Wednesday, 11 December 2013

Menjelajah Dunia dengan Cuma Cuma





Siapa sih yang enggak pengen jalan-jalan, menikmati banyak kejaiban di muka bumi ini dengan biaya cuma-cuma alias gratisan? Pasti hampir semua orang ingin menikmati hal tersebut bukan?. Termasuk juga saya yang memang bermimpi untuk berjalan-jalan ke berbagai negara, terutama Benua biru, Eropa. Merasai alur perbedaan musim, dari teriknya mentari di musim panas, sepoinya angin di musim gugur dengan daun-daun maple yang menguning lalu berguguran di tepian jalan, atau serpihan salju yang menyerupai serat kapas yang turun satu-satu. Kemudian menikmati mekarnya beraneka warna bunga-bunga di musim semi yang indah. Keinginan untuk melihat perbedaan, baik ilmu pengetahuan, cara hidup, cara berpikir, bahasa, budaya maupun kulinernya telah membuat saya terus saja menyimpan dan memperjuangkan impian untuk menjejaki benua itu. Pesona wisatanya tentu saja sulit ditampik untuk tidak dimasukkan dalam list MUST TO SEE BEFORE I DIE. Tapi bagaimana caranya pergi ke luar negeri bila kita termasuk golongan ekonomi yang masih menggangap budjet untuk ke luar negeri adalah hal yang mustahil dilakukan? Saya menempuh cara dengan memperoleh beasiswa!
A. Jalan Berliku tapi Seru
Yap, ke luar negeri dengan memperoleh beasiswa untuk melanjutkan studi dan mempunyai kesempatan untuk jalan-jalan gratis merupakan cara yang saya pilih. Bagi saya dengan memperoleh beasiswa merupakan jalan mulus untuk mengantarkan kaki ini menjejakkan diri di Eropa. Mudahkah? Ah..berdasarkan pengalaman saya, Tuhan jarang sekali memberikan dengan cuma-cuma impian kita, tapi menghadiahi kita dengan proses perjuangan yang akan membuat kita memaknai penuh arti sebuah proses berlangsung dan mengambil pelajaran di setiap langkahnya.
            Impian bukan hanya butuh semangat di awal saja, tapi juga konsistensi untuk terus menghidupinya. Konsistensi ini diperlukan karena biasanya perjuangan itu tidak hanya membutuhkan waktu yang singkat untuk mewujudkannya. Kalau kena terpaan ujian dan halangan sedikit sudah menyerah, yah impian mendapat beasiswa dan bisa jalan-jalan gratisan punah di tengah jalan.  Saya harus menanti sekitar 10 tahun, agar impian jalan-jalan saya ke Italia terkabul. Yups, dengan mendapatkan beasiswa dari Pemerintah Italia untuk belajar bahasa dan budaya di Universita per Stranieri di Perugia selama 3 bulan pada Tahun 2008 lalu. Dengan rentang waktu tersebut, saya bisa jalan-jalan ke berbagai kota di Italia. Mengunjungi menara Pisa untuk membuktikan sendiri bahwa menara yang menjadi landmark Negeri Pizza itu memang benar-benar miring dengan derajat tertentu, kemudian merasai naik gondola di Venezia,yang banyak orang menyebutnya kota teromantis kedua setelah Paris. Melancong ke Florence, tempat lahirnya renaissance dengan berbagai bangunannya yang menakjubkan mata tentu saja menjadi sebuah pengalaman berharga. Menjelajahi Milan dan kota-kota lain di Italia pastilah mustahil bisa dilakukan dengan gratisan bila tidak mendapat beasiswa. Selain itu, persentuhan dengan kehidupan yang berbeda, seperti cara hidup, budaya, bahkan cara berekspresi manusianya.
Saat ini merupakan kesempatan kedua saya jalan-jalan gratisan ke luar negeri, dengan memperoleh beasiswa dari Kementerian Pendidikan Nasional Indonesia untuk melanjutkan studi doktoral di Center of Virus Research, University of Glasgow, United Kingdom sejak akhir September 2011 lalu. Sebagai seorang dosen di Jurusan Kesehatan Masyarakat, Universitas Jenderal Soedirman, saya dituntut untuk mengembangkan kemampuan akademik dan pengetahuan saya di bidang keilmuan yang saya tekuni. Melanjutkan kuliah doktoral tentu saja seperti kebutuhan wajib bagi seorang pengajar seperti saya. Tapi kesempatan untuk merasai hidup di luar negeri dan berjalan-jalan gratis tak dipungkiri merupakan faktor pendukung yang membuat saya bersemangat untuk meraih beasiswa studi ke luar negeri.
