Monday, 1 July 2013

Lesson from Glasgow GRADSchool



My team
Sore itu group kami sampai pada final group review, mengevaluasi kegiatan selama tiga hari dan memberikan feedback pada masing-masing anggota tim. Kemudian tutor kami, Amanda dan Anke menyuruh kami mendekati meja yang berisi banyak sekali kartu yang sudah berjajar, kemudian kami berlima disuruh memilih masing-masing kartu yang merefleksikan masing-masing anggota group. Aku memilih 4 kartu dan kuletakkan di kursi orang aku maksud. Lalu tibalah memeriksa 4 tumpukan kartu yang dipilih empat orang teman satu group itu untukku. Jreng-Jreng!
1. Open (aihh..hummm...ada benarnya. Mungkin akan berbeda bila mereka bertemu denganku lima tahun yang lalu ;p)
2. Enthusiastic (ahaha keliatan kali ya dari mukaku kalau ada apa-apa yang menarik langsung mendelik)
3. Good Tempered ( jadii...kalau ada seseorang yang bilang aku galak, pasti galakku hanya spesial padanya ahaha#abaikan)
4. Level headed. (dahiku berkerut, apa pula maksudnya. Aku kemudian bertanya pada Amanda tentang maksudnya. Katanya level headed person itu sejenis tipikal orang yang punya spiritualitas yang seimbang, tidak gampang panik menghadapi apapun).  Aih, benarkah aku begitu?
Semua anggota group diminta berkomentar atas kartu-kartu yang didapat dan kemudian menuliskan surat untuk diri sendiri di sebuah kertas. Aih, kertasnya terlalu sempit..coba dikasih folio hihi memangnya mengarang bebas. Kemudian surat tersebut dinamai dan diberi alamat kami masing-masing, dilem dan akan mereka akan mengirimkannya pada kami September nanti. Hihi course ini memang super unik!
Iyups, aku mengikuti 7th Local Glasgow GRADSchool yang diadakan di Glasgow Caledonian University (GCU). Tadinya hanya iseng sekedar “escaping from routinity” ahahaha, eh ternyata coursenya benar-benar keren. Selama 3 tiga diisi dengan kegiatan bermacam-macam dan sangat menarik. Tujuan course ini untuk lebih mengenali potensi diri, mengembangkan personal effectiveness, dan meningkatkan communication skills. Kegiatan course ini lebih kebanyakan beraktivitas, game, memecahkan masalah, bikin sesuatu yang menarik. Seperti bagaimana mempresentasikan riset dengan media yang berbeda agar dimengerti oleh kalangan umum. Sebelumnya dari 5 orang dalam group diminta mempresentasikan riset masing-masing selama 2 menit. Kami berlima berasal dari bidang yang sangat berbeda, tantangannya adalah dalam 2 menit, topik utama risetmu harus dimergerti oleh anggota group. Pokoknya hampir semua tugas sangat menantang, dan setelah aku dengan modal nekad (kayaknya ini aji-ajiku yang paling pamungkas deh) mempresentasikan dalam 2 menit tentang risetku. Begitu aku selesai, mendadak hening, dan tiba-tiba tutor kami, Amanda langsung berkomentar :
            What an excellent presentation!” katanya, lalu disambut tepuk tangan group kami, bikin aku blushing-blushing.
Di antara kami berlima, yang terpilih untuk masuk seleksi group adalah risetku dan riset Murray tentang optimasi pesawat terbang. Dan karena kami harus mempresentasikan sesuatu yang lebih mudah dipahami, akhirnya kami sepakat memilih project Murray untuk dipresentasikan mewakili group kami.  Dan waktu presentasi masing-masing group itu 2 menit dan boleh memilih presentasi dengan cara apa saja. Then, kami memilih teater untuk presentasi. Aku jadi api dengan rumbai-rumbai warna merah (yang tiap orang akan melirik padaku dan senyum-senyum #fiuh), lalu 3 lainnya (Andrew, Amir dan Ceri) jadi helikopter dan Murray jadi naratornya. Jadilah kami sukses seperti playgroup ahaha. Tapi tepukan tangan keras sehabis presentasi group kami adalah kepuasan yang terbayar tuntas.
            Banyak project lainnya yang sungguh unik. Seperti aku harus jadi team leader bagaimana caranya melempar telur dari atas gedung dan mengusahakan agar telur itu sampai bawah dengan aman, tidak pecah. Caranya hanya boleh dengan memanfaatkan bahan yang ada di dalam amplop yang tersedia. Hihii inti hampir setiap kegiatan ini bukan pada hasil akhirnya, tapi bagaimana proses dalam tim itu sendiri. Bagaimana komunikasi antar anggota, bagaimana peran leader, management tim, planning, action..gitu-gitu deh.  Benar-benar course yang sangat recommended untuk diikuti. Dan di hari terakhir ini, setelah kami mengumpulkan surat pada diri sendiri itu, tibalah saatnya main tebak-tebakan!
Jadi pada hari pertama, masing-masing kami (termasuk tutor) menuliskan 2 hal yang benar/jujur dan 1 hal yang bohong tentang diri kami sendiri. Ditulis besar-besar di kertas yang disediakan kemudian ditempel di dinding untuk ditebak mana yang bohong pada akhir course. Kami segroup baru mengenal satu sama lain di course tersebut, jadi main tebak-tebakkan ini jadi seru karena tak ada yang kenal satu sama lainnya.
Mau tahu 2 hal jujur dan 1 hal bohongku? Ini dia
1. I am a writer
2. I love football games
3. I have my first date  in 16 yearsold
Hihi..dan saat ditebak, ada yang nebak aku bukan penulis, ada pula yang mengira aku sama sekali bukan tipikal penggemar bola, tapi sebagian besar mereka menebak bahwa tentang “first date” itu bohong. Ah, aku memang bukan pembohong yang baik. Gampang ketebak ahaha. Nah saatnya menebak 1 hal bohong dari Amanda, tutor kami.  Pada bagian statement : “I am married” sebagian besar kami menebak itulah hal yang bohong/salah. Ternyataaaa..jreng :
            I am married. Saya megkategorikan bahwa saya menikah, My wife bla bla...” aku bengong sejenak, berusaha untuk bermuka datar untuk menutupi kekagetanku. Selama tiga hari ini aku menyangka Amanda itu seorang perempuan!! Dan mungkin memang perempuan. Aku hanya mengira kalau Amanda itu seorang perempuan dengan penampilan yang tomboy. Pakaiannya memang ala lelaki dengan jeans dan kemeja, potongan rambutnya cepak, tubuhnya memang tak terlalu perempuan, namun wajahnya walaupun tak kentara masih sedikit menampakkan sisi feminimnya. Jadi tak ada keraguan sedikitpun tentang gender tutorku ini. Makanya sedikit kaget dengan penuturan Amanda tadi.
            I am so happy with my life, my family can accept my choice. Kalau ada orang yang mempermasalahkannya. So that’s their problem, not mine” katanya dengan ringan dan jelas pada kami. Tak ada nada  ingin menutup-nutup ataupun sungkan. Bahkan dirinya sendiri yang begitu terbuka dengan identitasnya tersebut. Aku beberapa detik tak bisa berkata apa-apa. Banyak hal di sini yang membuat aku harus mengerti bahwa banyak perbedaan yang mesti dipahami, dimengerti, bukan untuk dicaci atau diperdebatkan. Ngapain, menghabiskan energi. Apa dengan begitu kita bisa mengklaim kalau Amanda nggak akan masuk surga karena memilih jalan itu? Mau berdebat dengan dalil-dalil agama juga seperti debat kusir, karena melihat dari kacamata yang berbeda. Mungkin bila ini terjadi di Indonesia akan menjadi polemik dan perdebatan panjang (atau masuk infotainment #ups).
Hal seperti inilah yang melatih diri untuk “Judge Less”, meminimalisir untuk “menghakimi” orang lain. Di mataku  Amanda tetaplah seorang yang luar biasa. Dari awal aku lihat orang ini punya energi positif yang luar biasa. Dia sangat ahli untuk melihat setiap hal positif dalam “setiap apapun”. Ini skill yang luar biasa bagi kehidupan, pun bagi orang-orang di sekitarnya. Dia kadang menghampiri kami yang tengah sibuk memikirkan strategi dalam menghadapi sebuah tugas group, lalu tiba-tiba berkata “ Listen, I want you to know one thing. You do Great!!” dengan mukanya yang mantap, dengan gerakan tangannya yang bersemangat dan nada suaranya yang berapi-api. Dia sejenis orang yang mampu membuat orang lain mengeluarkan sisi terbaik yang kita punya. Sebagai tutor, dia sungguh luar biasa.
Begitulah, perbedaan kadang memberikan kesempatan bagi kita untuk lebih mengerti dan belajar tentang penerimaan. Lihat saja sisi-sisi positif darinya, bila ada pilihannya yang tak sesuai denganku, that’s her/his own bussiness right?

