi, suaramu lagi “jangan lupa pake mantel hujanmu”. Itu saja,
Pinjami aku hujanmu...***


--Glasgow, 23 Jan 2012..jam 10 malam, sudah setengah mengantuk..dan membayangkan bila dipinjami hujanmu, humm zzzz....

Wednesday, 18 January 2012

Nota Protesku padaNya Tempo Hari


Pasti membacai judulnya saja dahi kalian sudah berkerut-kerut, apa maksudnya ada pakai nota protes segala?. 
Ehehe, tenang saja, tidak semengerikan seperti yang kalian kira, ini hanya kisah biasa saja, antara hamba dan Tuhannya. Walau jujur saja, sebenarnya aku tak begitu sering mengajukan nota protes terang-terangan seperti ini padaNya, biasanya cukup dalam hati saja, atau mengingkari diri bahwa sedang melakukan aksi protes padaNya. 
Walau yang sebenarnya entah terangan-terangan ataupun dalam hati, tetap saja semuanya terang bagiNya.Tapi setidaknya, bila aku protes diam-diam, aku masih merasa agak sopan padaNya, dengan sembunyi-sembunyi menyimpan protesku padaNya. Jadi memang nota protesku tempo hari itu sungguh tak biasa, entah kenapa tak tahu pasti sebabnya.
Mungkin karena matahari Glasgow yang terus saja malu-malu, mungkin karena kebanyakan sarapan, atau kelebihan dosis merasai rasa yang tak perlu, hingga memuncakkan rasaku hingga berani melontarkan nota protesku pada Gustiku.
Tak usah kusebut perihal pasal-pasal nota protesku itu, pertama, ini pasal-pasal yang tak laik untuk dibicarakan sebenarnya, dua, mungkin bila kusebutkan dan kalian membacainya, berisiko akan tertawa tiada hentinya, atau malah menangis sejadi-jadinya ahaha, dan ketiga, ini hubungan pribadi antara aku dan Gustiku, tak usahlah kalian banyak tanya. 
Singkatnya, aku ngambek padaNya, atau istilah kerennya “mutung” ehehe. Mungkin sama kalau aku pura-pura ngambek pada manusia si penghuni bulan itu, dengan satu kalimat
            Nggak mau main lagi!”
Tapi bedanya, kemarin itu kubilang itu pada Gustiku, kalian bisa perkirakan betapa tidak sopannya diriku. Setelah beberapa detik berselang setelah kulontarkan nota protesku itu, sudah kutekadkan dalam hati, jenak-jenak dalam kepalaku, sudah bulat keputusanku, aku mau protes begitu. Sepulang dari course, ke flat sejenak untuk makan siang, dan mendapati sahabatku bulannya kuning menyala, lalu aku ngobrol dengannya, dan ternyata dia pun sedang ngambek juga. Tapi ngambeknya versinya adalah protes diam-diam. Tapi jangan khawatir, protes kami paling parah ditandai dengan menertawai diri sendiri, maka kalimat yang muncul di layar ajaib yang mengkoneksikan waktu yang berbeda, dan jarak yang entah berapa jauhnya itu, adalah tulisan-tulisan manusiawi semacam : 
Mari tangisi saja semuanya, lalu tertawakan saja juga semuanya... 
Tak lupa baris berikutnya kutulis pula :
Tapi paling sebentar lagi lumeeeeer

Begitulah manusiaaaa

Protesan

Lumeran

Aneh

Diakhiri dengan ikon ketawa guling-guling, begitulah kawan, protesku bukan doa yang mengacam. Tak berani aku padaNya, lebih tepatnya tak laik berucap dan berbuat tidak semestinya. Kubawa protesku itu menuju lab siang itu, karena harus segera mengerjakan reaksi PCRku. Lalu tepat baru saja duduk di kursi lab dan membuka komputer, sudah kujumpai posting di wallku, dari seorang sahabat, yang begini bunyinya : 

