Monday, 9 April 2012

Mungkin Rindu


            Matanya menyalang ke arah deretan warung-warung makan di Jalan Mangkubumi yang biasanya menawarkan berbagai macam makanan yang bikin ngiler, tapi tak juga ada ide terlintas di kepalanya, apa yang ingin ia makan malam ini. Ayam goreng sambel bawang, Bakso Iga Pak Jono, Mie Ayam Laras, enggak pengen..lagi enggak pengen..perut dan kepala menolaknya. Akhirnya ia memutuskan untuk terus dilajukan setir mobilnya ke arah Jalan Suropati, siapa tahu ada ide muncul. Tapi nihil. Nara menggigit bibir bawahnya perlahan, hai perut apa maumu sekarang? Tanyanya pada akhirnya, seakan putus asa apa yang dimaui perutnya sendiri. Akhirnya setelah Jalan Suropati hampir sampai di ujung, ia memutuskan untuk membeli Capcay, hanya karena ia tak ingin pulang dengan tangan kosong, dan setelah itu ia melajukan mobilnya dengan kencang menuju rumah, pulang.
            Dan nasib si capcay dengan bumbu “terpaksa” itupun dapat terprediksi dengan jelas. Bungkusnya di taruh di meja makan, tak tersentuh, walau perut sebenarnya sudah protes minta diisi, tapi sialnya impuls ke pusat lapar di otak, hipotalamus bagian lateral tidak bekerja, seperti halnya dirinya kini, tidak berfungsi dengan alasan yang tak pasti. Nara malah memilih untuk selonjoran di sofa berwarna hijau beludru, menempatkan kepalanya di bantalan sambil memandangi bulan kekuningan di kejauhan. Masa hyphoprenia lagi? pikirnya..fiuuh..
            “ Huhu..Aku sedang tak berfungsi T_T” ketiknya ke BBM Alia.
Bengkelin sih, belum makan kali..robot juga perlu makanan” Balas Alia
Nggak doyan L” penjelasan singkat yang masih juga Nara tidak tahu mengapa. Dan sialnya Alia tak membalasnya lagi, ufff Nara tahu hal apa yang paling bisa dilakukan Alia pada sabtu malam minggu? Tidur.
Hati Nara terasa sesak oleh rasa yang tak jua ia mengerti.  Terasa mendesak-desak tak pasti, yang mendorongnya untuk mengetikkan beberapa kata di keypad Hpnya, hendak mengirimkan ke seseorang, namun kemudian dihapus lagi.
Mungkin rindu, jawab hatinya tentang mengapa akhir-akhir ini ia “tidak berfungsi”.
Rindu itu ternyata bukan terdefinisikan dengan seberapa jauh jarak antara dua orang terpisah, atau berapa lama dua orang tersebut terakhir kali bertemu. Ternyata bukan itu, rindu itu lahir karena sebenarnya apapun yang kita lakukan, kita ingin membagi dan mengalaminya bersama-sama dengan orang yang kita sayang. Kok ngomongin rindu sih, sergah batin Nara menyangkali apa yang berkelebatan dalam kepalanya, dan hatinya.
Kau tahu bagaimana rasanya merindui seseorang bahkan saat orang itu masih ada di dekatmu?
Nara bahkan rindu saat Radit masih duduk di sebelahannya, mengamatinya hingga detail walau Radit tak pernah menyadarinya. Merekam mimik mukanya saat laki-laki itu bicara, meledek, tersenyum atau tertawa. Hapal tanpa Radit memberitahunya bahwa ia selalu mencukur janggutnya setiap hari jumat, dan menyimpan sapu tangan di saku kanan celananya. Membuat kopi dengan porsi 2-2-1, dua sendok gula, dua sendok kopi dan satu sendok kreamer,
            “ Karena aku suka yang manis-manis, sepertimu” kata Radit menggoda, saat Nara menanyakan komposisi kopinya itu.