Bekal utama untuk mengincar beasiswa S3 di Luar Negeri ada dua yakni sebuah proposal riset yang berkualitas dan kemampuan bahasa Inggris yang memadai. Kuliah doktoral sangat berbeda dengan  jenjang kuliah S1 atau S2 yang biasanya course-based. Untuk kuliah doktoral biasanya berbasis riset, sehingga untuk melamar beasiswa harus sudah punya proposal riset yang akan dikerjakan selama menempuh pendidikan S3. Selain itu kita juga harus mencari sendiri supervisor yang mau membimbing kita selama studi doktoral nanti. Perkara ini juga susah-susah gampang, ada yang seperti saya yang mengirimkan proposal beserta cover letter dan mendapat respon positif yang lumayan cepat. Namun ada pula yang sudah menyebar proposal dan melamar ke banyak calon supervisor tapi belum juga ada respon yang positif. Entah keberuntungan, entah jodoh, memang tak ada kejadian yang kebetulan, semua sudah direncanakan Tuhan. Saya mendapatkan link Dr.Alain Kohl (yang sekarang menjadi supervisor saya) dari website University of Edinburgh.
Tanah Inggris Raya memang sudah saya tetapkan sebagai daerah “jajahan baru” untuk melanjutkan studi dan jalan-jalan. Kemudian bidikan dipersempit dengan memilih universitas dambaan yang sesuai dengan bidang keahlian yang akan saya tempuh. Ada dua universitas yang saya tuju yakni London School Hygiene and Tropical Medicine (LSHTM) dan University of Edinburgh, karena keduanya mempunyai jurusan yang sesuai dengan minat saya yakni di bidang penyakit tropis. Setelah lama menimbang, walaupun kualitas LSHTM tentang penyakit tropisnya sudah mendunia namun letaknya di kota London membuat saya tak terlalu antusias. Saya memang lebih cocok dengan aura kota kecil yang sederhana dan nyaman untuk tinggal, hingga merasa tidak nyaman untuk tinggal di kota megapolitan seperti London. Maka University of Edinburgh menjadi buruan saya, dan gayung bersambut saat email saya dibalas dengan respon positif oleh Dr.Alain Kohl yang bersedia menjadi supervisor saya. Perjuangan lain yakni memenuhi skor IELTS yang disyaratkan oleh universitas tersebut agar mendapat unconditional offer (tawaran untuk diterima tanpa syarat).  Berbekal kursus yang diselenggarakan oleh Dikti yakni PDETC (Pre Departure English Training Course) di Universitas Negeri Malang (UM) selama 3 bulan, saya menambah kemampuan berbahasa Inggris, walau sampai akhir kursus belum juga mencapai skor yang memuaskan. Kemudian saya harus merogek kocek sendiri dua kali (sekali tes IELTS biayanya sekitar 1.8 juta) untuk tes IELTS di Semarang dan Jogyakarta, dan akhirnya skor yang disyaratkan berhasil digenggam. Senyum terkembang saat menerima Unconditional offer dari University of Edinburgh  yang membuat Dikti (Direktorat Pendidikan Tinggi) tak mampu menolak untuk memasukkan nama saya di antara daftar penerima beasiswa Luar Negeri Dikti Gelombang 6 Perpanjangan. Yeaaah..impian tergenggam.
Namun takdir Tuhan terkadang selalu saja mengejutkan, karena dua bulan menjelang keberangkatan, supervisor saya memberitahukan bahwa beliau akan pindah dari University of Edinburgh ke University of Glasgow. Ah, takdir Tuhan memang penuh misteri dan kejutan. Sudah rapi jalan-jalan yang sudah saya persiapkan untuk menuju tujuan yang saya sasar, tapi saat Dia menjatuhkan takdirNya, jalan berbelok tiba-tiba. Memang ada rasa galau yang melanda, namun setelah mempertimbangkan dengan matang, maka saya memutuskan untuk ikut bersama supervisor ke University of Glasgow. Dan beginilah, sampai saat ini sudah setahun saya merasai kehidupan di negeri antah berantah dengan segala cerita dan romantikanya.