"Bersabarlah menghadapi beragam pertanyaan hidup yang tak terjawab, dan cobalah bersahabat dengan pertanyaan-pertanyaan itu. Bisa jadi, tanpa disadari, hidup kita akan mulai mendekati jawaban yang selama ini kita cari." ~ Rainer Maria Rilke
 * Copas dari Reader's Digest Indonesia,  Colek Siwi Mars Wijayanti
Aku tersenyum, agak kecut walau tetap manis hihi. Hummm, mulai curiga. Dalam hati bilang : Huuumm..cepat sekali Engkau meresponku, Tuhan. Lalu kubalas postingan itu, dengan ujung cerita yang jauh dari awal postingannya, yakni diakhiri dengan janji dan harapan, semoga nanti bisa berjumpa di Bandara kala kupulang. Bila diamati, rute persahabatan memang bisa jadi terkadang aneh, rantai berantai, kalau rantainya cocok dan nyambung, daun kelor tiba-tiba bisa jadi selebar dunia, begitulah kisah persahabatanku dengannya.
Lalu setelah kerjaan lab selesai, kubawa protesku dan hati abu-abuku itu pulang ke flat. Dan saat nota protesku itu bertemu laptopku jadilah protesku itu malamnya berubah wujud jadi puisi, persis tepat sebelum posting ini. Bukan puisi mungkin, lebih tepatnya racauan yang kunamai puisi. Protesku padanya memang tak seperti protes-protes mahasiswa yang berorasi bersama ribuan massa, membawa spanduk dan membakar ban bekas dimana-mana, atau tidak serupa dengan protes memplester mulut dan tidak makan, karena aku sedang hobi masak dan tentu saja menghabiskannya. Protesku itu, hanya tak ingin lagi memikirkan hal-hal yang membuat kadang setengah gila. Yang sanggup membuatku bangun pagi dan tiba-tiba tersenyum di pagi buta, lalu tiba-tiba berubah menjadi seperti ditimpuki mendung abu-abu muda, lalu langitku menggelap seketika. Rupa-rupa rasanya, seperti lagu balonku ada lima (ahaha pasti mikir hayoo,). Makanya aku protes, dengan membabi buta dengan mengalihkan energiku untuk  lebih memikirkan dunia, sesama, atau apalah namanya, agar aku diberi lupa. Melupa, diberi lupa, berupaya lupa.
Tapi entah mengapa kali ini lagi-lagi nota protesku ditanggapi cepat tanggap olehNya. Karena setelah  puisi yang tak jelas rimanya itu kuposting, tangan-tanganku digerakkan untuk membacai tulisan-tulisan Prie GS. Budayawan asal semarang yang selengean dan rada nyentik  itu memang punya ciri khas dengan gojekan, sentilan dan tulisannya yang sederhana tapi mengena. Hasilnya, tak henti-hentinya aku terkikik-kikik membacai tulisannya, tertawa membacai kisahnya dan sekaligus menertawai diri sendiri. Beginilah ajaibnya tulisan, orang bisa tertawa atau menangis hanya lewat perantara kata. Lalu diam-diam aku iri padanya, jujur sekali ia berkisah, sederhana terkadang temanya tapi mengena, terkadang kisah ironi menjadi penuh tawa, dan bahasannya soal-soal dunia yang tak lagi sekedar teorema.
Aku sendiri tidak tahu yang mana dari tulisannya yang tiba-tiba membuatku menarik kembali nota protesku itu. Banyak sekali kubacai tulisannya sampai aku lupa waktu, dan terkikik hingga terbahak-bahak, karena polos dan jujurnya ia bercerita. Dan seketika aku paham apa maksudNya, respon cepat tanggapNya, dan akhirnya kubilang...
“ Eehehe Tuhanku yang Maha baik, dan Maha menggemaskan, hambaku ini, aku..aku mau main lagi! piss..baikan ya..selamat malam.

*Tulisan ini juga untuk seorang sahabat yang nota protesnya belum dicabut juga, karena terakhir kali dia bilang : aku sedang setengah gila dan tidak bisa tertawa. Baiklah kawanku, baik-baikilah hatimu, pertama dengan memakan makanan yang menyenangkan hatimu, lalu tidurlah tepat waktu, senangkanlah dirimu, misalnya dengan minum teh hangat madu, beri kesempatan bagi sang waktu yang bekerja pada hatimu, siapa tahu bisa melumerkan yang beku. Selamat hidup kawanku, Tuhan selalu bersamaMu entah kau ngambek, protes, sedikit marah tapi tetap ingatlah jangan berhenti menyembah. 
Karena kau ibaratkan saja hubunganmu dengan manusia tercintamu, setidaknya menurut pengalamanku, bila aku protes dan pura-pura ngambek nggak mau main lagi, ia malah tersenyum dan tertawa. Mungkin juga Tuhan senang manusia-Nya kadang bertanya, protes, pura-pura ngambek lalu kembali lagi padaNya. Mungkin begitu kiranya? Entahlah, mungkin hubunganmu denganNya punya kisah yang berbeda. Bila aku makin mesra denganNya gara-gara protes tempo hari, bagaimana dengan kalian semua?jangan-jangan telah lama kalian tidak menyapaNya, bincang-bincang, atau sekedar berkirim berita padaNya, syukur-syukur berkirim doa untuk orang-orang tercinta. Semoga saja bertambah mesra, bila ada onak duri dan kerikil di sepanjang jalannya, itulah memang rasa jalan cinta, termasuk cinta padaNya***

