Friday, 4 October 2013

Tentang Cukup


 

Kira-kira sebulan yang lalu, sahabat saya bertanya tentang satu hal. Di sela bincang-bincang hangat di flat saya,
            “ Mba, kalau ada tempat yang ingin banget kamu kunjungi, mana mba? “ tanyanya sambil tetap selonjoran di karpet flat saya. Sementara spring roll hangat penuh sepiring semakin menghangatkan bincang-bincang kami.
Saya terdiam beberapa saat. Berpikir sejenak. Mana ya? Pikirku.
            “ Humm, mana yaa..nggak ada lagi kayaknya,” jawab saya pada akhirnya setelah belum juga menemukan jawabannya. Tempat mana yang paling ingin saya kunjungi sekarang? Saya tidak bisa menemukan jawaban. Tidak ada.
Memang ada sih satu tempat yang ingin saya kunjungi bersama pasangan saya. Tempat yang anehnya saya tahu “tidak terlalu bagus”, atau bisa dikatakan tidak sebagus di foto-foto itu. Tapi sepertinya memang tempat itu serupa tempat yang wajib dikunjungi. I want to be there someday.
Tapi bukan serupa keinginan meletup letup seperti dulu saat saya ingin menginjakkan kaki di San Siro, ataupun menjejakan diri di daratan Inggris. Bukan sejenis keinginan seperti itu.
Saya sekarang lebih ingin berada dimanapun asal bersama pasangan saya, ataupun sekadar liburan bareng bersama keluarga. Sejenis keinginan yang mungkin terdengar tak “mewah dan mengkilap”, bukan semacam keinginan-keinginan gila seperti menjejakkan kaki di antartika, menikmati pantai-pantai Maldives, mencicipi pesona Santorini di Yunani atau di benua-benua yang belum sempat saya jelajahi. Tapi bagi saya, berada bersama pasangan ataupun keluarga  itu sudah super mewah.
Saya bilang pada sahabat saya itu, mungkin saya sudah cukup dengan keinginan-keinginan pribadi. Dengan pencapaian-pencapaian pribadipun saya pikir sudah cukup. Tsaah berasa sudah simbah-simbah ya ehehe. Bukan berarti saya sudah hidup tanpa obsesi lagi. Saya masih ingin segera merampungkan studi doktoral saya, melahirkan kembali buku-buku, masih ingin menjelajah berbagai daratan eropa dan benua-benua lainnya, terlebih lagi menikmati keindahan Indonesia. Pun menikmati menjalani beberapa profesi sekaligus tanpa merasa sibuk.
Saya masih student fulltime doctoral degree di University of Glasgow, masih aktif  menulis, masih jadi editor Gramedia Pustaka, masih jadi kontributor Wego Indonesia, masih iseng-iseng seperti jadi model brosur kampus, jadi guru ngaji anak-anak pengajian Glasgow, dan masih ngeiya-in tawaran bisnis cetak masal kerjasama dengan sahabat saya. Tapi saya jarang merasa sibuk hihi..
Akhir-akhir ini saya merasa “cukup”. Ah bukan akhir-akhir ini, tapi sudah agak lama juga saya merasa “cukup”.
Saya merasa cukup dengan hidup saya. Menikmati apa yang ada. Walau kadang-kadang tak bisa menahan diri untuk tidak mengajukan pertanyaan-pertanyaan tentang hidup. Tapi sepertinya menikmati pertanyaan itu juga bagian dari hidup, tanpa tergesa-gesa menemukan jawaban.
“life is too short to be wasted finding answers, Enjoy the questions! Kata Paulo Coelho
Mungkin jawaban akan datang dengan sendiri, selama kita terus berjalan. Berjalan ke dalam diri. Dalam perjalanan saya, mungkin saatnya lebih banyak memfokuskan diri menggali ke dalam. Perjalanan saya ke luar diri rasanya sudah cukup.
After deeply feel enough then stop searching outside start digging inside (GP)
Cukup
Saya masih belajar di jalur-jalur cukup. Bahwa hidup sudah lengkap dengan rasa penerimaan apapun yang terjadi. Menerima jatah. Bahwa jiwa hanya perlu didekapi lebih mesra, dibincangi dengan lebih sering, maka akan terasa lengkap, genap.
 Mungkin ada yang beranggapan jiwa harus berpasangan agar lengkap. Genap. Tapinya nyatanya Tuhan menciptakan kita sebagai manusia tunggal yang pastinya mengandung pesan bahwa kita sudah lengkap. Mungkin pasangan, sahabat, keluarga, orang lain hadir di sekitar kita untuk berbagai kelengkapan, kegenapan, ke”penuh”an, ke”cukup”an.
Kita “lengkap” di saat sendirian, dan kita pun merasa “lengkap” saat bersama orang-orang yang dihadirkan Tuhan dalam hidup kita.
Cukup.
Mari belajar hidup dengan berkecukupan, dan entah mengapa Tuhan rasanya lebih sering memberikan “kelimpahan-kelimpahan”.
Selamat menikmati kelimpahan hidupmu, kawan.


Salam hangat di musim gugur Glasgow. 4 Oktober 2013.

2 comments:

Rian Nofitri said...

Semoga lengkapnya kita juga sudah bisa menjadi bagian kelengkapan pada orang lain. Semoga jadi orang yg selalu bersyukur ya.. :D

Siwi Mars Wijayanti said...

ehehee iyaaap. Thanks for reading :)

Post a Comment