 Ada cerita unik yang membuat saya percaya akan kekuatan impian akan menjadi tenaga penggerak bawah sadar kita untuk terus memperjuangkan mimpi-mimpi. Saat saya menempuh kuliah S1 di Universitas Jenderal Soedirman dahulu, saya terdorong keinginan untuk mencari informasi studi di luar negeri dengan iseng mengirimkan email ke salah seorang dosen saya, Ibu Atiek yang tengah melanjutkan studi di Kota Manchester. Saya bertanya beberapa hal tentang studi di luar negeri dan kesempatan untuk bisa mewujudkan hal tersebut. Lama waktu berjalan, dan saat Bulan September Tahun 2011 lalu menginjakkan kaki di Glasgow, melalui media sosial Facebook saya menjalin komunikasi lagi dengan Bu Atiek yang sekarang telah menetap di Manchester. Saya tergerak untuk mencari kembali file email yang dulu saya kirimkan, dan Voila! Saya temukan dan mengirimkan file tersebut pada beliau. Email saya dahulu pada beliau tertanggal 21 November 2001, dan saya menyadari bahwa impian terkadang memerlukan waktu untuk tercapai saat mengirimkan email lagi pada beliau tanggal 29 September 2011. Dan beginilah beliau berkata saat itu :
Ya ampuuuunnn ck ck ck... 10 tahun lalu!!!! Ajaib ya..
Ternyata cita-cita Siwi ingin ke sini terlaksana!!! Wow!!! Tuhan Maha Pemurah dan Siwi memang punya motivasi tinggi, akhirnya terwujud)!!! *terbengong*.
Dan begitulah memperturutkan hati mewujudkan impian adalah bersiap-siap melihat banyak keajaiban dalam hidupmu. Dan sekarang saya bisa jalan-jalan di akhir pekan, saat rehat dari pekerjaan sehari-hari sebagai mahasiswa PhD. Menjelajahi berbagai kota di Skotlandia dan juga England yang termasuk dalam teritori kerajaan Inggris Raya.
B. Lengkapi Senjata Sebelum Berperang
Untuk mendapatkan beasiswa bukan berarti tiba-tiba mendapatkan rejeki yang datang dari langit tanpa usaha, kerja keras dan doa. Uhmm mana ada sih yang gratis? Wah jadi, gratisan yang pada akhirnya kita terimapun sebenarnya bayaran dari usaha dan kerja keras kita. Lengkapi dengan senjata yang lengkap sebelum berperang, kawan.
1.      Lengkapi Amunisi.
Untuk mendapatkan beasiswa, hal yang sering kali tidak bisa ditawar adalah kemampuan berbahasa Inggris yang memadai. Untuk membekali diri dengan kemampuan berbahasa Inggris yang baik tentu saja tidak bisa dilakukan dengan cara instan. Butuh ketelatenan, konsistensi dan usaha keras bagi kita yang tinggal di non English speaking country. Maka usahakan bekali diri dengan tes IELTS atau TOEFL yang memadai, karena untuk memperoleh beasiswa biasanya di lembaga pemberi beasiswa ataupun universitas tempat kita menimba ilmu mensyaratkan standard skor ILETS tertentu, dan mereka terbukti strict untuk aturan yang satu ini. Untuk bisa mengikuti tes ini secara resmi memang tidak murah, tapi kalian bisa memanfaatkan tawaran tes gratis dari berbagai lembaga, ataupun bila instansi tempat bekerja bila memungkinkan untuk membiayainya. Carilah selalu celah-celah kesempatan untuk bisa dimanfaatkan. Informasi mengenai tes IELTS bisa ditelusur di www. ielts.org. Untuk belajar ielts dan memperoleh kesempatan practice test IELTS gratis bisa dicoba di www. Iletsforfree.com. Untuk buku-buku, material dan bahan practice test IELTS bisa didownload di berbagai situs yang tersedia di internet. Iyah, zaman tehnologi seperti ini menjadikan everything is possible.
