Thursday, 15 November 2012

Melupa



Mungkin ada kalanya pada suatu waktu dalam hidupmu, terasa semuanya serba tak benar...kenapa kejadian-kejadian yang tidak menyenangkan serasa begitu bekerjasama datang beriringan pada saat yang bersamaan, atau setidaknya bergantian satu demi satu dengan sempurnanya mempengaruhi hidupmu?
Pernahkah?
Saya, minggu-minggu yang lalu mengalami hal seperti itu sampai akhirnya alarm berkedip-kedip menyadari bahwa, I NEED TO DO SOMETHING!!
Kejadian kecelakaan lab, lalu ibu supervisor saya meninggal hingga ia harus pulang ke negara asalnya selama 1 minggu yang pastinya akan menunda beberapa urusan, tiket kepulangan juga dipastikan terus tertunda karena hal itu. Lalu disusul nenek dari salah satu mahasiswa post doc yang membimbing saya meninggal, sehingga ia juga harus off seminggu, jadilah saya kehilangan pegangan di lab. Kerja lab saya juga turut bekerjasama  karena tidak juga berhasil setelah beberapa kali percobaan. Presentasi riset di hadapan seluruh staff jurusan waktunya semakin mendekat sementara kepala saya disfungsi. Hati saya juga dilanda ketergantungan akut pada seseorang yang menjadikan saya sering “disfungsi”.
Jiwa saya tidak sehat, lelah, itu alarm yang akhirnya saya sadari.
Akhirnya saya pulang ke flat dari lab, makan kemudian dengan sengaja membuka lagi file sebuah film/video yang biasa saya nonton bila kondisi lagi drop. Saya baru ingat bahwa terakhir kali saya menontonnya tahun lalu dan kini kutonton lagi. Ada kalanya pemahaman dan pertumbuhan diri seseorang sudah sampai  pada titik tertentu, tapi hidup sanggup membuat kita melupa. Hidup sering berlari-lari, dengan kejadian demi kejadian tiada henti. Mungkin memang kadang jeda diperlukan agar kita mampu menengoki apa yang yang telah terjadi, hingga hidup tak kehilangan esensi. Bukankah engkau hidup bukan hanya menghabiskan waktu,  hanya sekedar menghabiskan hari, berganti dari matahari terbit, melewatkan sampai ia  tenggelam dan terbit lagi. Bukankah hidup bukan hanya sekedar itu?
Selepas menonton film/video tersebut, entah mengapa dengan ajaibnya saya kembali dilingkupi aura positif. Baru sadar bahwa saya mungkin terlalu banyak menarik energi negatif hingga banyak kejadian negatif justru yang datang menghampiri. Law of attraction selalu bekeja entah kita sadar atau tidak, paham atau tidak. Kejadian-kejadian yang secara sempurna tertata berkolaborasi membuat hidup saya serasa tidak menyenangkan. Yang pastinya bukan “hidup saya” seperti biasanya.
Ah, ternyata saya melupa.
Saya melupa bahwa apapun kondisinya, saya hanya cukup merubah cara pandang saya akan hidup. Cukup dengan memusatkan pikiran pada hal-hal positif, reduksi yang negatif. Yeaah saya akui dengan hidup yang sekarang tidak semudah dulu, kala hidup lebih sering berwajah tenang dan bersahaja. Hidup sekarang lebih banyak distraksi yang saling merebut mengobrak abrik warna hari. Tapi bukankah hidup terus mengalir berubah sesuai dengan tahap, jatah dan tatarannya masing-masing?
Ah, saya hanya cukup belajar lebih banyak bersyukur. Lebih belajar menerima hidup, bahwa di sekitar saya sungguh banyak sekali kelimpahan yang diberikan Tuhan.
Saya tidak memang bisa dan tidak harus merubah keadaan apapun di luar saya. Saya cukup merubah cara pandang saya. Saya bersyukur masih bisa hidup dengan udara bersih, tinggal di flat yang tenang, bisa masak dan makan dengan berkecukupan, tanpa perlu khawatir tentang basic needs. Bayangkan mungkin masih banyak orang di luar sana yang hari demi hari berpikir bagaimana caranya untuk bertahan hidup. Bukankah hal itu cukup alasan menjadi untuk bersyukur?
Saya punya kegiatan positif yang harus dilakukan, walau tak sepenuhnya menyenangkan, tapi tak semua orang punya kesempatan seperti kesempatan yang saya dapatkan sekarang yakni belajar di luar negeri. Bukankah bersyukur terasa lebih menyenangkan dan menenangkan daripada mengeluhkan bila ada kesulitan atau hal-hal yang tak seperti mauku?
Saya masih punya waktu untuk menulis dan  list-list project menulis banyak menanti yang membuat hidup saya terasa menyenangkan dan bermakna untuk terus dijalani. Bukankah cukup menjadi alasan untuk saya melakukan hal-hal yang bermanfaat untuk orang lain? Entah melalui tulisan atau kontribusi saya di bidang ilmu pengetahuan. Kalian bukan hanya hidup untuk kalian dan orang-orang terdekat kalian saja bukan?
Lalu saya masih punya sahabat-sahabat terkasih yang selalu ada di samping saya. Entah saya baik-baik, entah saya begitu menyebalkan, mereka tetap ada di sana, bertukar cerita walau entah dalam canda atau airmata. Betapa saya harus bersyukur apalagi kemarin saya mendengar cerita sahabat bahwa temannya curhat betapa ia kecewa karena setelah ia berupaya berbuat baik pada orang lain, tapi ia tak mendapat sahabat seperti yang ia inginkan.
Sedangkan saya, begini adanya, tak perlu berpura-pura baik, tak juga sungkan bila harus terlihat menyebalkan, begitu juga sahabat-sahabat lingkaran dalam (inner circle) saya bersikap demikian juga pada saya. Ah, kenapa saya bisa melupa akan banyak dan berlimpahnya kasih Tuhan pada saya?
Saya juga mempunyai keluarga yang selalu mendukung saya baik dengan kata atau dengan doa. Yang selalu menentramkan untuk “pulang”. Menjadikan alasan-alasan kenapa saya harus bertahan terus melalukan banyak hal yang semoga bermanfaat. Cukup menjadi alasan untuk membuat saya melakukan hal untuk membahagiakan mereka. Tuhan memberi saya begitu banyak karunia, saya hanya melupa.
Saya juga mempunyai kamu, kamu ada dan baik-baik saja, cukup buat saya. Ada banyak airmata bila saya mengeluhkan, tapi akan akan banyak senyuman dan cinta bila saya menerima apapun keadaannya.
Tuhan maha baik, tak perlu menyangsikan kemampuanNya untuk membuat hidup kita semua terasa luar biasa.
Bila kau, kalian melupa seperti saya, mari bersama-sama mengingat lagi. Sederhana, tapi membuat hidupmu terasa luar biasa.
There’s no too good to be true. Kalian bisa menciptakan banyak hal luar biasa, dengan menarik hal-hal yang luar biasa untuk terjadi dalam hidup kalian. Semoga hidup selalu dengan kelimpahan dan berkah Tuhan.

