Friday, 2 November 2012

Karena hidup harus terus berjalan..




Dulu saya sampai membawa pulang tabung flask untuk kultur sel untuk latihan membiasakan tangan saya bagaimana caranya membedakan bagian atas bawahnya agar tak terbalik saat melakukan kultur sel.
Saya pegang-pegang, agar tangan saya biasa mengenggamnya, tak lagi tremor saat bekerja di dalam hood. Perlu beberapa waktu sampai akhirnya saya bisa tanpa berpikir lagi mengambil flask, memegang, tahu dimana saya harus melabeli dan menuangkan media. 
Saya tidak suka melakukan itu, tapi tetap kulakukan.
Saya harus membiasakan diri memakai pipet ukuran 10 µl, 20 µl, 200 µl dan 1000 µl, dan mengingat ukuran tip yang sesuai dengannya. Pernah dengan hati kecut, aku memutar mutar pipet, mencari volume yang diinginkan, di depan pengawasan asisten supervisor dan kemudian salah. Kau bisa bayangkan apa jadinya bila volume yang dimasukkan salah? Bencana. Itu bila hanya 1 langkah, bila yang dikerjakan adalah serangkaian prosedur yang harus beberapa kali jalan? Ah perlu beberapa hari untuk mengulangi lagi. Untung di sini tak peduli berapa kau habiskan media dan alat-alat habis pakai lainnya. Saya juga pernah salah tip, ukuran 20 tapi menjodohkannya dengan tips ukuran 10, bukan hanya pernah, berkali-kali dulu.
Kebegoan demi kebegoan yang menghantam kepercayaan diri terjun bebas sampai ke jurang.
Tangan dan kepala sepertinya belum terbiasa memegang, mengoperasikan alat-alat itu. Terlalu bermacam-macam, terkadang terlalu canggih, dan mungkin terlalu dangkal dasar ketrampilan laboratorium saya.
Saya sungguh tak suka melakukan itu semua, tapi tetap kulakukan.
Dulu, saya langsung dibenturkan dengan setumpuk metode, form healthy safety dan butuh kepala ekstra rasanya untuk tahu apa maksudnya. Disodori materi ilmu tingkat dewa yang baru saja  saya dengar saat menginjakkan kaki di lab ini. Saya menciut, kecil, hilang.
Pagi hari saat melangkah ke lab, seperti menuju tempat yang penuh kecemasan, lelah, karena harus melakukan hal-hal yang sama sekali tak kukuasai. Ilmu bekal dari Indonesia ternyata hanya seujung kuku, mentah di sini.
Kenapa?” satu awalan kata itu, dengan nada suaramu yang masih saja kuingat hingga kini, redakanku.
Kau akan bertahan 1 hari di situ, hari berikutnya, seminggu, sebulan, dan berikutnya kau akan baik-baik saja.” Begitu katamu dulu.
Saya sering diam terpaku saat lab meeting karena tak bisa meraba apa yang tengah mereka diskusikan, merasa terkucil, bego. Tapi bukankah tak ada alasan untuk menyerah?
Saya pernah harus cek ke dokter di bagian occupational health setelah diperiksa bagian healthy safety karena mual dan muntah setelah piket lab membuat larutan virkon. Kadang saya jengah dengan sistem mereka yang terlalu berlebihan. 
Awal saya pulang ke Glasgow juli lalu, pun terjadi insiden yang belum ingin saya bagi pada siapapun kecuali orang tertentu. Walau begitupun, menyerah nampaknya jauh dari pilihan saya kala itu.
First assessment tahun pertama agustus lalu, setelah semua komentar baik-baik saja, tibalah komentar penguji yang bilang projek riset saya tak layak untuk sebuah riset doktoral yang sedemikian rupa menjungkalkan kepercayaan diri saya hampir dalam titik terendah. Tapi toh buat apa saya menyerah?

Dan sore kemarin, terjadi ledakan di lab, dan rekan lab yang terluka terkena lemparan botol kaca dan agar panas, yang salah satunya karena salahku (what can I say, I did the normal procedure but sometimes accident can happen). Rasanya luruh tulang-tulangku, namun mengupayakan untuk tetap berdiri dan hadapi. Kau bisa bayangkan apa yang terjadi setelah kejadian ini, tak usah saya perinci.  Cukuplah tahu bahwa saya sore ini masih di sini, di kursi meja kerja PhD student saya yang artinya saya masih bisa bertahan.
Kadang saya ingin menyerah, tapi semoga takkan pernah.
Suatu saat mungkin kau akan ditempatkan pada titik-titik kejadian dalam hidupmu, saat merasa kau akan di ujung puncak titik keberserahanmu, bahwa apapun yang terjadi, hadapi. Keberserahan, bukan kemenyerahan.
Di akhir tulisan ini saya hanya berkata, terimakasih.

Glasgow 2 November 2012. 4.30 pm.

8 comments:

Herlina Hamid said...

Keep semangat ya mba ^_^..blog nya bagus
-lina-

Siwi Mars Wijayanti said...

hehe siaaaaap mba herlina, terimakasih sudah mampir baca :)

Mariam Ariffin said...

I also have a problem with my real time pcr, really stressfull. Never give up. we can do it. all the best to you.

Siwi Mars Wijayanti said...

yeaaah..semangat Mariam, we will finish it well :)
thanks..all the best for you too

Arian Sahidi said...

begitulah kehidupan, kadang pernah saya berada di posisi dimana menyerah sepertinya pilihan terindah, namun akhirnya saya percaya, dalam kondisi apa pun, Tuhan selalu ada, mengingatkan dengan caranya yang kadang tidak pernah bisa kita pahami (mendadak serius) #logout

lupita said...

tulisanmu menguatkan, jempoooooooooooooollll :)

"bagaimana pun hidup kedepan, saya hny pny satu cara HADAPI"

*terimakasih mbak siwi :)

Siwi Mars Wijayanti said...

@arian : nggih, pak guruuuu :)
@lupi : ehehe iyaaah sama-sama lupiii...semangaaat yaaa..cari bapak kura2-nya #eh

Harga Helm Terbaru said...

terima kasih atas tulisannya, membuat aku semakin semangatt.. :)
Harga Helm Terbaru dan Termurah

Post a Comment