2.   Rajin lirik kanan-kiri
Eits, maksud saya di sini adalah rajin-rajinlah mencari informasi. Kesempatan memperoleh beasiswa sekarang melimpah, tergantung kalian menangkap peluang tersebut. Bila dengan ikutan milis beasiswa, rajin googling, ataupun memperluas jaringan pertemanan. Ikutlah milis beasiswa yang secara teratur memberikan informasi lengkap mulai dari info beasiswa terkini, cara-cara mendapatkan beasiswa, info TOEFL/IELTS, cara mempersiapkan proposal/riset, kontak dengan professor, serta info-info lainnya. Yang pastinya dengan begitu kita masuk dalam komunitas dengan misi yang sama, yakni mendapatkan beasiswa. Ingat sekarang ini relationship is new currency, jadi banyak sekali kesempatan yang bisa didapat karena mempunyai jaringan sosial yang luas. Sebagai muslimah, kita juga harus dituntut luwes dalam bergaul baik di dunia nyata ataupun dunia maya. Ada jejaring sosial Facebook, Twitter ataupun Linkedln yang bila dimanfaatkan dengan baik, akan mendatangkan banyak kesempatan yang sebelumnya tak terduga. Buka pintu kesempatan selebar-lebarnya, akan datang saatnya kesempatan menghampirimu dan kalian harus sigap menangkapnya.
3.   Bidik Sasaranmu
Untuk meraih apa yang kau inginkan, akan lebih berpeluang apabila engkau tahu apa yang kau bidik. Dengan mengetahui apa yang akan kita bidik, akan memberikan kita lebih banyak peluang untuk mendapatkannya di bandingkan menembak ke segala arah tanpa pertimbangan. Ajak bicaralah dirimu, hatimu kemana hendak kau tuju. Dengan begitu, langkah selanjutnya adalah memilah informasi-informasi mana yang relevan untuk membidik sasaranmu itu. Engkau pasti tahu kelemahan dan keunggulanmu, sehingga dengan mempunyai informasi mendasar, engkau dapat mempercepat langkah dan mempendek waktu. Bila ada jalan yang memintas cepat, mengapa harus memilih jalan yang memutar? Maka tentukan sasaranmu agar lebih mudah engkau membidik dan mendapatkannya.
Misalnya bila kalian ingin mengincar ke benua amerika, maka seringlah berkunjung ke situs USAID. Sementara bila kalian bermimpi melihat Big Ben London, kemegahan London Brigde, menginjakkan kaki di Stadion Old Trafford kebanggaan MU atau menjelajah ke utara sampai Skotlandia, seringlah melihat informasi di Britich Council atau googling Chevening Scholarship. Ingin berfoto dengan baju tradisional seperti noni-noni belanda di Volendam, carilah informasi tentang beasiswa dan studi di Belanda melalui situs NEC. Atau bila kalian ingin berkeliling ke negeri Bavaria Jerman, rajinlah mengunjungi situs DAAD. Yang pasti, kalian harus tahu apa yang ingin kalian tuju dan tahu jalan mana yang memungkinkan untuk sampai ke sana.
4.   Being persistent
       Gigihlah! Jangan saat menemui kesulitan langsung menyerah. Jalan untuk memperolah beasiswa, seringkali adalah jalan yang panjang dan berliku. Butuh persistensi dan konsistensi yang tinggi untuk tetap menggengam erat impian untuk mewujudkannya. Terkadang kegigihan kalian dipertaruhkan dengan kegagalan dan kegagalan. Seberapa kuat dan gigih kalian untuk terus bangkit dan melangkah lagi, hingga akhirnya mencapai apa yang kalian inginkan. Banyak orang yang mempunyai impian tinggi, tapi melempem bila ditabrak masalah, mudah gundah dan menyerah. Mana mau Tuhan memberikan “hadiah” pada hamba-hambaNya yang gampang menyerah kalah.
4.   Mintalah Acc Tuhan
