Monday, 22 April 2013

Mengunjungi Malang/Mengulang Kenang (Day 2)



Hari kedua di Malang, paginya diisi dengan bersantai di hotel, membungkus kado dan menikmati secangkir kopi. Oh ya, saya ingin menceritakan tentang penginapan saya ini. Saya tahu tempat ini dari suggest Mba Nurhay, dosen sekaligus teman saya yang memberikan nama Enny’s Guest House dan no kontaknya. Sebelumnya saya sudah ngintip-ngintip dulu di websitenya dan saya pikir cukup lumayan untuk dicoba. Dan setelah menempatinya, kesan saya tidak salah. Terletak di area kota yang mudah sekali terjangkau, di Taman Wilis yang gampang untuk mengakses area-area kota Malang.  Saya masih ingat, dulu sering mampir ke tempat jual buku di Wilis yang harganya miring, atau jalan kaki ke daerah Kawi yang saat malam menjadi kawasan wisata kuliner yang yahud untuk dijajal. Untuk harganya, saya pikir standar dan terjangkau. Untuk kamar yang saya sewa, saya pesan kamar standar dengan bigbed seharga 200 ribu/malam. Fasilitasnya lumayan, ada TV, kipas angin, dan kamar mandi dalam. Untuk air putih, air hangat, gula, teh, kopi, cream tersedia di ruang makan.


Ini dia foto kamarnya :)
Enny’s Guest House sendiri suasananya sangat hommy, itu yang saya suka. Penataannya asri, hijau dan ada kesan tradisional yang kental. Begitu saya memasuki guest house ini, suasana yang menyenangkan langsung terasa. Beberapa bule bersantai di teras dengan secangkir teh dan obrolan hangat. Beberapa orang lainnya ada di lobi nampak hangat berbincang-bincang. Pelayanan stafnya juga cekatan dan ramah. Yah, menurut saya lumayan deh buat kalian-kalian yang membutuhkan tempat menginap dengan fasilitas standar dengan harga yang terjangkau. Setahu saya pilihan kamarnya pun bervariasi, ada yang lebih bagus lagi, atau kalian mau mencoba kamar tradisional dengan bambu? Nah di guest house ini juga ada kamar eksotis bamboo room yang nyaman ini dengan harga 325 ribu/malam. Ini saat saya berfoto di depan kamar tersebut, asik bukan?

Di depan Bamboo Room
Ehehe iyah, sebelum berangkat resepsi saya tak menyia-nyiakan lokasi guest house yang lumayan untuk latar foto. Pegawai-pegawai hotelnya pun sangat ramah, bahkan membantu mengambilkan foto berdua dengan sahabat saya di bungalow santai yang nyaman ini


Bersama Mba Rahmi di tempat leyeh2nya Enny's Guest House


            “ Mba, foto-foto di  atas mba di kamar bambunya..bagus lho mba,” kata si bapak pegawai Enny’s Guest house.
            “  Nanti saya promosikan deh tempat ini, pak” gurau saya pada para pegawai guest house tersebut.
            “ Nanti kalau ke sini lagi, kita kasih diskon mba,” balas gurauan mereka. Jadilah saya menjelajah guest house itu, sampai agak lupa kalau saya harus ke resepsian segera. Setelah check-out, saya menitipkan barang-barang di guest house dulu, dan menelpon taksi.
Dan sambil iseng menunggu taksi, si mba rahmi masih asik asal jepret-jepret saya.




Kalau ini di meja-meja samping bisa buat ngupi2 sambil ngobrol
Lalu taksi membawa kami ke resepsi di Gedung Cakrawala, Area kawasan Abdurahman Saleh. Dan begitu taksi merapat ke gedung, saya bisa melihat Nuning yang ada di deretan penerima tamu. Ah, akhirnya bertemu juga. Begitu saya keluar dari taksi, dia menyambut saya dengan pelukan hangat.
            “ Ah, ada tamu dari Inggris” teriaknya sambil cepat-cepat keluar dari kursi penerima tamu untuk menyambut saya. Ah ah, senangnyaaaaa. Saya dan mba rahmi kemudian masuk ke dalam gedung dan mengucapkan selamat pada Dik Dian dan keluarga. Bapak dan Mama menyambut saya dengan hangat, bahkan Mamanya Nuning masih sempat bilang :
            “ Wah mba siwi, tapi hari ini nggak ada sambel teri lho ya,” kata beliau menggoda saya. Hihi, masih ingat saja masakan kesukaan saya, sambel teri. Dulu saat menginap di rumah, Mamanya Nuning sering memasak sambel teri dan membuat saya makan dengan lahapnya. Usai berfoto bersama, kami menikmati sajian yang disediakan sambil ngobrol dengan Nuning. Lama tidak bertemu rasanya ingin banyak bertukar cerita. Lumayan juga ngobrol-ngobrol sambil dia wara wiri karena banyak yang ingin ketemu. Maklum saja dia pulang tak dinyana dari Belanda, jadi banyak saudara-saudara atau sahabatnya yang ingin bertemu dengannya. Sekitar jam 1 siang, saya menelpon taksi untuk kembali ke guest house, tapi sebelumnya foto berdua dulu dengan Nuning yang begitu cantik dandan dengan kebaya birunya

