Friday, 27 April 2012

Kamu



Kali ini, satu kalimatmu saja, “maju” kau bilang
He-eh, jalan” jawabku, walau setengah ragu
Bukan jalan, jalan bisa saja mundur, tapi maju” katamu lagi. Dan keajaiban terjadi lagi
Satu kata darimu,
Musnahkan raguku, terbitkan nyaliku, kamu
Kali ini satu kata, atau nanti akan ada banyak kata-kata
Atau bahkan tanpa kata,
Asal itu kamu
Kamu
Aih

Sunday, 22 April 2012

Balada Minggu Pagi



Kupandangi box-box besar yang sudah tergeletak di ruang tamu rumah kontrakanku, akhirnya sampai juga. Ah, sungguh sebuah minggu pagi yang sungguh menguji kesabaran. Tadi malam sambil mengerjakan tulisan untuk lomba yang deadlinenya jam 12 malam, kutunggu kedatangan kiriman barang dan bahan kimia yang kupesan untuk penelitian. Padahal sudah kutunda kepulanganku ke rumah kebumen gara-gara dikabari bahwa barang sudah dikirim dan diperkirakan sampai sabtu malam. Tapi sampai tulisanku sudah kukirim, dan malam telah larut, belum juga ada yang mengantarkan ke rumah. Dan paginya, tiba-tiba pihak travel meng-sms menyuruhku untuk mengambil kiriman ke agent travelnya. Mood sudah mulai berubah menerima kabar itu, Lalu kutelpon balik, kutanyakan seharusnya dikirimkan sampai ke alamat rumah, dan ada bahan kimia yang harus segera dimasukan dalam freezer.
            Wah kami nggak tau itu bu, kami kan di sini hanya sekedar penerima. Dari pihak pengirim juga nggak bilang apa-apa. Dan alamat ibu itu di luar coverage kami. Jadi barang diambil sendiri bu”. Jelasnya,yang membuat aku harus menarik nafas panjang-panjang.
Setelah itu saya kontak untuk komplain ke pihak pengirim barang, mengkonfirmasi apa yang sebenarnya terjadi.
            Saya sudah memberitahukan barang ke pihak travel bu, “jelasnya, tanpa ada kata maaf yang keluar. Tapi nyatanya kondisi seperti ini yang terjadi.
            Ya sudah, nanti barangnya dimasukan freezer dulu, kapan saya ambil dan saya ganti baru,” akhirnya opsi itu yang dia tawarkan.
Dan akhirnya saya melarikan si beat hitam manis menuju ke agent travel, bertemu dengan petugas yang ada di sana. Rasanya mau marah ke petugas itupun tiada guna, selain saya memang sama sekali tidak berbakat marah, dan sebenarnya tidak tahu caranya bagaimana. Hanya bengong menatap 3 box besar barang yang harus kubawa hanya dengan menggunakan si beat hitam manisku itu.
            Trus gimana bawanya mba?” tanya si petugas itu.
            Nanti saya balik lagi” jawabku singkat. Sambil mengangkat dua box yang dijadikan satu itu. Aku khawatir dengan lama-lama bicara malah hati jadi semakin mangkel, menghabiskan energiku. Jadi lebih baik segera kuangkat box itu dan kucoba mengaturnya, dengan menempatkan antara badan dan stang motor. Memang sangat merepotkan, karena hampir menghalangi pandang dan susah belok, tapi memang harus begitu. Lalu kulajukan lagi motorku, entah karena apa, mungkin karena akumulasi kejadian akhir-akhir ini dan kejadian tidak mengenakan dari pagi tadi, saya disergap rasa yang mendesak-desak dadaku. Mataku berembun dan kemudian bertaburan kaca di balik kaca helmku. Saya menemukan saya sendirian. I wish you were here, bisik batinku. Mungkin hanya dengan melihatmu saja bisa membuat semuanya menjadi baik. But You always here, bisik batinku lagi. Kuseka mataku, dan tak ada yang menetes. Terus kulajukan motorku, bahwa hidup harus berjalan dan harus terus dihadapi.
Paket pertama sudah berhasil sampai dan mastermix langsung kumasukkan kulkas. Kuambil tali rafia di dapur, dan kembali berangkat ke agent travel yang berjarak tempuh sekitar 30 menit itu. Tiba di agent travel, tak banyak bicara lagi, kuambil paketan besar yang tak mungkin kuletakkan dalam posisi saat mengambil paketan pertama tadi. Jadi sendirian kuangkat dan kuikat kencang-kencang dengan tali rafia. Kulajukan motorku, dengan tangan kiri memegang box di belakang. Dan paket kedua itupun selamat sampai di rumah.
Ah, pelayanan di Indonesiaku, betapa mirisnya. Baru kemarin jumat saya juga dikecewakan oleh agent bahan kimia lain yang berjanji menemui saya di jogya, yang lagi-lagi tak bisa menepati janjinya. Padahal pihak universitas saya yang jauh-jauh di Glasgow, sebelum mengirimkan barang sudah mengecek baik-baik. Bahkan memberitahu bahwa alamat yang saya berikan tidak dicoverage oleh pengiriman Fed-Ex, sehingga meminta saya mengkontak agen Fed-Ex terdekat supaya barang dapat segera dikirimkan. Jadi saya menggunakan alamat seorang yang tengah berada di jogya sebagai penerima kiriman itu. Sungguh terasa berbeda bagaimana pelayanan dan perlakuan terhadap konsumen antara pihak luar dan layanan di Indonesia. Ah memang harus banyak bersabar. Dan entah kenapa, tiba-tiba kamu yang di ujung sana, mengontak dan menelpon saya, dan ajaibnya hanya mendengar suaramu saja, semua terasa baik-baik saja.
Saya tidak banyak waktu untuk mengeluh, bagaimanapun hidup ke depan, saya hanya punya satu cara : hadapi!!

