Friday, 8 November 2013

Tentang Rasa Pulang




Bulir-bulir keringat seketika terasa di tubuhku saat mengijakkan kaki di Bandara Adi Sucipto Yogyakarta. Panas. Belum lagi ruangan yang kecil dan sumpek serta berderet-deret antrian antara pemegang paspor domestik dan paspor asing. Sungguh, bandara ini seharusnya jauh lebih besar. Yogyakarta sangat potensial untuk meraup devisa dari sektor pariwisata. Namun bandara masih mungil segini rupa. Keluar dari pintu bandara, telingaku sepertinya berdesing. Noise! Oh banyak sekali orang, dan semuanya bicara. Bising. Orang-orang berseliweran, lalu tukang taksi berebut menyapa,
            “ Mau kemana mbak? Mari saya antar” kata supir taksi. Aku menggeleng pelan dan mengatakan bahwa akudijemput. Hanya selang beberapa menit datang lagi supir taksi lainnya, dan aku harus menjawab hal yang serupa. Bahkan sopir taksi yang sudah bertanya pun, kembali lagi menawarkan jasanya. Oh akhirnya aku mengambil tempat duduk di antara himpitan orang-orang yang tengah menunggu jemputan ataupun menunggu jadwal penerbangan. Mbak-mbak yang ribut menggelar isi kopernya yang kelebihan muatan, berusaha memasukkan sebanyak banyak isinya, dan kerepotan karena masih banyak barang yang masih tertinggal. Suara-suara kerumunan yang selama ini asing di telingaku.
Oh jangan mengeluh, ini negerimu. Bisik batinku.
Suara-suara klakson taksi dan mobil-mobil penjemput yang tak sabar dalam antrian kemacetan kembali menganggu telingaku.
Entah mengapa aku merasa asing. Aku asing pada negeriku sendiri. Ada rasa bersalah yang menyelinap dalam hati. Oh diriku, ini negerimu. Aku baru meninggalkan Indonesia sekitar 5 bulan yang lalu. Selama 2 tahun lebih menempuh studiku, aku sudah beberapa kali pulang, jadi seharusnya aku tidak terlalu merasa asing. Tapi rasa seperti ini sulit untuk ditampik saat kembali menjejak di tanah air. Aku merasa asing.
Panas, bising, ramai, macet. Aku manusia tropis yang dibesarkan 25 tahun lebih oleh matahari merasa asing dengan matahari. Aku merasa bising dengan teriakan-teriakan orang, dengan obrolan-obrolan dengan nada yang tinggi. Aku seperti merasa di tanah antah berantah, padahal aku menginjakkan diri di negeri sendiri.
Baru sehari, aku mengalami alergi panas, muncul gatal-gatal dengan bentol-bentol merah. Belum lagi jetlag yang menyebabkan jam tidurku bolak balik. Aayayayay, betapa anehnya kupikir. Kenapa tubuhku sudah asing dengan iklim negeriku sendiri.
Kepulanganku kemarin memang hanya beberapa hari, sebelum masa adaptasi selesai aku harus segera pergi lagi, Mungkin itulah yang menyebabkan tubuhku harus mengalami perubahan-perubahan cuaca dan suasana dengan ekstrim.
Aku tidak hendak mengeluh. Bahkan ada terselip rasa bersalah. Kenapa tak lagi merasa nyaman di negeri sendiri?
Ini negeriku, yang kucintai sedemikian rupa. Tempat dimana kontribusiku selalu tercurahkan.
            “ Semuanya begitu mba, culture shock itu kadang bukan saat kita sampai di negeri asing, namun saat kita kembali,” kata Sandy, sahabatku yang baru-baru ini juga kembali dari Itali.
            “ The real challenge-nya itu malah pas kita pulang” kata sahabat yang lain.
Ehehe seperti kata pergi, kata pulang pun mempunyai ceritanya sendiri.
Kini aku telah  kembali ke Glasgow, dengan suhu yang merayapi titik nol, kadang-kadang sudah menyentuh minus. Tapi saya merasa pulang.
Entahlah, mungkin sebaiknya kemanapun kita pergi, kita pikir saja seperti hendak pulang. Tapi sayangnya, tak semua tempat memberikan rasa “pulang”.

Glasgow,8 November 2013.

0 comments:

Post a Comment