Sunday, 31 March 2013

The Last Battle




Pandangannya menelitik ke arahku. Meneliti perubahan-perubahan yang terjadi padaku setelah lama kami tak bertemu. Mas Dias kemudian tersenyum.
            “You’ve changed a lot, El. Perempuan sekali kau sekarang,” katanya sambil terus mengamatiku. Aku yang datang menemuinya dengan rok lebar berwarna merah pastel yang lembut, dipadu dengan atasan berenda dengan jilbab senada. Musim semi tengah mengakrabi Birmingham, coat tebal mulai sering ditanggalkan.
Aku tersenyum. Sambil juga mengamati raut mukanya yang terakhir kali kutemui dua tahun lalu,  saat kami terlibat bersama-sama dalam sebuah pendirian sekolah Alam di daerah pinggiran kota Bandung. Tak banyak berubah, selain tubuhnya yang lebih tegap dan jambang yang mulai menumbuhi janggutnya.
            “ Yeah, dunia terus berubah. Juga kadar hormon estrogenku. “ kilahku. Kami berdua sudah terbiasa dengan perbincangan ala kosakata kami sendiri. Dan secara otomatis kami berdua saling paham apa yang hendak disampaikan.
            “ Cantik sekali, El,” jarang dia memujiku seterus terang itu. Aku kembali tersenyum, dan aku melihatnya memandangi mataku. Entah bermakna apa.
            “ He changed you a lot, right?” Tanyanya kemudian, kemudian tangannya memainkan tali kamera Sony Nex 7 yang super seksi itu. Mas Dias mulai terlihat tidak nyaman dengan mengalihkan perhatian dengan bermain-main dengan kameranya itu, sepertinya dia tak suka dengan pertanyaan yang baru saja ia lontarkan.
            “ Siapa sih manusia yang begitu powerfulnya bisa mengubah seseorang, Mas? Enggaklah. Dia nggak merubahku. Aku yang berubah, ya mungkin setelah bersamanya. Semacam triger, pemicu barangkali. Oh ya, katanya kau sudah bertunangan Mas, congrats ya. Siapa nih  perempuan yang beruntung itu?” tanyaku mengalihkan pembicaraan.
Dia berhenti memainkan tali kamera kesayangannya itu setelah mendengar pertanyaanku. Lalu matanya mencari mataku lagi.
            “Mungkin kamu kali ini bersedia menjadi perempuan yang beruntung itu, El?” tanyanya dengan matanya yang lurus-lurus memandangku. Aku agak merasa jengah dibuatnya.
            “ Come on Mas Dias, I knew you. Kamu nggak akan segila itu, ehehe” candaku mencoba mencairkan suasana. Lalu kemudian kami tertawa bersama, namun ada garis pias yang tertangkap di wajahnya. Lalu dia buru-buru menyesap kopi yang dipesannya.
Pertemuan tadi malam di Cafe Amore, sebuah sudut kota Birmingham itu berlanjut dengan ngobrol seperti reunian dua sahabat yang lama tak bertemu. Dua sahabat? Tidak bisa murni dibilang sahabat. Semenjak Mas Dias menyatakan ingin membangun sebuah hubungan serius denganku sekitar dua tahun lalu. Tapi dulu aku menjawabnya, menjadi sahabat nampaknya lebih menyehatkan bagi kami.
            “ Mas, aku merasa lebih nyaman jadi sahabat aja. Kita terlalu mirip. Laju kita nanti akan sangat terprediksi. Kita butuh ruang, dan butuh orang yang menantangi kita untuk terus bertumbuh, bukan?” jawabku kala itu. Sebenarnya hal itu untuk menambahkan alasan bahwa aku memang tidak mengalami loncatan-loncatan reaksi kimia apapun bila bersama Mas Dias.
Dan kedatangan Mas Dias ke Birmingham selama dua hari ini dengan alasan mampir dari konferensinya di London, untuk menanyakan kembali untuk terakhir kalinya kesediaanku mendampinginya. Dan itu dilakukannya setelah dia sudah memutuskan bertunangan dengan Arina, teman sekantornya di LSM tempat kerjanya di Jakarta. Kenapa laki-laki seperti Mas Dias bisa mengambil langkah segila itu?
