Sunday, 17 February 2013

Untuk Lelakiku




Untuk Lelakiku,

Bila engkau berpikir aku bersamamu karena ingin berbahagia selama-lamanya, kau salah. Aku tahu bahagia itu melengkapi peran derita, senang itu sudah berkawan lama dengan susah.
Maka kau akan tahu, aku bersamamu karena ingin merasai hidup dengan utuh. Bahagia, derita, suka, senang, ambruk, bangkit, bukankah semuanya tanpa perlu ditarik ataupun dihindari, akan hadir dalam hidup kita? Aku bersamamu bukan untuk menghindari derita, nestapa, susah, air mata atau masa-masa sulit. Tapi aku bersamamu, untuk menghadapi semuanya.

Jingga di bahumu. Malam di depanmu. Dan bulan siaga sinari langkahmu. Teruslah berjalan. Teruslah melangkah. Kutahu kau tahu. Aku ada. (Aku Ada, Rectoverso).

Kalau kau mengira harus berbaik-baik terus agar aku terus bersamamu, mungkin saja kau keliru. Sampai kapan waktu akan pintar menyembunyikan masing-masing kita yang sesungguhnya? Kita membuka selapis-demi selapis diri kita seiring waktu dan kejadian, dibungkus kebersamaan. Karena bersamamu, aku menjadi diriku sendiri.

If you love someone, you have to embrace the whole package, right? Love the person as is.
For me, a perfect chocolate bar should be bitter sweet, and certainly not all bitter, for then you lose all the fun. We’re like dark chocolate bar where you can have four at once without getting jittery (Grow a day older-Rectoverso)

Aku bersamamu juga bukan karena memilih sebuah jalan yang mudah, karena jalan apapun ingin kulewati bersamamu. Entah dalam kuatmu, rapuhku, jatuhmu, tegarku, lalu mengapa gentar menghadapi setiap jalan asal kita masih bersisih-an?
Melewati fase limerence, Blending, Nesting, Self-Affirming, Collaborating, Adapting, Renewing.
Suatu saat ketika, kau bilang kau suka nasi goreng, tapi aku tak begitu suka, tapi aku tetap ingin memasak untukmu dan menemanimu makan.
Suatu ketika, saat pekerjaan mencumbumu lebih mesra dariku. Dan aku akan menyambutmu pulang tetap dengan senyum yang sama.
Suatu ketika, saat masakanku kepedesan, keasinan atau tak enak. Dan kau tak perlu lagi berpura-pura suka, tapi tetap menghabiskannya.
Suatu saat, ketika aku mungkin terlalu sibuk dengan dengan naskah-naskah tulisanku. Mungkin kau akan pura-pura marah, tapi tetap membuatkan secangkir teh manis hangat yang kau letakkan di meja.
Suatu saat, ketika masing-masing kita berdua begitu menyebalkan  dengan ego masing-masing. Mari kita berdoa pada Tuhan dan waktu, agar kita bisa bertumbuh untuk bisa saling mengkompromikan.
Dunia kita yang mungkin berbeda, tapi cinta kita sama.

Seribu jalan-pun kunanti bila berdua dengan dirimu..(Saat Bahagiaku-Ungu-Andien)

Mungkin akan ada marah, ada emosi, apalagi air mata, tapi juga ada maaf dan penerimaan. Lalu adakah yang lebih indah daripada sebuah cinta yang utuh?
Aku bersamamu karena ingin merasai cinta yang utuh. Bukankah menggelikan bila seseorang mencintai seseorang lainnya dengan berharap dibawakan hanya kebahagiaan seperti sesajen? Dilayani dan terus diberi seperti tuan putri.
Cinta mungkin memberi, walau mungkin memberi tanpa diketahui, membiarkan semesta menyimpankannya pada perputaran waktu, siang dan malam. Lalu kenapa harus gentar akan sakit dan airmata kalau engkau sudah memutuskan berani mencinta?

Bukan Cinta Jika Tak Meneteskan Airmata Karena Sedih Luar Biasa Atau Bahagia Tak Terhingga (Platic Heaven-Hilbram Dunar)

Kita kini dengan mesra, malu-malu saling bertukar tanya, Kapan kau pertama kali menyukaiku?
Ah, sepertinya cinta itu semacam konspirasi semesta. dan Tuhan sedang bercanda dengan kita.
Tapi mungkin nanti, mesra kita adalah aroma obat gosok dan pijitanku di bahumu yang renta. Lalu mengingatkanmu betapa gemas dirimu melihat rambutku diikat dua seperti ekor kuda saat remaja, saat nanti ingatmu sudah mulai melupa.

Lelakiku, aku mencintaimu, bersamamu, karena kamu itu kamu.

“Karena hati tidak perlu memilih, ia selalu tahu kemana harus berlabuh” (Perahu Kertas 2)


Ndalem Pogung, Jogya. 17 Feb 2013. 22.59 dalam dekap Jogya yang hangat.

7 comments:

Arian Sahidi said...

pagi2 baca ini, jadi galau haha keren :)

Siwi Mars Wijayanti said...

wakakak, ini tulisan romantis dengan kata-kata yang sama sekali nggak romantis. Udah nggak jaman pake diksi berbunga2, udah tua (dewasa-red). Tapi kalau baca ulang saya lumer lagi #narsis sama tulisan sendiri ;p

Suryati Arifatul Laili said...

Untuk Lelakiku,
Bila engkau berpikir aku bersamamu karena ingin berbahagia selama-lamanya, kau salah. Aku tahu bahagia itu melengkapi peran derita, senang itu sudah berkawan lama dengan susah.
Maka kau akan tahu, aku bersamamu karena ingin merasai hidup dengan utuh. Bahagia, derita, suka, senang, ambruk, bangkit, bukankah semuanya tanpa perlu ditarik ataupun dihindari, akan hadir dalam hidup kita? Aku bersamamu bukan untuk menghindari derita, nestapa, susah, air mata atau masa-masa sulit. Tapi aku bersamamu, untuk menghadapi semuanya.

(Bahasa lugasnya: "Cinta Mati" saya tak peduli apapun... yang saya tahu saya hanya mencintaimu itu saja... ! :p) tapi jangan kelamaan membuta jeng... kalau ada yg bilang cinta tak harus memiliki itu b*lsh*t cinta kalau tak memiliki hasilnya merana seumur hidup... :D
(Bahasaku frankly bgt ya?) hehehe... just wanna see you happier :D

Siwi Mars Wijayanti said...

in the end, life is our own choice :)

shelly septiana said...

Ijin copy ya

Siwi Mars said...

@shelly septiana : silahkan tapi tetap sebutkan sumbernya ya. terimakasih

Delfiana Ramsy aku cuma punya hati said...

Ijin copy mba ya ☺

Post a Comment