Bila upaya dan langkah-langkah sudah ditempuh, ibaratnya seperti proposal sudah diajukan kepadaNya. Tentu saja salah satu langkah yang tak boleh ketinggalan adalah berdoa agar proposal kita tersebut diAcc olehNya. Kapan, bagaimana caranya impian kita terwujud seringkali adalan misteri yang disimpanNya untuk kita, sampai pada saat yang tepat Dia memberikan kejutan manisNya untuk kita. Sering kita mengeluh, bahwa telah banyak dan panjang perjuangan untuk meraih apa yang kita inginkan, pada impian belum juga sampai pada perwujudan. Anggunnya cara Tuhan untuk memberikan kita kejutan dalam hidup, akan kalian rasai bila terus mempunyai konsistensi untuk berjuang untuk mewujudkan mimpi-mimpi.
C. UK, negara yang nyaman untuk para muslim
Yeah, UK merupakan negara dengan komunitas muslim yang cukup banyak. Jadi penerimaan mereka terhadap warga muslim sangatlah baik. Semenjak saya tinggal di Glasgow dan melancong ke berbagai kota di UK, belum pernah ada masalah akibat identitas kemusliman saya. Toleransi mereka sangat tinggi, dan tidak pernah memandang perbedaan agama ini sebagai sebuah masalah serius. Bila dahulu di Italia, kerudung yang saya kenakan sering dilihat dengan aneh oleh banyak orang, tapi di UK sama sekali tidak pernah mendapat perlakuan seperti itu. Perempuan berkerudung sering juga saya jumpai di Glasgow ini, dan juga di kota-kota UK lainnya.
Untuk masalah makan, gampang sekali menemukan Halal Butcher yang menjual daging sapi ataupun ayam yang halal. Eh perlu diingat, membeli ayam di supermarket biasa (misalnya Tesco di UK) belum berarti itu merupakan produk halal, karena kehalalan daging juga berdasarkan cara penyembelihannya juga. Maka, belilah daging di Halal Bucther yang hampir pasti ada di setiap kota di UK, termasuk Glasgow tentu saja. Ada bahan makanan yang masih sulit ditemukan juga? Eits jangan khawatir, kalian bisa pesen bahan makanan khas Indonesia online kok. Saya pernah membeli tempe, kerupuk udang dan beberapa makanan Indonesia di www.indodirectfoods.com. Tinggal pilih, transfer lalu barang yang kalian pesan akan diantar langsung ke rumah.  Bila kalian datang untuk melancong, dan harus membeli makanan di luar, maka pilihlah tempat makan seperti KFC yang berlabel halal, kebab berlabel halal atau kedai Fish and Chips (Kentang dan Ikan krispi) banyak kok dimana-mana, so no worries. Mau tahu tentang halal food di UK pun bisa dicek disini : www.foodguide.org.uk. Untuk tempat peribadatan, masjid juga banyak terdapat di UK. Jadi kalian bisa menemukan tempat peribadatan yang memadai untuk menunaikan shalat, misalnya saja saat Hari Raya Idul Adha atau Idul Fitri tiba.
Untuh beribadah sehari-hari, saya menggunakan ruang First Aid (P3K) di kampus untuk menunaikan shalat. Saat dulu meminta ijin memakai ruangan untuk beribadah, pihak kampus memberikan ijin memakai ruangan ini untuk shalat. Tinggal menggantungkan papan DO NOT DISTURB yang memang sudah tersedia disitu yang menandakan ruangan tengah dipakai. Yups, urusan beribadah tidak bermasalah asal dikomunikasikan dengan baik. Walaupun di negeri jauh, kita bisa tetap merasa terkoneksi dengan teman-teman sebangsa setanah air, karena setiap kota biasanya ada Perhimpunan Pelajar Indonesia. Selain itu ada juga komunitas KIBAR (Keluarga Islam Britania Raya). Di Glasgow juga serupa, kami mempunyai perkumpulan PPI Glasgow dan cabang Kibar yang rutin menyelenggarakan pengajian serta kumpul bersama. Tak usahlah khawatir, kalian akan kesepian karena di manapun daratan Allah dijejak, Dia memberikan rumah yang hangat untuk merasai hidup.
D. Mari Jelajahi DaratanNya