22 April 2012..

Monday, 9 April 2012

Mungkin Rindu


            Matanya menyalang ke arah deretan warung-warung makan di Jalan Mangkubumi yang biasanya menawarkan berbagai macam makanan yang bikin ngiler, tapi tak juga ada ide terlintas di kepalanya, apa yang ingin ia makan malam ini. Ayam goreng sambel bawang, Bakso Iga Pak Jono, Mie Ayam Laras, enggak pengen..lagi enggak pengen..perut dan kepala menolaknya. Akhirnya ia memutuskan untuk terus dilajukan setir mobilnya ke arah Jalan Suropati, siapa tahu ada ide muncul. Tapi nihil. Nara menggigit bibir bawahnya perlahan, hai perut apa maumu sekarang? Tanyanya pada akhirnya, seakan putus asa apa yang dimaui perutnya sendiri. Akhirnya setelah Jalan Suropati hampir sampai di ujung, ia memutuskan untuk membeli Capcay, hanya karena ia tak ingin pulang dengan tangan kosong, dan setelah itu ia melajukan mobilnya dengan kencang menuju rumah, pulang.
            Dan nasib si capcay dengan bumbu “terpaksa” itupun dapat terprediksi dengan jelas. Bungkusnya di taruh di meja makan, tak tersentuh, walau perut sebenarnya sudah protes minta diisi, tapi sialnya impuls ke pusat lapar di otak, hipotalamus bagian lateral tidak bekerja, seperti halnya dirinya kini, tidak berfungsi dengan alasan yang tak pasti. Nara malah memilih untuk selonjoran di sofa berwarna hijau beludru, menempatkan kepalanya di bantalan sambil memandangi bulan kekuningan di kejauhan. Masa hyphoprenia lagi? pikirnya..fiuuh..
            “ Huhu..Aku sedang tak berfungsi T_T” ketiknya ke BBM Alia.
Bengkelin sih, belum makan kali..robot juga perlu makanan” Balas Alia
Nggak doyan L” penjelasan singkat yang masih juga Nara tidak tahu mengapa. Dan sialnya Alia tak membalasnya lagi, ufff Nara tahu hal apa yang paling bisa dilakukan Alia pada sabtu malam minggu? Tidur.
Hati Nara terasa sesak oleh rasa yang tak jua ia mengerti.  Terasa mendesak-desak tak pasti, yang mendorongnya untuk mengetikkan beberapa kata di keypad Hpnya, hendak mengirimkan ke seseorang, namun kemudian dihapus lagi.
Mungkin rindu, jawab hatinya tentang mengapa akhir-akhir ini ia “tidak berfungsi”.
Rindu itu ternyata bukan terdefinisikan dengan seberapa jauh jarak antara dua orang terpisah, atau berapa lama dua orang tersebut terakhir kali bertemu. Ternyata bukan itu, rindu itu lahir karena sebenarnya apapun yang kita lakukan, kita ingin membagi dan mengalaminya bersama-sama dengan orang yang kita sayang. Kok ngomongin rindu sih, sergah batin Nara menyangkali apa yang berkelebatan dalam kepalanya, dan hatinya.
Kau tahu bagaimana rasanya merindui seseorang bahkan saat orang itu masih ada di dekatmu?
Nara bahkan rindu saat Radit masih duduk di sebelahannya, mengamatinya hingga detail walau Radit tak pernah menyadarinya. Merekam mimik mukanya saat laki-laki itu bicara, meledek, tersenyum atau tertawa. Hapal tanpa Radit memberitahunya bahwa ia selalu mencukur janggutnya setiap hari jumat, dan menyimpan sapu tangan di saku kanan celananya. Membuat kopi dengan porsi 2-2-1, dua sendok gula, dua sendok kopi dan satu sendok kreamer,
            “ Karena aku suka yang manis-manis, sepertimu” kata Radit menggoda, saat Nara menanyakan komposisi kopinya itu.
Ia sejenis manusia yang tidak bisa tertampikkan, irresistable. Itu yang membuat mekanisme lama Nara yang sudah sukses berjalan bertahun-tahun kehilangan keefektifannya. Sejak dulu Nara semacam manusia robotik yang dengan mudah mengatur diri dan seluruh kontrol mekanismenya. Ia menyukai jatuh cinta sendirian, dan kemudian menyadap habis-habisan energi jatuh cintanya itu untuk membuat hidupnya nampak berwarna dan memasok semangat tiap harinya. Ia terbiasa pula melakukan perpisahan paling sepi, perpisahan yang ia lakukan sendirian, tanpa tangan yang menahannya pergi, tanpa pelukan terakhir kali, hanya dengan isak tangisnya sendiri. Mengepak sejarah lalu pergi. Begitu setiap kali, dan dengan begitulah Nara tetap waras sampai hari ini. Bahkan sukses menjadi desainer interior kelas wahid dengan bayaran tinggi, tapi tetap sahabat-sahabatnya menyebutnya, manusia robotik. Mekanis, fungsionalis, dan hampir tanpa salah.
Kini, jam dinding di ruang tengahnya hampir sampai di angka 11, tapi matanya masih belum jua menunjukkan tanda-tanda mengantuk, dan perutnya sebenarnya sudah setengah mati lapar, tapi mulutnya sama sekali tidak mengirimkan signal ingin mengunyah. Sedangkan hatinya semakin tak dimengerti. Ah, Nara seperti benar-benar mengalami disfungsi, dan akhirnya ia pun memencet nomor di Hpnya, walau ia tahu risiko bila merusak ritme tidur Alia, si putri tidur itu.
Heeeh bangun, apaaan kok BBMku nggak dibales sih!” suara Nara langsung meninggi saat nada tunggu telponnya usai.
hummm...apaan,” suara ogah-ogahan di ujung sana.
eghhh sebel gue, Radit itu manusia angin, datang dan pergi seenak perutnya sendiri,memangnya aku ini...” belum lagi kalimat Nara selesai, sudah dipotong tawa terbahak-bahak Alia di ujung telpon.
Ahaha gilaaa....aku saksi keajaiban dunia nomer delapaaan...manusia robotik itu sudah mati,” suara di ujung telpon terdengar begitu antusias.
            “ Apaan sih lu?” cecar Nara tak mengerti,
            “ Mana ada manusia robotik bisa ngambek..ahay happy for you!!kiss kiss “ jawabnya dengan nada gembira ria merayakan kematian manusia robotik. Lalu klik, telpon ditutup, si putri tidur kembali melanjutkan ritualnya. Sedetik kemudian Nara berpikir, seketika ia merasa asing dengan dirinya sendiri.***
 
