Saturday, 25 February 2012

Menepi Darimu, Hujanku

Mendung menggantung lagi sore ini, lagi-lagi begitu. Mungkin hujan sebentar lagi akan turun menderas lagi. Seperti itu terus ritme akhir-akhir ini, biar saja, mungkin hujan tengah pongah menunjukkan betapa ia nampak mempesona untuk selalu kucinta. Seperti kemarin sore itu, ia nampaknya terlalu percaya diri padaku, menunjukkan guyuran dengan intensitas maha tinggi, dengan kilat dan petir menyambar, sementara aku di bawah guyurannya, bersama si hitam manisku dan mantel yang tak lagi kuasa menahan kepongahanmu, hujanku. Lalu aku memilih untuk berhenti, dan menepi.

Apakah sore ini kau akan lagi-lagi seperti itu?
Hujanku, telah kutegaskan aku  mencintai rinai suaramu, sensasi tak tergantikan saat kau membasahi kulitku, dingin yang menyesap dalam hatiku, aku suka hujan, aku cinta hujan, tapi ingatlah, tidak setiap waktu.
Aku gamang dan menepi mencari teduh saat kamu mengguyuri bumi dengan membuta, daratan terdiam, menjadikan suaramu penuh seluruh. Semesta terkesiap begitu melihat engkau marah-marah seperti kemarin sore itu, begitupun aku. Dan aku menepi, harus menepi, karena deraimu tak mampu kutampung lagi.
Dan sore inipun kau isyaratkan pada mendung menggantung, menanda bahwa mungkin deraimu akan mengguyuri bumi lagi.

            “ Perlahanlah, tahukah engkau bila suara derai perlahanmu itu sanggup menciptakan sajak-sajak senja dan puisi menanti pagiku?
Cintaku pada hujan, kenapa kini menjadi bersyarat..aku mencintaimu bila deraimu rinai-rinai di sore hari, menemani senja milikku yang sunyi, tapi aku sungkan dan ingin menepi bila bulir-bulirmu itu berubah menderas, hingga suara yang kau timbulkan tak lagi serupa harmoni. Maaf hujanku, memang cintaku begitu, masih saja penuh syarat..
Tapi sebenarnya, diam-diam ingin kubilang padamu, aku tetep mencintai derai hujanmu, entah rinai-rinai ataupun menderas, tapi menderasmu itu membuatku memilih untuk menepi.
Maka pahamilah, aku menepi..bukan berarti aku tak lagi mencintamu.

GBI, 25 Feb 2012.. di senja yang menggelap, menanda mendung, menyedia hati bahwa engkau akan datang lagi, hujan..

0 comments:

Post a Comment