Thursday, 26 January 2012

Catatan Perjalanan : Edinburgh, Menatapi Sejarah Peradaban

Sabtu, 21 jan 2012. 05.30 My flat
Glasgow masih lelap, tak banyak manusia-manusianya yang sudah bangun pada saat-saat jam dimana berkelubut dalam selimut saat dingin menusuki tulang benar-benar menjadi hal yang menyenangkan. Saya memang penggila rasa, bahkan untuk merasai dinginpun, ritual bangun pagi kusisakan beberapa menit untuk sekedar mengumpulkan nyawa, namun selebihnya adalah untuk menikmatinya, merasai rasa dingin dipadu dengan selimut dobel adalah seperti paduan secangkir teh hangat dan hujan, saling menyempurnakan..ehehe
Tapi karena mengingat jadwal bis ke Edinburgh berangkat jam 8.45 maka setidaknya 45 menit sebelumnya aku sudah harus beranjak menuju halte bis menuju stasiun. Maka kutinggalkan dingin dan cerita selimutnya, lalu bersiap-siap. Kali ini ingin menikmati perjalanan dengan santai, karena seringkali liburan atau jalan-jalan tak lebih dari cerita serba terburu-buru. Apa yang kau nikmati dari serba buru-burumu? Maka tas punggung—pacar keduaku- sudah siap dengan segala tetek bengek keperluan selama 2 hari,persis kayak kantong doraemon saja. Bila lapar?ada sekotak Bakmi Kangen, bila ingin camilan? Ada shortbread, cemilan kue khas Scotland favoritku itu, Bila hujan ada payung, bila merinduimu..ada saputanganmu ;p

07.35. Halte bis Great Western Road
Glasgow masih saja menggelap, saat kulangkahkan kaki keluar flat. Iseng memotret Glasgow-ku yang masih terlelap, ternyata mempesona. Dengan santai pula kutunggu bis lewat di halte terdekat di Great Western Road. Aku teringat betapa aku terburu-buru saat akan ke Edinburgh tahun baru lalu, begitu cemas ketinggalan bus di stasiun. Ah, betapa tidak menyenangkannya buru-buru. Dan bis no 20 pun mengantarkanku ke Buchanan Bus Stasiun, sekitar 30 menit sebelum jadwal keberangkatan. Masih sempat duduk santai, masih sempat makan Bakmi Kangenku, dan menulis catatan-catatan kecil di notesku.

Setapak jalan di samping flatku
08.45 Citylink
Bus yang nyaman ini mengantarkanku ke Edinburgh, sebuah perjalanan sendirian, berbeda dengan perjalananku kemarin itu yang bersebelas orang. Tapi kunikmati benar pemandangan di luar jendela. Itulah mengapa selalu saja kupilih posisi di dekat jendela bila aku naik apa saja, entah bis, kereta atau pesawat..entah kapal, aku belum tahu bagaimana rasanya. Karena menurutku dari sebuah perjalanan, terkadang menyenangkan menikmati perjalanan itu sendiri, bukan hanya melulu memusatkan diri pada tujuan. Lalu pemandangan di luar jendela adalah hal-hal yang  tak bisa tertampikkan, begitu mempesonakan. Sungguh pemandangan yang memanjakan mata, dengan deretan rumah rumah berdesain unik, mungil, sederhana namun nampak nyaman, lalu bukit-bukit menghijau dengan domba-domba yang menunduk sibuk merumput.
Entah kenapa aku menyukai kala memandangi domba-domba lucu itu. Sampai bertanya dalam hati, kenapa semua domba yang kulihat selalu dalam posisi menunduk?apa ia tak lelah makan terus? Tapi pertanyaan itu terjawab setelah beberapa kali melihat si lucu itu mendongakkan kepala..ahaha pertanyaan nggak penting ya. Cuaca hari ini nampak bersinar, membuat hatiku cerah. Humm memang terkadang entah ada hubungan apa antara hati dan cuaca hingga mereka berdua seringkali saling mengkoneksi. Mungkin matahari sedang senang, hingga muncul terang melihatku datang. Jadi sepanjang jalan, betapa kunikmati memandangi landskap mahakarya sang kuasa yang sungguh indahnya. Andai naik kendaraan pribadi, pasti aku ingin berhenti, menikmati pesonanya dengan duduk-duduk di hamparan rumput menghijau itu, mengamati tingkah polah domba domba lucu itu hingga bisa menghitung frekuensi sebenarnya berapa lama ia menunduk dan berapa lama ia mendongakkan kepalanya. Atau menatapi pagar-pagar kayu yang berbaris rapi, menentramkan hati. Mengingatkan bahwa apa saja yang berjalan sesuai batas memang lebih menyamankan nurani.

