Sunday, 31 March 2013

Memberi Spasi, Mengada Jeda




Jogya disapu gerimis rintis, kami berdua duduk berhadapan sambil menikmati secangkir kopi di Starbuck, Amplas Jogya. Malam sudah beranjak naik. Sahabatku kali ini dengan pesanan double espresso, sedangkan aku dengan secangkir coffee latte vanilla. Kami bertemu lagi di Jogya setelah hampir 6 tahun tak bertemu, semenjak kelulusan studi master kami di UGM. Dan kini kami sering melewatkan waktu bersama, makan, nonton atau hanya sekedar nongkrong minum kopi dan ngobrol.
            “ Kamu banyak sekali berubah sejak 6 tahun lalu,” kata-kata ini beberapa kali terucap darinya semenjak kami dipertemukan kembali.
            “Yang jelas enggak jutek lagi, ahaha,” begitu tawanya renyah, lalu disesapnya double espressonya lagi.
Iyah, saya banyak berubah. Saya menyadari perubahan-perubahan yang terjadi dalam diri saya. Dan pula mengetahui hal-hal apa, peristiwa apa dan siapa yang memicu perubahan dalam diri saya.
Dia sendiri bagi saya tidak terlalu banyak berubah, terkecuali bahwa sekarang dia telah berubah menjadi seorang ibu dari seorang putri cantik yang sangat hiperaktif. Namun ada beberapa hal yang kutemukan dalam dirinya, yang dulu saat kami studi bersama-sama tak pernah muncul di permukaan. Kami sekarang bisa melihat lebih dalam, bukan lagi teman permukaan.
Kami ngobrol kesana kemari, dari karier, spiritualitas, sampai obsesi-obsesi pribadi. Obrolan-obrolan yang dulu hampir tak pernah menjadi opsi saat kami kuliah dulu. Karena dulu kami paling-paling membicarakan tentang kuliah, tugas, ataupun penelitian. Tapi sekarang kami bicara soal hidup.
            “ Sepertinya saya telat menyadari, saya telat bangun” katanya. Hidupnya terbilang sempurna. Karirnya sebagai dokter dan dosen tergolong bagus walau belum bisa dibilang luar biasa, jodohpun ditemukannya dengan mulus lalu mempunyai seorang buah hati yang cantik.
            “ So, you’ve a perfect life, right?” godaku. Dia tersenyum.
            “ May be, tapi ada sesuatu yang belum terpenuhi. Pas ngobrol sama kamu, saya baru menyadari itu. Tapi sepertinya saya telat menyadarinya.” Ucapnya lagi.
Saya tersenyum, menimpalinya bahwa tidak ada yang yang terlambat. Saya pun bila harus menengok beberapa teman saya yang jauh lebih muda, dan sudah menyadari tentang hal ini, kadang merasa iri. Iri dalam artian positif, tapi kemudian menyadari bahwa dalam perjalanan, ritme dan jalur-jalur hidup manusia sudah ada kecepatannya masing-masing. Dengan suatu alasan tertentu pastinya.
Saya merasa beruntung telah menemukan jalur perjalanan saya sendiri. Dan ingin terus berjalan, berlari terkadang, namun tetap ingin mengambil jeda agar menyadari sampai dimana perjalanan saya.
Manusia butuh sesuatu selain kebutuhan bahwa hidup berjalan baik-baik saja. Butuh kemaknaan yang lebih dalam untuk mengerti sebenarnya untuk apa sih hal-hal yang dilakukannya dalam 24 jam sehari, kemudian hidup berganti minggu, berganti bulan dan tahun?. Ataukah engkau suatu saat akan menemukan dirimu tersesat ataupun hilang? Apa yang engkau mau? Apa yang ingin engkau capai? Lalu untuk apa itu semua? Apa sebenarnya mau Tuhan dalam peranmu sebagai manusia? Siapa sebenarnya engkau? Apa yang membuatmu merasa “penuh”? apa kontribusimu pada semesta?
Apa kalian pikir sederetan pertanyaanku tadi begitu absurb? Namun saya yakin suatu saat engkau akan tiba pada pertanyaan-pertanyaan itu.  Kalian punya pekerjaan, rutinitas, suami, pacar, atau istri, keluarga, untuk apa? Punya rumah, mobil atau apapun yang kalian inginkan. Apakah masih ada yang terasa kosong dalam jiwamu? Siapa tau dirimu jarang-jarang engkau bincangi.
Apakah engkau menyibukkan diri dengan berbagai aktivitasmu, bekerja setengah mati, atau kemudian bersenang-senang sampai lupa diri? Lalu sebenarnya untuk apa engkau jalani itu semua?
Ah, saya terlalu banyak bertanya.
Tapi engkau tak bisa memindai hidupmu sendiri bila engkau terus menerus berlarian tiada henti. Seperti huruf-huruf yang berlarian kuketik inipun tidak akan mempunyai arti bila tak ada spasi.

Seindah apa pun huruf terukir, dapatkah ia bermakna apabila tidak ada jeda? Dapatkah ia dimengerti jika tidak ada spasi? (Spasi, Dee).

Apa yang Dee maksudkan adalah bagaimana hidup bermakna apabila tidak ada jeda untuk menyadari maknanya? Apakah hidup bisa dimengerti esensinya jika tidak ada spasi? Maka bincangilah dirimu. Bincangi! Jangan biarkan dia menjadi asing bagi dirimu sendiri. Jangan biarkan ia kesepian di pojokan tanpa pernah engkau tanyai, engkau bincangi, engkau perangi, kau damai.
Saya kini tahu alasan-alasan saya melakukan banyak hal dalam hidup. Termasuk mengapa saya sering sekali menulis tentang tema ini dalam blog saya. Dan saat saya mendengar beberapa orang berkata :
            “ Tulisanmu menampar saya, dan membangunkan saya. Terimakasih ya,” kata seorang sahabat.
            “ Aku hutang energi, hutang keberanian dalam tulisan-tulisanmu” kata seorang lagi. Beberapa orang-orang tak dikenal yang membaca tulisan-tulisan saya, baik lewat blog atau lewat buku-buku saya sering mengirimkan pesan pada saya. Ada juga yang meminta saya untuk menulis dalan bahasa Inggris agar bukan hanya orang Indonesia yang bisa membacainya, tapi nulis dalam bahasa inggris sekarang ini masih menjadi pekerjaan yang susah untuk saya. Suatu saat nanti, semoga.
Kenapa saya seringkali meracau lewat tulisan-tulisan saya? Karena saya menulis juga untuk mengingatkan diri saya sendiri, memindai gerak hidup saya.
Karena saya juga berharap tulisan saya bisa dibaca orang-orang, karena dalam hidup nyata saya hanya bisa berinteraksi dengan sebatas orang yang hadir secara langsung dalam hidup saya. Tapi lewat tulisan, saya bisa menghampiri orang di sudut-sudut Cafe di Barcelona, atau di sebuah daerah di Nusa Tenggara, meja belajar mahasiswa saya, atau di pedalaman kalimantan sekalipun.
Dan dengan menulispun, secara otomatis saya mengambil jeda. Memberi jejak lagi dalam hidup saya.
Selamat sore dari Jogyakarta !
 

Ndalem Pogung, 31 Maret 2013. 17.29.

0 comments:

Post a Comment