            “ El, this is my last battle, my last chance. Kau tidak tau selama ini aku selalu terus mengikuti lajumu? I knew everything’bout you. Termasuk keputusan konyolmu untuk bertahan dengan lelaki yang nggak pasti itu.” Kali ini Mas Dias memaksa kembali bertemu di sela-sela jadwal makan siangku. Sudah setahun ini aku bekerja sebagai auditor di KPMG cabang Birmingham, dan hidupku baik-baik saja. Aku hanya kontak dengan Mas Dias beberapa kali saja via skype. Mungkin dia stalking membacai blogku, kicauanku di twitter atau racauanku di facebook. Jejaring dan media sosial membuat dunia begitu sempit.
            “Elia, you don’t have much time anymore. Kamu bukan lagi perempuan yang banyak waktu lagi untuk memilih. Kita masih bisa sama-sama, so would you?” Nada dalam perkataan Mas Dias kali ini terdengar lebih menyudutkanku.
Aku memandangi raut mukanya lagi. Aku sangat mengenali laki-laki yang ada di hadapanku ini. Kami lama bersama-sama, bertumbuh bersama, tapi itu bukan cinta. Bila otak logikaku yang banyak bicara, atau rayuan teman-reman untuk menerima saja lamarannya, pastilah sudah semenjak dulu kami bersama. Tapi mengapa ia tak juga mengerti, hingga harus terbang sebegini jauhnya, untuk menanyakan kembali pertanyaan yang sama kepadaku.
            “ Mas, aku hidup sampai hari ini artinya waktu masih memberi kesempatan padaku. Maukah kau kupilih karena aku merasa sudah tak punya banyak waktu lagi? “ aku ingin memberinya jeda dengan kalimat yang kuucapkan perlahan.
            “ Kita bisa hidup bersama dengan baik, aku percaya itu. Tapi aku ingin berbagi hidup mas, bukan hanya berbagi rutinitas dan keseharian. Kamu lihat aku sekarang Mas? Bila kau bilang kau mengikuti laju hidupku selama ini, kau pasti tahu bagaimana pertumbuhanku sampai sekarang. Bukan kamu nggak cukup baik untuk aku, Mas. Cuma kita butuh seseorang yang mampu mengimbangi dan memacu laju kita masing-masing. Dan kita bukan seseorang yang pas satu sama lainnya,” jawabku. Semoga ia paham maksudku.
            “ Jadi benar, dia si lelaki secangkir teh hangat manis itu? Kamu masih tetap mau lelaki biasa aja yang bisa kamu ajak ngobrol sampai lupa waktu sambil minum teh manis hangat?” kali ini entah mengapa ketegangan di raut mukanya mencair.
Aku tergelak, lalu tersenyum. Aku mengangguk kecil.
            “ Ngobrol itu maksudnya “berbagi hidup” tapi tetap menikmati rutinitas hidup seperti halnya minum teh hangat manis. Sok filosofis ya aku,” ungkapku.
            “That’s you, El. That’s makes you different. Well, trus kamu begini mau sampai kapan? Ini seperti bukan kamu yang pakai logika dalam mengambil keputusan.” Telisiknya, sambil mencari-cari jawab pada mataku.
            “ You did your last battle. Aku juga ingin begitu, Mas. I will do my last battle. Biarkan aku memutuskan kali ini berdasarkan...semacam firasat.. pertanda barangkali.” Jawabku, sambil ragu memilih kata-kata yang tepat.
            “ Kamu gila El, gimana ntar kalau firasat atau pertanda kamu itu ternyata salah?” sergahnya. Tangan kanannya memperbaiki letak kaca mata minusnya.
            “ Ya terima kenyataan kalau aku salah lah, Mas. Bukankah hidup juga tentang belajar menerima? “ jawabku singkat. Sebenarnya kalimat itu juga menjawab keraguan pada hatiku sendiri. Mas Dias tersenyum padaku. Dia sedang belajar hal yang sama pada detik terakhir setelah kalimatku terucap. ***

