Monday, 25 February 2013

Let The World Surprise You




Hujan  masih menderas, perciknya hampir sampai di ujung-ujung jari kakiku. Teras rumah saudara ini sepi, hanya aku dan orkestra suara hujan. Sepi tentu saja, karena pemilik rumahnya, Budhe Mami sekeluarga tengah arisan keluarga dilanjutkan acara 40 harian almarhum simbah putri di rumahku. Tapi justru aku yang berada di sini. Karena setengah jam yang lalu, dengan tanpa pikir panjang, aku segera mengemasi sampel-sampelku (RNA dari isolasi serum pasien DBD) dari kulkas rumah dan  menempatkannya ke cooler box, lalu segera melakukan aksi penyelamatan.
Pet! Di tengah-tengah acara kumpul arisan keluarga listrik tiba-tiba mati. Ah, Tuhan mau becanda lagi, begitu pikirku. Sampel-sampel yang harus disimpan dalam kulkas dengan suhu -20 C itupun harus kuselamatkan. Dan di tengah rintik hujan saya melarikan  motor cepat-cepat ke rumah saudara. Dan Alhamdulillah listrik menyala dan sampelku kutempatkan di freezer kulkas.
Sampel itu se-nomaden saya. Asalnya dari RS Margono (Purwokerto), saya bawa ke Laboratorium Mikrobiologi UGM, Jogya dan kemarin saya bawa ke rumah di Kebumen, untuk besok pagi saya bawa ke Loka Litbang Banjarnegara. Sampel itu nampaknya sudah bisa menyesuaikan diri dengan saya, yang nomaden tak tentu. Besok saya pindah lab ke Banjarnegara, pun tak tahu akan tinggal dimana, apa akan balik ke Purwokerto atau bisa ada tempat tinggal di sana sehingga saya bisa beberapa hari mengerjakan sampel. Hidup saya memang tak tentu.
            “ Lihat nanti bagaimana” itu yang sering saya ucapkan pada hati saya.
 Saya tumbuh hampir dengan ritme hidup seperti ini. Saya sendiri heran, ada apa dengan semesta yang gemar bercanda dengan saya. Kalau saya sedang sadar, maka dengan senyum lalu dalam hati saya berkata : Humm mau mainan lagi kan? Let’s Play!!
Hidup saya sering ada dalam situasi dan kondisi ekstrim, tak tentu, tak pasti. Seperti juga katamu suatu kali :
“ Bersamamu, penuh kejutan, ketidakpastian, Hidup ke depan tak bisa tertebak akan terjadi seperti apa,”
Saya memang tipikal orang yang nabrak-nabrak, nggak well prepared, nggak well organized. Tapi saya punya keyakinan yang sulit saya jelaskan, bahwa semuanya akan baik-baik saja. Semuanya akan berakhir baik, kalau belum baik-baik saja, berarti belum berakhir. Kemarin-kemarin saya berpikir, jangan-jangan saya memang mencandui rasa kejut itu, rasa ada dalam keadaan ekstrim, rasa ketika adrenalin terpacu? Mungkinkah saya mencandui rasa itu? Entahlah, mungkin juga begitu.
Namun terkadang, saya tak tega bila harus melibatkan orang-orang tercinta saya dalam keadaan-keadaan ekstrim. Orang tua saya paham benar ritme hidup saya, sehingga lama-lama merasa agak terbiasa. Pasti dikasih susah susah dulu, trus entar di kasih jalan, kata ibuku.
 Tapi kadang, sungguh tak tega juga. Rasanya pengen bilanng “ Bolehlah becandaan sama saya, nggak papa mau main-main kayak apa juga. Tapi jangan bawa-bawa orang-orang tercinta saya, apalagi orangtua huhu”
Seperti kala dalam taksi mengejar waktu menuju bandara saat sampai kembali ke Glasgow akhir Juni tahun lalu. Waktu yang sempit sementara jalanan macet. Cemas, terburu-buru, kesal, berbagai rasa campur aduk jadi satu. Padahal sebelumnya rencana sudah tersusun manis, karena berangkat dengan mobil pribadi jadi bisa pergi lebih awal ke bandara. Namun, semesta kembali bercanda, pak supir bilang bahwa ada sesuatu di stir-nya yang harus diperbaiki, katanya sangat berbahaya bila tidak segera diperbaiki. Maka dari subuh pak supir dan adik saya sudah ke bengkel untuk mereparasinya. Sampai waktunya hendak ke bandara, posisi mobil sudah selesai diperbaiki tapi butuh waktu untuk menuju tempat saya berada. Sedangkan waktu semakin sempit. Maka dengan taksilah akhirnya saya, ibu, bapak dan paklik saya ke bandara. Dan terjebak di kemacetan jakarta saat jam pulang kerja kantor.
Saya tahu ibu saya sudah menangis di sebelah kiri saya, sementara bapak terlihat sangat cemas sambil tak berhentinya berdoa. Di titik itulah, saya merasa, “ Saya lebih memilih rela membeli tiket pesawat dengan uang saya sendiri bila memang terlambat daripada melihat ibu dan bapak saya menghadapi situasi yang semacam ini.” Saya diam saja, tak menangis, berdoa dalam hati, walau cemas tak bisa terpungkiri. Tapi dalam pikir saya, sudah berderet rencana bila akhirnya telat. Saya akan membeli tiket pesawat dengan uang sendiri dan berangkat besok. Tak apa, semuanya akan baik-baik saja.
