Sunday, 3 February 2013

Meet With Tasaro GK


Poster tentang bedah buku “Kinanthi” itu hanya kulihat di laman Fbnya mas Tasaro GK, dan saat kulihat tanggal dan waktunya sepertinya memungkinkan untuk datang. Mengapa tidak? Kapan lagi? mumpung aku di Jogya dengan akses dan kesempatan untuk datang ke acara-acara macam begini yang relatif lebih banyak dibanding Purwokerto. Walau sendirian, tak ada teman, bukan alasan untuk melewatkan kesempatan.
Taufik Saptoto Rohadi, itu nama asliya. Tapi disingkat dengan Tasaro, dan GK adalah singkatan dari asal tempat lahirnya Gunung Kidul.
Belum terlalu banyak orang mengenalnya, tapi kiprahnya di dunia kepenulisan sudah cukup lama walau usianya masih muda. Awal saya membaca buku “Galaksi Kinanthi” karyanya, bukan karena saya kenal siapa itu Tasaro GK. Beda dengan pilihan saya mengambil buku “Rectoverso” di pajangan buku Togamas misalnya, saya kenal siapa dan bagaimana tulisan Dee (Dewi Lestari) yang boleh dijadikan jaminan seperti apa karya-karyanya. Saat saya memutuskan membeli buku Galaksi Kinanthi, saya hanya membaca Judul, Cover belakang dan bab awal buku itu yang kebetulan ada buku yang sudah terbuka. Membacai bab awal satu halaman saja cukup membuat saya tak pikir panjang untuk membeli buku tersebut. Dan pilihan saya jarang salah #pede. Saya langsung jatuh cinta dengan tulisan-tulisannya. Magis.
Dia sanggup mengolah kata, menempatkan diksi dengan baik, mencipta alur sedemikian rupa sehingga pembaca terbawa dalam setiap barisan tulisannya. Deskripsinya sudah kelas wahid, sedang aura romantisnya jarang sekali dibentuk dari pilihan kata yang romantis, tapi sanggup mencuri hati dengan caranya yang magis.
            “ Coba perhatikan baris puisi-nya Sapadi, “Aku ingin mencintaimu dengan sederhana  dengan kata yang tak sempat diucapkan  kayu kepada api yang menjadikannya abu”.  Mana ada kata romantis dalam barisan kalimat itu? Hampir tidak ada, tapi puisi itu dikutip dan dihapal oleh ribuan orang yang tengah jatuh cinta,” begitu ujar mas Tasaro pada saat acara berlangsung.
Acara berlangsung dengan hangat di Djendelo Cafe, lantai 2 Togamas Jogya tanggal 31 Januari lalu. Mas Tasaro pembawaannya sederhana, ramah dan kocak. Dengan penampilan khasnya yang selalu memakai topi yang sedikit dimiringkan. Pemandu acara banyak menanyakan soal buku Kinanthi yang sekarang terbit lagi dengan “jiwa baru” dari Galaksi Kinanthi menjadi “Kinanthi Terlahir Kembali”. Memang berganti penerbit dari Salamadani ke Bentang Pustaka. Buku ini  merupakan modifikasi dari kisah nyata seorang TKW di amerika yang akhirnya menuai sukses di negeri paman sam itu. Kisah berbau women trafficking, kisah perjuangan TKW yang kemudian sukses setelah disekolah oleh negara, dibumbui dengan kisah romantis yang agung antara Kinanthi dan Ajuj. Beberapa orang maju sebagai volunter untuk “reading” beberapa baris kalimat di buku tersebut,
Entah mengapa saya menyukai baris-baris di bawah ini, seperti juga mas Tasaro juga memilih baris ini ketika pemandu acara memintanya untuk “reading”.
Begini cara kerja sesuatu yang engkau sebut cinta,
Engkau bertemu seseorang, lalu perlahan-lahan merasa nyaman berada di sekitarnya. Jika dia dekat, engkau akan merasa utuh, dan terbelah ketika dia menjauh. Keindahan adalah ketika engkau merasa dia memperhatikanmu tanpa engkau tahu. Sewaktu kemenyerahan itu meringkusmu, mendengar namanya disebut pun menggigilkan akalmu. Engkau mulai tersenyum dan menangis tanpa mau disebut gila.
Banyak hal yang bisa dijadikan masukan dan pelajaran tentang menulis, tentu saja karena dasar jurnalistiknya mas Tasaro mumpuni. Dia tumbuh dalam dunia jurnalistik dan kepenulisan sehingga secara teoritik dan praktik memang saling bersinergi untuk mencipta seorang karya yang berkelas.
            “ Menulis fiksi itu biasanya bersumberkan tiga hal, pengalaman, referensi dan imaginasi,” ujarnya saat menuturkan ilmu-ilmu menulis, namun tetap disisipi guyonan hangat.