Flash Fiction—
Ndalem Pogung, Jogya 1 April 2013. 1.34. am. Ampun deh ini kepala kalau udah mau nulis, enggak mau tidur kalau belum kelar jugaaa...baiklah, saatnya zzzz.



Memberi Spasi, Mengada Jeda




Jogya disapu gerimis rintis, kami berdua duduk berhadapan sambil menikmati secangkir kopi di Starbuck, Amplas Jogya. Malam sudah beranjak naik. Sahabatku kali ini dengan pesanan double espresso, sedangkan aku dengan secangkir coffee latte vanilla. Kami bertemu lagi di Jogya setelah hampir 6 tahun tak bertemu, semenjak kelulusan studi master kami di UGM. Dan kini kami sering melewatkan waktu bersama, makan, nonton atau hanya sekedar nongkrong minum kopi dan ngobrol.
            “ Kamu banyak sekali berubah sejak 6 tahun lalu,” kata-kata ini beberapa kali terucap darinya semenjak kami dipertemukan kembali.
            “Yang jelas enggak jutek lagi, ahaha,” begitu tawanya renyah, lalu disesapnya double espressonya lagi.
Iyah, saya banyak berubah. Saya menyadari perubahan-perubahan yang terjadi dalam diri saya. Dan pula mengetahui hal-hal apa, peristiwa apa dan siapa yang memicu perubahan dalam diri saya.
Dia sendiri bagi saya tidak terlalu banyak berubah, terkecuali bahwa sekarang dia telah berubah menjadi seorang ibu dari seorang putri cantik yang sangat hiperaktif. Namun ada beberapa hal yang kutemukan dalam dirinya, yang dulu saat kami studi bersama-sama tak pernah muncul di permukaan. Kami sekarang bisa melihat lebih dalam, bukan lagi teman permukaan.
Kami ngobrol kesana kemari, dari karier, spiritualitas, sampai obsesi-obsesi pribadi. Obrolan-obrolan yang dulu hampir tak pernah menjadi opsi saat kami kuliah dulu. Karena dulu kami paling-paling membicarakan tentang kuliah, tugas, ataupun penelitian. Tapi sekarang kami bicara soal hidup.
            “ Sepertinya saya telat menyadari, saya telat bangun” katanya. Hidupnya terbilang sempurna. Karirnya sebagai dokter dan dosen tergolong bagus walau belum bisa dibilang luar biasa, jodohpun ditemukannya dengan mulus lalu mempunyai seorang buah hati yang cantik.
            “ So, you’ve a perfect life, right?” godaku. Dia tersenyum.
            “ May be, tapi ada sesuatu yang belum terpenuhi. Pas ngobrol sama kamu, saya baru menyadari itu. Tapi sepertinya saya telat menyadarinya.” Ucapnya lagi.
Saya tersenyum, menimpalinya bahwa tidak ada yang yang terlambat. Saya pun bila harus menengok beberapa teman saya yang jauh lebih muda, dan sudah menyadari tentang hal ini, kadang merasa iri. Iri dalam artian positif, tapi kemudian menyadari bahwa dalam perjalanan, ritme dan jalur-jalur hidup manusia sudah ada kecepatannya masing-masing. Dengan suatu alasan tertentu pastinya.
Saya merasa beruntung telah menemukan jalur perjalanan saya sendiri. Dan ingin terus berjalan, berlari terkadang, namun tetap ingin mengambil jeda agar menyadari sampai dimana perjalanan saya.
Manusia butuh sesuatu selain kebutuhan bahwa hidup berjalan baik-baik saja. Butuh kemaknaan yang lebih dalam untuk mengerti sebenarnya untuk apa sih hal-hal yang dilakukannya dalam 24 jam sehari, kemudian hidup berganti minggu, berganti bulan dan tahun?. Ataukah engkau suatu saat akan menemukan dirimu tersesat ataupun hilang? Apa yang engkau mau? Apa yang ingin engkau capai? Lalu untuk apa itu semua? Apa sebenarnya mau Tuhan dalam peranmu sebagai manusia? Siapa sebenarnya engkau? Apa yang membuatmu merasa “penuh”? apa kontribusimu pada semesta?
Apa kalian pikir sederetan pertanyaanku tadi begitu absurb? Namun saya yakin suatu saat engkau akan tiba pada pertanyaan-pertanyaan itu.  Kalian punya pekerjaan, rutinitas, suami, pacar, atau istri, keluarga, untuk apa? Punya rumah, mobil atau apapun yang kalian inginkan. Apakah masih ada yang terasa kosong dalam jiwamu? Siapa tau dirimu jarang-jarang engkau bincangi.
Apakah engkau menyibukkan diri dengan berbagai aktivitasmu, bekerja setengah mati, atau kemudian bersenang-senang sampai lupa diri? Lalu sebenarnya untuk apa engkau jalani itu semua?
Ah, saya terlalu banyak bertanya.
Tapi engkau tak bisa memindai hidupmu sendiri bila engkau terus menerus berlarian tiada henti. Seperti huruf-huruf yang berlarian kuketik inipun tidak akan mempunyai arti bila tak ada spasi.