Tapi memang semesta pintar bercanda. Supir taksi yang kami tumpangi begitu gesit menerobos kemacetan dan berhasil mencapai bandara walau waktu check-in sudah mepet. Tak sempat bicara apa–apa, saya hanya berpamitan, cium tangan dan memeluk mereka sebentar, lalu segera lari untuk check in. Jenis perpisahan apa macam begitu?
Dan candaan semesta belum berakhir. Saya penumpang terakhir yang check-in dan saat bagasi saya ditimbang, eh pake over bagasi. Saat saya menanyakan biaya kelebihan bagasi, si mas petugas KLM itu menjawab dibayar sekitar 800 ribu. Secepat kilat saya berpikir, isinya nggak sampai duit segitu, sayang kalau harus bayar sejumlah uang tersebut.
            Oke mas, saya bongkar sebentar, “ lalu saya akan menggeser posisi koper saya ke belakang untuk saya bongkar dan memilah kembali barang yang akan saya buang atau saya masukkan.
            “ di sini aja mbak, udah mepet waktunya, mba-nya penumpang terakhir yang belum masuk” kata si mas petugasnya.
Akhirnya saya membongkar koper saya di depan counter check-in KLM. Bagian permukaan kebetulan memang buku-buku dan kertas. Buku lab saya yg tebal, saya pikir akan memberatkan bagian yang masih kosongnya. Maka dengan heroik (heroik? Mungkin lebih tepatnya dengan penuh frustasi ahaha) saya sobek bagian halaman-halaman yang masih kosong dan hanya menyisakan bagian yang saya butuhkan. Si mas petugas KLM itu tiba-tiba mendekati saya :
            “ Buku ya mba? Nggak ada yang bisa ditinggal?” tanya si mas itu dengan nada empati. Dia melemparkan pandangan mengamati koper saya. Memang nampak buku dan file-file berkas penelitian.
            “ Iya mas, buku-buku untuk studi saya, “ jawabku sambil terus berpikir keras mana barang yang harus saya tinggal”
            “ Gini aja mba, bawa aja semuanya. Anggap saja saya menolong anak negeri sekolah. Beresin aja lagi. Waktunya udah mepet” kata si mas tadi itu,
Eyaaaa...semesta becanda lagi kan? Kenapa enggak dari tadi dikasih masuk aja? Pakai saya harus melakukan aksi heroik sobek menyobek segala. Dan akhirnya dua koper saya masuk dengan mulus dengan dianggap “tidak over bagasi”.
Itu cuma sedikit contoh kecil betapa semesta hobi banget becandaan dengan saya. Sampai perjalanan riset inipun, bila dituliskan pasti bisa berhalaman-halaman.
Kadang lelah, iya. Kadang mengeluh, pasti. Kadang mewek, uhmm..iyalah. Tapi saya ingin belajar menganggap itu semua sebagai anugerah. Tuhan begitu murah hati memberikan banyak sekali kejutan-kejutan dalam hidup saya. Dan saya ingin membiarkan kejutan dan keajaiban-keajaiban terjadi dalam hidup saya. Bukankah tidak ada satu hari-pun berjalan dengan ritme yang sama?
Saya kembali diingatkan akan anugerah hidup dalam kekinian. Bila terbangun di pagi hari, saat kita dihidupkan kembali. Apakah kita merasa sebuah hidup yang baru? Anugerah Tuhan berupa waktuNya. Sinar matahari pertama di pagi hari tak pernah seharipun yang sama, senyuman penjual gudeg, sapaan tukang parkir, ataupun interaksi kita dengan orang-orang yang selibat dalam hidup kita. Setiap detik hidup tak pernah berlangsung sama persis bukan?. Keajaiban terjadi dimana-mana, asal kita mau mengijinkannya terjadi. Termasuk senyummu, candaanmu, dan segala tingkah ajaibmu. Jangan-jangan kau berkonspirasi dengan semesta? Ahaha.
Dan saya kini, di tengah segala kenomaden-an, segala ketidakpastian keadaaan, tapi cukup dengan satu keyakinkan  saya. Selama saya bersama Tuhan, tak ada yang perlu terlalu dikhawatirkan dalam hidup kan?
Saya cukup melakukan yang terbaik, dan Tuhan akan menata semuanya untuk saya. Dan sampai sekarang, Tuhan tidak pernah gagal mengejutkan saya dengan semua rencana dan ketentuanNya.
Selamat merayakan hidup kawanku, Let the world surprise you!

*di akhir tulisan saya mengingat semesta dan motor saya yang berkonspirasi dengan tiba-tiba kempes ban saat itu. Sepertinya kamu harus mulai terbiasa dicandai semesta, termasuk ndorong-ndorong motor kempes saya ;p

Teras rumah saudara yang sepi, bersama sisa hujan. Masih menunggui sampel saya. 24 februari 2013. 15.11.

0 comments:

Post a Comment