09.45. Edinburgh Bus Stasiun
Masih agak mengantuk, karena ternyata pemandangan yang mempesonakan dan domba-domba lucu tadi itu sungguh melenakan. Aku terlelap ehehe..dan tersadar saat bis sudah melewati kota Edinburgh menuju bus stasiun. Belum-belum sudah kukagumi sisi-sisi lanskap kota tua ini. Humm..cantik..khas lanskap kota tua yang masih terjaga kelestariannya.
Sampai di bus stasiun, kuambil peta yang disediakan disana, trus mencari jalan ke arah flat-nya Detia. Sebelumnya sudah mem-bookingnya untuk menemaniku jalan-jalan sekaligus numpang nginep di tempatnya. Hiyaaa..kali ini bakat nyasaranku rada sembuh, setidaknya hanya sekali menelponnya, dan akhirnya berhasil sampai di flatnya setelah berjalan sekitar 30 menit. Setelah makan, ngeteh, leyeh-leyeh sambil menunggui detia mandi. Detia ini mahasiswa S1 di Uni Edinburgh, baru semester awal..hadeeeh bisa dibayangkan, baru seumur segitu sudah kelayapan ke negeri antah berantah sini.

11.30. Kawasan Kastil Edinburgh
Menjelang siang kami berangkat jalan-jalan, iyap, jalan-jalan dalam artian sebenarnya, dengan berjalan kaki. Berjalan menyelusuri jalan-jalan Edinburgh rasanya menyenangkan, walau angin bertiup kencang dan gerimis rinai datang sesekali. Cuaca memang aneh, mentari bersinar terang tapi gerimis datang. Ah, mungkin mereka berdua ingin menjumpaiku dalam waktu yang sama ;p Melihat sisi-sisi Edinburgh rasanya ingin lama berhenti, mengamati dan menikmatinya. Coba kalau bisa berlama-lama, hummm maunya. Kami mengarah ke kastil edinburgh, tempat ini adalah hotspot yang paling dicari banyak orang. Belum dikatakan ke Edinburgh bila belum mengunjunginya. Dan juga, tempat ini kujadikan setting cerpenku “Cinta di antara dua huruf “O”” di buku Balada Seorang Lengger, jadi ingin mengecek bagaimana sebenarnya aslinya. Kastil ini menangkup skyline Edinburgh karena letaknya di puncak volcanic Castle Rock, jadi merupakan pusat pemandangan yang bisa terlihat yang mudah dari sudut-sudut kota.
Kastil megah ini menjadi simbol kota Edinburgh, bahkan juga menghiasi logo University of Edinburgh, ada di gambar perangko-perangko dan juga lembaran duit pounsterlingnya scotland (eit..duitnya orang scotland sama orang England beda lho walau sama-sama poundsterling, arogansi memang menjamur dimana-mana kawan, bukan hanya di bumi pertiwi). Angin bertiup kencang, beginilah khas cuaca di Scotland..memang lebih brrrr dibandingkan bagian UK lainnya. Kusempatkan foto-foto di kastil yang dulunya adalah tempat tinggal kerjaan (royal castle) sejak rezim David I abad 12 sampai tahun 1603 itu. Sebagai banteng paling penting di Kingdom of Scotland, tentu saja banteng ini ikut berperan dalam perang kemerdekaan Skotlandia pada abad ke 14. Hummm..selalu merasa bagaimanaa...bila berhadapan dengan bangunan-bangunan yang sudah “simbah buyut” umurnya. Bahwa aku bisa melihat apa yang dulu orang-orang antah berantah, beratus ratus sebelumku lihat juga, rasanya ada yang berdesir di dadaku, entah apa itu. Mungkin karena rasaku yang sedikit rasa “aneh” dengan bangunan-bangunan historis. Mungkin secara genetis aku lahir dengan pecinta “klasik” daripada sesuatu yang mengusung modernitas.
Foto di depan Kastil...cantik ya...kastilnya hihi ;p
Sayangnya belum sempat masuk ke dalam kastilnya, untuk tiket masuk seharga 14 pounds..heuu cukup mahal ya, dan saat itu antrean sudah mengular, akan memakan waktu lama untuk mengantri. Jadi lebih baik nanti masuk kalau ke sini lagi, agar ada alasan untuk kembali lagi hihi. 
Kemudian kami berjalan meninggalkan kastil, aku dan Detia menikmati berbagai atraksi. Banyak atraksi menarik para seniman jalanan, mulai dari si bapak-bapak yang berdandan ala William Wallace yang terkenal dengan film Brave Heart itu  
Lalu di sepanjang jalan bisa ditemukan gambar dari seniman-seniman local ataupun toko-toko souvenir khas Scotland yang menjual berbagai pernak pernik nan lucu. Humm..berharap kurs rupiah dan poundsterling lebih mesra lagi saat melihat harganya, hadeeeeh....ehehe tapi akhirnya kubeli juga beberapa souvenir Scotland yang unik,dan nggak ada di Glasgow. Sepertinya lebih banyak variasi di sini, dan harganya lebih rasional.
ini dia si bapak-bapak yang berdandan ala William Wallace

