Friday, 21 June 2013

Seni Menerima Hidup ala Penderita Ambigu Genetalia


Tak sengaja, mataku tak melepaskan pandangan dari  seorang perempuan yang baru saja keluar dari Fraser Building, gedung untuk internasional student University of Glasgow. Mungkin riasan mukanya yang agak menor itu yang membuatku agaerhatikannya lama. Humm sepertinya bukan hanya itu saja, tapi apa..aku masih belum bisa mengidentifikasinya. Kemudian saat perempuan itu berjalan melewatiku menuju University avenue, baru kusadari suatu hal. Aku memperhatikan tubuhnya dari belakang, ummm memang ada yang aneh. Aku sedikit terperanjat, tubuhnya seperti laki-laki.
            Kamu perhatikan deh, kalau perempuan jalan, walau perempuan tomboy sekalipun tetap saja pinggulnya bergoyang. Maksudnya memang secara natural gitu, enggak dibuat-buat. Atau at least cara jalannya berbeda dengan cara laki-laki bila berjalan,” aku teringat paparan mba anas beberapa waktu lalu.
Hummm mungkin seperti ini contohnya. Aku agak melongo. Badan dan cara jalannya persis laki-laki, payudaranya tak terlalu berkembang dan wajahnya ambigu. Aku pikir tadi dia itu  seorang perempuan karena dia berambut panjang dan memakai make-up yang menor. Ah, mungkin dia itu salah satu contoh kasus ambigu genetalia yang dituturkan mba annas.
Kalian tau apa itu ambigu genetalia? Ehehe pada saat saya mendengarnya pertama kali saya pun mengerutkan dahi, nggak begitu mengerti. 
Ambiguous genitalia is a birth defect where the outer genitals do not have the typical appearance of either a boy or a girl
Cerita penelitian mba annas  tentang penyakit ambigu genetalia di Indonesia sungguh menarik untuk kusimak. Mba annas itu Dosen psikologi Undip yang tengah studi tahun terakhir di Uni of Rotterdam  menginap di flatku selama 3 hari utuk konferensi tentang ambigu genetalia yang diadakan University of Glasgow. Mungkin ini seperti berita-berita di tivi tentang operasi ganti kelamin itu. Terjadi fenomena gunung es, banyak kasusnya namun jarang terekspos media atau jarang pula yang mau mencari pengobatan/konsultasi sehingga angka kasusnya yang sebenarnya sulit untuk diperkirakan.
Pernahkan kalian pikirkan, bahwa bagaimana rasanya kamu mengalami ketidakjelasan jenis kelaminmu? Dan kelainan ini tidak bisa disembuhkan. Upaya satu-satunya hanya untuk meningkatkan kualitas hidup si penderita tersebut. Mba annas di semarang bekerja sebagai konsultan penyakit tersebut dan menghadapi banyak cerita tentang pasien-pasien yang mengalami kelainan tersebut.
            “ Ada yang ngeluh “itunya” kecil banget karena memang tidak berkembang. Ada yang mengalami kesakitan teramat sangat saat berhubungan dengan pasangan, ada yang mengalami depresi karena tidak percaya diri, ada lelaki yang risih dengan payudaranya seperti merasa itu bukan bagian dari tubuhnya” gitu cerita mba annas.
Semenjak dulu, kelainan seperti itu jarang kutemui ataupun kulihat di lingkungan sekitarku. Paling hanya melihat sesekali berita di tivi dan itupun masih have no idea apa yang sebenarnya terjadi. Cerita mba annas banyak membukaan mataku bahwa ada kelainan macam itu.

Banyak kita mengeluh tentang apa saja. Aku sendiri juga. Orang mengeluh tentang kenaikan BBM,  tentang kemacetan. Saya mengeluh tentang riset, tentang writing English saya yang acak adul ahaha. Pun keluhan-keluhan orang yang membanjiri semesta ini. Keluhan yang mampu yang diminimalisir sebenarnya. Masih ada harapan bahwa semuanya akan baik-baik saja, bahwa semuanya akan terselesaikan dengan baik. Lihatkan pasien dengan kelainan ambigu genetalia, yang bahkan tidak punya kejelasan tentang apa jenis kelaminnya. Kemudian setelah mengetahui kelainannya itu bahkan tak ada treatment yang bisa menyembuhkannya. Lalu apa? Bagaimana seni belajar menerima adalah pertarungan bagi mereka seumur hidup.
Kita mungkin menerima bahwa saya seorang perempuan, kamu laki-laki sebagai sebuah hal yang take it for granted, sesuatu yang wajar. Nyatanya tidak begitu, itu adalah anugerah. Karena tak terbayangkan bila kita menjadi salah satu penderita kelainan tersebut bukan?
 Ah, sebenarnya ada terlalu banyak hal yang layak untuk kita syukuri daripada membanj
iri hidup dengan keluhan.  Tersenyumlah, Tuhan memberimu lebih dari yang kamu perlu. Cheers

21 Juni 2013. The longest day of the year.16 hours 40 minutes of daylight.
  


0 comments:

Post a Comment