Sunday, 30 June 2013

Glasgow = Home

Sinar mentari menelusup lewat jendela flatku-pagi yang mahal di Glasgow


Malam sudah cukup menua di Glasgow, sementara subuh mulai merayapi waktu Indonesia. Aku sudah semakin terbiasa dengan dua waktu ini. Dan kubiarkan diriku bersantai sejenak setelah hari ini submit second year report yang telah menguras pikirku beberapa minggu ini. Sedikit menyegarkan otak dengan jalan-jalan sore sendirian ke sekitar Byres Road dan mampir Tesco untuk membeli belanja mingguan. Glasgow benar-benar sudah terasa seperti rumah, telah kukenali aromanya, jalanannya. Jalan ke Byres Road itu seperti aku hendak ke arah kentungan di Jogya atau perempatan MM. Semakin lama hidup di Glasgow, rasanya semakin betah saja. Apalagi kini sedang musim semi menjelang musim panas hingga cuaca cukup menyenangkan. Pagi Glasgow biasanya diawali dengan cericit burung dan sinar mentari yang menyelusup masuk lewat gorden jendela flatku. Iyah, kurasa waktu pagi adalah waktu favoritku. Menikmati pagi cerah yang mahal dan secangkir kopi. Iyah mahal, karena pagi dengan mentari yang cerah bahkan untuk musim semi atau panas-pun termasuk hal yang langka. Ada teman yang menceritakan hal yang lucu tentang Glasgow. Dia bertanya pada seorang temannya yang orang Glasgow.
            Berapa lama musim panas berlangsung di Glasgow?”
            “ Umm...yah, sekitar dua mingu” begitu jawabnya.
Hahaha benar-benar deh Glasgow. Tapi cuacanya yang galau itupun semakin lama juga semakin biasa. Menjelang musim panas ini Glasgow cukup hangat. Di antara ke empat musimnya, mungkin musim yang paling menyenangkan untuk tinggal memang musim panas. Tidak terlalu panas, juga tidak terlalu dingin, pas untuk manusia tropis sepertiku. Tapi setiap musim mempunyai kekhasannya sendiri, dan aku masih merasa Glasgow sungguh tempat yang sangat nyaman untuk tinggal.
Sejak pertama kali menginjakkan kaki di daratan Glasgow, ada semacam rasa bahwa kota ini serasa “akrab” di hati, maka hampir tak ada kesulitan berarti untuk beradaptasi. Kesulitan yang banyak kuhadapi lebih pada masalah studi doktoralku, namun tentang penyesuaian diri dengan Glasgow berjalan begitu mulus. Empat musimnya sudah kurasai, walau kurasa hanya ada satu musim di Glasgow : musim hujan ahaha...
Tapi benar, Glasgow sudah terasa rumah. Apalagi setelah mengunjungi beberapa kota seputar UK, aku merasai bahwa Glasgow memang kota yang “pas” untukku. Kadang ada kota-kota tertentu yang memang sesuai dengan karakteristik orang masing-masing. Ada yang suka metropolis, ada yang campuran, ada yang suka benar-benar pedesaan. Semua orang dengan pilihannya masing-masing tentu saja.
Glasgow, aku bersyukur bisa mempunyai kesempatan hidup di tanah ini. Penuh warna, penuh rasa, penuh cerita, dan aku bersiap merajut kisah-kisah berikutnya.
Glasgowku//rumahku.

Di penghujung bulan Juni, 2013. 11.45 pm.

0 comments:

Post a Comment