2.00 pm- Old College-Kitchen Mosque-Central Mosque-Uni Edinburgh
Kemudian, kami meneruskan perjalanan ke kawasan University of Edinburgh, mantan calon kampusku hihi. Di tengah jalan, kami mampir di Old College dengan arsitekturnya yang waw..cantik dan klasik, betah banget berlama-lama memandanginya. Kemudian juga iseng masuk ke museumnya, hum museum di sini memang selalu terawat dan dikelola dengan baik, pokoknya ngiriiii. Setelah agak puas kami mampir makan siang, karena perut sudah keroncongan. Detia menunjukkan Kicthen Mosque di dekat Uni, yang menyediakan masakan halal dengan harga yang lumayan. Aku memesan nasi briyani dan sayur, sedangkan detia memesan Nasi dan Ayam Curry. Harganya standard, sekitar 5 pounds seporsi , tapi hebatnya Detia habis.

Di Old College...waw, betah banget di tempat ini
            “ pertama kali makan di sini nggak habis mba, tapi lama-lama habis juga, sepertinya perut sudah menyesuaikan” katanya sambil tersenyum, dan kembali merampungkan nasi dan ayam di piringnya.  Aku menyerah, dan minta sisanya dibungkus ehehe.
Nasi Briyani..enaaaak bangeeet...
Dari situ, kami melewati Central Mosque, lalu ke kawasan Uni Edinburgh. Dan ke university shopnya...hyaaaa..mata langsung berbinar-binar melihat pernak-pernik uni. Hihi nakal, padahal belum satupun pernak pernik Uni Glasgow yang kubeli, tapi demi melihat pernak pernik Uni Edinburgh langsung berhasrat untuk membeli, kadang-kadang cinta memang terlalu jelas, tak sanggup disembunyikan. Apalagi ada diskon, kaus merah dengan lambang Uni Edinburgh-pun akhirnya berpindah ke tanganku, ahaaaay..5 pounds, harga yang rasional setelah diskon lumayan. Untuk urusan souvenir, pikirku, yang bikin mahal adalah tulisan, lambang, logo dan sebagainya ehehe..begitulah kira-kira hipotesisku.
Setelah itu kususuri bangunan-bangunan Uni yang antik dan telah berumur ratusan tahun itu, sampai gelap. Jam 4 sore saja, langit sudah menggelap menjadikan hari terasa begitu singkat. Akhirnya kami beranjak pulang, tapi di tengah jalan, tetep mampir ke beberapa toko dan akhirnya sampai di flat dengan keresek belanjaan. Entah, biasanya tidak begitu..hihi, mungkin karena menjelang pulang, jadi pikirannya beli oleh-oleh terus ;p

