Sunday, 23 June 2013

Who Judge More, Know Less




Secangkir kopi susu, lagu-lagu di youtube dan report yang menanti direvisi. Tapi seperti biasa, ada sesuatu dalam otakku yang ingin dikeluarkan. Kadang lebih baik menuliskannya dulu daripada membiarkannya menyumbat isi kepala. Aku memang biasanya begitu, walau entah apa yang ada dalam pikiranku sebenarnya. Tak ada atau terlalu banyak? Ehehe.
Pernahkah kalian, bergerak ke pinggir sejenak dan mengamati.
Mengamati orang-orang di sekitarmu, ternyata otomatis menjadi sebuah refleksi diri, mengamati diri sendiri. Hidup sekarang lebih banyak terdistraksi oleh banyak hal. Begitu membuka timeline twitter, facebook ataupun BBM. Semua orang bergerak, pun dengan pemikirannya masing-masing, bising. Terkadang bising, apalagi aku turut bergerak. Mereka menyuarakan apa yang menurut mereka benar, baik, membuat bahagia atau banyak hal lainnya. Akupun ternyata demikian, aku mengamati diriku sendiri. Aku bergerak menyuarakan apa yang kuyakini, apa yang menjadi benih pikirku.
Namun kadang, bergerak ke pinggir dan mengamati dari kejauhan ternyata bisa lebih memandang semuanya jauh lebih jelas. Memandang diri sendiri juga menjadi lebih dalam.
Ada banyak kata-kata defending, penjelasan atas  kalimat atau perkataan yang mungkin menggangu hidup mereka. Aku banyak membacainya, mengamatinya. Pun pernah melakukan itu. Misalnya saja agak terganggu dengan teman yang tiap kali mengajak ngobrol, tema favoritnya adalah : kapan nikah? Jangan lama-lama menikmati kesendirian dan bla bla. Bila sekali dua kali, cukuplah kujawab dengan senyuman, atau candaan, atau jawaban “doakan saja”, sebuah kalimat formalitas yang pasti dipakai banyak orang lainnya. Tapi bila berkali-kali, tentu saja jujur itu menganggu. Tak adakah topik menarik yang lainnya untuk diperbincangkan? Basa basi atau perhatian ala kultur masyarakat Indonesia memang kadangkala wagu.
            Kalau belum nikah, ditanya kapan nikah? Kalau udah nikah, ditanya kapan punya anak. Tapi kalau habis melayat, nggak ada ya yang nanya kapan nyusul?” jawabku. Tak biasanya aku bereaksi seperti itu. Masalahnya aku lupa menghitung berapa kali temanku menanyakan itu-itu lagi, walau dengan variasi pertanyaan. Kadang antara perhatian dengan membuat jengah bedanya tipis dan subjektif.
            Ih, kamu kok ngomongnya begitu” balasnya sedikit tak menduga balasanku.
            Bukankah rejeki, jodoh, keturunan dan mati itu takdir Tuhan? Secara logika sama dong. Kita nggak tahu kapan kita mati, nggak tau kapan dianugerahi anak, begitupula jodoh”.
Tik Tok Tik Tok, Diam.
Lalu temanku tadi mengalihkan pembicaraan.  Ahaha aku nggak segitunya kok kalau cuman ditanya sesekali. Sangat maklum dengan pertanyaan macam begitu. Hanya kadang bila berlebihan, sepertinya patut untuk memberikan lawan bicara signal bahwa aku tidak nyaman dengan pertanyaan-pertanyaan tertentu yang menyudutkan.
            “Kamu nyari yang kayak apa lagi sih? Jangan nyari orang yang sempurna, nggak ada orang yang sempurna. Kamu itu apa susahnya sih, tinggal tunjuk aja siapapun mau kok. Jangan karir terus yang dipikir, jodoh juga dong. Karir setinggi langitpun dikejar nggak ada habisnya, mikir umur juga lah”. Dan banyak lagi yang lain, bila dikumpulkan pasti bisa berlembar-lembar hehe.
Aku sensi? Nggak juga. Ada banyak teman-teman yang bereaksi lebih keras dari aku. Biasanya aku jarang bereaksi bila memang orang itu tidak berlebihan. Oke fine, itu memang kultur dari basa basi, atau anggap saja sebagai sebentuk perhatian.
Seorang teman yang mungkin sering menghadapi “soft bullying” ini sampai menulis di statusnya :
kalo orang tanya "kamu kapan nikah?" itu ibarat kita nengok org sakit trus tanya "kamu kapan mati?"  kami yg belum nikah ato mereka yg sakit pasti sudah ato sedang berusaha "keluar" dari kondisi itu. it's the matter of time. and you never know how hard we've tried.
Dan di statusnya itu masih saja masih ada juga yang komen nyelekit juga huaaahahaha...ahaha yeah right, stop to please everybody!
Kadang orang tersebut tak sengaja untuk membuat kita tidak nyaman. Tapi tentu saja, bila kita sampai dalam posisi tidak nyaman, mengkomunikasikan dengan kata dan cara yang tepat sepertinya melatih kita seni berkomunikasi dengan dewasa.
Biasanya orang yang judge more, know less. Biasanya orang-orang terdekat yang tahu kita justru jarang yang kepo macam-macam. Mungkin karena mereka tahu aku sebenarnya lebih tertarik menyiapkan sarapan pagi untuk suami daripada berurusan dengan sel-sel di laboratorium #ahaha. Bahwa ada kumpulan resep masakan di folder bersebelahan dengan folder riset doktoralku#ups. Dan si Mita ngakak melihat koleksi cerita anak-anak di rak flatku#eh. Tapi kepanjangan kan kalau harus menjelaskan? Hihi..
Hal di atas hanya contoh kecil dari judgement yang gampang dilontarkan orang. Mungkin aku juga pernah menjudge orang lain. Tapi menurutku, setiap orang hidup dengan pertarungannya sendiri-sendiri, dengan jatah ceritanya sendiri-sendiri. Dengan hal yang membuatnya bahagia masing-masing.
Aku dengan pertarunganku sendiri, dengan mewakili rasaku sendiri. Kamu juga, kalian juga. Semakin banyak aku mendengarkan sahabat yang bercerita padaku, semakin yakin aku dengan pernyataan itu. Setiap manusia menghadapi pertarungannya masing-masing.
Kadang-kadang perlu bilang dalam hati “Mind your own bussiness” urusin saja urusanmu sendiri. Kadang memberikan benteng dari energi-energi negatif lebih membuat hidup menjadi lebih positif. Jadi mari belajar memfokuskan pada hal-hal yang positif.
Aku tak perlu mencontek apa yang membuatmu, membuatnya atau membuat kalian bahagia. Aku bahagia dengan secangkir kopi susu atau teh manis, senja yang lembut, laut, puisi, senyummu, candamu, hadirmu..eh eh kebanyakan kamunya ahahaha. Tapi mungkin kalian bahagia dengan belanja di mall, merajut, bekerja, atau gitaran barangkali..berbeda masing-masing manusia.
Kita adalah rasa yang kita wakili sendiri-sendiri.
Selamat menghadapi pertarungan kita masing-masing dengan berani.