Seindah apa pun huruf terukir, dapatkah ia bermakna apabila tidak ada jeda? Dapatkah ia dimengerti jika tidak ada spasi? (Spasi, Dee).

Apa yang Dee maksudkan adalah bagaimana hidup bermakna apabila tidak ada jeda untuk menyadari maknanya? Apakah hidup bisa dimengerti esensinya jika tidak ada spasi? Maka bincangilah dirimu. Bincangi! Jangan biarkan dia menjadi asing bagi dirimu sendiri. Jangan biarkan ia kesepian di pojokan tanpa pernah engkau tanyai, engkau bincangi, engkau perangi, kau damai.
Saya kini tahu alasan-alasan saya melakukan banyak hal dalam hidup. Termasuk mengapa saya sering sekali menulis tentang tema ini dalam blog saya. Dan saat saya mendengar beberapa orang berkata :
            “ Tulisanmu menampar saya, dan membangunkan saya. Terimakasih ya,” kata seorang sahabat.
            “ Aku hutang energi, hutang keberanian dalam tulisan-tulisanmu” kata seorang lagi. Beberapa orang-orang tak dikenal yang membaca tulisan-tulisan saya, baik lewat blog atau lewat buku-buku saya sering mengirimkan pesan pada saya. Ada juga yang meminta saya untuk menulis dalan bahasa Inggris agar bukan hanya orang Indonesia yang bisa membacainya, tapi nulis dalam bahasa inggris sekarang ini masih menjadi pekerjaan yang susah untuk saya. Suatu saat nanti, semoga.
Kenapa saya seringkali meracau lewat tulisan-tulisan saya? Karena saya menulis juga untuk mengingatkan diri saya sendiri, memindai gerak hidup saya.
Karena saya juga berharap tulisan saya bisa dibaca orang-orang, karena dalam hidup nyata saya hanya bisa berinteraksi dengan sebatas orang yang hadir secara langsung dalam hidup saya. Tapi lewat tulisan, saya bisa menghampiri orang di sudut-sudut Cafe di Barcelona, atau di sebuah daerah di Nusa Tenggara, meja belajar mahasiswa saya, atau di pedalaman kalimantan sekalipun.
Dan dengan menulispun, secara otomatis saya mengambil jeda. Memberi jejak lagi dalam hidup saya.
Selamat sore dari Jogyakarta !
 

Ndalem Pogung, 31 Maret 2013. 17.29.

Travelling//Perjalanan

                                         

  “ The World is a book and those who do not travel read only one page” (St. Augustine)

Perjalanan, jalan-jalan bagi saya semenjak dulu bukanlah sebuah ritual untuk gengsi-gengsian belaka. Bahwa saya bisa kesana kemari, seperti halnya orang-orang yang mulai menjadikan travelling sebagai lifestyle sampai ke arah gaya-gayaan.
Bagi saya, jalan-jalan lebih bertujuan untuk menyegarkan kembali jiwa yang terkadang penat oleh rutinitas. Seperti kata Mei kepada Tansen di tepian Pantai Bali di film Madre :
“ Hidup perlu keseimbangan. Selain mencari ombak tertinggi, pantai, kebebasan. Di sisi lain engkau butuh keseimbangan, sebuah tanggung jawab, pekerjaan, komitmen, agar hidupmu terasa lebih berharga.” Kata Mei dengan paras moleknya yang diperankan Laura Basuki.
Saya punya rutininitas dengan tanggung jawab dan pekerjaan yang terkadang menghanyutkan saya ke dalam alirannya yang bila tidak diberi jeda, akan membuat tiba-tiba tersadar dalam alirannya yang entah kemana. Dan jalan-jalan memberikan kesempatan saya untuk mengambil jeda, menyegarkan kembali jiwa.
Manusia bukan hanya membutuhkan makanan raga, tapi juga makanan jiwa. Namun terkadang kita melewatkannya. Itulah mengapa saya menyukai jalan-jalan, menjelajah tempat-tempat baru, bertemu orang-orang baru, mengenali cara hidup berbagai macam orang. Membacai duniaNya.
Itulah mengapa sejak dulu saya punya impian untuk keliling dunia, lebih spesifiknya Eropa. Maka dari dulu saya “keukeh” untuk membidik Eropa sebagai tempat studi saya, dengan harapan di sela-selanya saya bisa mewujudkan impian saya tersebut. Maka bila dulu beberapa teman mengiming-imingi untuk studi di Aussie dengan segala kemudahannya, saya menggelengkan kepala. Saya tetap dengan misi tersembunyi saya untuk jalan-jalan ke Eropa dan sekitarnya ehehe.
Kali ini saya menyadari, menginjak tahun kedua studi PhD saya di Glasgow, saya belum banyak menjelajah. Pertama, karena energi saya hampir tersedot terutama untuk studi saya yang terasa paling “sesuatu banget” dibanding jenjang-jenjang pendidikan yang saya tempuh sebelumnya. Kedua, Adrenalin saya kini sudah agak teredam ahaha. Dengan kata lain, saya memenuhi kebutuhan makanan jiwa saya bukan hanya dari jalan-jalan..tapi juga dari dududududu (nggak jelas ahaha). Adrenalin saya telah diimbangi oleh oksitosin.
Tapi sepertinya sayang bila sudah sampai Eropa namun belum menjelajah. Kapan lagi? Sampai saat ini saya baru mengunjungi beberapa kota di UK, dan sangat minim untuk mengamati kehidupan orang-orang di sana yang sebenarnya.
            Memangnya sebagian besar orang Glasgow kerja apa sih?” tanya pacar sahabat saya yang beberapa hari lalu berkunjung bersama sahabat saya. Aih, saya ngertinya dikit-dikit doang, memalukan!
Maka, saya kini berencana untuk memaksimalkan waktu ehehe untuk studi dan juga untuk jalan-jalan. Paling tidak tiket ke Maroko untuk bulan mei sekembalinya saya ke Glasgow sudah dipesan. Memang belum jadi Eurotrip seperti rencana-rencana sebelumnya bersama the gank saya, karena susahnya menyamakan jadwal free dari urusan akademik.
Jalan-jalan, terkadang engkau akan menemukan sisi dirimu yang sebelumnya tak kau ketahui. Dan satu hal yang paling penting menurut saya, perjalanan membuat saya bertumbuh sebagai manusia. 
Berinteraksi orang yang sangat berbeda dengan orang-orang yang biasa berlarian dalam hidupmu, akan membuatmu belajar banyak. Cara pandang akan hidup juga akan mengembang. Kau akan bertumbuh menjadi manusia yang akan membaca lagi banyak halaman-halaman dunia ini.
Yang jelas simpelnya, jalan-jalan bisa narsis foto-fotoan dengan latar pemandangan atau bangunan yang keren, bukan untuk pamer-pamer posting di Fb atau media sosial lainnya, tapi lebih untuk memuaskan saya diri sendiri. Kadang saya berurusan dengan diri sendiri untuk sebuah pembuktian, sebuah kepuasan jiwa. Saya bisa menikmati tertawa lepas, tersesat, kebingungan, menemukan, dan menikmati bergelombangnya hidup. Bisa bertukar sapa dengan orang-orang asing, menikmati kuliner setempat, dan bisa menyimpankan pengalaman dan cerita saya pada anak cucu#eh.
Ah, saya mungkin memang pecandu adrenalin!


