Monday, 14 January 2013

Habibie-Ainun : Semacam Review ;p




Jujur saja saya tidak terlalu maniak nonton film, jarang update nonton film-film terbaru. Tapi tetap penasaran dengan riuh rendah pemberitaan tentang film Habibie-Ainun yang katanya fenomenal itu. Maka demi mengobati rasa penasaran saya, saya akhirnya nonton film ini bersama sahabat baik saya di Ambarukmo Plaza, Jogya minggu lalu. Untuk mendapat tiketpun kami terpaksa mundur ke jam tayang 15.30 karena jam tayang 13.55 sudah penuh.  Yaah lumayanlah ditinggal minum di foodcourt sambil ngobrol dan mampir di Batik Keris, beli batik peta Indonesia. Niatnya tahun ini saya mau beli/buat sebuah rumah, dan sebuah rumah itu bisa diawali dengan menyicil hiasan dindingnya LOL #abaikan.
Sebelum nonton film ini, saya terpengaruh oleh komentar teman-teman yang telah menonton film ini, dengan pesan “hati-hati, mesti nangis-nangis deh,” begitu kata mereka.
Oke, saya bersiap-siap untuk sebuah film yang bakal penuh drama ehehe. Hingga  nonton sepanjang film sampai akhir film, lalu melangkah keluar gedung, saya masih mikir. Eh dimana nangis-nangisnya? Kok hambar ya.
            “ Mba, dimana nangis-nangisnya? Hayoo nangis po ra (nangis atau tidak)?” tanyaku pada mba nuk, teman yang mengajakku nonton itu. Pertanyaan klarifikasi, siapa tau syaraf romantis dan dramatisku konslet. Soalnya dari awal sampai akhir enggak nangis sama sekali.
            “ Sekali tok. Pas Habibie mengunjungi hanggar pesawat dan sudah sepi senyap. Sedihnya sebenarnya negeri ini mampu kok hebat, tapi nyatanya seperti itu,” jawabnya sambil melangkah menuju parkiran.
            Ah  sama, di bagian itu juga saya tersentuh, tapi enggak sampai mewek. Jadi kami berdua tersentuh bukan di bagian kisah cintanya Habibie-Ainun tapi di sisi nasionalismenya.
“Untungnya enggak mekso suamiku buat nonton bareng, lah wong biasa wae (untung enggak memaksa suaminya untuk nonton film ini karena ternyata biasa saja),” imbuhnya.
 Ah lega, ternyata saya enggak konslet-konslet amat. Karena menurut saya, ceritanya biasa, terkesan plain dan scene demi scene-nya enggak teramu sehingga mampu menimbulkan efek WOW. Bagi saya, film tersebut lebih terlihat seperti film sejarah yang dibungkus dengan baik, dibandingkan sebuah kisah cinta romantis. Beberapa scene memang lumayan mengesankan, seperti saat Habibie mengejek Ainun saat mereka masih sama-sama sekolah :
            “ Ainun, kamu gendut, item, jelek”
Atau saat Habibie melamar Ainun di becak. Itu lumayan okelah. Selebihnya saya lebih tertarik memperhatikan cerita sejarahnya dibandingkan cerita cintanya. Humm sejenis cerita cinta yang hampir dipunyai setiap orang, dan terlalu lurus, kurang romantika hingga terkesan plain, datar. Yah wajar saja, karena ini kisah nyata, jadi mungkin sulit bagi penulis skenarionya untuk memodifikasi cerita. Film ini seperti kisah happily ever after yang terlalu sempurna, malah jadinya datar. Untuk sisi sejarahnya, saya pun memaklumi kisah ini pun main aman dengan tidak terlalu banyak menyinggung isu-isu yang berbahaya. Padahal nyatanya cerita reformasi, mundurnya presiden soeharto pasti banyak untold storynya.
Film ini mengisahkan cerita seorang Habibie yang ingin mengabdikan dirinya untuk kemajuan negerinya, bahwa ada banyak cara untuk mencintai negeri ini. Bagi Habibie, cita-citanya bagi negeri ini yakni membuat pesawat terbang untuk menghubungkan wilayah Indonesia yang berpulau-pula. Dibumbui dengan kisah cintanya dengan Ainun yang terus setia mendampinginya sekolah di Jerman, menjadi menteri, wakil presiden dan akhirnya menjadi presiden, walau diakhiri dengan kisah sedih kematiannya akibat kanker. Reza Rahardian merupakan poin utama yang menjadikan film ini layak ditonton karena aktingnya yang boleh dinilai luar biasa. Ia sanggup memerankan Habibie dengan sangat baik, benar-benar melakukan studi detail bagaimana pak Habibie berbicara, berjalan, tertawa dan keseluruhan gerak geriknya berhasil diperankannya dengan jempolan. Sedangkan Bunga Citra Lestari lumayanlah memerankan Ainun. Sayangnya film ini banyak dijejali iklan-iklan produk #hadeeeeh...plus make up artis-nya yang kurang oke, misalnya saja BCL kayak muda terus, padahal anak-anaknya sudah dewasa. Enggak ada kerutan ataupun make-up yang menyesuaikan usianya. Hummm...
Tapi overall, enggak rugilah nonton film ini. Walau ternyata enggak sebagus yang diharapkan, pinter juga nih marketing filmnya ehehe bisa membuat orang-orang heboh nonton film ini. Kalau film 5 cm memang ke luar ruangan habis nonton berasa semriwing, tapi keluar nonton Habibie-Ainun efeknya biasa saja. Tapi bagaimanapun saya menghargai karya anak negeri.
Oh ya, satu lagi..original sountracknya saya suka.....

 cinta kita melukiskan sejarah
 Menggelarkan cerita penuh suka cita
 Sehingga siapa pun insan Tuhan
 Pasti tahu cinta kita sejati

Bikin berasa...dudududu...#abaikan ahaha

Purwokerto, 14 Januari 2013. 22.58 dengan badan yang sudah lumayan enakan setelah dipekso2 mandi air anget. Nampaknya saya dan hujan sudah mulai tak berjodoh #nggreges. Malah curcol LOL.#abaikan.

7 comments:

fardelynhacky said...

Pengen nonton juga film ini. nunggu versi youtube-nya aja deh, karna di Aceh gak ada bioskop, hehee..

Siwi Mars Wijayanti said...

hehe tunggu saja mba, biasanya di youtube ada. oh baru tahu kalau di aceh enggak ada bioskop..

lupita said...

biasa tapi bagus #abaikan :P

Siwi Mars Wijayanti said...

ahahaha dasaaaar lupiii ;p

nor basid a prasetya said...

Lupi dah mulai mirip mars tuh, dah dicicil dari nulis #abaikan...hihihi...

Siwi Mars Wijayanti said...

ekekek biasalah fans itu biasanya mengikuti jejak artisnyaaa, hihi sombong ah #abaikan

lupita said...

*cengarcengir :p #abaikan hihiihhi...

Post a Comment