Pagi yang terlampau pagi di Purwokerto, 9 April 2012.

Sunday, 8 April 2012

Saat Hidup Kita Tak lagi Sederhana...


 
Dear sahabatku,


Yang masih juga bertahan, saat terkadang aku begitu menjengkelkan.

Saat kau juga menjengkelkan

Saat kita sama-sama menjengkelkan

Saat sudah berapa kali kita saling mengingatkan satu sama lain

Tapi kau memilih berjalan bersama jalan pikirmu itu,

Dan jalan hatimu itu,

Dan sialnya aku juga,
Tapi ajaibnya kita masih terus berbagi cerita

Menertawakan ironi

Menangisi lelucon hidup

Lihatlah kita semua,

Lihatlah...sebuah transformasi apa yang telah terjadi setelah kita menahun

Saat bincang kita tidak lagi soal tugas, soal jalan-jalan,

Saat kita sebenarnya kadang berselisih paham, tapi terus bertahan
Saat hidup kita tidak sederhana lagi

Syukurku selalu, karena kalian tetap ada



Friday, 6 April 2012

Dua Perempuan

Kutatap wajahnya, tidak banyak yang berubah dari terakhir kali saat bertemu dengannya, dengan rambut sebahu, dan tahi lalat di dagunya, tidak terlalu cantik tapi lelaki akan melihat dua kali padanya. Ditambah dengan senyumannya yang selalu nampak sumringah itu, kuakui dia sungguh wanita yang mempesona.
            “Tambah cantik aja lu,” kataku sambil kembali menyesap secangkir kopi lumbung vanilla. Di cafe “rumah kopi” yang dulu menjadi tempat favorit nongkrong kami saat kuliah.
            “ ehehe, tambah mateng kali. Dan kau tau, kematangan perempuan itu merupakan salah satu daya tarik tersendiri, “ balasnya dengan setengah becanda, dengan nada suara yang terasa jauh lebih matang daripada empat tahun lalu saat kami masih sama-sama di Jogya.
Aku hanya tersenyum mendengarnya, kematangan perempuan macam apa, yang selalu berubah menjadi seorang remaja lagi saat bersama dengan lelaki pujaannya? Haiiih...
Tak sengaja kami bersua lagi, bermula di check-in status FB Eza di Yogya, sedangkan aku tengah menuju Yogya untuk urusan jual beli tanah di Kaliurang. Kebetulan memang hanya sebuah rencanaNya yang semula tak kita ketahui.
            “Aku memutuskan untuk tak lagi menunggu Ovan, Nggi” jawabnya saat aku bertanya bagaimana kabar Ovan, satu-satunya lelaki yang kutahu ada dalam hidupnya, dalam hatinya.
Detik berganti menit, aku diam memandanginya. Pergantian raut muka Eza jelas sekali kutangkap kala nama Ovan kembali ia sebut. Seakan kembali menghampirkan setumpuk kenangan yang kembali melintas di pikirannya.
            I need to move on, Nggi, sudah lebih dari enam tahun, waktu terus berjalan “ jawabnya berat.
Aku terpekur menatapnya. Cinta memang terkadang sejenis rasa yang aneh, mampu menghadirkan ketidakwarasan. Setidaknya itu yang kulihat dari diri Eza, yang hidup bersama sejarah Ovan dalam hatinya. Eza dan Ovan dulu bagiku seperti dua manusia yang memang ditakdirkan untuk saling menemukan. Sampai saat Ovan memutuskan untuk melajutkan studinya ke Swiss, dan meninggalkan janji bahwa suatu saat akan kembali pada Eza untuk menikahinya. Tapi Ovan menghilang dari hidup Eza.
