Friday, 6 April 2012

Dua Perempuan

Kutatap wajahnya, tidak banyak yang berubah dari terakhir kali saat bertemu dengannya, dengan rambut sebahu, dan tahi lalat di dagunya, tidak terlalu cantik tapi lelaki akan melihat dua kali padanya. Ditambah dengan senyumannya yang selalu nampak sumringah itu, kuakui dia sungguh wanita yang mempesona.
            “Tambah cantik aja lu,” kataku sambil kembali menyesap secangkir kopi lumbung vanilla. Di cafe “rumah kopi” yang dulu menjadi tempat favorit nongkrong kami saat kuliah.
            “ ehehe, tambah mateng kali. Dan kau tau, kematangan perempuan itu merupakan salah satu daya tarik tersendiri, “ balasnya dengan setengah becanda, dengan nada suara yang terasa jauh lebih matang daripada empat tahun lalu saat kami masih sama-sama di Jogya.
Aku hanya tersenyum mendengarnya, kematangan perempuan macam apa, yang selalu berubah menjadi seorang remaja lagi saat bersama dengan lelaki pujaannya? Haiiih...
Tak sengaja kami bersua lagi, bermula di check-in status FB Eza di Yogya, sedangkan aku tengah menuju Yogya untuk urusan jual beli tanah di Kaliurang. Kebetulan memang hanya sebuah rencanaNya yang semula tak kita ketahui.
            “Aku memutuskan untuk tak lagi menunggu Ovan, Nggi” jawabnya saat aku bertanya bagaimana kabar Ovan, satu-satunya lelaki yang kutahu ada dalam hidupnya, dalam hatinya.
Detik berganti menit, aku diam memandanginya. Pergantian raut muka Eza jelas sekali kutangkap kala nama Ovan kembali ia sebut. Seakan kembali menghampirkan setumpuk kenangan yang kembali melintas di pikirannya.
            I need to move on, Nggi, sudah lebih dari enam tahun, waktu terus berjalan “ jawabnya berat.
Aku terpekur menatapnya. Cinta memang terkadang sejenis rasa yang aneh, mampu menghadirkan ketidakwarasan. Setidaknya itu yang kulihat dari diri Eza, yang hidup bersama sejarah Ovan dalam hatinya. Eza dan Ovan dulu bagiku seperti dua manusia yang memang ditakdirkan untuk saling menemukan. Sampai saat Ovan memutuskan untuk melajutkan studinya ke Swiss, dan meninggalkan janji bahwa suatu saat akan kembali pada Eza untuk menikahinya. Tapi Ovan menghilang dari hidup Eza.
            “ Trus, elu lagi deket sama siapa sekarang Za?” tanyaku, sambil melambaikan tangan di waitress. Perutku sekarang sering rewel, protes bila lama tak diisi.
            “entahlah, ada sih yang deketin..tapi masih pikir-pikir. He seems nice, tapi rasaku tak seperti pada...” kalimatnya menggantung sampai situ, tak diteruskannya lagi. Dan dengan gampang aku bisa menebak kelanjutkan kalimatnya itu. Ovan dan Ovan, setahuku hatinya tak pernah bisa menghilangkan nama itu.
            “ Anggia, kau tahu..setahuku perempuan bisa hidup bersama sejarah, tetapi lelaki tidak. Aku ingin berubah menjadi laki-laki saja”
Aku hampir saja tersedak mendengar kalimatnya barusan. Kemudian tertawa terbahak-bahak.
            “ Lelaki lebih pintar daripada perempuan dalam masalah cinta, Nggi. Dan kali ini aku juga ingin pintar juga. Aku juga ingin berkata seperti mereka, bahwa sejarah yang indah memang layak untuk dikenang, tapi yang ada di depan mata layak untuk dipertahankan,” katanya dengan mukanya yang dipalingkan ke arah jalanan yang tengah padat. Kucoba menemukan apa yang dibalik kata-katanya tadi,tapi belum sempet kumengerti, dia melanjutkan kalimatnya lagi,
            “ Kau tahu apa doaku pada Tuhan? Semoga aku berjodoh dengan Ovan di surga, sedang di dunia ini, biarlah  kupinta saja pertemukanlah aku dengan lelaki baik yang dengannya aku ingin menyempurnakan agamaku, itu saja” katanya lirih.
Aku tertengun mendengarnya.
            “ Dan kau, How’s  your life? Who’s the lucky guy?” dia balik bertanya dengan mata menggodaku,
            “ahaha..ah kau, haven’t met him yet” jawabku pendek
            seriously?” tanyanya mendesak.
            “ hihi..humm...kind of....met with the right guy..but not in the right time..ehehe,” kataku sambil menghabiskan sesapan terkahir kopiku, menghilangkan gugupku dengan pertanyaan Eza barusan.
            you don’t need to tell me, tapi satu hal  yang sungguh kupercayai, tak peduli siapa dan bagaimanapun dia, kuyakin dia pasti orang baik,” dia berkata sambil menatapku tajam, dengan pandangan yang penuh keyakinan.
Aku sedikit terpengarah dengan ucapannya barusan, sekaligus merasa terharu. Persahabatan memang terkadang juga seperti cinta, tidak waras.
Lamat-lamat suara Michael Buble terdengar di cafe ini..

I might have to wait.
 I'll never give up.
 I guess it's half timing,
 And the other half's luck.
 Wherever you are.
 Whenever it's right.
 You'll come out of nowhere and into my life
(Haven’t met you yet-Michael Buble)

Kami, dua orang perempuan yang masih saja tak mau disebut bodoh oleh cinta, tersenyum, entah bermakna apa. Tapi kami tetap tersenyum, berdua. ***


3 comments:

Suryati Arifatul Laili said...

Sist...baca cerita ini serasa kau merabai isi kepalaku sist...aku sekarang hidup untuk hari ini dan siap melakukan kesalahan2an baru tp bukan kesalahan yg sama, menggapai yg di depanku bukan di belakangku :)

Siwi Mars Wijayanti said...

aku memang suka meraba-raba jeng...ahaha :DD kidding..
#yuhuuuu sip...sip..keep move on..Life is full of miracle, ijinkan itu terjadi dalam hidupmu :)

Suryati Arifatul Laili said...

Hayoo sing diraba opone? hahaha :DD
Yeeeeeep! I do I really do...

Post a Comment