Ndalem Pogung, Jogya. 31 Maret 2013.

Friday, 29 March 2013

Pertanda



Sudah sejak lama saya selalu memperhatikan kejadian-kejadian kebetulan, dan ingin selalu berusaha menyadarinya. Tuhan mungkin berbicara melalui pertanda kejadian kebetulan. Tuhan ingin membincangiku, Tuhan ingin menyampaikan sesuatu padaku, begitu pikirku. Apa saya kemudian menjadi manusia yang terlalu berlebihan mensikapi kejadian kebetulan ini? Mungkin ehehe.
Tapi entah kenapa saya sangat menikmati “permainan” ini. Saya jadi merasa terkoneksi secara nyata dengan Tuhan. Kadang berakhir dengan senyum mengerti akan rencanaNya, kadang geregetan tingkat tinggi, kadang takjub setengah mati, namun kadang juga nggak ngerti sama sekali ahaha. Tapi ini salah satu cara saya merasa terkoneksi denganNya. Seperti ketauhidan manusia yang bisa dicapai dengan melihat alam semesta, dan kejadian-kejadianNya dalam hidup kita bukankah bagian dari alam semesta yang sebenarnya begitu nyata?
Oke, saya meracau lagi ahaha..siapa suruh membacai blog ini LOL.
Beberapa saat lalu saya ke toko buku Gramedia, kemudian menemukan bukunya Paulo Coelho yang berjudul “seperti sungai yang mengalir”. Karena saya sudah punya versi English yang saya beli di Glasgow, saya memang tidak berniat membelinya. Saya hanya ingin membacanya saja karena ternyata memang lebih enak baca dalam bahasa Indonesia ehehe. Lalu asiklah saya dengan posisi bersila di lantai membaca halaman demi halaman. Lalu tibalah pada kalimat : “kenapa manusia harus memakai dasi?”
Eits, waktu membeku di situ, mata saya juga berhenti di tanda tanya itu. Lalu sebuah rekaman terputar di ingatan saya. Dasi! Kata itu mengingatkan saya pada mimpi saya semalam sebelum ke toko buku itu. Cerita di mimpi saya tak begitu jelas, tapi kejadian yang saya ingat yakni saya sedang membuka tas saya, lalu tiba-tiba menemukan sebuah dasi. Dan saya tahu siapa pemilik si dasi ini (dalam versi mimpi saya). Saya mengambil dasi itu, dan berpikir “ umm, dasinya ketinggalan di tas saya”.
Sebelum saya membaca kalimat itu, saya tidak ingat mimpi itu sama sekali dan biasanya memang saya tidak terlalu mengingat-ingat mimpi saya, bunga tidur, pikirku. Tapi begitu saya menemukan kata “dasi” di buku-nya PC, saya teringat mimpi saya itu. Dan kemudian saya meneruskan membaca lagi, dan ow oww..pada bab berikutnya, saya nemu kata Dasi lagi, ih kenapa sih lagi-lagi Dasi? *sok protes.
Dan tiba-tiba, ada orang yang pertama kali saya kenali dari sepatunya yang terlihat di samping saya yang tengah duduk bersila. Saya mendongak, dan orang itu adalah si pemilik dasi dalam mimpi yang dasinya ketinggalan di tas saya.
Trus apa maksudnya? Enggak ngerti ahahaha..
Seperti juga kamis minggu lalu, pas mau ngaji surat Yasin ritual setiap malam jumat, saya membuka Al Qur’an dan mencari-cari halaman awal surat Yasin. Biasanya sudah saya beri penanda dengan kertas lipat agar mudah dicari karena surat itu sering saya baca. Namun malam ini entah mengapa penandanya tak terlihat, biasanya ada di sela-sela helaian Al Qur’an itu. Maka, saya membolak balik beberapa helai halaman untuk mencari penandanya. Lalu ups, ada sehelai kertas berwarna putih kebiruan menyisip di antara helaian halaman Al Qur’an itu. Kuambil dan kuamati kertas kecil tersebut, ternyata sebuah print tiket travel. Kubaca detailnya, aku terhenyak beberapa saat dan entah mengapa tiba-tiba merinding. Mataku menelusuri detail tiket perjalanan itu.
Tujuan : ----- ini kali kedua saya mengunjungi kota itu sejak tahun 2009 lalu.
No.kursi : 4
Nama : SIWI.MS
Telp : -/081327236277 (no hpku masih no lama yang kini telah hangus)
Alm. Jemput : Jl. Riyanto no 5D sumampir (ini alamat kosnya yang lama)
Almt antar : -------ini daerah rumah teman prajab saya, karena saya belum terlalu ngerti kota tujuan saya ini. Dan teman saya ini bersedia ditumpangin dan akan mengantar ke lokasi tujuan saya ke kota tersebut.
Tiket : 70.000 (Rp.)
CS0 : TEGUHPWT
Dan yang paling kuamati yakni tanggal perjalanan itu. Ada di paling atas detail tiket tersebut
Jul 23 2010/7:00 am
Saya rasanya dilempar ke mesin waktu. Tak hentinya saya merinding memegangi tiket itu. Saya langsung ingat untuk apa saya memesan tiket tersebut, dan dahulu saya tidak pernah mengira bila tiket itu, perjalanan itu, akan menjadi salah satu bagian penting dalam hidup saya. Saya memang ahli “sejarah” tapi tak terlalu gila untuk mengoleksi lembar-lembar tiket travel. Saya tidak pernah menyimpan tiket travel. Apalagi saat melakukan perjalanan tersebut, saya tak pernah menyangka bila itu akan menjadi sesuatu yang istimewa.  Semenjak lama saya mencari tahu sebenarnya kapan tanggal pastinya saat itu, setelah tahun-tahun berlalu dan mengingat peristiwa itu sebenarnya adalah saat yang sungguh istimewa dalam hidup saya. Dan tiba-tiba, sebuah tiket travel nyelip di antara helaian Al Qur’an. Well, sebut saja kebetulan bila memang ada kejadian kebetulan di muka bumi ini!
Apa maksudnya ini? Tanyaku dalam hati. Spontanitas otak permainan kebetulan langsung menyerangku. Kenapa musti tiket itu yang terselip di antara helaian Al Qur’an? Dan tiket itu di situ selama bertahun-tahun. Al Qur’an itu saya bawa pulang ke rumah saat saya pergi ke Glasgow, karena terlalu besar dan berat untuk dibawa. Ke Glasgow saya membawa Al Qur’an kecil agar lebih ringan dan ringkas. Dan saat saya pulang dan ngekos di Jogya beberapa bulan ini, saya bawa lagi Al Qur’an tersebut ke Jogya. Lebih dari tiga tahun tiket itu tersembunyi di sana, dan kini menjadi satu-satunya tiket travel yang saya simpan.
Pertanda sesuatukah? Ah saya berlebihan. Mungkin kebetulan saja, mungkin juga tidak. Selain itupun, saya masih menyimpan beberapa pertanyaan yang sedang menunggu jawab. Kadang berakhir dengan jawaban, kadang berakhir dengan pertanyaan itu sendiri, atau kadang mengarahkan saya pada pertanyaan yang lain atau bahkan berakhir tanpa apa-apa. Tapi saya menikmati pertanyaan-pertanyaan saya, proses menunggu, mencari jawab, dan begitulah cara saya menikmati terkoneksi secara nyata dengan Tuhan dalam hidup.
Selamat membacai pertanda, kawanku. Bila kau (mau) percaya. Bila tidak, abaikan saja. Why so serious? Ehehe.
Terimakasih telah membaca racauan saya pagi ini. Selamat pagi!


