Friday, 19 July 2013

Never Ending Learning...



Kapan sebenarnya manusia benar-benar tahu?
Mungkin memang tahu itu semacam bilangan tak terhingga yang tak ada ujungnya. Atau juga proses tahu itu seperti perjalanan hidup, bahwa proses mencari tahu adalah inti dari penge-tahu-an.
Ini bukan soal ilmu pengetahun saja. Tapi sepertinya apapun dalam hidup tak bisa terhindarkan dari proses belajar. Life is never ending learning, kupikir.
Tak usah contoh yang muluk-muluk. Tips memasak saja semakin banyak belajar semakin banyak hal yang tidak kita tahu. Misalnya saja saya baru saja mendapat tips membuat lontong dengan bantuan aluminium foil karena di sini sulit untuk membuat lontong dengan cara biasa seperti di indo, bagaimana cara biar ayam goreng tepung menjadi crispy karena di sini tepungnya berbeda. Kita membuat sesuatu yang sama tapi kondisinya berbeda pun memaksa kita belajar bagaimana cara mengakalinya.
Itu belajar memasak, lain lagi kita belajar berkomunikasi, memahami orang lain, bahkan belajar memahami maksud takdir Tuhan. Dulu saat sering mendengarkan secara rutin acaranya Ayah Edi untuk tips-tips parenting karena bila kita tidak belajar maka cara kita mendidik anak (jiaaah anak siapa emang? *ya paling enggak saya sudah punya banyak anak-anak mahasiswa-membela diri hihi) akan membawa blueprint yang sama dengan bagaimana cara orangtua kita mendidik kita. Siklus akan berulang tanpa perbaikan.
Begitu pula cara mengajar, saya sebagai pengajarpun harus banyak belajar bagaimana membuat sistem pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan dan menarik untuk anak-anak. Masa harus mengikuti cara dosen-dosen saya dahulu yang ada hanya membaca tulisan di kertas transparansi? Lalu kapan bisa maju negeri ini karena kita tidak belajar untuk berprogress? *berapi-api hehe
Bahkan saya sadari bahwa belajar hidup pun seperti perjalanan dari satu pelajaran ke pelajaran lain yang tiada henti. Kita banyak membaca persepsi-persepsi orang lain, orang bijak, penulis, ataupun filosofi-filosofi sebelumnya bagaimana manusia menjalani hidupnya. Misalnya saja bagaimana Socrates menemukan cara mensikapi kebahagiaan. Dimana sepertinya manusia pada dasarnya mengintikan hidupnya dalam perjalanan mencari kebahagiaan. Manusia tak hentinya menanyakan pertanyaan-pertanyaan inti yang tak pernah mati. Tentang Tuhan, tentang Cinta, tentang kematian, tentang kebahagiaan.
Dulu saya percaya bahwa hidup itu berjalan seperti roda, kadang di bawah (susah, derita, nestapa) ataupun kadang di atas (sukses, kemenangan, bahagia). Sampai saya belajar bahwa ada yang melontarkan ide tengah bagaimana hidup terpusat di tengah roda. Bagaimana mensikapi perputaran semesta dan kejadiannya sehingga daya lentur kita lebih liat.
Bukan berarti saya telah banyak tahu. Tidak, sama sekali tidak begitu. Saya mencari tahu, dan menjadi merasa banyak sekali hal yang belum saya tahu. Setidaknya Tuhan mendesain otak manusia untuk berpikir, bertanya, menganalisis, mungkin agar tidak beku. Bisa kau bayangkan bagaimana hidup yang stagnan dan penuh kemandegan?
Beberapa saat lalu, saya iseng membaca-baca ke website oprah. Banyak sekali beberapa hal yang layak untuk dipelajari tentang hidup, tentang kesehatan, mode, masakan, bahkan seks. Mungkin dunia digital telah membajiri kita dengan ribuan informasi. Tapi bukankah kita juga punya filter dan sistem seleksi? Kadang saya pikir ada yang bisa diterapkan, kadang merasa tidak sejalan. Tapi bukankah itupun menjadi salah satu dari proses pembelajaran bukan?
Manusia sepertinya didesain sebagai makhluk pembelajar. Bagaimana manusia mencipta teknologi, mencipta kebudayaan, bahasa dan peradaban pastilah tak lepas dari hasil proses pembelajaran.
Lalu dimanakah titik akhir dari pembelajaran itu sendiri? Atau mungkin kita memang tak pernah bisa benar-benar tahu? Ah, apa yang akan terjadi besok saja kita tidak tahu. Lalu mau dengan muka dan hati sombong seperti apa hingga kita mampu berkata sudah tahu banyak?
Sepertinya daripada berfokus pada pertanyaan seberapa banyak kita tahu, mungkin lebih baik menikmati perjalanan mencari tahu.
Joy! Orang yang merasa berbahagia sangat tahu bagaimana membuat hidup mereka penuh dengan kesenangan. Senang bertanya tanya, senang mencari jawab, senang dalam prosesnya. Kebanyakan orang akan mempunyai persepsi bahwa kesenangan akan didapat setelah muncul hasil. Manusia lupa bahwa kesenangan itu bisa dinikmati sepanjang perjalanan.
Selamat berjalan, selamat belajar.

Glasgow, 19 July 2013 menjelang isya dengan perut penuh dengan sup buah dan cumi asam manis untuk buka puasa hehe.

2 comments:

Posmo-Margada Community said...

slmt trwih...
*disinih baru beres kuliah subuh.hehe

Siwi Mars Wijayanti said...

ehehe terimakasih, ini usai tarawih..menanti sahur dan subuh hehe :)

Post a Comment