Saturday, 2 February 2013

Detik Terakhir



Sore ini udara Kota Solo terasa gerah. Mendung menggelayut tapi tak kunjung hujan. Air hujan selayaknya air mata yang tertahan pada pelupuk mata. Menunggu tertumpahkan.
            “ Mas, bisa pinjam jaketmu?” tanyaku. Masih dalam langkah kaki menyusuri jalan menuju Terminal Tirtonadi. Berharap jalanan memperpanjang dirinya agar kami bisa berjalan bersama semakin lama.
“Adek sakit?” tanyamu. Langkahmu terhenti, lalu memandangku dengan gurat kecemasan yang sulit kau sembunyikan. Mukaku pasti pucat. Yang sebenarnya memucat karena mengetahui detik yang tersisa bersamamu  hanya tinggal sedikit.
Seandainya tak pernah ada kata pergi.
Aku hanya menggelengkan kepala, tersenyum. Lalu segera melapisi tubuhku dengan jaketmu, hatiku menghangat.
Detik berlarian. Hatiku beringsut, gundah.
Bukankah ritual pergi telah sering kualami berkali-kali? Kenapa masih saja hatiku menggamang. Seakan tak pernah rela melepasmu pergi.
Kami telah sampai ke Terminal Tirtonadi, berdiri di antara puluhan orang yang tengah sibuk dengan rasa datang dan pergi.
Terminal, Bandara, Stasiun adalah tempat-tempat dimana manusia-manusia melepas dan menyambut. Tempat –tempat itu begitu akrab dengan pertemuan dan perpisahan. Awal dari kebersamaan ataupun ketidakbersamaan. Ada cium tangan, apa pelukan melepas orang-orang terkasih, ada lambaian dengan harap semoga Tuhan dengan waktuNya mempertemukan kita kembali. Dan aku, tempat-tempat seperti itu adalah tempat saat jiwaku turut menghilang separuh, terbawa bersamamu yang melangkah pergi meninggalkanku, namun turut membawa hatiku pergi.
Seperti saat ini, di tempat duduk ruang tunggu menunggu bus yang akan membawamu pergi. Seperti malaikat maut.
            “ Kenapa sih dek? Sedih ya mas mau pergi?” tanyamu mengamati wajahku. Mungkin kau menyadari binar di mataku makin meredup seiring detik yang terus berlarian, menyisakan waktu yang semakin sedikit tersisa.
Aku tersenyum, ada getir yang pias pada senyumanku.
            “ Enggaklah, mas kan sudah sering pergi. Sudah biasa begini,” begitu jawabku, sambil merapatkan jaketmu ke tubuhku. Ingin hangatmu selalu ada dalam diriku. Selalu.
Kau mengusap-usap rambut panjangku perlahan, kemudian terdiam. Apakah kau juga ingin memperpanjang waktu, mas? tanya hatiku. Tak tahu.
Jam dinding besar di terminal sudah menunjukkan jam 18.45 malam, lima belas menit lagi waktu yang tersisa. Kupandangi engkau lagi seperti memandangimu terakhir kali. Betapa sering aku dianugerahi momen seperti ini.
Manusia bisa memandang orang lain seperti biasa, bahwa nanti akan bertemu lagi. Siang nanti, malam nanti, esok, atau paling beberapa jam mendatang. Mereka tak mengalami apa yang kurasai, memandangi seseorang seperti terakhir kali akan melihatnya. Karena ke depan adalah ketidakpastian. Kapan bisa bertemu engkau lagi? hanya berharap Tuhan dan waktu akan berbaik hati.
Waktu kali ini berbaik hati. Petugas bus menghampiri para penumpang yang tengah menunggu bis menuju Surabaya bahwa bis pada jadwal 19.00 tak bisa dioperasikan. Kami harus menunggu bis pukul 20.00 malam. Hatiku tersenyum, perpanjangan waktu. Berarti masih tersisa sekitar 3600 detik lagi bersamamu.