Ndalem Pogung, Jogya 29 Mar 2013. 10.11.am

Tuesday, 19 March 2013

Cinta di Antara Dua Huruf O


Cerpen ini diterbitkan dalam buku antologi cerpen “Balada Seorang Lengger”. Bernafas tentang pemenuhan diri manusia.

“Tak peduli seberapa banyak energi yang kita capai sendirian. Kekuatan cinta kasih dan ketenangan batin kita baru dapat diuji saat kita berada dalam suatu hubungan. “

***
Riuh rendah kentongan Banyumasan terdengar, tetabuhan yang mengetuk pangkal rasa itu, membuat aku dan dia, larut dalam pesona. Festival kentongan yang digelar berkala, setidaknya mengingatkan manusia-manusianya bahwa leluhurnya dulu pernah mencipta, mencipta budaya yang diturunkan melalui generasi penerusnya. Ini tahun kedua kami bersama, festival kentongan kedua yang kami tonton, dan untuk kali kedua pula kami saling bertukar tanya, bila manusia ditakdirkan mencipta budaya, apakah kau tahu untuk apa?
“Mungkin saja hanya untuk memperturutkan rasa, rasa berbudaya, mempunyai karya, atau sekedar memanusiakan manusia,” kataku setelah festival kentongan itu usai. Kami memesan secangkir kopi panas, mendoan dan jagung bakar sambil “nongkrong” di alun-alun Purwokerto. Memang terlalu banyak untuk porsi selingan setelah makan malam, tapi dingin telah menguras habis cadangan energi kami.
“ Fiuuh, bahasamu selalu saja rumit! Menurutku budaya dicipta untuk memberikan kesenangan, titik.” katanya lugas. Dan bisa diduga sedetik kemudian, aku siap-siap membuka mulut untuk mendebatnya. Sementara itu dia malah tertawa menyeringai, berlagak menantangiku. Begitulah persenyawaan kami berdua. Arya, lelakiku, yang bisa menjadi sahabat untuk berbagi tentang apa saja, menjadi guruku bila harus berurusan dengan ilmu eksakta, musuhku bila harus mendebatnya, kasihku bila aku melihatnya sebagai manusia biasa, dan separuh jiwaku bila harus meninggalkannya. Hingga tak kuasa, setengah tahun lalu kuucapkan selamat tinggal padanya.
“Aku pergi”
***
Edinburgh, September 2010
“Apa kabar  Purwokerto kita? Masih sering berkabut saat pagi butakah? Masih riuh rendah dengan teriakan kernet angkot-angkot mini warna oranye itukah? Aku kangen makan mendoan hangat yang ternyata rasanya tak ada duanya di dunia itu, pengen makan Soto Sokaraja yang mak nyus, atau sekedar nongkrong-nongkrong di Alun-alun Purwokerto sambil menikmati jagung bakar dan ngobrol soal urusan negara sampai soal yang remeh temeh sekalipun. Kapan kita nonton festival kentongan lagi?menyelusup di lapak-lapak Pasar Wage, lalu menawar barang dengan kesadisan tingkat tinggi, atau menyambangi Yu Tarmi yang asyik membatik. Kapan kita jalan kaki menghirupi sejuknya udara Baturraden? membincangi alam disaksikan deburan air Curug Ceheng?telingaku juga sudah rindu mengakrabi lagi bahasa ngapak-ngapak itu. Inyong, koe, kepriben,  dan terlebih lagi, aku merinduimu” eegh ingin rasanya kuberondong dia dengan pertanyaanku, bicara sampai berbusa-busa. Menjadikan waktu diam sejenak dan meringkas jarak.
            Hatiku ngilu mengingat hal itu. Kenangan adalah penjara bagi pikiran yang membututiku kemana-mana. Dan makin lama, ia membuatku kehabisan daya. Memikirkannya hampir membuatku gila, mencemaskannya membuat syaraf-syarafku kehabisan daya impuls. Edinburgh-Purwokerto, dan jarak serta ketidakbersamaan menjadi semakin nyata. Aku kehilangan daya. Apakah sebenarnya dayaku ada pada dayanya? Aku kecanduan. Kecanduan aliran energinya yang membuatku meletup letup seperti bunga api, melesat-lesat selalu bila ia ada bersamaku, dan sebuah persenyawaan yang berubah menjadi tawar bila dia tak ada.
            “ Heiii…nona manis, dicari-cari eeeh.. ngumpet di sini..kamu lagi kenapa sih Kin? kok pucet gitu mukanya? Belum makan?” Tanya Arinda mengagetkanku. Ia sahabat satu flatku. Dengan paduan jaket panjang berwarna hijau tosca dan syal yang berwarna senada, Arinda selalu saja nampak mempesona.
            “ Enggak, pengen nyepi aja. Enak di sini udaranya, sejuk, kayak Purwokerto” jawabku singkat, sambil menggelengkan kepala. Mataku kembali memandangi Kastil Edinburgh yang gigantis di atas bukit itu. Angin musim gugur menciumi syalku, memainkan lagu rindu dalam hatiku. Eeggh, ini rasa paling aneh yang pernah kurasai, mendesak-desak dadaku sampai ngilu.
            “ Hayooo..mesti lagi kangen sama Arya ya? “ tebak Arinda, dan sayangnya tebakannya kali ini tepat.
Aku masih duduk diam mematung, kehabisan daya. Energiku habis untuk merindu. Tugas-tugas kuliah masterku masih belum kusentuh, rasanya otakku ngambek untuk berpikir. Ada paduan rasa resah, harapan yang membuncah serta realita yang tak kuasa kukendalikan. Eghh kemana hilangnya seorang Kinanthi yang selalu cerah ceria, berbinar binar, tertawa renyah, dan canda tawanya yang selalu dirindukan dunia itu? Hilang, ditelan rindu. Rindu yang ditelikung jarak dan waktu, aku tergugu kelu.
            “ Iya nih, aku jadi nggak jelas gini” jawabku singkat. Walau aku tak yakin kata “nggak jelas” bisa mewakili campur aduk rasa yang tengah melandaku kini.
Angin musim gugur berhembus lagi, menerbangkan daun-daun maple yang gugur, dan bersamaan itu aku berharap angin sanggup menerbangkanku untuk pulang sejenak saja. Menjumpai sebagian jiwaku yang terbelah. Menggenapkan diriku yang hilang separuh. Sudah hampir setengah tahun aku melewatkan waktu di Edinburgh, Skotlandia, tempat yang lebih mirip negeri dongeng itu. Kastil-kastil menjulang tinggi di perbukitan, serta langit yang nampak terbentang lebih luas dibandingkan tempat lain di muka bumi ini. Hidup bermil-mil jauhnya dari tanah kelahiran demi kuliah jurnalismeku di University of Edinburgh. Tapi, semakin lama energi mimpi yang membawaku kemari hampir surut habis. Kemana larinya dayaku? Fisikku melemah, sakit, ngilu, kehilangan daya juang, daya karya dan daya hidup.