#ini tulisan random amat yaaa ahaha...mari kembali ke report.

Mingu yang penuh rindu. Glasgow, 23 June 2013. Menanti Maghrib.

13 comments:

Afa said...

Seseorang berteriak di pagi hari yang cerah, "Mana cahaya? Cahaya? Aku butuh cahaya!"

Teman-teman di sebelahnya mencibir,"Konyol sekali, di sekeliling kamu cahaya!"

Tapi ia tetap tak dapat melihat cahaya. Yang ia dapatkan dari kebanyakan teman adalah ucapan yang mengganggu pendengaran. Akhirnya, ia bertanya pada temannya yang diam saja,"Apakah aku buta?"

Jawab sang sahabat,"Tidak, teman, tidak. Engkau sedikitpun tak buta. Engkau hanya membutuhkan seseorang yang membuatmu berani, untuk membuka mata : dan cahaya pun akan tersingkap dengan sendirinya,"

Konon, pria dan wanita diciptakan dari satu jiwa yang terpisah. Selama hidupnya, masing-masing jiwa akan selalu merindukan untuk menemukan jalan bersatu kembali.

Menemukan? Atau kita buat sendiri -jalan itu?

Nice Curcol.hehe :p

Susy@ said...

Terima kasih mba, ada salah satu bagian yg bisa jadi inspirasi jawaban jika suatu saat ditanya hal yang sama. Btw, kata mba Dewi, aku harus bilang sendiri ke mba Siwi kalo ngefans sama tulisan2nya njenengan mba :D

Siwi Mars Wijayanti said...

@ Afa : menemukan, ditemukan atau saling menemukan. sepertinya setiap manusia juga punyanya jatah kisahnya masing-masing :)
@ susy : hiyaaaa uhuk..malu akuuuuuu...jiaaah, makasih ya udah mampir2 baca disini :)

Gin said...

nice post. i like your blog.
sering banget ditanyain hal yang sama.
mpe bosan jawabnya. ^^"

Afa said...

Menikahlah, kesendirianmu membuatku terluka.
_Jon Quixote_

God bless u, wish soon as found ur's prince. :)

Siwi Mars Wijayanti said...

@Gin : ahaha tengkiu for reading :)
@Afa : thanks. amin :)

Arian Sahidi said...

ini rata2 yg komentar adalah mereka yang pernah ditanya kapan nikah. (termasuk saya berarti)#abaikan

Siwi Mars Wijayanti said...

kayaknya yang nyasar itu yang lagi nyari referensi alternatif jawaban, googling trus terbawalah kesini ahaha #nuduh ;p

elasemangat said...

semangaaaaatttt!

elasemangat said...

pertanyaan "kapan menikah?","kapan punya anak?" adalah pertanyaan sensitif. Jadinya kudu hati-hati dng pertanyaan tersebut coz buat sebagiaan orang pertanyaan itu kategri pertanyaan menjengkelkan.

Allah Maha Adil.

Jadi ingat kisah Nabi Zakaria yang udah lama tidak dikaruniau anak. Padahal usia beliau sudah tua merenta. Namun beliau tidak berputus asa dalam berdoa agar dikaruniai buah hati.

Ehhh,,,ketika dikaruniai Allah seorang anak, anaknya adalah seorang Nabi. Yakni Nabi Yahya.

Sekali lagi Allah Maha Adil.

Siwi Mars Wijayanti said...

@elasemangat : iyap yap..sepertinya sesuai dengan namanya, ela yang selalu bersemangat. terimakasih sudah mampir baca :)

R@hmi said...

Kayaknya efek ngerjain report nih rada sensi hehe..
Semua akan indah pada waktunya. Allah sangat tahu kapan kita siap untuk menerima anugerah-Nya yang terindah dan terbaik.
Selalu dan selalu ada doa tulus untukmu....

Siwi Mars Wijayanti said...

ahaha iya mbaaa...report muluuu. ehehe iyups jangan lupa doa yang tulus dan 2 porsi sate kambing lempuyangan yang tak ada duanya itu. :))

Post a Comment