Saat acara berlangsung

Saat memasuki sesi tanya jawab, entah saking semangatnya saya menjadi penanya pertama di antara beberapa penanya lainnya. Saya duduk di lesehan baris depan sehingga nyaman untuk berinteraksi langsung dengan penulis. Kesempatan langka, kupikir. Kapan lagi bisa “ngangsu kawruh”  langsung dari narasumbernya. Tiga pertanyaan saya dijawab dengan panjang lebar, disusul dengan pertanyaan-pertanyaan dari peserta berikutnya. Sampai pula pada pertanyaan tentang siapa yang menginspirasinya menulis tokoh seperti Kinanthi. Sebelum dia menjawab, terlihat ia menarik nafas panjang, lalu wajah penuh senyum dan canda kocaknya sekilas berganti. Matanya tersaput embun, lalu berkaca-kaca.
            “ Aduuuh kenapa ada yang nanya begitu. Jawabnya saya bisa nangis-nangis,” begitu katanya. Dan detik selanjutnya ia menjelaskan bahwa yang menginspirasinya menulis tokoh Kinanthi adalah ibunya yang telah meninggal karena stroke setahun yang lalu. Ibunya yang sampai meninggal masih menulis, dan telah membimbingnya menjadi seorang penulis sekaligus ayah dari Senandhika Himada.
            “ Udah-udah nggak usah diterusin, ntar bisa nangis beneran.” Katanya sambil mencoba menguasai dirinya kembali. Nampak matanya masih berkaca-kaca.
Lalu tibalah jua pada pertanyaan.
            “ Kenapa harus tema ketidakbersamaan? Kisah Kinanthi dan Ajuj, yang saling mencintai dalam ketidakbersamaan? Apakah ini adalah isu universal yang banyak sekali dialami manusia di bumi,” begitu kira-kira pertanyaannya.
Tasaro tersenyum sesaat lalu, menjawab.
            “ Suka atau tidak, manusia memuja kisah-kisah ketidakbersamaan. Romeo-Juliet. Layla-Majnun, karena justru bagian itulah yang paling emosional, menguras air mata dan membuat manusia mengerti arti mencintai. Manusia terkadang butuh kehilangan, butuh ketidakbersamaan  untuk menemukan keindahan mencintai dengan tulus. Mencintai adalah satu perkara, dan memiliki adalah suatu perkara yang lain.” Jawab Tasaro.
            “ ah salah siapa pertanyaannya dalem, jawabnya juga dalem,” lanjut Tasaro dengan setengah bercanda.
Seperti sebuah bait kalimat dalam Galaksi Kinanthi :
"Dalam kehidupan nyata, kebersatuan cinta tidak selalu berarti saling memiliki bertemu dalam satu titik. Bahkan terkadang dua orang yg saling mengasihi sepenuh hati, saling menjaga dalam keterpisahan. Ketidakbersamaan.
Lalu ada kata-katanya yang sungguh membekas di kepala saya,
            “ Cinta ya cinta. Boleh menghuni kepala, hati. Ada tempatnya sendiri. Tapi cinta tidak boleh membuat kita lemah, apapun dan bagaimanapun cinta seharusnya menguatkan, dan harus membuat kita harus bersemangat dalam berkarya,” begitu ujarnya.
Ah, seni manajemen cinta seperti itulah yang sedang saya ingin pelajari. Cinta, The Law of Levitation, not the Law of Gravitation. Menerbangkan bukan menjatuhkan.
Ah, tak terasa waktu bedah bukunya sudah hampir habis. Penulis yang juga menulis trilogi Muhammad dan Nibiru ini terasa begitu menikmati interaksinya dengan para pembacanya. Terasa dekat dan sederhana tapi sarat ilmu.
Sebelum acara usai, penyelenggara bagi-bagi doorprize buku bagi yang udah “reading”, yang ngetweet yang gokil dan dari bagi yang sudah bertanya. Dan saya cukup beruntung mendapat doorprize buku sebagai penanya pertama. Asik, saya mendapat buku “Kisah Inspiratif Kick Andy”. 