*Bandara Soetta, 29 April 2010.
            “ Arya, kau tahu..ada beberapa hal dalam hidupku yang layak untuk kuperjuangkan, dan kau adalah salah satunya” sebaris kalimatku terlontar saat waktu terasa hanya menyisakan detiknya yang begitu sedikit bagi kami.
Ia diam, menatapku dalam-dalam, tak bicara. Dan aku sungguh tak dapat menerka apa yang ada dalam hatinya. Ruang, jarak, waktu, mungkin adalah hantu yang selama ini telah menakuti kami sebelum waktunya. Kami benci berpisah, kata yang beberapa bulan sebelum keberangkatanku ke negeri nan jauh itu membuat dadaku sesak. Aku benci pergi, tepatnya aku benci merasa kehilangan, kehilangannya.
            “ Kin..jaga kesehatan ya, salatnya jangan lupa, makannya harus teratur, istirahatnya juga ya,” katanya dengan suara parau. Kenapa suaranya mendadak menjadi parau? Aku ingin menguping apa yang dikatakan hatinya detik itu. Sebentuk rasa kehilangankah? Kenapa aku harus mempertanyakan itu. Apakah hatiku akan sedikit puas bila ia merasa kehilangan? Yang itu berarti bahwa aku berarti baginya?ah..aku egoistis, batinku.
Airmataku menderas, kenapa harus begini, lagi dan lagi. Kenapa aku yang harus terus membalikkan punggung dan meninggalkannya sambil menatapi punggungku sampai di penghujung pandangan matanya?tahukah engkau, hal itu adalah hal terbenci yang harus kulakukan.
            “ Kau kan pergi untuk sebuah alasan yang baik. Rihlah, talabul ngilmi..kenapa harus berat melepasmu pergi?” kalimat itu lamat-lamat kudengar di ujung telpon kala itu. Ia sama sekali tak merasa kehilangan bilaku pergi, yakinku dalam hati. Dan kenapa seperti ada yang tercerabut dalam hatiku. Sepi.
                                                                        ***
Edinburgh, Januari 2011,
            “Yen ing tawang ono lintang cah ayu, Aku ngenteni tekamu”
             Marang mego ing angkoso. Sung takon-ke pawartamu”
Suaranya berjuang  menyeberangi samudra, melintasi tanah-tanah yang jauh, menuju hatiku. Tak peduli suaranya dikacaukan dengan sendatnya jaringan internet, sejenak menghilang, terdengar lagi, dan dikacaukan suara desis angin. Tetap saja tembang yen ing tawang ono lintang-nya itu mengalirkan energi maha dahsyat bagiku.
Hingga tak sadar, mataku bertaburan kaca, sesak rasaku, dan sedetik kemudian air mataku menderas. Kenapa harus begini, dan begini lagi. Kenapa hadirnya, suaranya, ocehan yang tidak jelasnya itu selalu mampu menyembuhkan penyakit gilaku ini. Penyakit kecanduan energi, aih, sampai kapan harus ketergantungan terus padanya?
            Please..contact me at 5 pm waktu purwokerto, need to talk to you soon. Energiku hampir habis..911,” tulisku tadi siang dengan tangan sedikit gemetar di layar skype pada accountnya yang berstatus offline. Begitu, selalu dan selalu. Aku sakaw bila lama ia tak ada. Energiku low berkedip-kedip kayak ultraman kehabisan daya bila lama tak bersamanya. Walau bersama dalam kejauhan, karena batas makna kebersamaan semakin memuai karena teknologi.
             “ Heiii…kok diem, sudah mandi, Kinan?” tanyanya. Kenapa justru pertanyaan seperti itu yang ia lontarkan? Tapi kenapa juga pertanyaan remeh temehnya itu yang selalu kutunggu. Hatiku, otakku, kehilangan intelektualitasannya. Kuseka air mataku, dan menjawabnya.
            “ Dingin tau, mandi itu kan aktivitas fungsional, kulakukan sesuai fungsinya, membersihkan diri, bukan kewajiban mandi dua kali sehari ” kilahku. Uff cobain ke sini, emangnya dia sanggup menahan dingin ?fiuuh..
            “ Aku kan cuma nanya, sudah mandi belum?jawabannya kan sederhana sudah atau belum. Selesai, dan terjawab. Dan aku tau kau pasti belum mandi ehehe,” kudengar tawanya renyah, menyeberangi samudra, menyelusup dalam telinga dan menghangatkan hatiku. Tapi sampai kapan aku mengandalkannya untuk menstabilkan suasana hatiku? Ada yang tidak beres dengan diriku.
            “ Aku kecanduan, aku kecanduan akanmu. Aku tanpamu adalah pribadi yang hilang, yang separuh, kau membuatku nggak jelas” racauku. Nggak jelas, kata lain dari hampa, hilang daya dan karya tanpanya. Aku benci, mengatakan itu. Mungkin dengan kalimatku itu rasa kelelakiannya akan terbang meninggi sampai puncaknya. Menguasaiku, seperti penjara.
            “Masa kau samakan aku dengan narkoba, kecanduan..ehehe..ada-ada saja” guraunya. Risikoku, mencintai seorang yang begitu lugas, dan polos terkadang. Aku sedang mellow begini rupa, tak bisakah kau sedikit berdrama?. Seperti kisah cinta jarak jauh yang romantis, yang saling mengharapkan?
“ Aku lelah. Kini aku mengerti, aku lelah karena aku diracuni kata menuntut. Menuntutmu ada, tapi tiada. Menuntut aliran energi dari celotehmu, racauan tak jelasmu, tapi kadang aku harus berkompromi. Aku keracunan, aku kecanduan, eghhh…aku mau sembuh!” sambungku dengan nada yang semakin meninggi, meracau lagi.
            “ Kalau lelah dengan kuliahmu, jalan-jalanlah di akhir minggu, ke Glasgow barangkali. Kau kan punya banyak kenalan di sana. Kau mungkin penat dengan urusan kuliahmu, rehat sejenak, nanti juga baikan lagi. Oh ya jangan lupa, beliin kilt pesenanku loh ya” katanya datar, seakan tak terjadi apa apa denganku. Padahal aku hampir gila rasanya karena susah mendeskripsikan apa yang tengah melandaku.
“ Sudah dulu ya, hidung kecilku, jangan lupa mandi ya, maemnya kudu teratur, jangan kebanyakan ngopi, istirahatnya juga..eits, salat malamnya juga” katanya seperti kalimat itu sudah kuhapal di luar kepala. Kalimat itu rasanya sudah ratusan kali kudengar, tapi entah kenapa, ingin kudengar lagi..dan lagi. Bliip..sambungan skype terputus. Aku tercenung. Kenapa selalu ada yang hilang saat ia pergi?

