Tuesday, 31 January 2012

Merindu Salju

**Salju kembali turun, kali ini agak terburu-buru, seperti rinduku..yang terburu-buru ingin menujumu (SiwiMars, 26 January 2012)

Merasai bulir-bulirnya jatuh ringan di tubuhku, mukaku, telapak tanganku dan meninggalkan jejak putih di mantelku, rasaku membisu. Ada gelenyar yang tak dikenali hatiku, sebuah rasa “baru”. Bahwa rasaku pun berubah dari tataran “belum pernah merasai salju” berubah menjadi “pernah”. 
Hati-hati dengan perubahan rasa ini, terkadang sebagian besar dari hidupmu itu mendamba untuk mengubah dari belum pernah menjadi pernah. Dan juga bagi perkara saljupun sepertinya berlaku hukum itu. Sebagai manusia yang dihidupkan oleh iklim tropis, yang selama ini terbiasa dengan matahari dan hujan, salju telah lama masuk menjadi kategori “barang antah berantah” yang hanya berakhir pada imajinasi film-film drama romantis, kartun-kartun Disney atau film-film natal. Salju selalu diidentikan dengan Natal, sampai ada sebutan “white christmas”, mungkin karena turunnya salju biasanya terjadi pada Bulan Desember, saat musim dingin tiba. Maka karena termasuk kategori “barang antah berantah” itulah banyak orang mendamba merasai turunnya salju dalam hidupnya, termasuk aku tentu saja. Laiklah bila kami-kami yang baru saja menginjakkan kaki di daratan Eropa, terkana sindrom merindu salju.
Menunggu saat kapan si bulir-bulir putih lucu itu menjatuhkan dirinya dengan beruntun dari langit. Dengan terus memantau perkiraan cuaca, dan menunggu kalo ada tanda-tanda ramalan adanya “snow” walaupun cuma “light snow”. Dan betapa beruntungnya aku yang tinggal di Britania bagian utara yang notabenenya lebih dingin dibandingkan dengan daratan UK lainnya. Sehingga daratan yang kujejaki saat ini lebih cepat mendapat berkah salju dibandingkan daratan-daratan lain di benua biru ini.
Aku masih ingat salju pertamaku, turun tak terburu-buru, seperti rindu yang tak tentu. Hanya rintik rintik putih yang melayang terbang dan menimpa ringan di tubuhku. 

Aku dan Salju

Dan kemarin turun lagi si lucu itu, kali ini seperti serat-serat kapas yang beterbangan di luar jendela. Ah, salju-salju lucu itu...seperti menerbangkan angan, meloncatkan harapan. Memandangi  gumpalan-gumpalan putih terbang melayang sungguh mendebarkan. Hatiku seakan ikut dibawanya terbang, menyeberang samudra, menujumu. Titik–titik putih itu turun satu-satu, menggodaku untuk keluar dan bersama mereka. Merasai bulir-bulirnya jatuh di kulitku, merasai sensasi dingin di wajahku, dan tak terasa tanganku mulai membeku. Dan saat langit telah menggelap, dengan lagu-lagu yang diputar syahdu, plus teh hangat madu, serta salju di luar jendela masih terus turun membawakan rindu, sempurnalah hidupku ehehe. Salju memang cenderung membawakan rasa mellow di hati. Dengan suhu minus, jalanan beku dengan lapisan tipis es, akibat salju yang membeku, memang saat yang tepat untuk ber”hibernasi” di balik selimut.
Namun sayangnya tahun ini, salju tak sering-sering datang, tak seperti tahun lalu (kata mereka). Masih untung si bulir bulir lucu itu sudi turun, karena di bagian UK lainnya, sahabat-sahabatku masih merindu salju.
            “ Aku sudah lelah menantinya”, begitu katanya. Tanda rindu tak bersambut dalam sebuah pertemuan yang indah. Ah, bersabarlah..mungkin nanti salju lucu itu akan segera mampir ke tempat kalian. Agar berubah status hidup kalian, dari belum pernah merasai salju menjadi pernah, sebenarnya itu saja urgensinya. Namun walau hanya sekedar itu, perubahan status itu terkadang membuat orang-orang terkena snowholic..mencandu salju. Mood-nya menjadi tiba-tiba melankolik, bahagia nano nano..ahaha kombinasi yang aneh..sindrom ini terdeteksi dari berbagai status-status FB warga negara Indonesia tercinta yang tengah dilanda “candu salju”. Padahal rekan-rekan Labku yang orang Scottish dan orang Eropa lainnya, memandang salju sebagai sesuatu yang sangat biasa, bahkan menurut mereka “menganggu”. Karena salju bagi mereka adalah jalanan yang licin, mobil yang susah bergerak karena salju, suhu yang makin membuat beku. Ah, lihatlah hanya perkara salju saja sangggup menggerakkan kesadaran kita tentang sesuatu yang biasa dan luar biasa. Salju bagi kita-kita adalah sesuatu yang istimewa, hanya karena kita tak biasa mengalaminya, dan bagi mereka, salju sangatlah biasa. Jadi mereka merindu matahari tropis yang menghangatkan kebekuan mereka yang hampir sepanjang tahun diterpa hawa dingin. Itulah mereka mengganggap negeri tercinta kita itu sebagai surga.
            “why you came here, your country is paradise?” kata tutor les inggrisku pas awal-awal menginjakkan kaki disini.
Ah, begitulah ternyata hidup. Kita sering berteriak-teriak kepanasan, mereka merindukan matahari terik milik kita itu. Sementara kita mencemburui salju milik mereka. Jadi itulah tentang merindu, menantikan sesuatu yang ingin kau rasai, menunggu untuk bertemu seseorang atau sesuatu yang ingin kau temui, mendesak-desak tak tentu.
Salju kembali hilang, tapi kenapa rinduku masih di sini bersamaku.***

 

2 comments:

Suryati Arifatul Laili said...

Fiuh...rindu yang dalam...^^
Anyway kata orang begitulah sindrom yang belum pernah ketemu salju tapi kalau udah pasti males kalau ketemu salju terus...jadinya rindu matahari...hehehe...begitulah manusia, mari kita belajar untuk melihat bahwa rumput kita lebih hijau daripada rumput tetangga...sehingga apapun yg kita dapatkan akan terasa indah...bismillah moga kelak kita bisa :)

Siwi Mars Wijayanti said...

ehehe begitulah manusia jeng..manusiawi..mungkin justru dengan begitu kita bisa mengharap yang indah-indah, ada gelenyar harap bahwa rindu itu akan bertemu...semacam bumbu-bumbu hidup..biar lebih berwarna-warni..sekarang aku bisa merasai merindu salju, merindu matahari dan juga merindu hujan..aiih..rindu yang tak berpenghujung sepertinya :)

Post a Comment