Glasgow 17 January 2012, hampir jam 1 pagi...humm berarti 18 January ternyata ;p

Monday, 16 January 2012

Beri Aku Lupa


Biarkan perpustakaan, wajah anak-anak SD, wajah anak-anak mahasiswaku, nyamuk-nyamuk, buku-buku, pulau-pulau yang jauh tak terjamah, ketidakberdayaan fasilitas pendidikan, sebentuk kontribusi atau terserah kalian sebut apa itu penuhi aku
Biarkan, biarkan otakku, hatiku penuh akan itu,
Karena aku sedang ingin mencari lupa,
Sedang ingin lupa, itu saja,
Berupaya lupa,
Dan kubisik lirih padaNya, ini sebentuk protesku padaMu,
Semoga setidaknya berguna
Lalu semoga Engkau memberiku lupa,walau sedikit saja 

**Hiyaaaah pertanda bakal ujian remidi lagi  ahaha ;p
Glasgow, 16 January 2012.


Wahai Tuhanku yang Maha Baik, belum lagi sejam kuposting tulisanku itu, belum lagi sehari nota protesku itu kulayangkan padaMu. Engkau sudah tunjukkan padaku, balasan nota protesku...
Hingga membuatku tertawa terbahak-bahak menahan malu, dan ingin meralat tulisan,
Tuhanku yang Maha Menggemaskan, Aku tidak jadi meminta lupa...sungguh,
Jadi ujian remidi resmi dibatalkan, horaaaay....ahaha kembali tidak waras, Alhamdulillaaaah



** Glasgow, sekitar 45menit setelah tulisan di atas kuposting..;p

Sunday, 15 January 2012

Kubagi Harapku, Sekarung Energiku

Terkadang harus berterimakasih pada sebuah harapan indah, mungkin dengan itulah engkau sanggup untuk bertahan  (Kata-kata saya 13 Januari 2012 ahaha)

Malam sudah menua lagi saat aku berpindah ke "jendela" ini, setelah merampungkan revisian literature reviewku, sepi, tapi aku tak sendiri, setidaknya tinggal bersama harapku. Minggu ini waktu tersita untuk hal-hal ilmiah, deadline literature review, urusan tiket kepulangan, kerjaan di lab, seakan merampok deposit sekarung energi yang sudah diinvestasikan tiap hari. Aku juga masih tak mengerti, kenapa perampokan-perampokan energi ini masih sering terjadi, padahal aku masih ingat jaman menempuh studi master dulu, risetku itu seperti kembang gula nano-nano, walau kadang asam, manis, tapi bila terus disesap, sensasinya menggoda...ehehe..

Aku masih jelas melihat diriku bersama 3 rekan lainnya, dalam tawa lepas, tanpa beban, bersama ke laboratorium, seakan mau pergi jalan-jalan. Bahkan bila mesin PCR sudah bekerja untuk kami, maka bergegas kami ke lesehan depan kampus FKH UGM dimana penjual kaki lima berderet-deret menjajakan dagangannya. Aku biasa memesan mie ayam dan es doger, dan teman-teman lain juga mempunyai menu favoritnya sendiri. Bisa betah berlama-lama ngobrol di sana, tentang hal paling remeh temeh sampai tentang riset. Kami juga sama-sama pemula urusan ilmu molekuler, jadi riset kami selayaknya permainan seek and find, kami mencari-cari software analisis sekuensing gen, membacai pedomannya dalam bahasa antah berantah itu, lalu trial and error. Tesis kami itu seperti permainan, kami mencoba, salah, mencari jawab, menemukan dan rasanya seperti menang perang. Menyenangkan.

Apa yang menjadikannya sekarang, saat berlanjut ke studi doktoral, kok rasanya seperti perampokan?ahaha...ah siapa tau perampokan ini nantinya akan berubah wujud menjadi permainan yang menyenangkan lagi? Kita lihat ceritanya nanti,
Tapi setidaknya, masih ada penyelamat, yang mendepositkan sekarung energi lagi bila perampokan terjadi. Aku masih punya harap, yang menawarkan gelenyar sesuatu yang indah di waktu ke depan. Setidaknya tiket kepulanganku pertengahan Februari mendatang sudah fix, harapan untuk segera pulang memberikan berkarung-karung energi bila lelah dengan segala urusan mendera. Dulu, sebelum kuliah lagi..pengen pergi kuliah, setelah kuliah, pengen pulang, manusia..selalu dengan jalan memutarnya. Mungkin memang dengan jalan yang memutar itu pula, manusia menemukan sesuatu yang tak disadarinya semenjak lama. Entahlah, aku senang akan segera pulang walau hanya untuk beberapa bulan untuk urusan penelitian. Tiketnya pun sudah kupasang di dinding depan meja belajarku, bisa kupandangi kapan saja, agar harap itu mampu menyelamatkanku bila terjadi defisit energi sewaktu waktu.