                                                            ***
Angkringan Jalan Kampus, Purwokerto, 7 Agustus 2011
Terkadang tanah air adalah segala tentang keistimewaan. Istimewanya bisa duduk lesehan di pinggir jalan, memesan secangkir kopi panas dan mendoan hangat. Merasakan lagi hiruk pikuk kota yang sebenarnya tak terlalu padat ini, teriakan bahasa ngapak-ngapak yang khas dan canda tawa yang polos penuh keterusterangan. Bagaimana aku tak merinduinya. Dan yang membuat tanah air lebih istimewa, karena bisa kupandangi lagi si lelaki yang ngapak tulen ini,
            “ Arya, aku sadar satu hal, aku takkan pernah bisa memperjuangkanmu, sendirian” ungkapku pelan-pelan.
            “ Maksudmu, kau ingin kita…putus?Kinan..maksudmu kepriwe?…dulu kau berkata kau akan memperjuangkanku?dan kini kau berubah?” kalimatnya memburu. Aku memberikan jeda, supaya kalimat yang keluar dapat tercerna.
            “Bukan..aku hanya menyadari satu hal, aku takkan pernah bisa memperjuangkanmu, sendirian” kataku hati-hati, tahu pasti kalau lelaki bertipe lugas ini selalu mencerna kalimatku dengan begitu polosnya.
            “Atas dasar kekuatan apa aku bisa memperjuangkanmu? Dengan cara apa? Aku kini sadar takkan bisa” kalimatku menggantung di udara. Kudengar ia mendesah, menanti kalimatku selanjutnya.
            “ Bayangkan bila aku menelponmu, bila aku mengirimkan email padamu bercerita sampai berbusa-busa, menyapamu di YM tiap kali aku online. Pernahkah terpikir olehmu, apa jadinya bila kau tak ingin menjawab telponku dan beralasan kau sedang sibuk, tak menjawab email-emailku dan tak menjawab chat-ku di YM atau skype?perjuangan macam apa yang bisa kulakukan?nggak ada” jelasku panjang lebar. Selama ini cinta selalu diikatkan dengan keabadian, diharuskan selamanya tak berubah, padahal cinta terus bergerak, selalu baru. Dan di samping seringnya cinta menjadi hiperlogika dan semaunya sendiri, ternyata ia tetap membutuhkan suatu mekanisme untuk tetap bertahan.
            “ Lalu apa maksudmu Kin?” tanyanya lugu.
            “Hubungan hanya bisa berjalan bila ada kesediaan untuk terus terhubung di antara dua orang. Selama ini aku bersedia, dan kau bersedia, sebegitu sederhana mekanismenya. Kenapa aku baru menyadarinya. Aku terlalu merasa adikuasa untuk bisa mempertahankan cinta kita” aku merasa baru saja menjelaskan sebuah teori penemuan besar tentang sebuah hubungan. Menurutku sebuah penemuan teori yang luar biasa, tapi runtuh seketika ketika mendengarnya bicara,
            “ Hadeeeh..selama ini kan aku bersedia, kenapa sih kamu? Aku kan selalu bisa kalau kau mau bercerita lewat skype, bisa chat di YM walau kadang-kadang jarang bisa online kalau aku lagi  sibuk. Kan kamu ngerti banget jadwal kerjaanku. Koe kok dadi aneh. Jauh dan dekat kan hanya soal relativitas, kayak teori rumitmu itu. Semuanya kembali ke rasa, seperti katamu juga. Hadeeeh aku ketularan bahasamu yang rumit itu” kelakarnya.
            “ Eghhh…ngerti nggak sih maksudku?nyebelin” aku gusar. Lebih tepatnya, gemas.
            “ Ehehe iya ngerti, hidung kecilku” katanya singkat. Ufff, nggak romantis banget sih dia. Susah diajak ngomong serius, tapi begitulah, entah mengapa ada sesuatu dalam dirinya yang membuat segalanya bisa terkompromikan.
            “ Kinan..dengar baik-baik, karena takkan kuulangi lagi. Hatiku hilang separuh saat kutatapi punggungmu pergi sampai menghilang di bandara kala itu. Kehilangan, mungkin itu yang kau sebut. Tak bisa melihat senyum merekahmu yang mencerahkan hariku, tawa renyahmu yang mampu menghilangkan penatku, tak bisa berbagi kapanpun kumau. Aku, terkadang tak yakin akan mampu mengalahkan jarak, waktu dan ruang. Aku lelah, kehilangan energi.” Wait..Itu kalimatnya?benarkah itu dia yang bicara? Lelaki pragmatis itu?
            “ Rupanya kita masih separuh yang bersama untuk menjadi utuh. Kita masing-masing merasa hilang bila kehilangan satu sama lainnya.” Lanjutnya lagi. Aku melongo, masih tak percaya mendengar kalimatnya.
            “ Itu kau? Benar kau yang ngomong, nyontek kalimat darimana? “ candaku. Sebenarnya beneran bertanya dengan penuh penasaran. Hadehh..tadi aku mengharapkan dia beraksi demikian, kenapa aku merusak drama ini dengan komentarku.
            “ Inyong laaaah sing ngomong, masa selama ini bersamamu tak mampu menciptakan kalimat sing mandan ruwet sepertimu ehehe” tawanya semakin terasa hangat di hatiku.
            “ Kita masih menjadi dua huruf C, yang mencari keutuhan dengan bergabung menjadi menjadi lingkaran O yang utuh. Karena itu kita habis daya, menuntut dan selalu takut kehilangan bila terpisah. Jiwaku merasa makin tak sehat” simpulku.
            “ Omongan kita keren yak? Filosofis ehehe” candanya selalu merusak suasana. Eghhh…baru saja mau ngomong rada serius, dia mulai lagi dengan tingkah asalnya. Aku tertawa tergelak.
            “ Jiah..ampun deh, biasa aja kali, ngomong ruwet nggak jelas. Tapi aku ingin  menjadi huruf O utuh untukmu. Eh..untuk diriku sendiri terutama. Kata buku yang kubaca…Kita harus “penuh” dulu sebelum bisa “memenuhi” orang lain. Cinta bukanlah dependensi, melainkan keutuhan yang dibagi. Aku menimpalinya.
            “ Kau kebanyakan baca buku nggak jelas. Tapi okelah..kalo begitu huruf O-ku harus lebih besar dari huruf O punyamu ehehe,” kelakarnya. Kupaham benar maknanya, kalimat itu bukan untuk menantang, atau memantik sebuah ketidaksepahaman. Hanya untuk memancingku untuk protes, menentangnya, meributinya. Dia yang selalu suka protesku, penentangan “pura-pura”ku dan keributan manis di antara kami.
            “ Mari kita rayakan, dua huruf O yang pacaran, yang utuh bukan separuh.” ungkapnya lugas dan tandas. Mengangkat segelas jahe susu dan mengajak toast denganku. Aku tersenyum, lega.
Di lesehan angkringan itu, kami menemukan cinta di antara dua huruf O. Karena kami mencoba menjadi dua pribadi yang utuh yang saling mempertinggi energi masing-masing kami, bukan sebentuk dependensi.

*kilt  : rok tartan asli Skotlandia