6.30. Flat Detia
Di Flat-nya Detia, bersama Minfi
Humm...kaki rasanya pegeeeeel setelah berjalan sedemikian jauh dan lama. Kaki di sini memang memiliki peran yang sangat penting, karena akan dipakai terus terusan untuk jalan kaki. Nggak ada becak, nggak ada ojek walaupun jalanan kadang becek hihi...makanya saat tubuh bertemu dengan kasus dan boneka minfi (boneka khas belanda) yang pas dipeluk itu, waa nempel terus. Sementara detia asyik memutar lagu-lagunya Ada band sambil bernyanyi-nyanyi, katanya pemanasan sebelum  mengerjakan tugas, tapi pemanasannya lamaaa..nggak sampai inti-nya hihi. Salut juga dengannya, dengan umur yang belum lagi 17 tahun, sudah melalang buana, jauh dari orang tua. Humm..sementara pemuda pemuda lain masih nyaman di “suapi” emaknya. Kuraih buku “cinta padang bulan”nya Andrea Hirata di rak bukunya, dan iseng membacai kalimat-kalimatnya. Haus bacaan Indonesia, semuanya di sini berbahasa antah berantah semua. Menjelang jam 8, karena perut keroncongan..kami segera ke dapur, masak cah kangkung dan tahu goreng, ayeeee...pertama kali makan kangkung di negeri ini. Namun, sayangnya Detia nggak suka  pedes, jadinya nggak ada cabe satu bijipun. Alhasil jadilah cah kangkung tanpa cabai...oh, cintaku pada cabai..hambarku tanpamu ;p

Minggu, 22 Januari. 10.30. Royal Botanical Garden, edinburgh
Humm hijau-hijaunya taman selalu menyejukkan
Tema jalan-jalanku kali ini memang “menikmati”, jadi memang nggak bernafsu untuk menjelajah ke banyak tempat. Masih ada waktu mengunjunginya lagi, pikirku. Jadi, kami menikmati pagi dengan leyeh-leyeh, sarapan dan cerita di ruang dapur. Sambil menikmati mentari Edinburgh yang tersenyum cerah. Entah mengapa bila mentari tersenyum cerah, hati ikutan cerah, mungkin karena kelamaan disuguhi mendung, badai, dan hujan, jadi aku merindui matahari. Menjelang siang kami jalan menuju Royal Botanical Garden, sekitar 20 menit jalan kaki dari flat Detia. Humm, taman saat musim dingin dengan pohon-pohon yang meranggas ternyata tetap cantik juga. Kupikir, pasti taman ini akan punya warna yang khas setiap musimnya. Cantik berwarna warni saat musim semi ataupun musim panas, lalu menguning atau merah kekuningan saat musim gugur. Royal Botanical Garden Edinburgh hampir sama dengan yang ada di Glasgow.. namun lebih luas, lebih lengkap dan variatif. Aku selalu betah berada di lingkungan yang hijau-hijau begini, rasanya segar, udaranya masih bersih. Humm ada danau dengan angsa-angsa, ada hamparan rumput menghijau yang luas, kursi-kursi duduk, tempat pameran, souvenir shop yang menjual pernak pernik, madu dan produk-produk kebun lainnya. Dijamin indah untuk lokasi foto-foto (ahaha teteeeep), enak untuk jalan-jalan, dan juga sip untuk belajar. Ada video tentang alam, ilmu pengetahuan, miniatur, gambar..wuiiii lengkap banget. Belum lagi ada koleksi tanaman dan bunga-bunganya yang belum sempat kulihat. Oh ya, bedanya kalau di Glasgow, masuk ke koleksinya gratis, dan kata Detia kalo masuk koleksi tanaman dan bunga di sini bayar hohoho.
Koleksi madu scotland di souvenir shopnya
Menjelang jam 1.30, kami pulang ke flat karena jam 2.45 tiket bisku pulang menuju Glasgow. Jadi, setelah mengepak semuanya, aku kembali berjalan menuju stasiun. Dengan hati senang, jiwa terang, ehehe. Satu yang pasti, memang suatu kota ada jatahnya untuk selalui dirindui, seperti Jogya. Tapi ada kota yang nyaman dan membuatmu mau pulang, seperti Purwokerto ataupun Glasgow.
04.30. Buchanan Bus Stasiun, Glasgow
Aku kembali menjejakkan kaki di Glasgow, humm rumahku. Mampir sebentar membeli Lamb Kebab di King’s Kebab di Sauchihall Street, karena sepertinya perut sudah tak sabar menunggu bila harus masak lagi. Hihi perutku memang manja akhir-akhir ini . Akhirnya kembali ke flatku, kamarku yang super nyaman. Dan merasa beruntung, aku bisa berjalan-jalan, menikmati semua anugerah Tuhan, sambil mengucapkan, Edinburgh-ku, suatu saat, aku akan kembali lagi ;p

** panjang ya ceritanya...hoho, begitulah kawan, akupun ingin kalian melihat apa yang kulihat.

0 comments:

Post a Comment