Murray-Amanda-Ceri asyik ngobrol

Acara santai sehabis course

Maka ditutuplah course ini dengan menampilkan foto-foto selama 3 hari course, kemudian dilanjutkan sajian minum (tentu saja bagianku minum jus) dan snack sambil berbincang-bincang. Lalu saat ada kesempatan aku berbincang dengan Amanda. Dia sedari siang sibuk dengan anak-anak yang mengantri untuk berkonsultasi hingga aku tak ada kesempatan berkonsultasi. Aku berbincang sejenak mengkonsultasikan sedikit dilema dalam pekerjaanku, tentang jenjang karir, pilihan menjadi pejabat struktural atau tidak, passion bla.bla..lalu dia menjawab dengan singkat.
            “ Life is short. Why you should spent it to do things that you really don’t want to do? Just listen to the sing of your heart!” dia menjawab diakhiri dengan tersenyum.
Jleb! Huaaah keren ini orang!. Walaupun aku sudah pernah mendengar ungkapan tersebut walau dengan kalimat yang berbeda, namun ketika mengajukan pertanyaan riil dan tiba-tiba seseorang menjawabnya dengan statement itu. Jawaban telak pada sasaran!
Aku pulang dari course itu dengan membawa banyak “bekal” untuk perjalanan berikutnya. Kadang memang hidup membawakan orang-orang yang membawakan pesanNya pada kita.
Salam semangat

Glasgow, Awal Juli  2013 yang hangat.
 

6 comments:

Afa said...

nuansanya kayak nonton film bertema family filosofis. cool. :)

Arian Sahidi said...

keren. saya tunggu undangan untuk ngisi trainingnya #siapaGue haha

Siwi Mars Wijayanti said...

@Afa : hihihi benarkah?
@Arian : ehehe benaran bantuin pas aku bikin beginian nanti kalau sudah pulang, paling enggak kan dirimu bisa sharing pengalaman ke anak-anak.

Arian Sahidi said...

sharing pengalaman apa? galau? ahha

Siwi Mars Wijayanti said...

boleh juga, orang yang sudah berpengalaman galau niscaya punya tips2 dan strategi menanggulangi kegalauan hihiii. Nah itu penting untuk anak2 nanti menghadapi dunia kerja dan dunia nyata ;p;p

Afa said...

heu'eum, :)

Post a Comment