Kisah Inspiratif Kick Andy adalah hadiah bukunya, sedang Rectoverso-nya Dee dan Muhammad
Para Pengeja Hujan itu buku yang saya beli seusai acara.

Lalu terakhir, acara ditutup dengan book signing. Sayapun segera menghampiri mas Tasaro untuk memintanya membubuhkan tanda tangan pada buku saya yang sudah saya beli akhir tahun lalu. Saya antrean kedua, setelah Tasaro membubuhkan tanda tangan pada orang sebelum saya. Tiba giliran saya,
            “ Namanya Siwi yah?” tanyanya. Pasti Mas Tasaro masih mengingat nama saya saat bertanya tadi. Saya mengangguk mengiyakan. Dia melihat saya sekilas, lalu menuliskan sesuatu dan tanda tangan di buku saya. Kemudian tak lupa saya meminta foto bareng dengan beliau. Alhamdulillah dapat ilmu, dapat buku, dapat tanda tangan dan foto bareng. What a wonderful night kan?

Foto Bareng Mas Tasaro GK

Dan saat saya benar-benar melihat lagi tulisan di halaman pertama buku itu, tertulis disitu :

To Siwi : “Mencintai Seperti Kinanthi”

Ini Tulisan dan Tanda Tangannya di buku saya

Ah, saya tersenyum membacai kalimat tersebut. Tadinya saya berpikir bahwa kalimat tersebut dituliskan sama pada semua buku yang ditandatanganinya. Tapi saya keliru, setelah melihat page Tasaro GK dengan tag beberapa halaman buku yang ditandatanganinya malam itu, ada yang bertuliskan “maturnuwun” dan sebagainya.
Baiklah, semoga saja, saya bisa mencintai seperti Kinanthi, dengan ketulusan yang membuat waktupun bertekuk lutut. Masih terus mencintai, mengasihi baik dalam ketidakbersamaan maupun kebersamaan. Semoga.

Dengan jiwa yang segar saya melangkah ke parkiran, menanti jemputan adik saya. Lalu terlihat mas Tasaro bersama kru-pun meninggalkan Togamas, dan saat melihat saya di parkiran, dia kembali menyapa,
            “ Makasih ya Mba Siwi,” sapanya dengan ramah.
Pribadi yang menyenangkan. Semoga sukses dengan tulisan-tulisannya yang mendatang. Saya pasti akan menanti karya-karyamu berikutnya.
Salam Pena. Salam Kata.


Ndalem Pogung, Jogya 4 Februari 0.49 am. Tengah malam di Jogya. Jogya yang terasa begitu tenang dan hangat.

 

6 comments:

nor basid a prasetya said...

Waahh...how lucky you are mars...ketemu tasaro GK, interaksi langsung, dpt buku, dpt ttd, dpt pengalaman juga...mantab banget...so..selamat berkarya...kami pun menanti karya2 mu ;)

Siwi Mars Wijayanti said...

ehehe iya dong jelas, aku kan orang yang beruntung hihi #dilempar sendal ;p
hiyaaap siyap laksanakan, tengkiu untuk supportnya :)

nor basid a prasetya said...

Tengkiu thok ora cukup, kudune ya dengan makan2 juga...hihihihihi... #dilempar buku...alhamdulillaahh :p

Siwi Mars Wijayanti said...

ayuk makan-makan..maksudnya aku sing ditraktir to? dua kali? iyaaah siyaaap alhamdulilaaah :) #dilempar senyum ;p

Arian Sahidi said...

nanti sore mau kabur ke gramedia deh, cari bukunya hihi

Arian Sahidi said...

atau saya pinjem aja , ya, ama dirimu #dilempargudeg haha

Post a Comment