            “ Adek pulang saja ya, udah malem. Biar mas tunggu bis-nya satu jam lagi. Mas carikan taksi ya?” tanyamu. Dengan wajah lelah karena seharian menantangi hari.
Aku menggelengkan kepala. Waktu sudah berbaik hati, bagaimana mungkin aku pergi sebelum kau pergi.
            “ Tapi adek lagi nggak enak badan, nanti malah sakit?” ucapmu dengan nada khawatir yang sulit kau sembunyikan.
Aku tersenyum, menyakinkan bahwa aku baik-baik saja. Walau menunggu saat jiwaku akan tinggal separuh dibawa pergi bersamamu.
Di kejauhan, kembali terlihat ritual melepas dan menyambut bergantian di depan mata. Senyuman ataupun air mata yang tertahan. Hujan turun perlahan, airmata di pelupuk langit akhirnya turun ke bumi. Dalam rintik-rintiknya yang membawakan rindu yang gagu. Tak terucap. Bagaimana mungkin seseorang bisa rindu bahkan dengan orang yang masih ada di sampingnya, bersamanya, di dekatnya. Tapi itu aku. Aku telah merinduimu sebelum kau pergi lagi.
            Dan engkau, seperti biasanya mulai meracau lagi dengan kalimat-kalimatmu yang selalu sanggup menerbitkan senyumku. Aku khawatir bila suatu saat engkau berhenti membadut di depanku. Tingkah badutmu yang sanggup membuat tangisku bercampur tawa dalam satu waktu. Bersamamu selalu membuat detik waktu serasa cepat sekali berlalu. Seharusnya engkau melakukan perjanjian dulu dengan waktu sebelum kau bertemu denganku. Mengapa setiap kali denganmu, waktu berlari terburu-buru.
            “ Bis nya sudah datang dek,” katamu pada akhirnya, Malaikat maut datang merebutmu dariku. Senyumku menghilang sejenak. Tapi sedetik kemudian kuterbitkan lagi, karena aku ingin kau melihatku terakhir kali dengan senyuman, walau dengan air mata yang tertahan.
            “ Hati-hati ya mas” kataku. Maksudku hati-hati menjaga hati dan jiwaku yang kau bawa pergi. Kau tahu itu walau tak terucap.
 Kucium tanganmu dan kau melangkah pergi. Dalam setiap langkah yang membuat hatiku luruh, menyadari bahwa jiwaku telah hilang separuh. Kupandangi punggungmu pergi, sampai menghilang naik ke atas bus. Dan tetap kupandangi bis itu sampai akhirnya ia bergerak perlahan meninggalkanku yang tetap berdiri mematung.
Kau pergi, seperti ritual yang kita jalani berkali-kali. Seharusnya hatiku terbiasa dengan ini. Seharusnya aku bersyukur, mungkin tak semua orang pernah mengalami, betapa sempit waktu hingga betapa berharga sebuah kebersamaan. Bila sepasang manusia lainnya yang saling mencinta diberikan jatah waktu sekian lama untuk bersama, tapi kita harus bersyukur dengan jatah waktu yang kita punya. Karena dengan begini, aku bisa mencintaimu sampai detik terakhir. Detik terakhir yang diberikan oleh Tuhan dan waktu.
Aku masih berdiri mematung walau beberapa detik bis yang membawamu pergi meninggalkanku.
Hpku bergetar. Namamu ada di layar, lalu sedetik kemudian suaramu terdengar.
Kita selalu sanggup memperpanjang waktu. Sampai detik terakhir.

Usap air matamu
Dekap erat tubuhku
Tatap aku sepuas hatimu

Nikmati detik demi detik
yang mungkin kita tak bisa rasakan lagi
Hirup aroma tubuhku
yang mungkin tak bisa lagi tenangkan gundahmu
Gundahmu...
(Detik Terakhir, Lyla)




(Sebuah Flash Fiction = karya fiksi yang sangat singkat).

Ndalem Pogung, Jogya. 2 February 2013. 12. 19.

0 comments:

Post a Comment