Ia sejenis manusia yang tidak bisa tertampikkan, irresistable. Itu yang membuat mekanisme lama Nara yang sudah sukses berjalan bertahun-tahun kehilangan keefektifannya. Sejak dulu Nara semacam manusia robotik yang dengan mudah mengatur diri dan seluruh kontrol mekanismenya. Ia menyukai jatuh cinta sendirian, dan kemudian menyadap habis-habisan energi jatuh cintanya itu untuk membuat hidupnya nampak berwarna dan memasok semangat tiap harinya. Ia terbiasa pula melakukan perpisahan paling sepi, perpisahan yang ia lakukan sendirian, tanpa tangan yang menahannya pergi, tanpa pelukan terakhir kali, hanya dengan isak tangisnya sendiri. Mengepak sejarah lalu pergi. Begitu setiap kali, dan dengan begitulah Nara tetap waras sampai hari ini. Bahkan sukses menjadi desainer interior kelas wahid dengan bayaran tinggi, tapi tetap sahabat-sahabatnya menyebutnya, manusia robotik. Mekanis, fungsionalis, dan hampir tanpa salah.
Kini, jam dinding di ruang tengahnya hampir sampai di angka 11, tapi matanya masih belum jua menunjukkan tanda-tanda mengantuk, dan perutnya sebenarnya sudah setengah mati lapar, tapi mulutnya sama sekali tidak mengirimkan signal ingin mengunyah. Sedangkan hatinya semakin tak dimengerti. Ah, Nara seperti benar-benar mengalami disfungsi, dan akhirnya ia pun memencet nomor di Hpnya, walau ia tahu risiko bila merusak ritme tidur Alia, si putri tidur itu.
Heeeh bangun, apaaan kok BBMku nggak dibales sih!” suara Nara langsung meninggi saat nada tunggu telponnya usai.
hummm...apaan,” suara ogah-ogahan di ujung sana.
eghhh sebel gue, Radit itu manusia angin, datang dan pergi seenak perutnya sendiri,memangnya aku ini...” belum lagi kalimat Nara selesai, sudah dipotong tawa terbahak-bahak Alia di ujung telpon.
Ahaha gilaaa....aku saksi keajaiban dunia nomer delapaaan...manusia robotik itu sudah mati,” suara di ujung telpon terdengar begitu antusias.
            “ Apaan sih lu?” cecar Nara tak mengerti,
            “ Mana ada manusia robotik bisa ngambek..ahay happy for you!!kiss kiss “ jawabnya dengan nada gembira ria merayakan kematian manusia robotik. Lalu klik, telpon ditutup, si putri tidur kembali melanjutkan ritualnya. Sedetik kemudian Nara berpikir, seketika ia merasa asing dengan dirinya sendiri.***
 
Pagi yang terlampau pagi di Purwokerto, 9 April 2012.

5 comments:

nor basid a prasetya said...

ahaha...cerita yg menarik...Tp bikin penasaran berat dgn terminologi "manusia robotik". Emang ada ya contoh manusia kayak gituan?? :D

Siwi Mars Wijayanti said...

bukankah lebih bikin penasaran lagi kayak apa manusia yang berhasil melumerkan si manusia robotik itu??? ;p;p

NouvaLitera said...

Rindu itu ternyata bukan terdefinisikan dengan seberapa jauh jarak antara dua orang terpisah, atau berapa lama dua orang tersebut terakhir kali bertemu. Ternyata bukan itu, rindu itu lahir karena sebenarnya apapun yang kita lakukan, kita ingin membagi dan mengalaminya bersama-sama dengan orang yang kita sayang.



pernah terjadi sih,, kmren bertemu sekarang sudah rindu... letak rindu ada dimana.. jadi tanda tanya besar

Siwi Mars Wijayanti said...

aihhh Leutika berkunjung...terimakasih kunjungannyaaaaa...

#begitulah rindu..semacam rasa tak tentu..hihi..:)

JUST.ICA said...

iyaaa..itu memang rindu...rindu yang sangat tulus.

Post a Comment