Sunday, 22 April 2012

Balada Minggu Pagi



Kupandangi box-box besar yang sudah tergeletak di ruang tamu rumah kontrakanku, akhirnya sampai juga. Ah, sungguh sebuah minggu pagi yang sungguh menguji kesabaran. Tadi malam sambil mengerjakan tulisan untuk lomba yang deadlinenya jam 12 malam, kutunggu kedatangan kiriman barang dan bahan kimia yang kupesan untuk penelitian. Padahal sudah kutunda kepulanganku ke rumah kebumen gara-gara dikabari bahwa barang sudah dikirim dan diperkirakan sampai sabtu malam. Tapi sampai tulisanku sudah kukirim, dan malam telah larut, belum juga ada yang mengantarkan ke rumah. Dan paginya, tiba-tiba pihak travel meng-sms menyuruhku untuk mengambil kiriman ke agent travelnya. Mood sudah mulai berubah menerima kabar itu, Lalu kutelpon balik, kutanyakan seharusnya dikirimkan sampai ke alamat rumah, dan ada bahan kimia yang harus segera dimasukan dalam freezer.
            Wah kami nggak tau itu bu, kami kan di sini hanya sekedar penerima. Dari pihak pengirim juga nggak bilang apa-apa. Dan alamat ibu itu di luar coverage kami. Jadi barang diambil sendiri bu”. Jelasnya,yang membuat aku harus menarik nafas panjang-panjang.
Setelah itu saya kontak untuk komplain ke pihak pengirim barang, mengkonfirmasi apa yang sebenarnya terjadi.
            Saya sudah memberitahukan barang ke pihak travel bu, “jelasnya, tanpa ada kata maaf yang keluar. Tapi nyatanya kondisi seperti ini yang terjadi.
            Ya sudah, nanti barangnya dimasukan freezer dulu, kapan saya ambil dan saya ganti baru,” akhirnya opsi itu yang dia tawarkan.
Dan akhirnya saya melarikan si beat hitam manis menuju ke agent travel, bertemu dengan petugas yang ada di sana. Rasanya mau marah ke petugas itupun tiada guna, selain saya memang sama sekali tidak berbakat marah, dan sebenarnya tidak tahu caranya bagaimana. Hanya bengong menatap 3 box besar barang yang harus kubawa hanya dengan menggunakan si beat hitam manisku itu.
            Trus gimana bawanya mba?” tanya si petugas itu.
            Nanti saya balik lagi” jawabku singkat. Sambil mengangkat dua box yang dijadikan satu itu. Aku khawatir dengan lama-lama bicara malah hati jadi semakin mangkel, menghabiskan energiku. Jadi lebih baik segera kuangkat box itu dan kucoba mengaturnya, dengan menempatkan antara badan dan stang motor. Memang sangat merepotkan, karena hampir menghalangi pandang dan susah belok, tapi memang harus begitu. Lalu kulajukan lagi motorku, entah karena apa, mungkin karena akumulasi kejadian akhir-akhir ini dan kejadian tidak mengenakan dari pagi tadi, saya disergap rasa yang mendesak-desak dadaku. Mataku berembun dan kemudian bertaburan kaca di balik kaca helmku. Saya menemukan saya sendirian. I wish you were here, bisik batinku. Mungkin hanya dengan melihatmu saja bisa membuat semuanya menjadi baik. But You always here, bisik batinku lagi. Kuseka mataku, dan tak ada yang menetes. Terus kulajukan motorku, bahwa hidup harus berjalan dan harus terus dihadapi.
Paket pertama sudah berhasil sampai dan mastermix langsung kumasukkan kulkas. Kuambil tali rafia di dapur, dan kembali berangkat ke agent travel yang berjarak tempuh sekitar 30 menit itu. Tiba di agent travel, tak banyak bicara lagi, kuambil paketan besar yang tak mungkin kuletakkan dalam posisi saat mengambil paketan pertama tadi. Jadi sendirian kuangkat dan kuikat kencang-kencang dengan tali rafia. Kulajukan motorku, dengan tangan kiri memegang box di belakang. Dan paket kedua itupun selamat sampai di rumah.
Ah, pelayanan di Indonesiaku, betapa mirisnya. Baru kemarin jumat saya juga dikecewakan oleh agent bahan kimia lain yang berjanji menemui saya di jogya, yang lagi-lagi tak bisa menepati janjinya. Padahal pihak universitas saya yang jauh-jauh di Glasgow, sebelum mengirimkan barang sudah mengecek baik-baik. Bahkan memberitahu bahwa alamat yang saya berikan tidak dicoverage oleh pengiriman Fed-Ex, sehingga meminta saya mengkontak agen Fed-Ex terdekat supaya barang dapat segera dikirimkan. Jadi saya menggunakan alamat seorang yang tengah berada di jogya sebagai penerima kiriman itu. Sungguh terasa berbeda bagaimana pelayanan dan perlakuan terhadap konsumen antara pihak luar dan layanan di Indonesia. Ah memang harus banyak bersabar. Dan entah kenapa, tiba-tiba kamu yang di ujung sana, mengontak dan menelpon saya, dan ajaibnya hanya mendengar suaramu saja, semua terasa baik-baik saja.
Saya tidak banyak waktu untuk mengeluh, bagaimanapun hidup ke depan, saya hanya punya satu cara : hadapi!!

22 April 2012..

7 comments:

JUST.ICA said...

yaaa suaranya...hanya itu saja...lebih dari cukup...sangat cukup (nyanyian hati cewek jagoan)

nor basid a prasetya said...

pengen ikutan denger suaranya juga....penasaran...huuummm... :D

Siwi Mars Wijayanti said...

@just Ica : ehehe..
@nor basid a prasetya : apalagi kalo pas lagi ngaji :))

JUST.ICA said...

iyaaaaa ibuuu..dia punya blog sekarang..hahah dasar dia..

JUST.ICA said...

pak mas noor mah ih..pingin tau ajaaa yaaa bu...

Siwi Mars Wijayanti said...

@Ica : wiw...apa nama blognya ca? biar ikutan baca dan kulist ke blogslitku..

nor basid a prasetya said...

@ica: hihihihi....namanya jg orang cerdas...selalu pengen tauuuu aja...xixixi...
@mars: wah..pengen ikutan denger ngajinya juga... ;D

Post a Comment