Salam cinta dari Glasgow.
15 Nov 2012






6 comments:

Arian Sahidi said...

i'm wondering the title of that movie :)

Siwi Mars Wijayanti said...

hehe rahasia ;p

fardelynhacky said...

Jiaaah..pakek rahasia pula.
*sebenarnya pengen komen kayak di atas, udah keduluan :P

Siwi Mars Wijayanti said...

hahaha memang judule rahasia kok mba, "The Secret" pas ditonton kala energi lagi kedip kedip low tuh. Tapi memang tak semua-nya bisa ditelan mentah-mentah, maklum pemikiran barat. Ada bahasa-bahasa yang harus kita pilah, ada banyak hal yang mungkin mereka maksudkan "Tuhan" tp dgn bahasa yang berbeda. Ada banyak pro dan kontra, yg kontra bilang "aliran sesat" ahaha kenapa si yang ambil yg positifnya, reduksi yang negatif? law of attraction, kalian akan menarik apapun yang kalian pikirkan...ayooo pikirin yg baik2, yg ganteng#eh, yg luar biasa...
monggo di search filmnya..:)

Arian Sahidi said...

langsung cari ke toko sepeda, ah..kali aja disana ada The Secret lol

Siwi Mars Wijayanti said...

ahaha ke toko sepeda siap2 kencan sama Faraj yah #eh ;p

Post a Comment