            “ Trus, elu lagi deket sama siapa sekarang Za?” tanyaku, sambil melambaikan tangan di waitress. Perutku sekarang sering rewel, protes bila lama tak diisi.
            “entahlah, ada sih yang deketin..tapi masih pikir-pikir. He seems nice, tapi rasaku tak seperti pada...” kalimatnya menggantung sampai situ, tak diteruskannya lagi. Dan dengan gampang aku bisa menebak kelanjutkan kalimatnya itu. Ovan dan Ovan, setahuku hatinya tak pernah bisa menghilangkan nama itu.
            “ Anggia, kau tahu..setahuku perempuan bisa hidup bersama sejarah, tetapi lelaki tidak. Aku ingin berubah menjadi laki-laki saja”
Aku hampir saja tersedak mendengar kalimatnya barusan. Kemudian tertawa terbahak-bahak.
            “ Lelaki lebih pintar daripada perempuan dalam masalah cinta, Nggi. Dan kali ini aku juga ingin pintar juga. Aku juga ingin berkata seperti mereka, bahwa sejarah yang indah memang layak untuk dikenang, tapi yang ada di depan mata layak untuk dipertahankan,” katanya dengan mukanya yang dipalingkan ke arah jalanan yang tengah padat. Kucoba menemukan apa yang dibalik kata-katanya tadi,tapi belum sempet kumengerti, dia melanjutkan kalimatnya lagi,
            “ Kau tahu apa doaku pada Tuhan? Semoga aku berjodoh dengan Ovan di surga, sedang di dunia ini, biarlah  kupinta saja pertemukanlah aku dengan lelaki baik yang dengannya aku ingin menyempurnakan agamaku, itu saja” katanya lirih.
Aku tertengun mendengarnya.
            “ Dan kau, How’s  your life? Who’s the lucky guy?” dia balik bertanya dengan mata menggodaku,
            “ahaha..ah kau, haven’t met him yet” jawabku pendek
            seriously?” tanyanya mendesak.
            “ hihi..humm...kind of....met with the right guy..but not in the right time..ehehe,” kataku sambil menghabiskan sesapan terkahir kopiku, menghilangkan gugupku dengan pertanyaan Eza barusan.
            you don’t need to tell me, tapi satu hal  yang sungguh kupercayai, tak peduli siapa dan bagaimanapun dia, kuyakin dia pasti orang baik,” dia berkata sambil menatapku tajam, dengan pandangan yang penuh keyakinan.
Aku sedikit terpengarah dengan ucapannya barusan, sekaligus merasa terharu. Persahabatan memang terkadang juga seperti cinta, tidak waras.
Lamat-lamat suara Michael Buble terdengar di cafe ini..

I might have to wait.
 I'll never give up.
 I guess it's half timing,
 And the other half's luck.
 Wherever you are.
 Whenever it's right.
 You'll come out of nowhere and into my life
(Haven’t met you yet-Michael Buble)

Kami, dua orang perempuan yang masih saja tak mau disebut bodoh oleh cinta, tersenyum, entah bermakna apa. Tapi kami tetap tersenyum, berdua. ***