Monday, 29 October 2012

Tuhan, Ijinkan Aku Mendua...



Ibu keren yah, dosen masih muda tapi udah lanjut S3, pinter nulis lagi, awesome! Begitu kata seorang mahasiswi UNY yang ngeadd FB karena ingin tahu tips-tips cara mendapatkan beasiswa ke luar negeri. Humm benarkah begitu?
Ah, nyatanya setiap diri selalu mengalami pergulatan batin, termasuk tentang profesi diri.
Bila memilih, mungkin aku lebih ingin menjadi seorang editor, wartawan, penulis, atau pekerja media. Karena ke arah sana-lah sebenarnya passion-ku, yakni menulis, nampak selajur dalam satu jalur dengan profesi ideal versiku.
Tapi aku ditakdirkan mendua, atau memilih untuk mendua. Jalan hidup memposisikanku sebagai seorang dosen dengan tugas tanggung jawab serta komitmennya, serta di lain sisi, passionku menggelora pada dunia penulisan. Terkadang gamang, membagi porsi dan energi.
Mengerjakan apa yang kita sukai atau cintai itu mudah. Tak perlu membangun-bangun semangat, tak perlu membujuki diri sendiri untuk menghasilkan sesuatu yang maksimal. Semuanya terasa natural. Namun belajar mencintai mengerjakan sesuatu yang tak begitu kusukai bagiku itu sulit. Mengerjakan sesuatu yang bukan passion kita, pastilah akan terasa bedanya. Bagaimana harus membangun semangat yang seringkali gampang tumbang. Seakan bangun pagi dengan meneguh-neguhkan semangat, yang kadangkala cepat ambruk, lalu karam. Di sinilah aku bisa membedakan antara saat aku harus mengerjakan tugas profesiku sebagai dosen, peneliti dan terus menghidup passionku sebagai seorang penulis. 

Makan Siang Bersama Anak-anak sebelum berangkat ke UK
Sebagai Pembimbing dalam kegiatan Lapangan Mahasiswa
Melakukan Riset Doktoral di Center of Virus Research, University of Glasgow
Dua dunia yang kupilih untuk terus kujalani. Dalam dunia profesiku sebagai dosen, aku menikmati berinteraksi langsung dengan mahasiswa dengan spontanitasnya, semangatnya yang masih berlambung tinggi, dan impiannya yang melangit. Rasanya hidup masih terasa meletup-letup, penuh, dan berwarna. Pekerjaan ini membuatku merasa ikut mengalir bersama semangat mereka, sementara waktu kerja-pun bisa diatur sedemikian rupa hingga masih bisa mempunyai me time yang cukup, termasuk untuk mendua,  menghidupi passionku, menulis.
Dulu menulis kupikir hanya hobi yang senang kulakukan kala senggang. Semenjak kecil aku suka menuliskan apa yang ada di kepala, di hati ataupun di angan-anganku. Kadang hanya sebagai media katarsis hingga mempunyai kanal-kanal penyaluran emosi ataupun rasa yang mendesak-desak. Aku menikmatinya, hingga terus dan terus menulis. Namun dulu, tetap saja  menulis bagiku tak lebih dari sekedar hobi. Aku tidak menghidupinya dengan waktu, energi, kemauan dan kesempatan yang cukup. Lalu jalur-jalur hidup lain menggilas dan mengantarkan pada jalur kehidupan yang lain.
Tapi akhirnya pun aku tiba dalam titik kesadaran bahwa menulis adalah sebuah jalan hidup, tak bisa ditawar lagi. Ia nafas, udara, hidup dan juga mati. Menulis terus bisa membuat hidupku berdenyut hidup, merangkaikan kata, membawakan makna, dan mungkin yang terpenting membincangi diri sendiri. Menulis membuat aku tidak hilang dalam hidup. Tangan, hati, kepalaku akan terus menulis, menghasilkan  karya, menjejakkan sesuatu bila suatu saat aku telah tiada

Dengan Salah satu Bukuku "Koloni Milanisti"
Book Signing Session-Launching Koloni Milanisti



Aku, bersyukur terus mendua, dengan pekerjaanku sebagai dosen, peneliti, dimana aku belajar tentang kesungguhan dan komitmen. Dan aku akan selalu cinta menulis, dimana aku menemukan hidup dengan sebenar-benarnya hidup.

Mungkin semuanya ada pada rasa syukur, ada rasa keberserahan dan sebuah kesungguhan dalam menjalani pilihan hidup.

Menjadi luar biasa pada hal yang kita cintai mungkin biasa saja, tapi menjadi luar biasa bahkan untuk hal yang mungkin kita tidak terlalu suka, pastilah istimewa.


(Untuk sahabat-sahabat yang mungkin mengalami pergulatan batin yang sama, salam semangat)

*Diikutkan dalam #kisahprofesi bintang berkisah.

(heuu  maksimal 500 kata, banyak yang disortir nih hihi)

Glasgow, 29 Oktober 2012. Ditulis di sela-sela lab work..benar-benar mendua hihi ;p

__

Untuk mengunduh e-book-nya silahkan didownload di : http://bintangberkisah.wordpress.com/2012/11/06/kisah-profesi-ebook/








4 comments:

Arian Sahidi said...

aihhh saya juga passionnya menulis #ngikut :D

Siwi Mars Wijayanti said...

ih ngikut2...selamat berkarya dengan tulisan terus, pak guru :)

lupita said...

jd inget kata2nya mas iwan "menulis membebaskanku, membesarkanku, memberanikanku. aku menulis utk membaca kehidupan. aku menulis utk melepakan air mata. aku menulis utk menjadilanku manusia. aku menulis utk membunuh malam. aku menulis utk bersyukur. aku menulis krn menulis menybuhkan. aku menulis utk merapikan masa lalu. aku menulis utk menggali hati nurani

(iwan setyawan, penulis novel ibuk)

*dan aku menikmati tulisanmu, krn tulisanmu menguatkan, tulisanmu menyegarkan perjalanan hidup, tulisanmu membuatku smakin berani. terus...terus...dan teruslah menulis :)
**heiii....ini tdk lebayyyy :) *sueeeeerrr

Siwi Mars Wijayanti said...

huaaaah..rehat ngelab dan buka kompi, langsung lumer membaca komentarmuuuuu....
heuheueuuu terimakasih terimakasih, tulisanku akan kesepian bila tak dibacai, terimakasih telah setia membaca tulisan2ku, bahagia bila tulisanku bisa menjejakkan hati dihatimu, dan juga hidupmu..peluk lupiiii #ini juga tidak lebay..
# itu kalimat di novel ibuk-kah? belum baca hehe

Post a Comment