            Karunia mendapat beasiswa untuk melanjutkan studi, tentulah harus disyukuri dengan memanfaatkan kesempatan sebaik-baiknya. Kuliah di luar negeri bukan hanya tentang memperoleh tambahan ilmu akademik, namun juga pembelajaran-pembelajaran hidup lainnya. Bersinggungan dengan orang dengan berberbagai latar belakang, ditempa berbagai macam keadaan, pastilah membuat kita menjadi pribadi yang lebih matang. Dan juga, jangan lupa, untuk menyegarkan pikiran, jalan-jalan di akhir pekan atau saat kesempatan libur panjang sepertinya wajib dilakukan. Berbagai pilihan tempat wisata siap dikunjungi kapan saja. Bila ke Scotlandia, jangan lewatkan mampir ke Edinburgh karena kota ini memang mirip negeri dongeng dengan kastil-kastil penuh magisnya. Glasgow juga menyimpan pesona yang tak kalah cantiknya, bahkan bangunan universitas saya menjadi salah satu objek wisata karena bukan main apiknya. Kunjungilah deretan pegunungan Highland yang menawarkan hijaunya perbukitan,  melihat beberapa Loch (danau) termasuk Loch Ness yang melegenda dengan cerita Monster Nessie-nya. Bagi para penggila buku Harry Potter, wajib mengunjungi Alnwick Castle, atau para pembaca Laskar Pelangi, jangan lewatkan mengunjungi Edensor-nya Andrea Hirata. Kota tua yang mempesona seperti Oxford dan Cambridge juga sangatlah mempesona untuk dikunjungi. Bagi para penggemar sepakbola, kota-kota seperti Manchester, Liverpool, London pastilah wajib dikunjungi untuk melihat secara langsung stadion markas tim favoritmu. Dan karena sudah jauh-jauh di daratan Inggris Raya, tentu tak ada salahnya menjelajahi benua biru Eropa. Menikmati romantisme Paris, moleknya Italia, bersihnya Jerman, atau eksotiknya Turki. Asal bisa membagi waktu dengan waktu studi, rencana jalan-jalan ke negara-negara di sekitarnya bisa terlaksana.
            Untuk bisa jalan-jalan di sela-sela studi setelah memperoleh beasiswa memang diperlukan trik tersendiri, terutama urusan budgeting. Dana beasiswa biasanya tidaklah berlebihan, tapi cukup untuk studi dan kebutuhan hidup sehari-hari. Nah, kalau untuk jalan-jalan? Tentu saja kita harus pinter mengelola keuangan beasiswa, agar studi lancar sementara rencana jalan-jalan juga terlaksana. Asal bisa berhemat dengan masak sendiri, selain dijamin kehalal-annya juga sangat menghemat biaya, sehingga ada dana berlebih untuk bisa dipakai untuk jalan-jalan. Selain itu, pintar-pintarlah memilih mode transportasi ke tempat tujuan, rajin mengumpulkan informasi seperti diskon tiket bis/kereta untuk student, tiket pesawat murah atau diskon-diskon menarik pada hari-hari tertentu. Bukan hanya mode transportasi, tapi juga tiket masuk museum gratis, dan berbagai tawaran menarik bisa didapatkan apabila rajin mencari informasinya.
Mempunyai kesempatan belajar di luar negeri dengan biaya cuma-cuma, bisa jalan-jalan menjelajahi daratanNya tertentu saja sebuah karunia luar biasa. Hidup terkadang perlu untuk terus diperbaharaui, dengan pengalaman-pengalaman baru, dengan kejutan-kejutan baru. Jalan-jalan, melihat dunia luar dengan segala perbedaaan, keunikan dan keindahan, memberikan penyegaran bagi jiwa. Jalan-jalan bukanlah sekedar melihat molek indahnya sebuah tempat, menyantap kuliner setempat yang menggugah selera. Tapi jalan-jalan bisa menyuntikkan semangat baru, hal-hal baru, kesenangan baru, pengalaman yang lain dan banyak hal yang membuat kita bersinggungan dengan titik-titik tak terduga, bahkan sebuah prinsip hidup sekalipun. Entah seberapa lelahnya perjalanan, bila dinikmati maka akan akan ”perbaruan-perbaruan” hidup. Tuhan mencipta luasnya daratan dan lautan untuk dijelajahi, salah satunya untuk mengagumi kekuasaanNya, dan memperoleh pelajaran-pelajaran hidup dari hal itu.
Travel is more than the seeing sight. It is a change that goes on deep and permanent in the ideas of living
Salam semangat dari Glasgow!