Tiket Pulang terpampang di dinding--waduh ketauan banyak cemilannyaaaa ;p
Harapan indah itu terkadang memang menjadi penyelamat. Sadar akan itu, aku pun membuat lapis-lapis harap, agar neraca tetap seimbang, dan siapa tau berlebih hingga bisa kubagi-bagikan ehehe. Tiket ke Edinburgh minggu depan sudah kupesan, dengan harap seminggu ini yang dipastikan akan tersita lagi dengan urusan lab, course, punya harap bahwa weekend nanti, Edinburgh menungguku lagi. Aku hanya ingin benar-benar menjelajahinya sebelum aku pulang. 
Lalu, dengan gegap gempita pula sudah kusiapkan proposal rencana kumpul jalan-jalan Bala Kurawa. Rasanya sudah lama sekali tidak mengadakan acara kumpul-kumpul lagi. Ada yang sudah menikah hingga sulit pergi jauh, lalu lokasi pekerjaan yang sudah mencar kemana-mana, menyulitkan kami untuk bersama dalam nyata. Maka, aku menjadi “kompor” yang memprovokasi jalan-jalan saat aku pulang nanti. Dan siapa yang tak tergoda rayuan proposal jalan-jalanku, maka mereka pun siap-siap mengajukan cuti serempak pada tanggal yang telah ditentukan. Dan semangat aku mencari-cari mulai dari tempat jalan-jalan, menu kuliner khas, sampai pilihan penginapan..

Proposal Jalan-jalan bersama the gank ;p

Proposal Penginapannya :))

Harapan indah itu ternyata menyembuhkan, ternyata menumbuhkan senyuman, mendepositkan berkarung-karung energi. Maka, tumbuhkanlah, siramilah, wujudkanlah harapan indahmu....
Mungkin harapan akan sanggup melengkungkan senyummu, dan siapa tau lengkungan senyummu itu adalah energi bagi orang-orang terkasihmu, siapa tau...
Sepertiku, harapku itu sanggup untuk terus melengkungkan senyumku...

Friday, 13 January 2012

Tiga Detik Saja


Pagi ini aku membunuh lagi
Kupejamkan mata, satu, dua, tiga, tiga detik cukup
Untuk lagi lagi melakukan pembunuhan
Dan berhasil lagi, walau di detik keempat sepertinya ia melarikan diri
Mungkin nyawanya tinggal sepenggalah, tinggal setengah
Tapi bila datang, kubunuh lagi esok,
Aku sudah terbiasa, jangan memandangiku dengan nelangsa
Kata orang-orang, pembunuhan rasa itu risiko orang mencinta
Pilihan dan paket lengkapnya, bisa jadikanmu penderma atau peminta-minta



Wednesday, 11 January 2012

Badai, Purnama, dan Kamu


Badai terdengar di luar jendela, aku hapal sekali suaranya, suara gemuruh itu. Suara itu rasanya sudah menyatu dengan tempat ini. Badai dan Glasgow telah berteman lama rupanya. Dan anehnya, bila kudengar suara gemuruh itu, dirimu selalu menyelinap dalam ingat.
 Lalu apa yang kau titipkan pada badai? Yang mengantarkan padaku selintas ingatan, kamu. Sudah pukul 11.05 malam yang sudah tua di Glasgow, dan deadline literature reviewku sudah mengintip, esok sudah tinggal beberapa belokan jarum jam.
Tapi suara gemuruh itu membuatku menghentikan ketikanku pada halaman “ilmiah” itu, dan menengok ke luar jendela, menyaksi badai, siapa tau ia membawakanmu padaku. Terbeliak mata berjumpa purnama di atas bubungan bangunan tua di seberang. Bulan milikku, hasil curahan kasih matahari di pagimu. Dan ternyata badai dan purnama itu memang membawakanmu, karena tiba-tiba blip-blip : sebuah bulan kuning itu menyala,
Ayoooo...semangaaatttt...kamis khan hari ini tho...
Kenapa kau tak pernah bilang, bila kau dan badai berteman lama. Harusnya kuminta ia bawakanmu sering-sering.
**Hoaaaaam, ngantuk..diam-diam kuposting tulisan ini saat orang si penghuni bulan kuning itu bilang : “ojo YM ae rapiin dulu Lit reviewnya”....iyaaaa...zzzz..masih ada besok pagi, aku ingin mendengar suara gemuruh itu dulu, mendengarmu dulu.