Reunion with Nuning
Sedangkan saya, mengenakan gamis brukat hijau kekuningan dengan kombinasi opnaisel merah keunguan. Saya naksir pada gamis itu pada pandangan pertama di Carita Jogyakarta. Paduan kombinasi warnanya saya suka, begitu pula model aplikasinya, jadi tak tahan untuk tidak membelinya. Sedangkan untuk kerudungnya, simpel saja saya memakai kombinasi dengan dua kerudung paris segi empat yang saya punya. Cukup dengan memakai kerudung dasar paris warna hijau yang serupa dengan gamisnya kemudian dililit kerudung paris  merah keunguan yang sama dengan warna kombinasinya, lalu tinggal menyematkan bros bunga-bunga. Hihi, saya memang hobi memadupadankan gaun. Biasanya saya jahitkan kain dan sesuaikan dengan model kombinasi yang saya suka. Tapi saat nemu gaun yang bikin naksir hati ini, langsung embat saja hehe. Soal padu padan, saya sering menikmati jadi sok konsultan mode temen-temen yang mau kondangan ataupun menghadiri sebuah acara. Lucu juga bila sahabat bbm pas di tanah abang milih warna batik, aksesoris dan menunjukkan foto tampilan saat acara. Aih, obrolan perempuan sekali!
Usai mengambil barang di guest house, taksi kemudian meluncur ke Toko Oen, tempat janjian saya dengan mba Nurhay. Dia itu sebenarnya dosen pelatihan bahasa Inggris saya dulu di Malang, namun karena seusianya hampir sama (sesama angkatan 99) jadi usai pelatihan, hubungannya layaknya seperti teman saja. Jauh hari saya sudah ngabari kalau mau ke Malang, agar dia bisa menyempatkan waktu untuk ketemu. Hujan deras mengguyur malang kala itu, dan mba Nurhay belum terlihat juga. Saya kirim bbm nggak terkirim, sedangkan hpnya saya telpon juga nggak nyambung. Akhirnya saya dan mba rahmi memesan minum dan makan duluan. 

Pesanan Es Krim Oen
Saya memesan es krim peach, dan soup jagung, telur, kepiting cocok untuk cuaca hujan. Saat menikmati es krim peach saya, tiba-tiba telpon saya berbunyi, no telpon asing dengan kode negara aussie. Humm aneh siapa yang menelpon? tapi pun tetap saya angkat.
Aih, ternyata mba evi (dosen pelatihan di UM Malang juga) yang menelpon dari Aussie mengabarkan bila Mba Nurhay baru saja kehilangan BBnya. Oalaah kasian banget Mba Nurhay yang sambil menunggu waktu ketemuan dengan saya, ia jalan-jalan sebentar. Eh malah Hpnya kecopetan, pantesan saya saya kontak tidak berhasil. Akhirnya Mba Evi berperan sebagai informan pada mba nurhay untuk menemui saya di Oen. Keren banget yak, janjian aja ditelpon dari Ausie ahaha. Sedangkan menurut cerita mba nurhay setelah ia datang, setelah kehilangan BBnya dia segera mencari akses internet untuk memberi kabar. Kebetulan mba evi online, kemudian memintanya untuk menelpon saya. Karena no hp saya ganti, dan mereka nggak tau no hp saya yang baru, maka Mba Evi nelpon dulu ke sahabat saya di Semarang untuk minta no hp saya. Yaah jalannya panjang : Malang-Aussie-Semarang, baru bisa kontak saya. Teknologi memang luar biasa.
Ah, walaupun baru terkena musibah kehilangan HP, syukurlah Mba Nurhay nampak baik baik saja. Ngobrol ke sana kemari layaknya teman lama. Dia memesan sekoteng untuk menghangatkan badan. Sementara saya memesan lagi kopi susu dan kentang goreng sambil menunggu waktu. Hehe kami memang berniat nongkrong menunggu hujan sambil menunggu waktu ke terminal.

With Mba Nurhay

Hampir jam 4 sore, mba nurhay pamit untuk kembali ke rumahnya di daerah Lawang. Ah ah, saya ingat kebun teh Wonosari di daerah Lawang, ingin ke sana lagi suatu saat nanti. Sebelum ke terminal, saya menyulap gamis dengan jeans untuk siap-siap ke terminal. Setelah sholat magrib di terminal, saya dan Mba Rahmi kembali menghampiri bis zena yang akan membawa kami kembali ke Jogya. Tempat tunggunya sudah berbeda dibanding dua tahun yang lalu saat meninggalkan kota ini. Hujan masih saja terus turun, ah..datang dan perginya saya di Malang terus diiringi hujan kota itu. Tepat pukul 19.00 malam, Zena melaju pelan meninggalkan Terminal Arjosari. Tapi saya masih terus menyimpan kota itu dalam hati saya. Suatu saat, saya akan mengunjunginya lagi.

** Tulisan ini untuk menjawab pertanyaan-pertanyaanmu yang belum sempat saya jawab.


4 comments:

septarius said...

..
wah toko oen, tempat yg asik buat nongkrong..
meski harga makanannya di atas normal.. ^^
..
bajunya bagus Buk, nampak anggun.. ;)
..

Siwi Mars Wijayanti said...

@Ata-chan : iyups, harganya memang di atas normal dan sebenarnya menunya juga "biasa", tapi memang asik untuk kongkow2 ehehe.
*hihi tengkiuu :)

septarius said...

..
steak lidahnya lumayan lho, menu classic..
di sebelahnya ada gramed, depan ada sarinah, deket alun2..
mantab dah.. hehe..
..

Siwi Mars Wijayanti said...

waah kapan2 kalo kesana lagi cobain menu itu deh :)
*iya letaknya strategis, sayangnya pas itu ujan deres..jadi cuma disitu doang :)

Post a Comment