Siwi Mars Wijayanti.

A writer, lecturer and traveller. Who enjoy her life, follow her passion and try to give her best contribution to others. Karya-karyanya berupa True Love Keeps No Secret, Antologi Balada Seorang Lengger, Novel Koloni Milanisti dan kontributor The Jilbab Traveler 1. Sampai saat ini masih terus aktif menulis dan berkarya di samping melanjutkan studi doktoralnya di Center of Virus Research, University of Glasgow, UK.

(File tulisan lama yang mungkin berguna).


4 comments:

Titis Ayuningsih said...

Widih, keren mbak. Tapi saya ingin S1 dan S2 di Indonesia saja, namun S3 di luar negeri juga mantep kayanya *mimpi* :D

Salam kenal mbak :)

Siwi Mars Wijayanti said...

ehehe sipooo semoga rencana-rencananya terwujud yaaa...salam semangat :)

Rina Windiarti said...

ehehehe.... mba Siwi... inih akyuh...
ngilerrrrrrr benerrrr dengan perjalanannya ke tempat2 eksotis nan fantastis.. jadi semangat untuk berhemattt... dan rajin ber browsing.... ahahaha...
mo Tanya, besok kamis mo ikutan group tetangga ke Rotterdam naik cruise, perlu bawa bukti otentik apa yak biar paspor biru kita lolos dari petugas visa? karna katanya banyak juga petugas yang gak ngerti aturan bebas visa untuk service passport ke Benelux.
Terus, rencana mau ke Jerman insy bulan depan, penerbangan yang murah pake apa yak??
*hahaha... ini namanya bukan brosing, tapi takon..

matursuwun

Siwi Mars Wijayanti said...

hai jeng...owh tadinya aku mau ke amsterdam naik cruise juga libur natal ini tapi nggak jadi. akhirnya cuma UK trip saja ehehe. ntar cerita ya recommended nggak liburan cruise itu?
*ttg free visa utk service passpot ke benelux coba liat di blog temen disini : http://zerosugar.wordpress.com/2012/04/29/visa-ke-belanda-tidak-untuk-paspor-biru/#comment-270 dulu aku mengacu itu. ada lampirannya yang kamu bisa print utk jaga2 pas ditanya jeng.
emangnya kamu udah dapet schengen visakah? coba cari di skyscanner utk opsi penerbangan murahnya...cheers, have a nice holiday!!!

Post a Comment